Rabu, 22 Juli 2015

Sejenak

“Sesaat menutup mata, rehat. Sesaat berdiam, tenang. Sesaat memberi ruang pada kalbu untuk mengisi yang terasa terburu. Sejenak, melihat warna hidup, memahami setiap udara yang terhirup. Sejenak, memahami diri, memantaskan ambisi, dan berbenah hati.”

***


Begini rasanya sendiri. Benar-benar sendiri. Tidak ada yang menyibukkan hari. Merasa lapang, baik di jiwa maupun raga. Kembali, pulang ke rumah. Dalam rangka hari raya, aku mengembalikan raga dan rindu yang terasa kepada si empunya, rumah. Jika rumah harus didefinisikan, pastilah banyak yang menyebut sebagai surga-nya dunia, atau rumah-ku istana-ku, atau istilah lain yang me’maha’kan eksistensi rumah. Begitu pun aku.

Tempat aku merasa mengamankan diri, kembali berkutat dengan memori, rumah. Rugi benar apabila ada seseorang yang tak ingin pulang, enggan pulang, atau lebih memilih lupa untuk pulang. Waktu yang paling bahagia adalah berkumpul dengan keluarga, sudah jelas. Namun, tahukah kawan, waktu yang lebih bahagia lagi? Melepaskan setiap topeng yang merekat, menanggalkan senyuman dan kebahagiaan ‘palsu’ untuk sejenak menepi di ruang yang penuh kenangan? Semisal kamar masa kecil hingga sekarang yang perabotannya masih apik tersusun ada posisinya? Bahagia, yakin. Karena aku merasakan hal itu. Baru saja.

Dahulu, banyak cerita di ruang yang tak seberapa ini. Ruang yang penuh rasa juang, merangkai impian, cita-cita, mengkhayal akan berpergian kemana-mana, dan akhirnya, voila!

Asa itu dapat diraih. Pernah pula suatu ketika terpikir akan lelah untuk membahagiakan orang lain? Semisal keluarga, sahabat, kawan, lawan, ataupun kekasih? Sebelum itu, sejenak saja rasakan bahagia itu teruntuk jiwa sendiri. Aku pun merasa begitu. Di saat semua sibuk meramaikan suasana di tengah handai taulan, aku lebih memilih menepi. Bukan ingin sendiri, tapi momen satu hari itu perlu, memahami diri. Atau, selain rasa bahagia yang seharusnya diisi untuk jiwa sendiri, sejenak luangkan tiap detik dalam hidupmu untuk memaafkan masa lalu yang tiba-tiba singgah di tengah hari raya ini.

Ambisi akan rasa ingin memiliki, membenci bahkan rasa cemburu, lepaskan. Karena hari di mana sejenak meluangkan detik dalam hidupmu itu akan ternodai dengan rasa yang menderam dalam, percuma...kawan!

Bisa juga ketika lelah, benahi hati ini. Aku melaluinya pula kini dengan membaurkan jiwa yang tadi menepi ke kerumunan keceriaan. Berkumpul bersama keluarga mengakhiri waktumu yang sejenak untuk memahami diri, memantaskan ambisi ataupun berbenah hati. Percayalah, kawan. Berdiam sejenak ternyata melegakan. Menyaring momen indah untuk dijadikan suntikan semangat mengisi waktu bahagiamu di hari raya ini.

Sebelum kita kembali ke segala hiruk pikuk duniawi, tidak ada salahnya, menepi, sejenak.





July, 21th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar