Senin, 27 Juli 2015

Terima Kasih Sudah Bertahan, Maafkan Karena (Me/Di)Lepaskan

“Karena jika tidak ada masa lalu tidak  akan ramai katanya. Hidup terkadang harus ricuh oleh tangis dan tawa, oleh yang pergi dan tetap di sini.”

***
Sore ini pecah akibat gelak tawa kami yang hanya berempat saja menghabiskan sisa hari di sebuah restoran bercat oranye. Kami duduk di lantai dua, di sudut ruang di mana pusat perhatian bisa saja mengarah pada kami jika kami rusuh, berisik atau bicara dengan volume 100%. Dan, hal itu benar-benar terjadi. Jika kami berkumpul berempat seperti ini, kehebohan kami tidak akan pernah tertahankan. Kami berteman sejak SMA. Gilanya SMA yang membuat kami bertahan untuk tetap “menggila” hingga saat ini, saat di umur kami tak lagi remaja, saat di umur yang seharusnya kami mengadu nasib mencari kerja, atau bersikap sedikit wibawa. Tapi, tetap saja, istilah “high school never dies” atau “high school never ends” benar-benar netrap kepada tingkah laku kami jika bersama.

Pembicaraan kami dimulai dengan senda gurau, celetuk sana-sini, sindiran antara kami untuk menghidupkan suasana. Obrolan yang menggelitik adalah soal “mantan”.

Kata itu yang membuatku “benci” untuk menjalin sebuah hubungan(baca: pacaran). Di saat hubungan berakhir, berarti akan disematkanlah title “manta” kepada masing-masing mereka  (yang dulunya) menjadi pasangan. Pernah suatu ketika, aku bertemu seseorang yang cerdas, humoris, baik, dan bisa dibilang paket “lengkap”. 
Pikiran pertama, aku tanpa meragu menyukainya, dan optimis dia pun begitu. Suatu saat benar-benar dideklarasikanlah keinginan untuk menjadi pasangan. Tahukah ketakutan pertama yang terbersit olehku? Pacaran?Lalu jadi mantan? Miris bukan? Entah aku yang terlalu skeptis atau idealis, akhirnya aku memutuskan tidak untuk berpacaran (dulu untuk kesekian kalinya). Melihat teman-teman lamaku yang pernah berpacaran bertahun-tahun dengan pasangannya (baca: kini menjadi mantan), dan ketika ditanya mengapa putus, lalu kawan itu menjawab “Bosen, kelamaan pacaran”.

Jeder! Maunya apa?Terus ngapain pacaran? Oh Tuhan...

Sekarang, pertanyaan lain yang kuajukan kepada teman itu, “Nah sekarang gimana? Masih patah hati?”

Teman itu menjawab “Enggak tuh, lebih enakan sendiri sekarang”

Alasan yang begitu.......Padahal sebulan yang lalu mereka pasangan yang teramat romantis. How love can change immediately? J

Pembicaraan di sore itu berlanjut ketika seorang teman kembali menyeletuk

“Cieh, dulu yang mantan si itu. Haha. Kok bisa jadian sih?”

“Khilaf gue! Cuma main-main doang kok itu”

Aku hanya mendengar guyonan mereka. Konyol memang. Teman itu menanyakan pertanyaan lain kepadaku yang sudah jutaan orang yang menanyakan kepadaku selama beberapa tahun ini.

“Eh, lo gak bosen jomblo apa? Gila, dari jaman awal kuliah sampe mau lulus masih sendiri aja. Betah?”

“Hmm...kenapa gue harus gak betah coba? Punya gebetan aja bikin capek hati, apalagi pacaran. Ya mending sendiri, haha”

“Lah, kenapa cuma sampe gebetan doang sih ? Ah lo gak mahir nih. Haha”

“Lebih baik gak jadi daripada pada akhirnya nyesalin kan? Gue heran juga kenapa gue harus pacaran di masa-masa produktif gue jadi single yang bisa kesana-kesini tanpa harus mikirin pacar lagi apa, pacar udah makan apa belum, pacar capek gak ya. Nah, mending gue memikirkan diri gue sendiri. Gue harus mikiin apa lagi yang mau gue kerjain, makan apa gue nanti, gue gak boleh kecapekan. Lebih guna kan? Nah. Kalo mau cari pasangan entar aja, untuk serius tapi. Hehe”

“Nikah langsung maksud lo? Semacam taarufan?”

“Why not? Gue harus mapan dulu tapi. Haha, masa’ nuntut cowok nya yang mapan terus, cewek juga harus mapan dong, memantaskan diri. Gitu..Hehe”

“Nah, kalo gebetan-gebetan lo sekarang, perginya kemana?”

“Kemana ya? Laut kali? Haha. Gak tahu deh. Ya, gue melepaskan atau gue dilepaskan aja berarti dia udah memilih jalannya.”

“Jalan kemana?”

“Jalan yang terbaik lah, dengan tidak memutuskan untuk bersama gue. Dia mungkin nyari yang lain, atau bahkan sekarang udah bahagia sama yang lain. Simpel. Gue juga harus bahagia dong. Dengan cara gue sendiri.”

“Nah, kalo ada yang masih bertahan nungguin lo gak peka-peka?”

“Terima kasih lah, masih ada orang yang belum tahu gue sebenarnya dan masih bersikeras nungguin gue. Tapi kenapa gue belum bersama “dia” itu ,ya berarti gue belum pantas buat dia, atau gue belum bukan untuk dia saat ini, atau bahkan dia yang belum pantas buat gue saat ini. Gak usah buru-buru. Simpel. Jodoh gak akan kemana. J

“Jadi sampe kapan lo jomblo Dinnnn! Kesel gue ngeliat lo. Hahaha.Sini gue cariin!”

“Gak usah repot-repot, selesein aja skripsi dulu,karir, dan enjoy the world. Urusan itu? Tenang. Dia lagi nungguin gue, di masa depan.





July, 26th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar