Selasa, 28 Juli 2015

Bukan Puitis

“Setelah kepergian lalu ada penyesalan. Penyesalan untuk tidak melarutkan diriku pada sebuah masa yang seharusnya bisa kuindahkan bagimu. Terlambat memang. Tapi ijinkan aku menuliskan sajak yang sama sekali tak puitis ini, bahkan ketika kau membacanya dari atas sana. Berbahagialah. Tenanglah.”
***


Aku dipertemukan dengan seorang gadis belia yang penuh akan jiwa bermuda, bersemangat dan bergelora.

Senyumnya yang merekah lalu berjalan ke hadapan, berjabat tangan, seakan luwes ingin mengajak berkenalan sekedar berteman.

Tetapi, jabat tangannya ada getar yang merambat. Rambatannya bukan sesuatu yang biasa. Ia mampu menggetarkan rasa, mendalam hari demi hari.

Kehadirannya yang menceriakan di waktu berikutnya memekarkan rasa yang sempat digetarkannya tanpa permisi.
Memberanikan diri untuk lebih dekat lagi menjadi solusi penawar hati. “Ah, aku harus mendapatkannya.”

Lalu berjalan seperti air.

Menyatakan cinta, menerima cinta, melamarnya, menikah dan melingkarkan cincin pengikat di antara kami berdua, semuanya berjalan bak kemudi yang berjalan mulus di jalanan kosong.

Tetapi, kehidupan yang kuibaratkan bak kemudi yang berjalan mulus di jalanan kosong tadi ternyata bermakna lain. Memang berjalan mulus, terlebih di jalanan kosong. Di jalanan kosong? Di situlah masalahnya.

Ia yang selalu mengucap “Aku sayang padamu” sebagai istri kepada aku suaminya. Sedang aku, sibuk menatapnya, mengecup keningnya, dan aku berlalu sembari berkata “Aku pergi dulu ya” atau “Aku nanti malam lembur” atau “Gak usah nunggu, aku nginep di kantor aja”.

Ketika setiap pagi itu, aku menerka dan berpikir, ia baik-baik saja di rumah. Ia pasti sudah cukup sibuk dengan urusan rumah. Maka aku membiarkannya sendiri.

Sesaat setelah malam ini, aku tiba-tiba merasakan kosong. Aku memang di antara orang-orang yang ramai menangisi kepergianmu, tetapi aku masih saja merasa sendiri. Merasa rumah ini tiba-tiba hampa.

Bolehkah aku menyesali ini sebentar?

-maafkan aku yang hanya lelah untuk berusaha meraihmu, sedang untuk mempertahankanmu aku tidak lagi berusaha.

-maafkan aku yang hanya melingkarkan cincin di jarimu tanpa mengikat betul kamu di hatiku.

-maafkan aku tak membalas ucapan sayang setiap pagimu dan hanya sibuk mengucap kalimat dungu yang bahkan tak bermakna bagimu.

-maafkan aku hanya mampu menerka dan berpikir dan tak berusaha sekedar menanyakan kabarmu, apa yang sedang kamu lakukan, apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu sehat selagi aku tak di sampingmu, dan pertanyaan lain yang semestinya kutanyakan selagi kamu masih ada.

-maafkan karena aku tak mampu menggenggam tanganmu erat ketika kamu semakin lama semakin menjauh karena sakit yang menderamu.

-terima kasih sudah menerima cintaku, menerima cincinku, menerima kecupanku, memberikan senyuman pada awal pertemuan kita, berjabat tangan untuk pertama kalinya, dan kini meninggalkan kenangan yang hampa bagiku. Apa yang harus kukenang kini....tanpamu?





July, 27th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar