“Doaku
sederhana, Tuhan. Aku tak perlu yang istimewa. Cukup selalu ada untukku, terangi
jalanku, dan melindungi mereka yang kusayangi. Harapanku sederhana, Tuhan, agar
aku selalu menjadi orang yang bersyukur, apapun itu. Terima kasih, Tuhan,
hingga kini aku masih bisa melihat langit-Mu yang megah ini.”
23 Mei 2004
13:25
“Hari yang
menyebalkan! Aku tidak akan mengatakan kata-kata itu lagi karena suatu saat
orang yang membuatku kesal akan merasakannya! Aku hanya bisa menangis tanpa
melakukan apa-apa! Hidup ini selalu menyulitkanku! Kalau pulang sekolah, pasti
diomelin! Libur sama saja. Kata orang-orang, ya harus sabar. Apa sih arti sabar
itu?”
Tulisan di atas
menggelitikku. Hingga aku tertawa kecil memandangi tulisan itu. Aku tak habis
pikir, ternyata aku pernah menjadi labil, istilah yang sering digunakan zaman
sekarang, ‘labil’. Aku memang gemar meluapkan kekesalan di diari, pada masa
itu. Tapi, ya, kini tidak sesering itu. Aku lebih cenderung ‘menuliskan’
kekesalan itu di pikiran lalu beberapa saat kemudian, lupa dan hilang dari
pikiran. Memang, tidak dapat dipungkiri, semakin bertambah usia, pemikiran
semakin berbeda, lebih matang dan pastinya berubah seiring banyak kejadian dan
pengalaman hidup yang dilewati. Ya, aku mungkin tidak terlalu ‘berpengalaman’
dalam hidup, tapi setidaknya aku mampu bersikap sesuai dengan dua digit angka
yang tersandang di diriku. Dulu, aku berharap setiap pertambahan usia, ingin
dirayakan bersama teman-teman, banyak orang yang datang membawa bingkisan, dan
memberi salam. Itu sudah membuatku senang. Dengan jumlah teman yang banyak akan
membuktikan ‘kebahagiaan’ pada usia itu. Tapi lucunya semakin bertambah usia,
semakin enggan untuk orang-orang yang ‘tidak terlalu dekat’ ikut merayakan
pertambahan usia. Entah itu hanya aku yang merasakan, atau mungkin banyak orang
seperti ini. Ya, itulah yang aku rasakan. Kini, aku lebih bahagia apabila
keluarga yang selalu menjadi urutan pertama mengucapkan selamat kepadaku,
mendoakanku, atau bahkan memberikan sedikit pemberian. Ditambah dengan, teman
terdekat, sahabat yang selalu ingat akan hari lahir, yang memberi selamat, atau
dengan memberi pesta kejutan. Tak peduli hanya 1 atau 2, ya, itu membuktikan ia
orang yang benar-benar patut dikatakan sahabat atau teman.
Aku kembali membaca
tulisan konyol 11 tahun yang lalu,
“Aku berjanji
akan menulis diari dan menyimpan diari selamanya. Hidup ini memang penuh
penyiksaan! Mengapa aku saja yang dikomentari? Jawabannya liawat ketika aku
sudah besar”
Aku nyaris mengumpat
pada diriku yang labil dulu. Tulisanku dulu bagaikan lelucon ternyata apabila
dibaca kini.
Entah kenapa aku
malah lebih konyol menjawab pertanyaan masa lalu itu. Ya, setidaknya tulisan
ini pernah keluar dari pikiranku dan ditulis oleh tanganku. Setidaknya,
menghargai diri sendiri itu perlu, bukan?
Baiklah, jawabannya
sederhana memang, dan semua orang pasti tahu jawabannya. Aku baru sadar bahwa
komentar, hujatan, ucapan yang mengena ke hati itu sangat berharga kini, ketika
tak ada lagi orang yang memperhatikanmu. Orang-orang yang sibuk mencecari kita
dahulu ternyata orang yang berharga, orang yang rela menyisakan waktu untuk
mengingatkan kita. Dulu, aku merasa jengkel, sekarang aku rindu malah. Aku
rindu diingatkan ini, itu. Sekarang, banyak hal yang harus aku lalui dengan
keputusanku sendiri. Entah benar atau tidak, entas pantas atau tidak, aku harus
melewatinya sendiri. Pilihan benar-benar harus kuputuskan sendiri, sedangkan
dulu aku dengan santainya marah atau kesal karena diatur ini itu. Aku benar-benar
rindu hal itu. Malah aku berterima kasih pernah ‘diomeli’ seperti itu.
Khususnya kepada Ibu. Kalau bukan beliau, mungkin aku sudah menjadi seseorang
yang tidak tahu arah. Ternyata harga sebuah pelajaran di rumah tidak ternilai, priceless dibanding pelajaran di
sekolah, tempat kursus bahkan di universitas sekalipun. Ajaran di rumah, contoh
kecil saja seperti etika, cara bersikap, dan hal-hal kecil lainnya yang
ternyata membawa pengaruh besar terhadap diri kita, sebenarnya, itulah yang
menentukan siapa kita kini, hari ini. Berterima kasih pada Tuhan karena Ia
memberikan kita hidup di setiap pertambahan usia, memberikan rezeki,
penghidupan yang layak dan semua yang kita peroleh hingga saat ini, dan tidak
lupa berterima kasih kepada orang tua, khususnya Ibu yang selalu di rumah dari
bayi hingga besar seperti ini, yang mendidik kita sampai pada akhirnya kita
mampu meraih apa yang kita cita-citakan. Tak lupa juga berterima kasihlah pada
Ayah kita, yang tak pernah lelah sekalipun mendengarkan kebutuhan-kebutuhan
hidup yang harus dipenuhi dan membawa kita hingga menjadi seseorang .
***
Sebenarnya aku
takut berjanji. Namun, apa bisanya seorang manusia agar dapat menenangkan hati
seseorang? Salah satunya berjanji. Berjanji untuk menjadi seseorang, seorang
yang hebat, seorang yang bisa diandalkan, seorang yang mampu menjaga nama baik
ayah-ibunya. Aku pun ingin berjanji seperti itu, di angka dua-dua yang aku
peroleh kini. Terima Kasih, Ya Rabb...
August, 14 th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar