“ Hati ini ingin
berteriak bagai memberontak. Beban yang menderam bagai tak habis menyerang
perasaan. Ingin mengaburkan jiwa, tapi tak mungkin. Karena tanpa diri yang
menguatkan hati mungkin jiwa ini perlahan mati. Namun, izinkan aku meresah
sebentar, tersungkur dan mengucap bahwa aku lelah, aku resah...”
***
Sore ini hujan cukup deras. Setelah seharian lelah
bekerja, pikiranku berkeinginan untuk beristirahat sepulang ke rumah nanti.
Entah membaringkan tubuh ini sejenak, atau menyelimuti diri yang tertusuk
dinginnya hujan sore ini atau mungkin menghangatkan diri dengan secangkir kopi
buatan Ibu. Khayalan itu seperti hendak kujadikan kenyataan dan tak rasa tak
sabar ingin pulang bergejolak. Namun, hujan tak kunjung berhenti. Aku masih
menunggu di bawah kanopi yang menutupi teras tempatku bekerja.
***
“Kak, masih di sini ?”
“Iya nih, Dek. Hujan deras banget, aku gak bawa payung
juga hari ini. Eh makasi loh, udah jemputin.”
“Jemput? Aku gak jemputin Kakak sih sebenarnya ke sini.
Aku tadinya mau....”
“Ah, jangan bercanda kamu. Terus ngapain hujan-hujan ke
sini?”
“Nah itu, tadi Kak Rian...”
“Rian? Rian kenapa?”
Ketika pembicaraan kami belum selesai, Rian datang
menghampiri kami.
“Kamu ngapain ke sini? Mau jemput aku?”
“Eh, kamu belum pulang, Fi?”
“Belum, ini nunggu hujan reda dulu. Terus ngapain ke
sini? Jangan bilang kamu gak maksud jemput aku juga? Kalian becanda aja ah,
kalo mau jemput ya bilang aja, bagus malah aku tungguin.”
“Hmm, itu...”
“Itu apa? Ini ekspresi muka kenapa pada tegang gini sih?”
“Gini, Kak. Tadi siang aku dijemput Kak Rian di sekolah.”
“Terus?”
Nilam bercerita dengan ekspresi yang masih tegang, dan
seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang penting.
“Kak Rian tadi bilang ke aku..”
Sebelum Nilam menyelesaikan perkataannya, Rian memotong
penjelasan Nilam.
“Lam, nanti aja kasih tahunya.”
“Nanti? Nanti kapan? Sampai Kak Sofi tahu kebenarannya dan
kayak orang bodoh yang gak tahu apa-apa yang sebenarnya? Kak Rian maunya apa
sih? Kak Sofi salah apa? Kurang apa? Kenapa Kak Rian harus suka sama aku?
Kenapa Kak Rian jadian kalo gitu sama Kak Sofi. Kenapa Kak Rian tega punya
perasaan yang jelas-jelas gak seharusnya ....”
Nilam mengeluarkan semua ucapannya. Aku terkejut.
Terkejut bukan main. Suka? Rian? Rian menyukai Nilam ketika ia sedang
berpacaran denganku? Pikiranku melayang. Tiba-tiba hampa, tak tahu harus
berbuat apa. Aku berjalan mundur, mencoba menjauhkan jarakku dengan mereka.
Lalu Rian menarik tanganku.
“Fi..Semakin lama aku memendam, semakin sakit rasanya Fi.
Aku ungkapin ini ke Nilam bukan berarti aku harus memiliki dia. Bukan itu
maksud aku. Kamu ngerti kan maksud aku?”
Ingin rasanya berteriak, tapi tak mungkin. Tapi aku
mencoba mengucapkan kalimat yang seharusnya meledak namun kucoba meredam.
“Aku gak akan pernah ngerti maksud kamu, Rian. Aku bahkan
gak mau ngerti apa maksud kamu ini semua. Apa aku yang merasa naif di sini? Apa
aku yang merasa bodoh di sini? Apa selama ini aku pacaran sama bayangan?
Sama-sama angan? Bahkan aku gak ngenalin kamu yang sekarang Rian. Kenapa
tiba-tiba perasaan konyol kamu itu buat kamu jadi pengecut. Benar-benar
pengecut.”
“Kamu kok ngomong gitu, Fi? Aku berusaha jujur sama kamu,
aku berusaha jujur tentang semuanya, tapi kamu kok malah...”
“Apa? Gue yang salah nilai lo berarti. Ya...emang ini
juga salah gue, dengan gampangnya jatuh cinta dan sekarang gak tahu gimana
untuk ngelupain lo. Suka sama adek gue? Terus kalo lo suka, lo mau apa? Jadian
sama dia? Lo campakin gue? Fine. Gak apa-apa, sebelum lo yang ngecampakin gue,
gue yang duluan ngelakuin itu ke elo. Jadian sama adek gue? Jangan ngimpi lo.
Seorang Rian yang dulu pria di mata gue, sekarang entah kenapa berubah jadi
anak laki-laki yang bahkan gak tahu apa arti komitmen, janji atau perasaan.
Lain kali, jangan nyakitin wanita dengan seenaknya, kalo lo gak mau dianggap
pecundang.”
***
Aku menarik tangan Nilam. Aku tak peduli Nilam ingin
tetap tinggal dengan lelaki itu atau ikut pulang bersamaku. Tapi aku sudah
jelas menarik tangannya, pertanda melindunginya. Pertengahan jalan, Nilam
melepaskan tanganku.
“Nilam...”
Nilam berbalik arah. Memang bukan kembali ke tempat kami
berbicara, ia mungkin ingin menyendiri. Aku pun lalu terduduk lemas di pinggir
jalan. Rintik masih mengiringi perjalanan pulangku. Khayalan ingin
menghangatkan raga yang tengah kedinginan, ternyata menjadi sebuah angan.
Nyatanya, tubuh ini makin kedinginan. Semakin dingin dan rasanya membeku. Aku
memecahkan sore menuju senja ini dengan sebuah tangisan diam. Aku lelah,
tiba-tiba. Lelah yang mengkungkung menghadapi perasaan yang tak karuan. Aku
mempercepat langkahku, dan hanya ingin pulang. Semoga Ibu mampu menyambutku
pulang dan menjadi kawan mendengar hatiku yang gundah, resah di tengah hujan
senja ini.
*
*** tulisan ini kuperuntukan kepada seseorang yang
kuanggap adik (walau sebenarnya dia lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih luar
biasa dibanding aku, dan seharusnya dia yang menjadi kakak-ku), ia sedang resah
ucapnya. Ia ingin mencurahkan perasaannya, namun lucunya lewat kisah yang
kuciptakan ini. Walau kuciptakan alias fiksi, tapi setidaknya ini mampu
mewakili perasaannya. Perasaan yang mungkin setiap orang pernah merasakan,
keresahan. Semangat, Nur!Hidup tak akan
ramai jika bahagia selalu. Lewat kesedihan, kegundahan, setiap manusia akan
mencapai pada suatu titik yang disebut kebahagian. Bertahan di tengah semua
terpaan ya J
July, 30th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar