“Ia berdiam di
jarak yang terbentang. Bagai benang yang melayang, kami terikat namun tak
merekat. Ia makin jauh dan menjauh. Namun, ia selalu menjadi sasaranku untk
terus kupandang, raut nya tergurat bertanya “Bagaimana bisa kau menatapku, bahkan
kita tak akan mampu menyatu?” “
***
Ini bukan soal ikatan darah atau keturunan. Kami memang
berbeda. Berbeda Ibu, berbeda ayah, bahkan berbeda latar belakang. Aku entah
kapan dan di mana munculnya. Kata Ibu,
aku ditemukan di depan pintu sebuah rumah yang disebut sebagai panti asuhan.
Asal usulku memang agak sedikit berbeda pula dengan adikku, ia lahir di rumah
sakit dari rahim seorang Ibu. Tapi, aku? Apakah aku lahir di depan pintu
asuhan, begitu? Masih menjadi misteri bagiku sampai saat ini, dan keinginan
untuk mencari tahu pun tidak menggerakkan tekad dan kemauan untuk mengetahui
itu semua. Aku memang punya adik. Kata Ibu, waktu adik lahir “Kak, ini adik
kamu...Lucu ya?”
Ya, aku punya adik yang lucu, ia adikku, tak diragukan
lagi. Karena aku pikir apa yang dikatakan Ibu adalah hal yang pakem dan tidak
bisa diganggu gugat. Ibaratnya validitas ucapan itu sudah teruji kebenarannya.
Karena Ibu yang mengucapkan, ya, aku percaya.
***
“Semuanya diundang ke perkemahan?Semua?”
“Iya, Yah..Kenapa kaget git sih?”
“Kalo zaman ayah dulu, kemah bareng teman-teman aja...Gak
sama keluarga, Dek”
“Ya, sekarang sih katanya mau menguji kekompakan sama
keluarga gitu.”
“Oh gitu, yaudah semua berangkat yaa”
“Semua? Maksud Ayah?”
“Ya semua, ayah, ibu, kakak, sam adek.”
“Loh, katanya kan keluarga aja Yah”
“Maksud kamu apa sih? Itu semua sekeluarga kan kita
berangkatnya”
“Kakak juga ikut?”
“Iya dong. Itu kakak kamu, masa’ dia gak ikut.”
“Yah, ayah paham kan maksud keluarga gimana? Mereka “satu
keluarga” yang benar benar sedarah”
“Dek, kamu belajar dari mana itu? Sejak kapan arti
keluarga kamu bilang begitu, Dek?”
“Aku belajar di sekolah, dan memang masuk akal semua.”
“Kakak ya tetap kakak kamu. Ia bagian dari keluarga ini.
Ia anak ayah sama ibu. Jadi kamu gak boleh ngomong gitu ya “
Perdebatan Ayah dan Adik terdengar oleh Mita, kakak yang
disebut bukan sebagai keluarga oleh Adik. Mita terdiam di balik dinding. Ia
meneteskan air mata. Selama ini ia menganggap adiknya, Moli menerimanya sebagai
keluarga sesungguhnya. Namun, setelah Moli beranjak 17 tahun, pemikirannya
berubah. Mita mulai menanyakan kepada diri nya, “Siapakah saya di rumah ini?”
***
Kami “sekeluarga” berangkat menuju kampung perkemahan
yang diselenggarakan oleh sekolah Moli. Aku kini berjalan dengan penuh banyak
tanya. Bisakah aku tetap menjadi bagian yang utuh dan tulus sebagai keluarga di
sini?” Membayangkan jawabannya saja aku takut.
Tidak seperti biasa, Moli berjalan berjauhan denganku.
Biasanya kami saling bergandengan tangan, bersenda gurau, dan akrab satu sama
lain. Namun, kini berbeda. Jawaban atas tanyaku makin tergurat jelas.
“Hai, ini ayah ibu aku...”
“Oh hai om tante...Aku Saila”
“Kamu bertiga aja aja, Mol?”
“Hmm...”
Aku melihat Moli, ayah dan ibu sedang bercengkrama dengan
salah satu keluarga. Aku berjalan mundur mencoba menjauh. Tiba-tiba ibu
memanggilku.
“Mitaa..Ayo sinii”
Semua pandangan menuju ke arahku. Moli melihatku.
Tatapannya tajam, bukan seperti Moli yang bermuka manis dan lembut. Ia berubah
seketika.
“Ini Mita, kakaknya Moli...”
“Oh, Moli punya kakak? Kamu gak pernah cerita Mol punya
kakak, tapi kok gak mirip yah...hmm maaf”
Kami semua terdiam. Ucapan Saila membuat kami tak mampu
menjawab.
“Emang dia bukan kakak kandung aku. Dia anak adopsi”
Ayah dan Ibu melihat Moli dengan tatapan penuh amarah.
“Moli! Kamu ngomong apa sih?”
Ibu tidak mampu menahan amarahnya lagi.
“Loh ,emang iya kan. Moli gak salah kan?”
Aku tidak ingin diam saja. Aku berusaha mengumpulkan
nyaliku untuk membela diriku, dan orang tua yang telah membesarkanku.
“Saila, emang benar kalo aku bukan kakak kandung Moli,
tapi aku sudah jadi kakak Moli sebelum Moli lahir. Aku memang tidak sedarah
dengan Moli, tapi kami kakak-adik yang sangat akrab. Aku selau dan akan menjaga
Moli karena ia keluargaku. Walaupun akhir-akhir ini, Moli gak melihatku sebagai
kakak kandung, tapi aku yakin suatu saat nanti Moli bisa menerimaku seutuhnya
sebagai kakak, walaupun darah kami berbeda. Karena aku di mataku, Moli adalah
adikku.
Dan akan tetap seperti itu, selamanya...”
June, 18th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 18th
Tidak ada komentar:
Posting Komentar