“Bayangkan, di hari ini mungkin hari kita terhenti. Apa
kawan kita? Apa penolong kita? Semoga amalan selama ini menjadi kawan sejati di
akhir nanti. Karena tidak akan sia-sia memberi kini pada akhirnya berguna di
penghujung hari.”
***
Hari ke sembilan belas. Aku masih menjalaninya sendiri,
begini-begini saja. Kadang merasa hampa, kadang merasa kosong, kadang merasa
hilang. Ketika melewati hari ini pun, aku sempat berpikir, untuk apa banyak
teman, untuk apa mengurusi lawan, sedang diri sendiri saja tidak diisi dengan
sesuatu yang bermakna. Dikelilingi dengan banyak orang, namun bertanya kembali
pada diri sendiri, “Sudahkah aku bermanfaat untuk orang di sekitar?”, “Sudahkah
aku berbuat sesuatu yang bukan untuk diriku sendiri saja,tapi juga orang lain?”.
Pemikiran itu juga terbersit di hari ini, ketika aku melihat seorang anak kecil
yang tampak fisik mengalami kelainan dan di tengah terik matahari berjualan
sekotak tisu di sekitaran lampu merah. Ia berkeliling menjajakkan jualannya. Ia
tidak menengadah tangannya tanpa suatu usaha. Ya, ia berusaha. Hingga 3 kali ia
mengitari kendaraan-kendaraan yang berhenti di depan lampu merah ini. Tetap, ia
tak lelah kembali berjalan dengan kakinya yang kesulitan saat berjalan.
Pemandangan menarik ketika seorang anak muda di sebuah mobil yang memanggil
anak itu dan sedikit berbincang. Pada akhirnya, aku melihat anak muda itu
memberikan cukup banyak uang kepada anak itu, namun anak itu menolaknya. Anak muda itu kembali
memanggil dan mereka berbincang lagi. Akhirnya, anak itu memberi beberapa tisu
dengan gantinya anak muda itu memberi sejumlah uang yang cukup banyak tadi.
Melihat pemandangan itu, aku menghampiri anak itu, dan membeli pula tisu yang
dijualnya.
“Dek, tisu nya berapa?”
“2000 aja kak.”
“Aku beli 5 ya..”
“Oh iya, ini Kak..”
“Dek, cowok tadi emang beli berapa tisu? Kayaknya banyak
banget”
“Iya, dia beli 5 juga Kak, tapi uangnya kebanyakan.
Awalnya dia cuma ngasi uang aja. Tapi aku gak mau, karena aku jualan tisu,
bukan minta-minta”
“Oh...gitu...”
“Ini uangnya..Makasih ya..”
“Sama-sama, Kak...Hati-hati di jalan.”
Aku meninggalkan anak itu. Lalu terpikir sejenak.
“Dek...Kamu puasa gak?”
“Puasa kak...”
“Rumahnya di mana?Nanti pulang jam berapa?”
“Ini juga habis adzan maghrib aku mau pulang. Mau beli
makanan untuk sahur sama ibu sama adek aku.”
“Kalau buka puasa sama Kakak mau gak?”
“Hmm..Gak apa-apa?”
“Iya, gak apa-apa. Daripada buka puasa sendiri.”
Setidaknya hari ini aku tidak berbuka puasa sendiri. Ada
Rani yang menjadi teman berbuka hari ini. Aku juga mengantarnya pulang. Ia
tinggal di rumah yang sangat kecil. Aku juga menemui ibu dan adiknya.
“Kak, ini Ibu sama adek aku”
“Ibu, saya Andra ...”
“Iya, Nak Andra...Sudah berbuka kan tadi? Gimana kalau
kita taraweh bersama? Ada mushola deket sini...Itu pun kalau Nak Andra ndak
sibuk..”
“Wah, boleh Bu...Daripada pulang dulu, nanti terlambat”
Hari ini, tanpa diduga aku tidak hanya punya teman berbuka,
tapi juga teman taraweh. Benar kata Mama,
“Karena
berbagi tidak akan membuat kita sengsara bahkan jatuh miskin. Berbagi membuka
dunia baru, dan membuka mata hati, karena berbagi itu terasa bahagia “
July, 5th 2015
RED
#NulisSetiapHari
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
BalasHapusIndahnya berbagi. :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬