“Tapi kuyakin,
sepiku hampir hilang bahkan sebelum aku menutup tulisanku dengan kalimat
terakhir”
***
Sebuah buku berwarna ungu kupilih menjadi hadiah kenaikan
kelasku kali ini. Ketika saudara-saudaraku yang lain memilih mainan, baju
ataupun sepatu, aku lebih memilih sebuah buku. Buku nya kosong. Buku itu harus
kuiisi setiap hari.
Maka aku bertanya pada mama,
“Ma, aku harus isi apa ya?”
“Kamu tulis apa saja, cerita kegiatan sekolah, cerita
tentang orang-orang yang kamu temui hari ini, cerita tentang apa yang kamu
rasakan, pikirkan dan inginkan. Bisa kan? Buku ini disebut diari.”
Mulailah aku menulis. Apa saja. Umur 9 tahunku diisi
dengan cerita nilai ulangan yang membuatku bahagia, membuatku menangis hingga
mencoret diari itu, cerita ketika aku bermain dengan tetangga yang
berkewarganegaraan asing yang membuatku mulai menulis dengan bahasa inggris
yang entah berantah, cerita tentang pertemanan, hingga “cinta monyet pandangan
pertama”.
Semua kutulis di diari ungu itu. Lembarannya cukup banyak, hingga
memuat seluruh cerita sampai aku duduk di bangku SMP. Mulai saat itu, aku
membeli sendiri buku kosong sebagai kebutuhan. Kebutuhan akan menulis.
Ceritanya lebih berkembang seiring kehidupanku yang menginjak usia pubertas,
hingga usia di mana ingin berkarya lebih.
Kupersiapkan sebuah kumpulan kertas. Di sana, aku memulai sebuah cerita
pendek. Ingat ketika seorang sahabat memintaku untuk menuliskan cerita karena
ada tugas dari sekolah. Entah terlalu baik atau naif, aku membuatkannya dengan
senang hati. Bisa dibilang, itulah “debut” ku memulai cerita pendek. Judulnya, “Kusebut
Mereka Sahabatku, Dulu...”. Ia bahagia ketika menerima cerita itu.
Aku
menganggap, sebuah tulisan hanya menjadi beban untuk seseorang membacanya.
Namun ketika melihat kebahagiaan dari sahabat itu,
“ Ah, menulis bisa
menciptakan kebahagiaan.”
Sampai pada suatu
titik, aku mengalami beberapa kegagalan, aku kembali menulis. Namun, di hari
berikutnya aku berhenti menulis. Aku sempat menulis cerita selamat tinggal,
bahwa aku tidak akan menulis lagi, bahwa aku harus melanjutkan hidup namun
tanpa menulis.
Beberapa tahun berselang, ada yang hilang. Aku merasa bukan
diriku. Hanya sibuk mengejar nilai, nilai dan indeks prestasi. Toh, pada
akhirnya aku meraihnya. Namun, kebahagiaan itu tak lagi sama, tak sama seperti
ketika aku selesai menciptakan sebuah cerita. Ternyata, titik di mana aku rindu
menulis, aku perlu 12 bulan untuk kembali. Aku menulis lagi. Kini lebih ingin
serius, ingin teratur, ingin mencapai suatu target. Ingin bahagia, tetap pada
akhirnya.
Setelah selesai menulis sore itu, menerbitkannya di blog pribadi, aku
terdiam sejenak, memandangi layar laptop yang dipenuhi beberapa judul. Di
hadapanku dinding putih memburam bagai cermin.
“Apakah menulis itu penting?
Kenapa aku menulis?Apa yang aku peroleh dengan menulis?”.
Pemikiran naif itu
berseliweran, malah pasca berkarya. Malah aku pernah berpikir, “Hmm..mungkin
menulis untuk orang sepertiku, “yang merasa kesepian”. Aku tidak tahu harus
berbuat apa, makanya aku menulis. Jawaban itu yang selalu tertanam pada diriku.
Setelah 2 tahun berselang, aku mampir dari satu bacaan ke
bacaan lain, dan aku menemukan sesuatu yang menggugah bagi seseorang yang
sepertiku yang menganggap menulis karena kesepian.
“Menulis
adalah cara yang paling baik untuk menjauhkanmu dari kesepian. Sekalipun judul
tulisanmu “Kesepian” yakinlah, sepimu hampir hilang bahkan sebelum kamu menutup
tulisanmu dengan kalimat terakhir. Menulis membuat bersahabat dengan jiwamu.
Orang yang bersahabat dengan jiwanya tidak akan pernah merasa kesepian.”
(tulisan ini
terinspirasi dari sebuah bacaan yang menggugah hati dari grup facebook
Nulisbuku Community, trims J )
June, 19th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar