Kamis, 30 Juli 2015

Resah

“ Hati ini  ingin berteriak bagai memberontak. Beban yang menderam bagai tak habis menyerang perasaan. Ingin mengaburkan jiwa, tapi tak mungkin. Karena tanpa diri yang menguatkan hati mungkin jiwa ini perlahan mati. Namun, izinkan aku meresah sebentar, tersungkur dan mengucap bahwa aku lelah, aku resah...”
***

Sore ini hujan cukup deras. Setelah seharian lelah bekerja, pikiranku berkeinginan untuk beristirahat sepulang ke rumah nanti. Entah membaringkan tubuh ini sejenak, atau menyelimuti diri yang tertusuk dinginnya hujan sore ini atau mungkin menghangatkan diri dengan secangkir kopi buatan Ibu. Khayalan itu seperti hendak kujadikan kenyataan dan tak rasa tak sabar ingin pulang bergejolak. Namun, hujan tak kunjung berhenti. Aku masih menunggu di bawah kanopi yang menutupi teras tempatku bekerja.
***

“Kak, masih di sini ?”
“Iya nih, Dek. Hujan deras banget, aku gak bawa payung juga hari ini. Eh makasi loh, udah jemputin.”
“Jemput? Aku gak jemputin Kakak sih sebenarnya ke sini. Aku tadinya mau....”
“Ah, jangan bercanda kamu. Terus ngapain hujan-hujan ke sini?”
“Nah itu, tadi Kak Rian...”
“Rian? Rian kenapa?”
Ketika pembicaraan kami belum selesai, Rian datang menghampiri kami.
“Kamu ngapain ke sini? Mau jemput aku?”
“Eh, kamu belum pulang, Fi?”
“Belum, ini nunggu hujan reda dulu. Terus ngapain ke sini? Jangan bilang kamu gak maksud jemput aku juga? Kalian becanda aja ah, kalo mau jemput ya bilang aja, bagus malah aku tungguin.”
“Hmm, itu...”
“Itu apa? Ini ekspresi muka kenapa pada tegang gini sih?”
“Gini, Kak. Tadi siang aku dijemput Kak Rian di sekolah.”
“Terus?”
Nilam bercerita dengan ekspresi yang masih tegang, dan seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang penting.
“Kak Rian tadi bilang ke aku..”
Sebelum Nilam menyelesaikan perkataannya, Rian memotong penjelasan Nilam.
“Lam, nanti aja kasih tahunya.”
“Nanti? Nanti kapan? Sampai Kak Sofi tahu kebenarannya dan kayak orang bodoh yang gak tahu apa-apa yang sebenarnya? Kak Rian maunya apa sih? Kak Sofi salah apa? Kurang apa? Kenapa Kak Rian harus suka sama aku? Kenapa Kak Rian jadian kalo gitu sama Kak Sofi. Kenapa Kak Rian tega punya perasaan yang jelas-jelas gak seharusnya ....”
Nilam mengeluarkan semua ucapannya. Aku terkejut. Terkejut bukan main. Suka? Rian? Rian menyukai Nilam ketika ia sedang berpacaran denganku? Pikiranku melayang. Tiba-tiba hampa, tak tahu harus berbuat apa. Aku berjalan mundur, mencoba menjauhkan jarakku dengan mereka.
Lalu Rian menarik tanganku.
“Fi..Semakin lama aku memendam, semakin sakit rasanya Fi. Aku ungkapin ini ke Nilam bukan berarti aku harus memiliki dia. Bukan itu maksud aku. Kamu ngerti kan maksud aku?”
Ingin rasanya berteriak, tapi tak mungkin. Tapi aku mencoba mengucapkan kalimat yang seharusnya meledak namun kucoba meredam.
“Aku gak akan pernah ngerti maksud kamu, Rian. Aku bahkan gak mau ngerti apa maksud kamu ini semua. Apa aku yang merasa naif di sini? Apa aku yang merasa bodoh di sini? Apa selama ini aku pacaran sama bayangan? Sama-sama angan? Bahkan aku gak ngenalin kamu yang sekarang Rian. Kenapa tiba-tiba perasaan konyol kamu itu buat kamu jadi pengecut. Benar-benar pengecut.”
“Kamu kok ngomong gitu, Fi? Aku berusaha jujur sama kamu, aku berusaha jujur tentang semuanya, tapi kamu kok malah...”
“Apa? Gue yang salah nilai lo berarti. Ya...emang ini juga salah gue, dengan gampangnya jatuh cinta dan sekarang gak tahu gimana untuk ngelupain lo. Suka sama adek gue? Terus kalo lo suka, lo mau apa? Jadian sama dia? Lo campakin gue? Fine. Gak apa-apa, sebelum lo yang ngecampakin gue, gue yang duluan ngelakuin itu ke elo. Jadian sama adek gue? Jangan ngimpi lo. Seorang Rian yang dulu pria di mata gue, sekarang entah kenapa berubah jadi anak laki-laki yang bahkan gak tahu apa arti komitmen, janji atau perasaan. Lain kali, jangan nyakitin wanita dengan seenaknya, kalo lo gak mau dianggap pecundang.”
***

Aku menarik tangan Nilam. Aku tak peduli Nilam ingin tetap tinggal dengan lelaki itu atau ikut pulang bersamaku. Tapi aku sudah jelas menarik tangannya, pertanda melindunginya. Pertengahan jalan, Nilam melepaskan tanganku.
“Nilam...”
Nilam berbalik arah. Memang bukan kembali ke tempat kami berbicara, ia mungkin ingin menyendiri. Aku pun lalu terduduk lemas di pinggir jalan. Rintik masih mengiringi perjalanan pulangku. Khayalan ingin menghangatkan raga yang tengah kedinginan, ternyata menjadi sebuah angan. Nyatanya, tubuh ini makin kedinginan. Semakin dingin dan rasanya membeku. Aku memecahkan sore menuju senja ini dengan sebuah tangisan diam. Aku lelah, tiba-tiba. Lelah yang mengkungkung menghadapi perasaan yang tak karuan. Aku mempercepat langkahku, dan hanya ingin pulang. Semoga Ibu mampu menyambutku pulang dan menjadi kawan mendengar hatiku yang gundah, resah di tengah hujan senja ini.

 *

*** tulisan ini kuperuntukan kepada seseorang yang kuanggap adik (walau sebenarnya dia lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih luar biasa dibanding aku, dan seharusnya dia yang menjadi kakak-ku), ia sedang resah ucapnya. Ia ingin mencurahkan perasaannya, namun lucunya lewat kisah yang kuciptakan ini. Walau kuciptakan alias fiksi, tapi setidaknya ini mampu mewakili perasaannya. Perasaan yang mungkin setiap orang pernah merasakan, keresahan. Semangat, Nur!Hidup tak akan ramai jika bahagia selalu. Lewat kesedihan, kegundahan, setiap manusia akan mencapai pada suatu titik yang disebut kebahagian. Bertahan di tengah semua terpaan ya J


July, 30th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar