Selasa, 21 Juli 2015

Membenci dan Merindu dalam Satu Waktu

“Ini masalah waktu. Waktu yang kuhabiskan ternyata tak sedikit. Hanya membencimu setiap windu, lalu ingat bahwa aku masih  saja merindumu. Rasanya seperti apa? Coba tanyakan pada mereka yang tak merasa, karena aku sudah cukup sibuk, membenci dan merindu-mu dalam satu waktu.”

***


Tentang Aku dan Dia

Kesal di hati masih saja mengkungkung di sekujur nadi. Kami saling menatap. Dalam pikiranku, kenapa aku harus melihat wujudnya kini, padahal sudah cukup rasa sakitnya yang tertinggal dan membekas di memori. Dia balik menatap-ku. Namun, kedua tangannya menggenggam erat tangan seseorang. Di hadapanku. Ya. Di hadapanku. Tanpa meragu. Pikiranku kembali merajut dugaan “Beraninya dia. Semudah itu-kah bersama yang lain? Apakah hanya aku yang dungu, masih....mengharapkannya? Tidak! Aku membencinya, sungguh benci!”

“Gak nyangka ketemu di sini ya.”

“Hmm...iya..”

“Wah, gak nyangka juga sekarang bareng Yufi. Udah jadian?”

“Ya gitu deh, Lin..Hehe. Gak akan ngucapin selamat nih?”

“Selamat ke siapa?...Ah, ke kalian? Well...semoga langggeng dan jangan berakhir di pacaran aja. Gak seru. Hehe. Gue duluan”

Kalimat itu cukup menyayat naluri-ku yang tak ingin berucap kasar seperti tadi. Tapi, lega rasanya telah menumpah ruahkan kesal-ku yang sedikit terindikasi rasa cemburu. Tak masalah bukan? Setidaknya berawal dari ucapan, mencoba merelakan, namun rasanya tetap saja begini, membenci di balik rasa yang (masih) (sedikit) mencinta.

Handphone-ku berdering. Aku tak mengharapkan siapapun untuk menghubungiku. Yang kuinginkan murni hanya liburan tenang tanpa bayang-bayang orang yang tak ingin merusak ketenangan. Dengan rasa malas, aku meraih handphone, dan.....


“Ah, kenapa lo lagi sih? Gue harus apa? Ngangkat telepon lo? Ngobrol sama lo? Gue bisa gak waras kalo kayak gini. Bodo amat. Gak bakal gue respon.”

***


Tentang Abah dan Aku

Setiap malam, sudah biasa aku menunggu Abah. Bukan hal yang aneh lagi ketika harus terjaga hingga larut hanya untuk menunggunya. Selama sewindu ini, aku berharap ada setitik keajaiban yang mampu membawa Abah pulang, walaupun sekedar mampir sebentar, menengok aku dan ibu. Ibu lemah tergeletak di tempat tidur yang kumodif agar nyaman untuk ditiduri sepanjang hari. Ibu menghabiskan waktunya di sana. Dari aku pulang sekolah, pulang kuliah hingga pulang kerja, Ibu masih setia menungguku untuk disalami yang akan berangkat pergi. Ibu hanya menyunggingkan senyum jika aku menyuapinya, menceritakan hari-hariku ketika masa remaja di sekolah, masuk ke bangku kuliah hingga bekerja saat ini. Ibu terkadang meneteskan air mata jika aku telah terduduk disampingnya, menggenggam tangannya, dan mengeluh akan semuanya. Setelah itu, tangannya hanya sibuk mengelus rambutku, pertanda itulah wejangannya.

“Jadi aku harus apa, Bu?”

Ia lalu mengelus lagi tanganku.

“Aku harus tenang?Atau aku harus sabar? Atau aku harus melawan?”

Ia lalu tersenyum, pertanda harus tenang, sabar dan bertawakal.

Aku tak habis pikir, Abah tak kunjung datang. Terkadang aku membencinya karena lelah menunggu kehadirannya. Ada kalanya pula aku merindukannya untuk ada di tengah kami, menguatkan kami, menguatkan Ibu yang terbaring, sendiri.

***

Tentang Aku dan Dia

Masih berdering handphone ini. Ia tak kunjung lelah menghubungiku. Tekad ini masih kuat untuk mengabaikannya. Aku masih bermalas-malasan di kasur ini. Hingga suara Mama yang memanggill dan akhirnya membangunkanku.

“Linaaa”

“Iya Maa....”

“Ini, ada temen kamu”

Teman? Sejak kapan seorang teman berkunjung ke rumahku. Karena aku selalu bertemu dengan teman-teman lamaku di sini di kafe atau tempat makan, asalkan tidak di rumah.
Aku menegakkan raga ini padahal aku sama sekali lelah untuk bergerak.

“Siapa Ma?”

“Gak tahu. Mama gak pernah liat temen kamu yang ini.”

................................................................

“Eh, Lin.”

“Lo? Lo ngapain ke sini?”

“Ya ampun, gak boleh banget gue ke rumah lo? Lagian gue teleponin dari tadi gak diangkat. Makanya gue samperin lo langsung ke rumah. Gak apa-apa kan?”

“Oh...iya, gue tadi tidur. Ya gak apa-apa.Tapi Yufi mana? Lo sendirian aja?”

“Iya nih, dia lagi ngumpul temen-temen sekelasnya.”

“Nah lo ngapain ke sini? Temen sekelas gue juga bukan”

“Ya elah jutek amat, gini loh...”

“Oh, lo ada maunya ke gue?”

“Gue minta tolong Lin”

“Salah banget gue pernah bilang ke lo, kalo gue tu benci banget sama lo. Sekarang lo anggap ucapan gue lelucon kali ya.”

“Yah, masih benci gue banget nih. Hmm, gue gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi, Lin. Lo kan anaknya jago nulis, jadi gue pikir lo orang yang tepat untuk gue mintai tolong”

“Hah, jadi gue harus nolong orang yang gue benci gitu? Wah, lama-lama gue gak paham sama diri gue sendiri.”

“Udah dong jangan marah lagi. Masa lalu kan? Hehe”

“Kenapa gue harus suka sama orang kaya lo. Huh”

“Ya udah, lo kan pernah suka sama gue, gue pun begitu, sekarang profesional dong, sebagai penulis. Hehe. Please Linn, bantuin gue yah”

Aku menatapnya. Mengingat alasan apa yang membuat-ku membencinya. Padahal, aku masih ingat wajahnya, senyumnya, candaannya, kehebatannya, hadirnya. Ternyata ada satu rasa yang mengalahkan segala ingin untuk membenci. Rindu. Aku masih rindu melihat wajahnya, senyum dan segalanya. Aku masih belum bisa beranjak dari semua ini.

***

Tentang Abah dan Aku

Tahun ke 9 lalu ke 10. Aku masih saja seperti seorang yang bodoh menanti kepulangan Abah. Abah terlalu bahagia hidup di laut lepas. Berlayar bagai seorang pahlawan yang hendak meraih segalanya. Abah begitu cinta pada pekerjaannya, begitu kata Ibu. Hingga Ibu tak pernah ingin mengabarkan Abah bahwa di sini kami tidak baik-baik saja. Ibu sakit, Aku harus berjuang mati-matian membiayai uang sekolah, kuliah, rumah sakit dan hidup kami. Sedang Abah? Entah apa yang diperjuankannya. Ibu tak pernah menelepon Abah. Ketika aku berusaha menelepon Abah, tak bisa dihubungi. Tahun ini, entah kenapa aku lelah menunggu. Bukan kepastian yang ada namun kekecewaan yang menempa. Aku rindu Abah, namun membenci Abah pula. Tak bisakah Abah pulang sejenak? Menengok keluargamu?Abah...”

Keesokan pagi, rumah seperti biasa, terasa sepi. Lebaran tahun ini masih seperti 9 tahun belakangan. Tapi Ibu yang biasanya membunyikan lonceng untuk meminta segelas air, namun kini tidak terdengar. Aku menengok Ibu ke kamar. Ia, seperti biasa terbaring lemah. Tersenyum kecil. Aku memanggil Ibu, memegang tangannya.

“Bu... Mau sarapan pake ketupat?”

Ibu tidak menjawab.

“Bu?”

Aku masih menunggu respon Ibu.

“Buu..”

Aku kini memanggilnya dengan suara lirih.

“Ibuu ..Bangun Bu...Ibu bisa dengar Lani kan?”

Ibu diam saja. Tak pernah sediam ini.

Hanya senyumnya yang menyungging kecil.

***

Terduduk di depan Ibu yang terbujur kaku. Aku tak mampu menangis lagi. Ingin rasanya menangis, namun terasa tertahan.

“Nak Lani...”

“Bude...”

“Yang sabar ya Nak...Ibu mu sudah tenang sekarang...Yang kuat”

“Tapi Lani gak bisa kuat Bude. Ibu sekarang gak ada, Abah gak tahu di mana, sekarang Lani sama siapa?”

“Cah ayu...Ibu sama Abah pasti ketemu kok nanti, mereka sudah bahagia sekarang bersama-sama. Nah, Lani harus bahagia juga seperti Ibu dan Abah ya..”

“Maksud Bude apa? Abah kenapa sama Ibu ? Aku nunggu Abah pulang, tapi dia ...Lani benci Abah, Bude...Abah gak pernah ada buat kita.”

“Lani ndak boleh ngomong gitu, selama ini, Lani sekolah, kuliah hingga kerja sekarang bukan hanya doa Ibu, tapi doa Abah juga...”

“Gimana Abah tahu kalo aku sekarang sudah seperti ini. Abah gak pernah ada buat kami Bude”

“Abah selalu ada buat kalian. Percaya. Bahkan mendoakan Lani dari atas sana”

Kalimat itu bagai pisau yang menyayat dalam hati ini. Dari atas ? Abah sekarang bersama Ibu? Tapi kenapa?

Bude menceritakan seemuanya. Alasan kenapa Ibu tak pernah menceritakan tentang Abah yang meninggal di laut ternyata memikirkan tentangku. Agar aku merasa tetap memiliki keluarga utuh. Ini yang membuat-ku tidak paham. Kenapa harus menganggap seseorang yang telah berpulang namun tetap hidup agar merasa keutuhan? Sakit ini kian dalam. Makin lama aku malah membenci diri sendiri karena telah membenci Abah yang tahu menahu kebohongan ini. Tapi...kini rasa rindu yang mengkungkung sepiku.

Aku berhenti membenci Abah, kini aku hanya mampu membenci diri sendiri. Aku hanya mampu merindukan mereka. Merindu Abah dan Ibu...




July, 21th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar