“Kami tak
pernah ingin selalu benar. Kami juga tak pernah ingin mereka selalu merasa
bersalah. Tapi, yang kami inginkan sederhana, ingin dimengerti. Dari kami, perempuan
yang mereka sebut ber-wajah fiksi”
***
“Tuh kan, ujung-ujungnya berantem lagi, ribut lagi. Aku
capek, Nar”
“Kamu capek? Aku apa kabar? Aku nungguin kamu di depan
kantor, kamu keluar 2 jam setelah itu, tersenyum kayak gak ada apa-apa. “
“Astaga, Dinar. Masalah itu masih aja ya dibawa-bawa
sampe sekarang. Sekarang kita lagi ngebahas masalah lain. Hah.”
“Kamu tipe orang yang gampang ngelupain masa lalu,
sekarang aku mau ngingetin kamu capek –an mana sih kita? Kalo aku gak bandingin
dulu sama sekarang, kamu gak akan pernah ngerti, Al.”
“Ya terus, aku harus minta maaf untuk kesalahan yang
mana?”
“Maaf? Ha? Jadi, seenteng itu kamu minta maaf atas banyak
kesalahan yang kamu perbuat?”
“Iya. Aku yang paling salah di sini, dan aku yang harus
selalu minta maaf.”
“Minta maaf mungkin gak berharga ya untuk kamu, segampang
itu.”
Dinar meninggalkan Al di restoran yang seharusnya menjadi
tempat untuk merayakan hari jadi mereka. Al kali ini tidak berusaha mengejar
Dinar. Dinar mengambil langkah seribu ingin cepat meninggalkan tempat itu.
Mereka saling mengenal 10 tahun lamanya. Namun, akhirnya
mereka berkomitmen menjadi sepasang kekasih 2 tahun yang lalu. Mereka dulunya
bersahabat. Al mengenal Dinar sebagai perempuan yang sederhana, tidak ribet dan
luwes. Terlalu sering menghabiskan waktu bersama, membuatmereka bukan hanya
menjadi sahabat, namun berubah menjadi cinta. Sempat terbersit di pikiran Al,
ia menyesal menjadikan sahabat sebagai cintanya. Namun, terkadang ia merasa bersyukur
karena Dinar adalah perempuan yang paling memahami dia di saat orang lain
meninggalkan Al sendiri. Di satu sisi Al bahagia, di sisi lain Al kecewa. Tapi
kini, Al melihat Dinar sebagai orang yang berbeda. Dinar kini lebih
mengkungkung Al erat.
Awalnya Al berpikir Dinar ingin selalu dekat dengan Al
dan agar Al selalu menjadi milik Dinar. Namun, lama kelamaan sikap Dinar mulai
berbeda, makin posesif, menampakkan bahwa ia seperti perempuan lainnya, sibuk
mengurusi hal-hal kecil yang terkadang menyebalkan bagi Al. Sedikit saja ada
kesalaham, pertengkaran ujungnya. Al mulai lelah dengan keadaan ini.
***
“Akhirnyaaaa, lo dapet peran itu juga, Nar! Selamat ya!”
“Iyaa, thank you udah nemenin.”
“Lo seneng atau sedih sih? Ekpresi lo gak ada
seneng-senengnya dapet peran ini”
“Ah, enggak kok, seneng banget lah gue.”
“Eh, Al mana? Bukannya tadi dia janji mau kesini?”
“Al? Mungkin lagi sibuk...Gue balik duluan ya.”
Dinar berjalan kaki menuju kantor Al. Berkali-kali ia
selalu menjadi orang yang menghampiri Al. Dinar seperti biasa menunggu di luar
kantor Al. Sejam, dua jam, tiga jam. Ia menunggu namun Al tak kunjung keluar di
kantor. Setelah beberapa menit dalam waktu tiga jam itu, akhirnya Al keluar. Ia
terkejut melihat Dinar yang duduk sendirian di depan kantornya.
“Nar, kamu ngapain di sini?”
“Ha? Kamu lupa? Ah, kamu lupa lagi. Gak apa-apa.
Setidaknya, ini malem terakhir gue nungguin lo di sini.”
“Nar? Lo?”
“Hm...mungkin kita gak cocok begini. Lo sibuk dengan
dunia lo, dan gue paham sekarang.”
“Kamu, tadi...”
“Hm...gue dapet peran dari audisi yang gue jalanin dari
tadi pagi sampai jam 7 malem tadi. Gue berharap lo keluar dengan wajah yang
antusias, tapi, lo parahnya...lupa.”
“Ah, Nar. Aku minta maaf, tadi banyak banget kerjaan di kantor.”
“Gak apa-apa kok, I’m fine.”
“Oke, kamu udah makan malem? Kita makan dulu yuk?”
“Lo sama sekali ga paham ini semua. Gue salah milih
orang.”
“Maksud kamu? Kamu gak apa-apa kan? Aku benar-beanr lupa
dan aku udah minta maaf, dan kamu...”
“Ini, mungkin jadi teman lebih baik dibanding kita
begini, Al. Teruskan kesibukan lo dan kelupaan lo, bahkan hari ini hari besar
gue, dan ini bukan hal yang kecil, dan gue udah minta lo dateng tadi, walaupun
sebentar. Tapi lo gak paham. Ya udah...Gue pulang dulu.”
“Nar, kok bisa-bisanya lo bilang kayak gitu? Gue lupa dan
gue tadi sibuk banget. Gue udah minta maaf juga kan?”
“Kesibukan bukan alesan yang tepat bukan gue. Itu cuma
masalah prioritas, Al. Kalo lo sedikit aja ngeluangin waktu buat gue, mungkin
kesibukan lo juga bakal kalah sama prioritas lo. Itu tergantung manusianya yang
punya niat ato gak. Gue harap, siapapun pendamping hidup lo nanti jadi salah
satu prioritas dalam hidup lo, hingga sibuk bukan alasan klasik yang bisa lo
jadiin senjata untuk segala macem excuse lo, Al.”
Dinar beranjak pergi. Al hanya terdiam, tidak mampu
menjawab ucapan Dinar. Ucapan Dinar benar-benar bagai pisau yang menghunus
hatinya.
“Pahami melalui hati, Al. Bukan dari ucapan.”
June, 16th 2015
RED
#NulisRandom2015 day 16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar