“Sesaat
menutup mata, rehat. Sesaat berdiam, tenang. Sesaat memberi ruang pada kalbu
untuk mengisi yang terasa terburu. Sejenak, melihat warna hidup, memahami
setiap udara yang terhirup. Sejenak, memahami diri, memantaskan ambisi, dan
berbenah hati.”
***
Begini rasanya sendiri. Benar-benar sendiri. Tidak ada
yang menyibukkan hari. Merasa lapang, baik di jiwa maupun raga. Kembali, pulang
ke rumah. Dalam rangka hari raya, aku mengembalikan raga dan rindu yang terasa
kepada si empunya, rumah. Jika rumah harus didefinisikan, pastilah banyak yang
menyebut sebagai surga-nya dunia, atau rumah-ku istana-ku, atau istilah lain
yang me’maha’kan eksistensi rumah. Begitu pun aku.
Tempat aku merasa mengamankan diri, kembali berkutat
dengan memori, rumah. Rugi benar apabila ada seseorang yang tak ingin pulang,
enggan pulang, atau lebih memilih lupa untuk pulang. Waktu yang paling bahagia
adalah berkumpul dengan keluarga, sudah jelas. Namun, tahukah kawan, waktu yang
lebih bahagia lagi? Melepaskan setiap topeng yang merekat, menanggalkan
senyuman dan kebahagiaan ‘palsu’ untuk sejenak menepi di ruang yang penuh
kenangan? Semisal kamar masa kecil hingga sekarang yang perabotannya masih apik
tersusun ada posisinya? Bahagia, yakin. Karena aku merasakan hal itu. Baru
saja.
Dahulu, banyak cerita di ruang yang tak seberapa ini.
Ruang yang penuh rasa juang, merangkai impian, cita-cita, mengkhayal akan
berpergian kemana-mana, dan akhirnya, voila!
Asa itu dapat diraih. Pernah pula suatu ketika terpikir
akan lelah untuk membahagiakan orang lain? Semisal keluarga, sahabat, kawan,
lawan, ataupun kekasih? Sebelum itu, sejenak saja rasakan bahagia itu teruntuk
jiwa sendiri. Aku pun merasa begitu. Di saat semua sibuk meramaikan suasana di
tengah handai taulan, aku lebih memilih menepi. Bukan ingin sendiri, tapi momen
satu hari itu perlu, memahami diri. Atau, selain rasa bahagia yang seharusnya
diisi untuk jiwa sendiri, sejenak luangkan tiap detik dalam hidupmu untuk
memaafkan masa lalu yang tiba-tiba singgah di tengah hari raya ini.
Ambisi akan rasa ingin memiliki, membenci bahkan rasa
cemburu, lepaskan. Karena hari di mana sejenak meluangkan detik dalam hidupmu
itu akan ternodai dengan rasa yang menderam dalam, percuma...kawan!
Bisa juga ketika lelah, benahi hati ini. Aku melaluinya
pula kini dengan membaurkan jiwa yang tadi menepi ke kerumunan keceriaan.
Berkumpul bersama keluarga mengakhiri waktumu yang sejenak untuk memahami diri,
memantaskan ambisi ataupun berbenah hati. Percayalah, kawan. Berdiam sejenak
ternyata melegakan. Menyaring momen indah untuk dijadikan suntikan semangat
mengisi waktu bahagiamu di hari raya ini.
Sebelum kita kembali ke segala hiruk pikuk duniawi, tidak
ada salahnya, menepi, sejenak.
July, 21th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar