“Karena jika tidak ada masa lalu tidak akan ramai katanya. Hidup terkadang harus
ricuh oleh tangis dan tawa, oleh yang pergi dan tetap di sini.”
Sore ini pecah akibat gelak tawa kami yang hanya berempat
saja menghabiskan sisa hari di sebuah restoran bercat oranye. Kami duduk di
lantai dua, di sudut ruang di mana pusat perhatian bisa saja mengarah pada kami
jika kami rusuh, berisik atau bicara dengan volume 100%. Dan, hal itu
benar-benar terjadi. Jika kami berkumpul berempat seperti ini, kehebohan kami
tidak akan pernah tertahankan. Kami berteman sejak SMA. Gilanya SMA yang
membuat kami bertahan untuk tetap “menggila” hingga saat ini, saat di umur kami
tak lagi remaja, saat di umur yang seharusnya kami mengadu nasib mencari kerja,
atau bersikap sedikit wibawa. Tapi, tetap saja, istilah “high school never dies” atau “high
school never ends” benar-benar netrap
kepada tingkah laku kami jika bersama.
Pembicaraan kami dimulai dengan senda gurau, celetuk
sana-sini, sindiran antara kami untuk menghidupkan suasana. Obrolan yang
menggelitik adalah soal “mantan”.
Kata itu yang membuatku “benci” untuk menjalin sebuah
hubungan(baca: pacaran). Di saat hubungan berakhir, berarti akan disematkanlah
title “manta” kepada masing-masing mereka
(yang dulunya) menjadi pasangan. Pernah suatu ketika, aku bertemu
seseorang yang cerdas, humoris, baik, dan bisa dibilang paket “lengkap”.
Pikiran pertama, aku tanpa meragu menyukainya, dan optimis dia pun begitu.
Suatu saat benar-benar dideklarasikanlah keinginan untuk menjadi pasangan. Tahukah
ketakutan pertama yang terbersit olehku? Pacaran?Lalu jadi mantan? Miris bukan?
Entah aku yang terlalu skeptis atau idealis, akhirnya aku memutuskan tidak
untuk berpacaran (dulu untuk kesekian kalinya). Melihat teman-teman lamaku yang
pernah berpacaran bertahun-tahun dengan pasangannya (baca: kini menjadi
mantan), dan ketika ditanya mengapa putus, lalu kawan itu menjawab “Bosen,
kelamaan pacaran”.
Jeder! Maunya apa?Terus
ngapain pacaran? Oh Tuhan...
Sekarang, pertanyaan lain yang kuajukan kepada teman itu,
“Nah sekarang gimana? Masih patah hati?”
Teman itu menjawab “Enggak tuh, lebih enakan sendiri
sekarang”
Alasan yang begitu.......Padahal sebulan yang lalu mereka
pasangan yang teramat romantis. How love can change immediately? J
Pembicaraan di sore itu berlanjut ketika seorang teman
kembali menyeletuk
“Cieh, dulu yang mantan si itu. Haha. Kok bisa jadian
sih?”
“Khilaf gue! Cuma main-main doang kok itu”
Aku hanya mendengar guyonan mereka. Konyol memang. Teman
itu menanyakan pertanyaan lain kepadaku yang sudah jutaan orang yang menanyakan
kepadaku selama beberapa tahun ini.
“Eh, lo gak bosen jomblo apa? Gila, dari jaman awal
kuliah sampe mau lulus masih sendiri aja. Betah?”
“Hmm...kenapa gue harus gak betah coba? Punya gebetan aja
bikin capek hati, apalagi pacaran. Ya mending sendiri, haha”
“Lah, kenapa cuma sampe gebetan doang sih ? Ah lo gak
mahir nih. Haha”
“Lebih baik gak jadi daripada pada akhirnya nyesalin kan?
Gue heran juga kenapa gue harus pacaran di masa-masa produktif gue jadi single
yang bisa kesana-kesini tanpa harus mikirin pacar lagi apa, pacar udah makan apa
belum, pacar capek gak ya. Nah, mending gue memikirkan diri gue sendiri. Gue
harus mikiin apa lagi yang mau gue kerjain, makan apa gue nanti, gue gak boleh
kecapekan. Lebih guna kan? Nah. Kalo mau cari pasangan entar aja, untuk serius
tapi. Hehe”
“Nikah langsung maksud lo? Semacam taarufan?”
“Why not? Gue harus mapan dulu tapi. Haha, masa’ nuntut
cowok nya yang mapan terus, cewek juga harus mapan dong, memantaskan diri.
Gitu..Hehe”
“Nah, kalo gebetan-gebetan lo sekarang, perginya kemana?”
“Kemana ya? Laut kali? Haha. Gak tahu deh. Ya, gue
melepaskan atau gue dilepaskan aja berarti dia udah memilih jalannya.”
“Jalan kemana?”
“Jalan yang terbaik lah, dengan tidak memutuskan untuk
bersama gue. Dia mungkin nyari yang lain, atau bahkan sekarang udah bahagia
sama yang lain. Simpel. Gue juga harus bahagia dong. Dengan cara gue sendiri.”
“Nah, kalo ada yang masih bertahan nungguin lo gak
peka-peka?”
“Terima kasih lah, masih ada orang yang belum tahu gue
sebenarnya dan masih bersikeras nungguin gue. Tapi kenapa gue belum bersama “dia”
itu ,ya berarti gue belum pantas buat dia, atau gue belum bukan untuk dia saat
ini, atau bahkan dia yang belum pantas buat gue saat ini. Gak usah buru-buru.
Simpel. Jodoh gak akan kemana. J
“Jadi sampe kapan lo jomblo Dinnnn! Kesel gue ngeliat lo.
Hahaha.Sini gue cariin!”
“Gak usah repot-repot, selesein aja skripsi dulu,karir, dan enjoy the world. Urusan itu? Tenang. Dia lagi nungguin gue, di masa depan.
July, 26th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar