Jumat, 14 Agustus 2015

21+1

“Doaku sederhana, Tuhan. Aku tak perlu yang istimewa. Cukup selalu ada untukku, terangi jalanku, dan melindungi mereka yang kusayangi. Harapanku sederhana, Tuhan, agar aku selalu menjadi orang yang bersyukur, apapun itu. Terima kasih, Tuhan, hingga kini aku masih bisa melihat langit-Mu yang megah ini.”
***

23 Mei 2004
13:25

“Hari yang menyebalkan! Aku tidak akan mengatakan kata-kata itu lagi karena suatu saat orang yang membuatku kesal akan merasakannya! Aku hanya bisa menangis tanpa melakukan apa-apa! Hidup ini selalu menyulitkanku! Kalau pulang sekolah, pasti diomelin! Libur sama saja. Kata orang-orang, ya harus sabar. Apa sih arti sabar itu?”

Tulisan di atas menggelitikku. Hingga aku tertawa kecil memandangi tulisan itu. Aku tak habis pikir, ternyata aku pernah menjadi labil, istilah yang sering digunakan zaman sekarang, ‘labil’. Aku memang gemar meluapkan kekesalan di diari, pada masa itu. Tapi, ya, kini tidak sesering itu. Aku lebih cenderung ‘menuliskan’ kekesalan itu di pikiran lalu beberapa saat kemudian, lupa dan hilang dari pikiran. Memang, tidak dapat dipungkiri, semakin bertambah usia, pemikiran semakin berbeda, lebih matang dan pastinya berubah seiring banyak kejadian dan pengalaman hidup yang dilewati. Ya, aku mungkin tidak terlalu ‘berpengalaman’ dalam hidup, tapi setidaknya aku mampu bersikap sesuai dengan dua digit angka yang tersandang di diriku. Dulu, aku berharap setiap pertambahan usia, ingin dirayakan bersama teman-teman, banyak orang yang datang membawa bingkisan, dan memberi salam. Itu sudah membuatku senang. Dengan jumlah teman yang banyak akan membuktikan ‘kebahagiaan’ pada usia itu. Tapi lucunya semakin bertambah usia, semakin enggan untuk orang-orang yang ‘tidak terlalu dekat’ ikut merayakan pertambahan usia. Entah itu hanya aku yang merasakan, atau mungkin banyak orang seperti ini. Ya, itulah yang aku rasakan. Kini, aku lebih bahagia apabila keluarga yang selalu menjadi urutan pertama mengucapkan selamat kepadaku, mendoakanku, atau bahkan memberikan sedikit pemberian. Ditambah dengan, teman terdekat, sahabat yang selalu ingat akan hari lahir, yang memberi selamat, atau dengan memberi pesta kejutan. Tak peduli hanya 1 atau 2, ya, itu membuktikan ia orang yang benar-benar patut dikatakan sahabat atau teman.
Aku kembali membaca tulisan konyol 11 tahun yang lalu,

“Aku berjanji akan menulis diari dan menyimpan diari selamanya. Hidup ini memang penuh penyiksaan! Mengapa aku saja yang dikomentari? Jawabannya liawat ketika aku sudah besar”

Aku nyaris mengumpat pada diriku yang labil dulu. Tulisanku dulu bagaikan lelucon ternyata apabila dibaca kini.

Entah kenapa aku malah lebih konyol menjawab pertanyaan masa lalu itu. Ya, setidaknya tulisan ini pernah keluar dari pikiranku dan ditulis oleh tanganku. Setidaknya, menghargai diri sendiri itu perlu, bukan?

Baiklah, jawabannya sederhana memang, dan semua orang pasti tahu jawabannya. Aku baru sadar bahwa komentar, hujatan, ucapan yang mengena ke hati itu sangat berharga kini, ketika tak ada lagi orang yang memperhatikanmu. Orang-orang yang sibuk mencecari kita dahulu ternyata orang yang berharga, orang yang rela menyisakan waktu untuk mengingatkan kita. Dulu, aku merasa jengkel, sekarang aku rindu malah. Aku rindu diingatkan ini, itu. Sekarang, banyak hal yang harus aku lalui dengan keputusanku sendiri. Entah benar atau tidak, entas pantas atau tidak, aku harus melewatinya sendiri. Pilihan benar-benar harus kuputuskan sendiri, sedangkan dulu aku dengan santainya marah atau kesal karena diatur ini itu. Aku benar-benar rindu hal itu. Malah aku berterima kasih pernah ‘diomeli’ seperti itu. Khususnya kepada Ibu. Kalau bukan beliau, mungkin aku sudah menjadi seseorang yang tidak tahu arah. Ternyata harga sebuah pelajaran di rumah tidak ternilai, priceless dibanding pelajaran di sekolah, tempat kursus bahkan di universitas sekalipun. Ajaran di rumah, contoh kecil saja seperti etika, cara bersikap, dan hal-hal kecil lainnya yang ternyata membawa pengaruh besar terhadap diri kita, sebenarnya, itulah yang menentukan siapa kita kini, hari ini. Berterima kasih pada Tuhan karena Ia memberikan kita hidup di setiap pertambahan usia, memberikan rezeki, penghidupan yang layak dan semua yang kita peroleh hingga saat ini, dan tidak lupa berterima kasih kepada orang tua, khususnya Ibu yang selalu di rumah dari bayi hingga besar seperti ini, yang mendidik kita sampai pada akhirnya kita mampu meraih apa yang kita cita-citakan. Tak lupa juga berterima kasihlah pada Ayah kita, yang tak pernah lelah sekalipun mendengarkan kebutuhan-kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan membawa kita hingga menjadi seseorang .

***

Sebenarnya aku takut berjanji. Namun, apa bisanya seorang manusia agar dapat menenangkan hati seseorang? Salah satunya berjanji. Berjanji untuk menjadi seseorang, seorang yang hebat, seorang yang bisa diandalkan, seorang yang mampu menjaga nama baik ayah-ibunya. Aku pun ingin berjanji seperti itu, di angka dua-dua yang aku peroleh kini. Terima Kasih, Ya Rabb...


August, 14 th 2015


RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar