“Setelah kepergian lalu ada penyesalan. Penyesalan untuk
tidak melarutkan diriku pada sebuah masa yang seharusnya bisa kuindahkan
bagimu. Terlambat memang. Tapi ijinkan aku menuliskan sajak yang sama sekali
tak puitis ini, bahkan ketika kau membacanya dari atas sana. Berbahagialah.
Tenanglah.”
***
Aku
dipertemukan dengan seorang gadis belia yang penuh akan jiwa bermuda,
bersemangat dan bergelora.
Senyumnya yang
merekah lalu berjalan ke hadapan, berjabat tangan, seakan luwes ingin mengajak
berkenalan sekedar berteman.
Tetapi, jabat
tangannya ada getar yang merambat. Rambatannya bukan sesuatu yang biasa. Ia
mampu menggetarkan rasa, mendalam hari demi hari.
Kehadirannya
yang menceriakan di waktu berikutnya memekarkan rasa yang sempat digetarkannya
tanpa permisi.
Memberanikan
diri untuk lebih dekat lagi menjadi solusi penawar hati. “Ah, aku harus
mendapatkannya.”
Lalu berjalan
seperti air.
Menyatakan
cinta, menerima cinta, melamarnya, menikah dan melingkarkan cincin pengikat di
antara kami berdua, semuanya berjalan bak kemudi yang berjalan mulus di jalanan
kosong.
Tetapi,
kehidupan yang kuibaratkan bak kemudi yang berjalan mulus di jalanan kosong
tadi ternyata bermakna lain. Memang berjalan mulus, terlebih di jalanan kosong.
Di jalanan kosong? Di situlah masalahnya.
Ia yang selalu
mengucap “Aku sayang padamu” sebagai istri kepada aku suaminya. Sedang aku,
sibuk menatapnya, mengecup keningnya, dan aku berlalu sembari berkata “Aku
pergi dulu ya” atau “Aku nanti malam lembur” atau “Gak usah nunggu, aku nginep
di kantor aja”.
Ketika setiap
pagi itu, aku menerka dan berpikir, ia baik-baik saja di rumah. Ia pasti sudah
cukup sibuk dengan urusan rumah. Maka aku membiarkannya sendiri.
Sesaat setelah
malam ini, aku tiba-tiba merasakan kosong. Aku memang di antara orang-orang
yang ramai menangisi kepergianmu, tetapi aku masih saja merasa sendiri. Merasa
rumah ini tiba-tiba hampa.
Bolehkah aku
menyesali ini sebentar?
-maafkan aku
yang hanya lelah untuk berusaha meraihmu, sedang untuk mempertahankanmu aku
tidak lagi berusaha.
-maafkan aku
yang hanya melingkarkan cincin di jarimu tanpa mengikat betul kamu di hatiku.
-maafkan aku
tak membalas ucapan sayang setiap pagimu dan hanya sibuk mengucap kalimat dungu
yang bahkan tak bermakna bagimu.
-maafkan aku
hanya mampu menerka dan berpikir dan tak berusaha sekedar menanyakan kabarmu,
apa yang sedang kamu lakukan, apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu sehat
selagi aku tak di sampingmu, dan pertanyaan lain yang semestinya kutanyakan
selagi kamu masih ada.
-maafkan
karena aku tak mampu menggenggam tanganmu erat ketika kamu semakin lama semakin
menjauh karena sakit yang menderamu.
-terima kasih
sudah menerima cintaku, menerima cincinku, menerima kecupanku, memberikan
senyuman pada awal pertemuan kita, berjabat tangan untuk pertama kalinya, dan
kini meninggalkan kenangan yang hampa bagiku. Apa yang harus kukenang
kini....tanpamu?
July, 27th
2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar