“Ibu pernah
bilang, ‘Kebahagiaan tidak tentang kemewahan, Nak. Menjadi sederhana, biasa dan
apa adanya niscaya bahagia itu akan tiba. Apa yang ada, syukuri. Karena Tuhan
memang memberikan kekayaan, namun tak pernah kemiskinan. Kita berkecukupan,
Nak. Ingatlah’ “
***
Dua tahun lalu, kami masih bisa melewati tawa dan derita
bersama. Waktu seakan mengejar berlari. Mengejarku yang tak siap ditinggal
mereka. Ayah dan Ibu, begitu cepat mereka meninggalkanku tanpa pamit sedikit
pun, tanpa mempersiapkan terlebih dahulu dan tanpa pertanda apapun.
Mengikhlaskan bukan perkara mudah. Setiap hari dulunya aku tak pernah
memikirkan hidup yang ternyata, kini, sungguh rumit, sungguh. Aku anak terakhir
dari 3 bersaudara. Kakakku sudah lumayan mapan dan berpenghasilan, tetapi kami
tidak begitu akrab, karena mereka sudah lama tinggal di luar negeri. Jadi,
hanya aku yang ada di dekat mereka, ayah dan ibu.
Bulan Ramadhan kali ini pun, terasa kosong. Rumah, waktu
sahur dan berbuka, hingga sholat taraweh yang selalu kami bertiga lakukan
bersama. Walaupun kini mereka tak ada dan tak akan pernah kembali, aku tetap
menuju mesjid seorang diri, dan terkadang tersenyum sendiri membayangkan betapa
bahagianya apabila ayah dan ibu masih ada, andaikan. Sudah hampir sebulan ini,
aku hidup dengan kelelahan yang berlipat ganda. Dari kuliah, bekerja paruh
waktu di sore hari, menyiapkan menu berbuka puasa dan begitu berulang setiap
harinya. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kuliah sambil bekerja. Ternyata,
aku tidak perlu membayangkan terlebih dahulu, toh sudah langsung praktek di
kehidupan nyata. Terkadang setelah seharian beraktivitas, aku hanya terduduk di
lantai kamar, melamunkan banyak hal. Kuatkah aku? Hidupku berubah, ya.
***
“Niar, aku kayaknya gak bisa lebaran di sini. Soalnya 2
hari sebelum lebaran ada proyek di Denmark, dan aku harus pergi.”
“Kakak emang harus banget kerja pas lebaran?”
“Yaa, ini kesempatan besar untuk promosi kerja, Ni..Kamu
gak apa-apa kan kakak tinggal sendiri?”
“Niar gak akan sendiri kan, Kak Mona kan lebaran di sini
sama Niar”
“Ah, Mona belum bilang ya ke kamu?”
“Bilang apa emangnya?”
“Mona mau ke Semarang lebaran sama keluarga Randi, ya mau
ngunjungin keluarga besarnya Randi. Kamu gak diajak?”
“Haa? Kak Mona gak ngajakn aku, bahkan aku gak tahu kalo
Kak Mona ninggalin aku di sini”
Niar masih tidak menyangka kalau ia harus melalui lebaran
seorang diri. Ia berpikir kakaknya akan melindunginya, menjaganya. Namun,
sebaliknya.
Niar tidak ingin merasa lemah di hadapan kakaknya. Ia
lalu menemui Mona di kantornya.
“Sori Kak, aku ganggu sampe dateng ke kantor Kak Mona”
“Kenapa, Ni?”
“Salam buat keluarga Kak Randi di Semarang. Maaf aku gak
bisa ikut, lagipula Kak Mona juga gak bilang ke aku ataupun ngajak aku. Aku
pulang dulu”
Niar lalu pergi dan meninggalkan Mona yang hanya bisa
terdiam. Ia menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan Mona. Niar kali ini
harus melalui segalanya sendiri. Keluarga yang lengkap, berkumpul di hari raya
hanya tinggal menjadi angan semata. Ia harus kuat melalui ini semua.
***
“Ni...ini aku beliin mukena nanti untuk sholat ied”
Mona memberikanku mukena itu kepadaku. Ia seperti tak
merasa bersalah atau merasa terbebani dengan sikapku tadi siang. Dengan
entengnya ia tersenyum kepadaku dan menyerahkan sebuah plastik berisi mukena.
“Gak usah Kak. Kakak aja yang pake”
“Loh, Ni...Ambil aja, kamu belum punya mukena baru kan? Pake
ini aja, jadi kamu gak pake gaji kamu untuk beli mukena baru.”
“Gak perlu, Kak. Aku gak perlu yang baru. Dua tahun lalu,
Ibu buatin aku mukena, dan udah aku pake 1 kali lebaran tahun kemaren. Tahun
ini aku masih memakai mukena dari ibu.
Ibu yang jahit sendiri. Dan, alhamdulillah masih bersih dan bagus. Makasih Kak”
“Mukena yang pinggirnya udah agak rusak itu? Niar..itu
udah gak bagus, pakai ini aja ya”
“Siapa bilang gak bagus? Ini mukena yang ibu jahit dengan
tangan Ibu sendiri. Dan aku masih mau pake ini. Aku bakal jahit mukena ini
lagi, bahkan kata Ibu, mukena bisa bagus lagi kalo ditambahin renda di
pinggirnya, tapi karena Ibu gak sempet waktu itu, jadi pinggirnya begini. Aku
yang akan merenda mukena ini, Kak. Karena ini dari Ibu, dan aku rindu sama Ibu.
Kak Mona dan Kak Pia tinggalin aja aku sendiri, aku bisa ngelaluin ini semua.
Ibu bilang aku kuat, dan aku harus kuat.”
“Niarr.....”
“Dan jangan pernah paksa aku untuk ambil mukena dari
kakak, aku....akan pake mukena dari Ibu, nanti...”
June, 28th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar