Sabtu, 20 Juni 2015

Senandika Dini Hari

“Malam kian larut, namun mata tak kunjung kantuk. Aku menyandarkan raga di atas tikar dingin. Walaupun menunggu menjadi tidak mungkin, tapi aku meyakini karena sebuah ingin.”
***


Teman-teman beranjak pulang. Tadinya tawa mereka membumbung di langit kamar petak kecil ini, tapi kini mendadak hening. Awalnya raut muka ini meregang karena senyum dan tawa bagai senam wajah dini hari. Kini, kawan berbincang sudah pulang ke rumah masing-masing. 
Beginilah hidup. Pada akhirnya bergantung bukan pada orang lain, namun diri sendiri. Mengingat tak ada lagi kegiatan perkuliahan, dan belum terbersit keinginan untuk kembali ke rumah, aku memutuskan untuk tetap berdiam di kosan sederhana yang kusulap seperti kamar di rumahku. Cukup beralaskan karpet alfabet yang kudapatkan dari warisan kakak kosan berwarna cerah agar nyamuk penghisap darah tak berdiam di kamar karena mayoritas perkakas di kosanku berwarna cerah. Setidaknya membantu untuk penerangan kosan yang agak remang-remang. 
Warna cerah cukup membantu. Kuletakkan tikar dengan di atasnya terhimpit kasur kapuk yang lumayan menembus tulang belikatku. Tidak ada pilihan, kuucapkan. Namun, keinginan menabung sedikit demi sedikit demi mengubah pola hidup di kosan acap tertunda. Hingga di ujung masa kadaluarsa untuk berada di kampus sudah mendekati waktunya, kosanku ya bisa dibilang “begini-begini aja”.

Demi mengisi waktu luang di kala kantuk tak kunjung hadir, aku mendengarkan musik instrumental. Pikiranku melayang entah kemana. Aku bak orang tak berkawan mulai bercakap pada diri sendiri.

“ Gue yakin mereka setelah dari kosan gue ngelanjutin hal-hal gila. Tanpa ngajak gue? Oke fine. Gak apa-apa. Ini pertanda gue dihargai untuk tidak diajak melakukan hal-hal crazy. Eh tapi, kalo gue gak diajak berarti gue bukan teman yang asik dong? Ah bodo amat. Cuma mereka ini. Mereka yang dateng pas butuhnya aja. Ibaratnya pas happy mampir, pas sedih tinggalin. Udah ketebak sih awalnya.”

 “Tapi mereka yang lain juga temen deket gue, tapi cuma Alya yang pahamin gue. Gue gak nyangka deh, gue kirain Santi yang udah pengalaman duluan kerudungan bakal support gue, nemenin gue. Tapi ini malah, huh.”

“Yaudah sih, Alya kan ada. Eh tapi, Alya udah mau wisuda, apa kabar gue yang tinggal sendirian? Rio ada sih, tapi dia gak mungkin ada terus.”

“Kenapa sih di saat gue butuh mereka, mereka malah gak semuanya ngedukung gue. Pada akhirnya gue harus ngehadepin sendiri. Ternyata perubahan besar itu banyak ujiannya. Hah...”

Kantuk itu bersyukur mulai menghampiriku. Senandika terakhirku sebelum tertidur adalah

“Kekuatan datengnya dari sendiri, dan Tuhan pasti selalu ada untuk menguatkan, gak apa-apa gak ada mereka juga...”


June, 20th 2015


RED


#NulisRandom2015 day 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar