Rabu, 29 Juli 2015

Sepanjang Jalan Kenangan


“Tidak ada yang salah dengan mengenang sesuatu. Apabila itu membuatmu tersenyum, syukurlah. Karena akan lebih perih lagi apabila tak ada yang dapat kamu kenang, kawan.”
***

Hari raya tahun ini aku bersyukur kembali. Berkumpul kembali, bertemu sanak  famili, pulang kembali. Benar adanya, manisnya hidup, bahagianya hati ketika bertemu orang tua serta saudara-saudara. Sebanyak apapun kawan di negeri orang, tak akan pernah terganti tempat teristimewa bagi mereka, keluarga. Selain bisa berkumpul kembali, ada satu hal yang kutunggu-tunggu, suasana kampung halaman. Udaranya, kesejukannya, kawan-kawan masa sekolah dan jalannya. Entah kenapa aku begitu bahagia ketika sesampainya di kota ini, aku selalu tersenyum melihat setiap sudut jalan yang kupandangi. Setiap jalan ini punya makna tersendiri. Memang betul bahwa semestinya bila pulang ke kampung halaman diisi dengan  pergi ke tempat wisata, namun selain kesana, aku lebih bahagia hanya dengan berjalan di sepanjang jalan yang selalu kulewati sejak kecil dulu.

Sore itu aku harus megurusi suatu hal di sekitar daerah Pasar Atas. Untuk menuju kesana, aku menggunakan angkutan umum. Setelah selesai, aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.
“Ha? Jalan kaki? Capek ah. Kamu aja sendiri...”

“Ya udah sih, aku sendirian aja juga gak apa-apa”

“Lagian bukannya kaki kamu sakit ya? Malah jalan kaki. Tambah sakit loh.”

“Engga kok udah baikan. Ya udah kalo gak mau, aku jalan duluan.”

Kumulai perjalanan pulang dengan berjalan kaki sore itu. Aku baru teringat dengan kakiku yang terluka dan tak seharusnya digunakan untuk berjalan jauh. Tetapi, entah kenapa sakitnya malah hilang ketika keinginan kuat untuk tetap berjalan.

“Tungguin dong...”

“Loh, kok ikutan jalan?”

“Daripada kamu pingsan terus gak ada yang ngangakatin, ya biar jaga-jaga aja, makanya aku ikut. Lagian ih kenapa demen banget jalan kaki, panas ini.”

“Pingsan? Aku gak selemah itu kali. Panas? Pake payung. Lagian pake kerudung kan, gak akan kepanasan. Enakan jalan kaki lah, dan deket juga kan.”

“Deket apanya ya ampun? Ini jauh loh.”

“Jaman aku SMP sampe SMA udah biasanya jalan dari Pasar Atas sampe Belakang Balok, Kak. Biasa aja kok. Lagipula, di Bandung sering jalan juga kan, lebih jauh malah. Gak usah manja please.”

“Bukannya manja, tapi ini jauh loh."

“He’eh terserah lo deh, Kak. Susah emang ngajak jalan kaki sama anak yang pas jaman sekolahnya cuma bisa nongkrong di tempat makan. Haha, bye!”

“Ih tungguin gue !!! Dasar lo!”

Selain rindu berjalan kaki menuju rumah, aku juga rindu obrolan ini. Obrolan ringan di sore hari bersama sahabat pertamaku, kakak. Sembari berjalan, kakak masih saja menanyakan banyak pertanyaan.

“Lo kenapa senyam senyum? Waras gak lo? Haha”

Senyum kecilku terhenti mendengar celetukan kakak.

“Maksud lo? Ini nih, tipe orang yang gak bisa nikmatin hidup.”

“Idih, nikmatin apa lo? Yang dinikmatin itu, makanan kek, tempat wisata kek, lah ini senyam senyum ngeliat jalan, pohon. Wah bahaya nih.”

“Hmm, gue harus ngejelasin ke elo nya gimana sih? Lo jelas gak punya semacam kenangan nih.”

“Kenangan? Wah lawas banget lo, Dek”

“Hm, Kayak gue. Gue bisa senyum gini karena gue bisa ingat kenangan yang gue alami waktu lewat jalan ini. Cuma jalan kaki gini aja, gue bisa bahagia. Kenapa? Karena gue punya kenangan.”

“Ah, pantes lo orangnya melankolis..ckck. Adek gue, luar biasa.”

“Bukan masalah melankolis atau enggak, Kak. Kalo seseorang punya kenangan, pasti dia selalu menjaganya, mengingatnya dan mengenangnya, di suatu waktu. Kalo gak ada, ya udah. Hampa. There is no memories left.  Makanya, selagi muda, ciptakan kejadian yang berharga, walaupun kecil tapi bermakna, jadi suatu saat nanti bisa dikenang. At least, membuat kita rindu, membuat kita tersenyum. Oke?”

“Gue oke-in aja deh.”

Kakakku lalu berjalan lebih cepat dan mulai menertawakanku. Aku tetap berjalan lambat seraya melihat pemandangan yang masih asri, dihiasi pohon-pohon yang rindang yang masih berdiri kokoh di kiri-kanan jalan. Dan, udaranya...ini yang membuat aku selalu rindu pulang. Suatu saat nanti aku pasti pulang kesini lagi, menjadi seseorang yang telah meraih apa yang aku impikan. 
Sampai bertemu lagi, ya...


July, 29th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar