“Ini masalah
waktu. Waktu yang kuhabiskan ternyata tak sedikit. Hanya membencimu setiap
windu, lalu ingat bahwa aku masih saja
merindumu. Rasanya seperti apa? Coba tanyakan pada mereka yang tak merasa,
karena aku sudah cukup sibuk, membenci dan merindu-mu dalam satu waktu.”
***
Tentang Aku dan Dia
Kesal di hati masih saja mengkungkung di sekujur nadi.
Kami saling menatap. Dalam pikiranku, kenapa aku harus melihat wujudnya kini,
padahal sudah cukup rasa sakitnya yang tertinggal dan membekas di memori. Dia
balik menatap-ku. Namun, kedua tangannya menggenggam erat tangan seseorang. Di
hadapanku. Ya. Di hadapanku. Tanpa meragu. Pikiranku kembali merajut dugaan
“Beraninya dia. Semudah itu-kah bersama yang lain? Apakah hanya aku yang dungu,
masih....mengharapkannya? Tidak! Aku membencinya, sungguh benci!”
“Gak nyangka ketemu di sini ya.”
“Hmm...iya..”
“Wah, gak nyangka juga sekarang bareng Yufi. Udah
jadian?”
“Ya gitu deh, Lin..Hehe. Gak akan ngucapin selamat nih?”
“Selamat ke siapa?...Ah, ke kalian? Well...semoga
langggeng dan jangan berakhir di pacaran aja. Gak seru. Hehe. Gue duluan”
Kalimat itu cukup menyayat naluri-ku yang tak ingin
berucap kasar seperti tadi. Tapi, lega rasanya telah menumpah ruahkan kesal-ku
yang sedikit terindikasi rasa cemburu. Tak masalah bukan? Setidaknya berawal
dari ucapan, mencoba merelakan, namun rasanya tetap saja begini, membenci di
balik rasa yang (masih) (sedikit) mencinta.
Handphone-ku berdering. Aku tak mengharapkan siapapun untuk
menghubungiku. Yang kuinginkan murni hanya liburan tenang tanpa bayang-bayang
orang yang tak ingin merusak ketenangan. Dengan rasa malas, aku meraih handphone, dan.....
“Ah, kenapa lo lagi sih? Gue harus apa? Ngangkat telepon
lo? Ngobrol sama lo? Gue bisa gak waras kalo kayak gini. Bodo amat. Gak bakal
gue respon.”
***
Tentang Abah dan Aku
Setiap malam, sudah biasa aku menunggu Abah. Bukan hal
yang aneh lagi ketika harus terjaga hingga larut hanya untuk menunggunya.
Selama sewindu ini, aku berharap ada setitik keajaiban yang mampu membawa Abah
pulang, walaupun sekedar mampir sebentar, menengok aku dan ibu. Ibu lemah
tergeletak di tempat tidur yang kumodif agar nyaman untuk ditiduri sepanjang
hari. Ibu menghabiskan waktunya di sana. Dari aku pulang sekolah, pulang kuliah
hingga pulang kerja, Ibu masih setia menungguku untuk disalami yang akan
berangkat pergi. Ibu hanya menyunggingkan senyum jika aku menyuapinya,
menceritakan hari-hariku ketika masa remaja di sekolah, masuk ke bangku kuliah
hingga bekerja saat ini. Ibu terkadang meneteskan air mata jika aku telah
terduduk disampingnya, menggenggam tangannya, dan mengeluh akan semuanya.
Setelah itu, tangannya hanya sibuk mengelus rambutku, pertanda itulah
wejangannya.
“Jadi aku harus apa, Bu?”
Ia lalu mengelus lagi tanganku.
“Aku harus tenang?Atau aku harus sabar? Atau aku harus
melawan?”
Ia lalu tersenyum, pertanda harus tenang, sabar dan
bertawakal.
Aku tak habis pikir, Abah tak kunjung datang. Terkadang
aku membencinya karena lelah menunggu kehadirannya. Ada kalanya pula aku
merindukannya untuk ada di tengah kami, menguatkan kami, menguatkan Ibu yang
terbaring, sendiri.
***
Tentang Aku dan Dia
Masih berdering handphone ini. Ia tak kunjung lelah
menghubungiku. Tekad ini masih kuat untuk mengabaikannya. Aku masih
bermalas-malasan di kasur ini. Hingga suara Mama yang memanggill dan akhirnya
membangunkanku.
“Linaaa”
“Iya Maa....”
“Ini, ada temen kamu”
Teman? Sejak kapan seorang teman berkunjung ke rumahku.
Karena aku selalu bertemu dengan teman-teman lamaku di sini di kafe atau tempat
makan, asalkan tidak di rumah.
Aku menegakkan raga ini padahal aku sama sekali lelah
untuk bergerak.
“Siapa Ma?”
“Gak tahu. Mama gak pernah liat temen kamu yang ini.”
................................................................
“Eh, Lin.”
“Lo? Lo ngapain ke sini?”
“Ya ampun, gak boleh banget gue ke rumah lo? Lagian gue
teleponin dari tadi gak diangkat. Makanya gue samperin lo langsung ke rumah.
Gak apa-apa kan?”
“Oh...iya, gue tadi tidur. Ya gak apa-apa.Tapi Yufi mana?
Lo sendirian aja?”
“Iya nih, dia lagi ngumpul temen-temen sekelasnya.”
“Nah lo ngapain ke sini? Temen sekelas gue juga bukan”
“Ya elah jutek amat, gini loh...”
“Oh, lo ada maunya ke gue?”
“Gue minta tolong Lin”
“Salah banget gue pernah bilang ke lo, kalo gue tu benci
banget sama lo. Sekarang lo anggap ucapan gue lelucon kali ya.”
“Yah, masih benci gue banget nih. Hmm, gue gak tahu harus
minta tolong ke siapa lagi, Lin. Lo kan anaknya jago nulis, jadi gue pikir lo
orang yang tepat untuk gue mintai tolong”
“Hah, jadi gue harus nolong orang yang gue benci gitu?
Wah, lama-lama gue gak paham sama diri gue sendiri.”
“Udah dong jangan marah lagi. Masa lalu kan? Hehe”
“Kenapa gue harus suka sama orang kaya lo. Huh”
“Ya udah, lo kan pernah suka sama gue, gue pun begitu, sekarang
profesional dong, sebagai penulis. Hehe. Please Linn, bantuin gue yah”
Aku menatapnya. Mengingat alasan apa yang membuat-ku
membencinya. Padahal, aku masih ingat wajahnya, senyumnya, candaannya,
kehebatannya, hadirnya. Ternyata ada satu rasa yang mengalahkan segala ingin
untuk membenci. Rindu. Aku masih rindu melihat wajahnya, senyum dan segalanya.
Aku masih belum bisa beranjak dari semua ini.
***
Tentang Abah dan Aku
Tahun ke 9 lalu ke 10. Aku masih saja seperti seorang
yang bodoh menanti kepulangan Abah. Abah terlalu bahagia hidup di laut lepas.
Berlayar bagai seorang pahlawan yang hendak meraih segalanya. Abah begitu cinta
pada pekerjaannya, begitu kata Ibu. Hingga Ibu tak pernah ingin mengabarkan
Abah bahwa di sini kami tidak baik-baik saja. Ibu sakit, Aku harus berjuang
mati-matian membiayai uang sekolah, kuliah, rumah sakit dan hidup kami. Sedang
Abah? Entah apa yang diperjuankannya. Ibu tak pernah menelepon Abah. Ketika aku
berusaha menelepon Abah, tak bisa dihubungi. Tahun ini, entah kenapa aku lelah
menunggu. Bukan kepastian yang ada namun kekecewaan yang menempa. Aku rindu
Abah, namun membenci Abah pula. Tak bisakah Abah pulang sejenak? Menengok
keluargamu?Abah...”
Keesokan pagi, rumah seperti biasa, terasa sepi. Lebaran
tahun ini masih seperti 9 tahun belakangan. Tapi Ibu yang biasanya membunyikan
lonceng untuk meminta segelas air, namun kini tidak terdengar. Aku menengok Ibu
ke kamar. Ia, seperti biasa terbaring lemah. Tersenyum kecil. Aku memanggil
Ibu, memegang tangannya.
“Bu... Mau sarapan pake ketupat?”
Ibu tidak menjawab.
“Bu?”
Aku masih menunggu respon Ibu.
“Buu..”
Aku kini memanggilnya dengan suara lirih.
“Ibuu ..Bangun Bu...Ibu bisa dengar Lani kan?”
Ibu diam saja. Tak pernah sediam ini.
Hanya senyumnya yang menyungging kecil.
***
Terduduk di depan Ibu yang terbujur kaku. Aku tak mampu
menangis lagi. Ingin rasanya menangis, namun terasa tertahan.
“Nak Lani...”
“Bude...”
“Yang sabar ya Nak...Ibu mu sudah tenang sekarang...Yang
kuat”
“Tapi Lani gak bisa kuat Bude. Ibu sekarang gak ada, Abah
gak tahu di mana, sekarang Lani sama siapa?”
“Cah ayu...Ibu sama Abah pasti ketemu kok nanti, mereka
sudah bahagia sekarang bersama-sama. Nah, Lani harus bahagia juga seperti Ibu
dan Abah ya..”
“Maksud Bude apa? Abah kenapa sama Ibu ? Aku nunggu Abah
pulang, tapi dia ...Lani benci Abah, Bude...Abah gak pernah ada buat kita.”
“Lani ndak boleh ngomong gitu, selama ini, Lani sekolah,
kuliah hingga kerja sekarang bukan hanya doa Ibu, tapi doa Abah juga...”
“Gimana Abah tahu kalo aku sekarang sudah seperti ini.
Abah gak pernah ada buat kami Bude”
“Abah selalu ada buat kalian. Percaya. Bahkan mendoakan
Lani dari atas sana”
Kalimat itu bagai pisau yang menyayat dalam hati ini.
Dari atas ? Abah sekarang bersama Ibu? Tapi kenapa?
Bude menceritakan seemuanya. Alasan kenapa Ibu tak pernah
menceritakan tentang Abah yang meninggal di laut ternyata memikirkan tentangku.
Agar aku merasa tetap memiliki keluarga utuh. Ini yang membuat-ku tidak paham.
Kenapa harus menganggap seseorang yang telah berpulang namun tetap hidup agar
merasa keutuhan? Sakit ini kian dalam. Makin lama aku malah membenci diri
sendiri karena telah membenci Abah yang tahu menahu kebohongan ini. Tapi...kini
rasa rindu yang mengkungkung sepiku.
Aku berhenti membenci Abah, kini aku hanya mampu membenci
diri sendiri. Aku hanya mampu merindukan mereka. Merindu Abah dan Ibu...
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar