Minggu, 28 Juni 2015

Merenda Mukena

 “Ibu pernah bilang, ‘Kebahagiaan tidak tentang kemewahan, Nak. Menjadi sederhana, biasa dan apa adanya niscaya bahagia itu akan tiba. Apa yang ada, syukuri. Karena Tuhan memang memberikan kekayaan, namun tak pernah kemiskinan. Kita berkecukupan, Nak. Ingatlah’ “

***


Dua tahun lalu, kami masih bisa melewati tawa dan derita bersama. Waktu seakan mengejar berlari. Mengejarku yang tak siap ditinggal mereka. Ayah dan Ibu, begitu cepat mereka meninggalkanku tanpa pamit sedikit pun, tanpa mempersiapkan terlebih dahulu dan tanpa pertanda apapun. Mengikhlaskan bukan perkara mudah. Setiap hari dulunya aku tak pernah memikirkan hidup yang ternyata, kini, sungguh rumit, sungguh. Aku anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakakku sudah lumayan mapan dan berpenghasilan, tetapi kami tidak begitu akrab, karena mereka sudah lama tinggal di luar negeri. Jadi, hanya aku yang ada di dekat mereka, ayah dan ibu.

Bulan Ramadhan kali ini pun, terasa kosong. Rumah, waktu sahur dan berbuka, hingga sholat taraweh yang selalu kami bertiga lakukan bersama. Walaupun kini mereka tak ada dan tak akan pernah kembali, aku tetap menuju mesjid seorang diri, dan terkadang tersenyum sendiri membayangkan betapa bahagianya apabila ayah dan ibu masih ada, andaikan. Sudah hampir sebulan ini, aku hidup dengan kelelahan yang berlipat ganda. Dari kuliah, bekerja paruh waktu di sore hari, menyiapkan menu berbuka puasa dan begitu berulang setiap harinya. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kuliah sambil bekerja. Ternyata, aku tidak perlu membayangkan terlebih dahulu, toh sudah langsung praktek di kehidupan nyata. Terkadang setelah seharian beraktivitas, aku hanya terduduk di lantai kamar, melamunkan banyak hal. Kuatkah aku? Hidupku berubah, ya.

***

“Niar, aku kayaknya gak bisa lebaran di sini. Soalnya 2 hari sebelum lebaran ada proyek di Denmark, dan aku harus pergi.”

“Kakak emang harus banget kerja pas lebaran?”

“Yaa, ini kesempatan besar untuk promosi kerja, Ni..Kamu gak apa-apa kan kakak tinggal sendiri?”

“Niar gak akan sendiri kan, Kak Mona kan lebaran di sini sama Niar”

“Ah, Mona belum bilang ya ke kamu?”

“Bilang apa emangnya?”

“Mona mau ke Semarang lebaran sama keluarga Randi, ya mau ngunjungin keluarga besarnya Randi. Kamu gak diajak?”

“Haa? Kak Mona gak ngajakn aku, bahkan aku gak tahu kalo Kak Mona ninggalin aku di sini”

Niar masih tidak menyangka kalau ia harus melalui lebaran seorang diri. Ia berpikir kakaknya akan melindunginya, menjaganya. Namun, sebaliknya.

Niar tidak ingin merasa lemah di hadapan kakaknya. Ia lalu menemui Mona di kantornya.

“Sori Kak, aku ganggu sampe dateng ke kantor Kak Mona”

“Kenapa, Ni?”

“Salam buat keluarga Kak Randi di Semarang. Maaf aku gak bisa ikut, lagipula Kak Mona juga gak bilang ke aku ataupun ngajak aku. Aku pulang dulu”

Niar lalu pergi dan meninggalkan Mona yang hanya bisa terdiam. Ia menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan Mona. Niar kali ini harus melalui segalanya sendiri. Keluarga yang lengkap, berkumpul di hari raya hanya tinggal menjadi angan semata. Ia harus kuat melalui ini semua.

***

“Ni...ini aku beliin mukena nanti untuk sholat ied”

Mona memberikanku mukena itu kepadaku. Ia seperti tak merasa bersalah atau merasa terbebani dengan sikapku tadi siang. Dengan entengnya ia tersenyum kepadaku dan menyerahkan sebuah plastik berisi mukena.

“Gak usah Kak. Kakak aja yang pake”

“Loh, Ni...Ambil aja, kamu belum punya mukena baru kan? Pake ini aja, jadi kamu gak pake gaji kamu untuk beli mukena baru.”

“Gak perlu, Kak. Aku gak perlu yang baru. Dua tahun lalu, Ibu buatin aku mukena, dan udah aku pake 1 kali lebaran tahun kemaren. Tahun ini aku masih memakai mukena  dari ibu. Ibu yang jahit sendiri. Dan, alhamdulillah masih bersih dan bagus. Makasih Kak”

“Mukena yang pinggirnya udah agak rusak itu? Niar..itu udah gak bagus, pakai ini aja ya”

“Siapa bilang gak bagus? Ini mukena yang ibu jahit dengan tangan Ibu sendiri. Dan aku masih mau pake ini. Aku bakal jahit mukena ini lagi, bahkan kata Ibu, mukena bisa bagus lagi kalo ditambahin renda di pinggirnya, tapi karena Ibu gak sempet waktu itu, jadi pinggirnya begini. Aku yang akan merenda mukena ini, Kak. Karena ini dari Ibu, dan aku rindu sama Ibu. Kak Mona dan Kak Pia tinggalin aja aku sendiri, aku bisa ngelaluin ini semua. Ibu bilang aku kuat, dan aku harus kuat.”

“Niarr.....”

“Dan jangan pernah paksa aku untuk ambil mukena dari kakak, aku....akan pake mukena dari Ibu, nanti...”


June, 28th 2015


RED


#NulisRandom2015 day 28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar