“Ia menahanku
tanpa menggenggam, ia menjagaku tanpa mempertahankan, ia...membuatku bagai tak
sanggup melepaskan. Padahal ia tak akan pernah kembali, namun daya tariknya
yang selalu menjatuhkan hati.”
***
Kami pernah memulai suatu kisah. Kisah yang manis.
Terlalu banyak kenangan yang kami ukir hingga tak bisa kuhapuskan sampai saat
ini. Ia mungkin telah bersama yang lain, namun aku masih saja begini. Sesekali
aku melihatnya, tersenyum, bahagia, seakan hidupnya baik-baik saja. Sedang aku
selalu meneriakkan dalam hati bahwa aku sama sekali tak ingin begini, gelisah,
gundah dan resah yang tak berkesudahan. Ia menjauh dariku tanpa perpisahan yang
jelas. Bukan ‘selamat tinggal’ yang diucapkan atau ‘terima kasih atas segalanya’
bahkan ‘sudah, sampai di sini saja’ tak pernah ada dalam perpisahan yang tak
pernah kuduga ini. Cinta bukan melulu kepada seorang kekasih. Keluarga,
sahabat, orang-orang terdekat bahkan orang ‘sepertinya’ yang tidak bisa
kukategorikan dengan sebutan di atas. Ia spesial, sebutan yang tepat. Maka, aku
jatuh cinta padanya. Ia memang hadir ketika semua tak mempedulikanku. Ia menempatkan
dirinya sebagai penyelemat kehancuran hidupku. Namun, hidupnya ternyata tak
lebih baik daripadaku. Ia yang sebenarnya rapuh. Tapi, tetap ia yang
menghampiriku.
***
“Kabar baik lah kalo lo dapet beasiswa itu. Congrats yah”
“Kabar baik? Kok kabar baik sih, Dri?”
“Kok lo bukannya bersyukur sih, berarti lo gak akan “tersiksa”
lagi di sini.”
“Gue harus bertahan, apapun itu keadaannya. Beasiswa ini
juga bukan gue yang apply. Nyokap tiri gue yang sengaja rencanain semua. Kok lo
gak paham sih?”
“Lo masih berpikiran buruk ke nyokap lo Sy?”
“Gue gak berpikiran buruk, Dri. Emang kelakuannya begitu.
Dia sengaja biar gue terpisah sama bokap. Gue pikir selama ini lo paham apa
yang sudah gue hadapin.”
“Huh, lo yang bikin gue gak paham. Ketika mereka
memikirkan lo, lo malah berbalik menentang mereka. Hargai mereka yang ingin
lebih dekat dan perhatian sama lo, Sy.”
“ Jadi, selama ini gue cerita sama lo, saran yang lo
kasih, pada akhirnya ini? Lo gak berpihak sama gue? Okey, Dri. Hidup lo memang
udah bahagia, gak perlu menghadapi hal kayak gini. Gue paham sekarang.”
Adri terdiam dan menatap tajam Deasy. Ia nampak lelah
berargumen dengan perempuan yang ia pikir adalah perempuan tangguh dan dewasa.
“Lo lebih ingin merasakan sendiri di saat banyak orang
yang ingin mendekat? Lo lebih ingin menjauh di saat semua orang ingin meraih
lo? Lo pernah gak ngerasain sakit yang luar biasa dan yang lo butuhin bukan
obat, tapi orang-orang yang ikhlas untuk mendekat? Lo harus sadar akan semua
hal itu. Apa yang lo butuhin dan apa yang lo inginin. Karena keinginan hanya
dinikmati sesaat dan kebutuhan akan setia mendekap, Sy.”
Kalimat terakhir Adri ditutup dengan meninggalkan Deasy
sendiri terduduk di kursi taman. Deasy tidak melihat kepergian Adri yang
mengucapkan kalimat yang bagai pisau tajam menyayat hatinya.
***
Dua tahun sudah berlalu. Deasy masih berada di sini. Dia
tidak mengambil beasiswa itu. Dia bersikeras akan keinginannya untuk tidak
memenuhi harapan Ibu tirinya untuk sekolah ke luar negeri. Ia kini bekerja di
sebuah kantor dengan penghasilan yang pas-pasan. Ketika sela waktu istirahat,
Deasy hanya terduduk di kursi taman dekat kantornya. Entah kenapa ia rindu,
rindu sekali akan seseorang yang spesial yang ia sebut selama beberapa tahun
yang lalu. Deasy ingin tahu apa yang Adri lakukan. Ia selalu bertemu dengannya,
sekedar berbincang dan tertawa di kursi taman seperti yang Deasy duduki kini.
Sepulang kerja, Deasy memberanikan diri untuk mencarinya. Tempat pertama yang
ia kunjungi adalah kantor Adri dulu, di sebuah kantor penerbit buku. Namun,
atasannya mengatakan kalau Adri tak bekerja lagi di sana, dan telah resign beberapa tahun yang lalu. Ketika
kesana Deasy memikirkan kemungkinan di mana Adri sekarang berada. Seorang
wanita menghampiri Deasy.
“Mbak, sedang mencari siapa?”
“Adri, Bu...”
“Oh, Adri...Dia udah lama resign dari sini. Kalo alamat
kantornya sekarang saya gak tau , Mbak.”
“Oh gitu ya Bu. Hmmm, saya cari di tempat laini aja kalo
gitu Bu...”
“Hmmm, tapi ini juga saya gak yakin, tapi waktu itu saya
masih di bagian HRD, nah alesan resignnya Adri itu karena ingin melakukan
penyembuhan. Tapi, saya juga gak yakin sih”
“Penyembuhan? Emang Adri sakit apa Bu?”
“Duh, kalo detail nya saya gak tahu Mbak. “
Deasy lebih kebingungan lagi. Adri tidak pernah
mengatakan kalau dia mengidap penyakit apapun. Adri selalu tampak baik-baik
saja. Setelah berhari-hari mencari, hingga berminggu-minggu, Deasy lelah
mencari. Ia tak mengetahui keberadaan Adri. Mungkin tak akan pernah tahu.
Ketika suatu siang, Deasy mendapatkan sebuah email dari
seorang wanita yang memberitahukan tentang kondisi terakhir Adri.
Dear Mbak
Deasy,
Saya
mendapatkan informasi bahwa ternyata Mas Adri dirawat di sebuah Yayasan tempat
pengidap kanker yang ada di daerah selatan. Berikut saya lampirkan alamatnya.
Semoga informasi ini membantu Mbak Deasy untuk bertemu dengan Mas Adri.
Salam
Membaca email itu, Deasy lebih tidak memahami lagi. Sejak
kapan Adri mengidap kanker? Kenapa ia tidak mengetahui keadaan Adri sebegitu
parah? Celakanya, Deasy telah menganggap paling mengetahui Adri, namun kini, ia
merasa orang asing yang bahkan tak tahu menahu soal Adri, orang yang disebutnya
spesial.
***
“Oh, kalo Mas Adri udah 2 tahun belakangan ini mampir ke
sini dan sekarang dirawat di sini, Mbak”
“Keluarga Adri pernah dateng ke sini gak Bu?”
“Setau saya, Adri tidak pernah ada pengunjung. Ia sibuk
menjadi guru di sini. Jadi, kalo keluarga mungkin tidak ada yang ke sini.”
Aku melihatnya dari jendela. Ia tertawa. Namun, Adri yang
dulu tampak sehat, bugar, dan kini lebih kurus, wajahnya yang pucat. Tapi tak
membedakan dengan Adri yang dulu, yang selau riang tak pernah muram sekalipun.
Ia bersemangat menjadi guru bagi anak-anak yang mengidap penyakit yang sama
dengan Adri. Aku tak dapat memberanikan diri untuk menemuinya. Aku tak
melangkahkan kaki ke tempat di mana ia kini, aku menghentikannya. Aku hanya
bisa menangis melihatnya, dari kejauhan. Dan, ia ternyata menghampiriku.
“Deasy?”
“Lo Deasy kan?”
“Makasih udah dateng...”
Aku yang membelakanginya, hanya bisa menangis tak bisa
menjawab pertanyaan. Dan, lagi. Aku tidak bisa membencinya walaupun ia tidak
bisa memahamiku, aku tidak bisa meninggalkannya walaupun ia lebih dulu
meninggalkanku. Aku, mungkin tak akan pernah kembali, menjadi Deasy yang dulu.
Aku, ingin menjadi Deasy yang baru, menerimanya, kembali.
inspired by an incredible song Gravity - Sara Bareilles
June, 10 th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 10
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
BalasHapusKisah di blog ini bagus-bagus. :D
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬