“Tidak ada yang salah dengan
mengenang sesuatu. Apabila itu membuatmu tersenyum, syukurlah. Karena akan lebih
perih lagi apabila tak ada yang dapat kamu kenang, kawan.”
***
Hari
raya tahun ini aku bersyukur kembali. Berkumpul kembali, bertemu sanak famili, pulang kembali. Benar adanya, manisnya
hidup, bahagianya hati ketika bertemu orang tua serta saudara-saudara. Sebanyak
apapun kawan di negeri orang, tak akan pernah terganti tempat teristimewa bagi
mereka, keluarga. Selain bisa berkumpul kembali, ada satu hal yang
kutunggu-tunggu, suasana kampung halaman. Udaranya, kesejukannya, kawan-kawan
masa sekolah dan jalannya. Entah kenapa aku begitu bahagia ketika sesampainya
di kota ini, aku selalu tersenyum melihat setiap sudut jalan yang kupandangi.
Setiap jalan ini punya makna tersendiri. Memang betul bahwa semestinya bila
pulang ke kampung halaman diisi dengan
pergi ke tempat wisata, namun selain kesana, aku lebih bahagia hanya
dengan berjalan di sepanjang jalan yang selalu kulewati sejak kecil dulu.
Sore
itu aku harus megurusi suatu hal di sekitar daerah Pasar Atas. Untuk menuju
kesana, aku menggunakan angkutan umum. Setelah selesai, aku memutuskan untuk
pulang dengan berjalan kaki.
“Ha?
Jalan kaki? Capek ah. Kamu aja sendiri...”
“Ya
udah sih, aku sendirian aja juga gak apa-apa”
“Lagian
bukannya kaki kamu sakit ya? Malah jalan kaki. Tambah sakit loh.”
“Engga
kok udah baikan. Ya udah kalo gak mau, aku jalan duluan.”
Kumulai
perjalanan pulang dengan berjalan kaki sore itu. Aku baru teringat dengan
kakiku yang terluka dan tak seharusnya digunakan untuk berjalan jauh. Tetapi,
entah kenapa sakitnya malah hilang ketika keinginan kuat untuk tetap berjalan.
“Tungguin
dong...”
“Loh,
kok ikutan jalan?”
“Daripada
kamu pingsan terus gak ada yang ngangakatin, ya biar jaga-jaga aja, makanya aku
ikut. Lagian ih kenapa demen banget jalan kaki, panas ini.”
“Pingsan?
Aku gak selemah itu kali. Panas? Pake payung. Lagian pake kerudung kan, gak
akan kepanasan. Enakan jalan kaki lah, dan deket juga kan.”
“Deket
apanya ya ampun? Ini jauh loh.”
“Jaman
aku SMP sampe SMA udah biasanya jalan dari Pasar Atas sampe Belakang Balok,
Kak. Biasa aja kok. Lagipula, di Bandung sering jalan juga kan, lebih jauh
malah. Gak usah manja please.”
“Bukannya
manja, tapi ini jauh loh."
“He’eh
terserah lo deh, Kak. Susah emang ngajak jalan kaki sama anak yang pas jaman sekolahnya cuma
bisa nongkrong di tempat makan. Haha, bye!”
“Ih
tungguin gue !!! Dasar lo!”
Selain
rindu berjalan kaki menuju rumah, aku juga rindu obrolan ini. Obrolan ringan di
sore hari bersama sahabat pertamaku, kakak. Sembari berjalan, kakak masih saja
menanyakan banyak pertanyaan.
“Lo
kenapa senyam senyum? Waras gak lo? Haha”
Senyum
kecilku terhenti mendengar celetukan kakak.
“Maksud
lo? Ini nih, tipe orang yang gak bisa nikmatin hidup.”
“Idih,
nikmatin apa lo? Yang dinikmatin itu, makanan kek, tempat wisata kek, lah ini
senyam senyum ngeliat jalan, pohon. Wah bahaya nih.”
“Hmm,
gue harus ngejelasin ke elo nya gimana sih? Lo jelas gak punya semacam kenangan
nih.”
“Kenangan?
Wah lawas banget lo, Dek”
“Hm, Kayak gue. Gue bisa senyum gini karena gue bisa ingat kenangan yang
gue alami waktu lewat jalan ini. Cuma jalan kaki gini aja, gue bisa bahagia.
Kenapa? Karena gue punya kenangan.”
“Ah,
pantes lo orangnya melankolis..ckck. Adek gue, luar biasa.”
“Bukan
masalah melankolis atau enggak, Kak. Kalo seseorang punya kenangan, pasti dia
selalu menjaganya, mengingatnya dan mengenangnya, di suatu waktu. Kalo gak ada,
ya udah. Hampa. There is no memories left. Makanya, selagi muda, ciptakan kejadian yang
berharga, walaupun kecil tapi bermakna, jadi suatu saat nanti bisa dikenang. At least, membuat kita rindu, membuat
kita tersenyum. Oke?”
“Gue
oke-in aja deh.”
Kakakku
lalu berjalan lebih cepat dan mulai menertawakanku. Aku tetap berjalan lambat
seraya melihat pemandangan yang masih asri, dihiasi pohon-pohon yang rindang
yang masih berdiri kokoh di kiri-kanan jalan. Dan, udaranya...ini yang membuat
aku selalu rindu pulang. Suatu saat nanti aku pasti pulang kesini lagi, menjadi
seseorang yang telah meraih apa yang aku impikan.
Sampai bertemu lagi, ya...
July,
29th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar