Jumat, 19 Juni 2015

Sepi

“Tapi kuyakin, sepiku hampir hilang bahkan sebelum aku menutup tulisanku dengan kalimat terakhir”
***


Sebuah buku berwarna ungu kupilih menjadi hadiah kenaikan kelasku kali ini. Ketika saudara-saudaraku yang lain memilih mainan, baju ataupun sepatu, aku lebih memilih sebuah buku. Buku nya kosong. Buku itu harus kuiisi setiap hari. 
Maka aku bertanya pada mama, 
“Ma, aku harus isi apa ya?”

“Kamu tulis apa saja, cerita kegiatan sekolah, cerita tentang orang-orang yang kamu temui hari ini, cerita tentang apa yang kamu rasakan, pikirkan dan inginkan. Bisa kan? Buku ini disebut diari.”

Mulailah aku menulis. Apa saja. Umur 9 tahunku diisi dengan cerita nilai ulangan yang membuatku bahagia, membuatku menangis hingga mencoret diari itu, cerita ketika aku bermain dengan tetangga yang berkewarganegaraan asing yang membuatku mulai menulis dengan bahasa inggris yang entah berantah, cerita tentang pertemanan, hingga “cinta monyet pandangan pertama”. 

Semua kutulis di diari ungu itu. Lembarannya cukup banyak, hingga memuat seluruh cerita sampai aku duduk di bangku SMP. Mulai saat itu, aku membeli sendiri buku kosong sebagai kebutuhan. Kebutuhan akan menulis. Ceritanya lebih berkembang seiring kehidupanku yang menginjak usia pubertas, hingga usia di mana ingin berkarya lebih.  
Kupersiapkan sebuah kumpulan kertas. Di sana, aku memulai sebuah cerita pendek. Ingat ketika seorang sahabat memintaku untuk menuliskan cerita karena ada tugas dari sekolah. Entah terlalu baik atau naif, aku membuatkannya dengan senang hati. Bisa dibilang, itulah “debut” ku memulai cerita pendek. Judulnya, “Kusebut Mereka Sahabatku, Dulu...”. Ia bahagia ketika menerima cerita itu.
Aku menganggap, sebuah tulisan hanya menjadi beban untuk seseorang membacanya. Namun ketika melihat kebahagiaan dari sahabat itu, 
“ Ah, menulis bisa menciptakan kebahagiaan.”

 Sampai pada suatu titik, aku mengalami beberapa kegagalan, aku kembali menulis. Namun, di hari berikutnya aku berhenti menulis. Aku sempat menulis cerita selamat tinggal, bahwa aku tidak akan menulis lagi, bahwa aku harus melanjutkan hidup namun tanpa menulis.

Beberapa tahun berselang, ada yang hilang. Aku merasa bukan diriku. Hanya sibuk mengejar nilai, nilai dan indeks prestasi. Toh, pada akhirnya aku meraihnya. Namun, kebahagiaan itu tak lagi sama, tak sama seperti ketika aku selesai menciptakan sebuah cerita. Ternyata, titik di mana aku rindu menulis, aku perlu 12 bulan untuk kembali. Aku menulis lagi. Kini lebih ingin serius, ingin teratur, ingin mencapai suatu target. Ingin bahagia, tetap pada akhirnya. 

Setelah selesai menulis sore itu, menerbitkannya di blog pribadi, aku terdiam sejenak, memandangi layar laptop yang dipenuhi beberapa judul. Di hadapanku dinding putih memburam bagai cermin.

“Apakah menulis itu penting? Kenapa aku menulis?Apa yang aku peroleh dengan menulis?”. 

Pemikiran naif itu berseliweran, malah pasca berkarya. Malah aku pernah berpikir, “Hmm..mungkin menulis untuk orang sepertiku, “yang merasa kesepian”. Aku tidak tahu harus berbuat apa, makanya aku menulis. Jawaban itu yang selalu tertanam pada diriku.

Setelah 2 tahun berselang, aku mampir dari satu bacaan ke bacaan lain, dan aku menemukan sesuatu yang menggugah bagi seseorang yang sepertiku yang menganggap menulis karena kesepian.

“Menulis adalah cara yang paling baik untuk menjauhkanmu dari kesepian. Sekalipun judul tulisanmu “Kesepian” yakinlah, sepimu hampir hilang bahkan sebelum kamu menutup tulisanmu dengan kalimat terakhir. Menulis membuat bersahabat dengan jiwamu. Orang yang bersahabat dengan jiwanya tidak akan pernah merasa kesepian.”

(tulisan ini terinspirasi dari sebuah bacaan yang menggugah hati dari grup facebook Nulisbuku Community, trims J )


June, 19th 2015


RED

#NulisRandom2015 day 19


Tidak ada komentar:

Posting Komentar