Selasa, 16 Juni 2015

Wajah Fiksi

“Kami tak pernah ingin selalu benar. Kami juga tak pernah ingin mereka selalu merasa bersalah. Tapi, yang kami inginkan sederhana, ingin dimengerti. Dari kami, perempuan yang mereka sebut ber-wajah fiksi”
***


“Tuh kan, ujung-ujungnya berantem lagi, ribut lagi. Aku capek, Nar”

“Kamu capek? Aku apa kabar? Aku nungguin kamu di depan kantor, kamu keluar 2 jam setelah itu, tersenyum kayak gak ada apa-apa. “

“Astaga, Dinar. Masalah itu masih aja ya dibawa-bawa sampe sekarang. Sekarang kita lagi ngebahas masalah lain. Hah.”

“Kamu tipe orang yang gampang ngelupain masa lalu, sekarang aku mau ngingetin kamu capek –an mana sih kita? Kalo aku gak bandingin dulu sama sekarang, kamu gak akan pernah ngerti, Al.”

“Ya terus, aku harus minta maaf untuk kesalahan yang mana?”

“Maaf? Ha? Jadi, seenteng itu kamu minta maaf atas banyak kesalahan yang kamu perbuat?”

“Iya. Aku yang paling salah di sini, dan aku yang harus selalu minta maaf.”

“Minta maaf mungkin gak berharga ya untuk kamu, segampang itu.”

Dinar meninggalkan Al di restoran yang seharusnya menjadi tempat untuk merayakan hari jadi mereka. Al kali ini tidak berusaha mengejar Dinar. Dinar mengambil langkah seribu ingin cepat meninggalkan tempat itu.

Mereka saling mengenal 10 tahun lamanya. Namun, akhirnya mereka berkomitmen menjadi sepasang kekasih 2 tahun yang lalu. Mereka dulunya bersahabat. Al mengenal Dinar sebagai perempuan yang sederhana, tidak ribet dan luwes. Terlalu sering menghabiskan waktu bersama, membuatmereka bukan hanya menjadi sahabat, namun berubah menjadi cinta. Sempat terbersit di pikiran Al, ia menyesal menjadikan sahabat sebagai cintanya. Namun, terkadang ia merasa bersyukur karena Dinar adalah perempuan yang paling memahami dia di saat orang lain meninggalkan Al sendiri. Di satu sisi Al bahagia, di sisi lain Al kecewa. Tapi kini, Al melihat Dinar sebagai orang yang berbeda. Dinar kini lebih mengkungkung Al erat. 
Awalnya Al berpikir Dinar ingin selalu dekat dengan Al dan agar Al selalu menjadi milik Dinar. Namun, lama kelamaan sikap Dinar mulai berbeda, makin posesif, menampakkan bahwa ia seperti perempuan lainnya, sibuk mengurusi hal-hal kecil yang terkadang menyebalkan bagi Al. Sedikit saja ada kesalaham, pertengkaran ujungnya. Al mulai lelah dengan keadaan ini.

***

“Akhirnyaaaa, lo dapet peran itu juga, Nar! Selamat ya!”

“Iyaa, thank you udah nemenin.”

“Lo seneng atau sedih sih? Ekpresi lo gak ada seneng-senengnya dapet peran ini”

“Ah, enggak kok, seneng banget lah gue.”

“Eh, Al mana? Bukannya tadi dia janji mau kesini?”

“Al? Mungkin lagi sibuk...Gue balik duluan ya.”

Dinar berjalan kaki menuju kantor Al. Berkali-kali ia selalu menjadi orang yang menghampiri Al. Dinar seperti biasa menunggu di luar kantor Al. Sejam, dua jam, tiga jam. Ia menunggu namun Al tak kunjung keluar di kantor. Setelah beberapa menit dalam waktu tiga jam itu, akhirnya Al keluar. Ia terkejut melihat Dinar yang duduk sendirian di depan kantornya.

“Nar, kamu ngapain di sini?”

“Ha? Kamu lupa? Ah, kamu lupa lagi. Gak apa-apa. Setidaknya, ini malem terakhir gue nungguin lo di sini.”

“Nar? Lo?”

“Hm...mungkin kita gak cocok begini. Lo sibuk dengan dunia lo, dan gue paham sekarang.”

“Kamu, tadi...”

“Hm...gue dapet peran dari audisi yang gue jalanin dari tadi pagi sampai jam 7 malem tadi. Gue berharap lo keluar dengan wajah yang antusias, tapi, lo parahnya...lupa.”

“Ah, Nar. Aku minta maaf, tadi banyak banget kerjaan di kantor.”

“Gak apa-apa kok, I’m fine.”

“Oke, kamu udah makan malem? Kita makan dulu yuk?”

“Lo sama sekali ga paham ini semua. Gue salah milih orang.”

“Maksud kamu? Kamu gak apa-apa kan? Aku benar-beanr lupa dan aku udah minta maaf, dan kamu...”

“Ini, mungkin jadi teman lebih baik dibanding kita begini, Al. Teruskan kesibukan lo dan kelupaan lo, bahkan hari ini hari besar gue, dan ini bukan hal yang kecil, dan gue udah minta lo dateng tadi, walaupun sebentar. Tapi lo gak paham. Ya udah...Gue pulang dulu.”

“Nar, kok bisa-bisanya lo bilang kayak gitu? Gue lupa dan gue tadi sibuk banget. Gue udah minta maaf juga kan?”

“Kesibukan bukan alesan yang tepat bukan gue. Itu cuma masalah prioritas, Al. Kalo lo sedikit aja ngeluangin waktu buat gue, mungkin kesibukan lo juga bakal kalah sama prioritas lo. Itu tergantung manusianya yang punya niat ato gak. Gue harap, siapapun pendamping hidup lo nanti jadi salah satu prioritas dalam hidup lo, hingga sibuk bukan alasan klasik yang bisa lo jadiin senjata untuk segala macem excuse lo, Al.”

Dinar beranjak pergi. Al hanya terdiam, tidak mampu menjawab ucapan Dinar. Ucapan Dinar benar-benar bagai pisau yang menghunus hatinya.

 “Pahami melalui hati, Al. Bukan dari ucapan.”





June, 16th 2015

RED


#NulisRandom2015 day 16 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar