Senin, 03 Agustus 2015

Pesan dari Awan

“Seberapa mampu ketakutan itu memburu? Seberapa kuat pikiran itu menjerat? Membayang suatu bentuk di awan, menyerupai sebuah penampakan yang di luar dari batas kewajaran, seberapa lama itu akan bertahan? Kendalikan pikiranmu, Nak. Itu bukan apa yang kamu lihat.”
***


Malam ini tak mampu memejamkan mata lagi. Naela ingin sekali tidur tanpa “bantuan” apapun. Ia ingin “mandiri” dalam memejamkan matanya sendiri. Tapi, ia masih tak mampu mengendalikannya. Masih memutarkan playlist lagu yang sama setiap malam, itu mampu mengantarkannya pada tidur yang cukup lelap hingga hanya membangunkannya keesokan paginya. Naela merasa masih ada “suara” yang membawanya kepada kebiasaan insomnia. Lucunya, ketakutan itu muncul ketika ia mendengarkan musik, namun itu berbeda. Kejadiannya ketika ia masih SMP. Ia mendengarkan radio ketika belajar. Bedanya, ia tidak mendengarkan dengan earphone, namun radio itu diperdengarkan melalui tape. Ia kala itu sibuk mengerjakan tugas sembari mendengarkan musik. Namun, ia mendengar suara yang aneh. Tiba-tiba suara laki-laki yang memanggil namanya. “Naela, Naela.” Namanya disebut dengan kecepatan yang cepat. Tetapi terdengar jelas. Tentu saja Naela yang sedang konsentrasi dan tiba-tiba mendengar suara itu lalu berlari ke lantai satu di mana ibu dan kakak-kakaknya sedang berkumpul. Ia menangis karena mendengar suara itu. Sejak malam itu, ia tidak pernah berani mendengar radio seorang diri.

***

“Nae...”

“Hmm...”

“Jangan ajak gue begadang ya malem ini...”

“Enggak, tenang aja.”

“Lo kan hobi begadang katanya, jangan bilang sekarang mau tidur kalo udah pagi?”

“Ya enggak lah, gue kalo udah ada yang nemenin kayak gini bisa tidur cepet.”

“Nah, terus kalo tidur sendirian? Lo begadang gitu?”

“Hmm, ya gitu deh, kadang gue tidur sambil dengerin musik, biar gak berasa sepi.”

“Lah, katanya lo pernah denger suara pas denger musik gitu?Masih beranian aja lo?”

“Oh itu...bukan musik yang didenger di handphone, tapi di radio. Kalo itu gue sih gak berani.”

“Tapi ya, Nae, Nyokap gue pernah nanganin pasien yang lumayan persis gitu kayak apa yang lo alami.”

“Hmmm...terus, nyokap lo bilang apa ke pasien itu?”

“Intinya sih, kejadian itu bisa dipicu sama kejadian yang lalu yang ngebuat kita mensugesti diri akan hal yang mustahil terjadi.”

“Maksud lo?”

“Duh, kira-kira gitu deh. Besok pagi lo tanya nyokap gue deh. Itung-itung konsul gratis, lumayan kan? Haha, udah ah gue mau tidur dulu. Jangan sampai lo begadang, Nae. Nyokap gue bisa ngamuk kalo lo bangunnya kesiangan.”

“Iyaa, tidur sana gih.”

***

“Pagi, Tante..”

“Iya pagi, Nae... Loh, itu Maya mana? Belum bangun juga?”

“Hehe, katanya 5 menit lagi...”

“5 menit lagi a nambah 50 menit lagi, Nae. Udah yuk sarapan duluan aja, sarapan di taman yuk, udara paginya seger.”

“Iya, Tante...”

Beliau sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri. Semenjak Ibu sudah tidak ada, beliau selalu mengajakku menghabiskan akhir pekan bersama. Aku, Maya, dan Mama-nya Maya. Hari minggu ini kuputuskan untuk menginap di rumah Maya.

Sembari sarapan di taman belakang rumah Maya yang ditata asri dan rapi, aku melihat sekeliling rumahnya dan merasakan angin pagi yang sejuk.

“Wah, langitnya biru banget Tante...”

“Hmm..iya yaa, cerah banget hari ini. Awannya juga kayak lagi ngumpul gitu ya?”

“Huh? Ngumpul? Aku sih ngeliatnya kayak bentuk, hmm...wajah manusia gitu?”

“Wajah manusia? Kok kamu bisa ngeliat bentuknya begitu, Nae?”

“Tante gak ngeliat ya? Aku sih mikirnya gitu..Heheh...”

“Hmm, berarti cara ngelihat kita beda Nae...”

“Apanya yang beda Tante?”

Ia mulai menjelaskan sembari menatap awan putih di antara langit biru.

“Setiap orang punya mind-set yang berbeda. Punya sugesti yang berbeda tetapi sama-sama punya alam yang disebut alam bawah sadar. Selagi Nae bilang awannya berbentuk wajah manusia, berarti alam bawah sadar yang seharusnya tahu kalo awan itu ya berbentuk awan, berarak dan  berkumpul, mind-set Nae bekerja dan memikirkan hal lain. Ya bisa disebut, apa yang kita lihat akan nampak seperti apa yang kita pikirkan. Mungkin Nae bisa melihat Tante sebagai orang yang jahat, ketika Nae berpikir Tante ini memang jahat. Maka, apa yang dipikirkan akan mengguratkan apa yang kita lihat menjadi yang kita pikirkan tadi, secara tidak sadar. Hmm..hal itu wajar, tapi kalo dibiasakan akan menjadi suatu sindrom, atau bahkan gangguan. Sebut aja halusinasi, ilusi, atau bayangan pikiran.”

Aku tercengang mendengar Tante menjelaskan secara panjang lebar tetapi membuatku memahami semua itu. Lalu, muncullah rasa penasaranku untuk bertanya pada beliau.

“Oh iya Tante, aku mau nanya, boleh gak?”

“Haha...boleh dong Nae, selagi di rumah kan, kalo di kantor agak ribet yaa...Mau nanya apa Nae?”

“Aku pernah ngalamin hal yang serem waktu SMP, jadi aku pernah ngedenger suara yang memanggil namaku di tengah-tengah musik yang sedang diputarkan di radio. Sampai sekarang aku masih takut dengerin radio, Tante...”

“Hmm..itu gak jauh beda sama apa yang Tante jelasin tadi. Ingat, apa yang kita pikirkan bisa jadi muncul pada apa yang kita lihat. Begitu juga dengan suara, perasaan ketakutan. Semua bermuara pada pikiran. Kalo pikir kita akan melihat sesuatu yang menyeramkan, bisa jadi pohon yang sedang bergerak bisa berubah jadi hantu, mungkin? Atau suara yang tidak ingin kita dengar, tapi suatu ketika pernah terpikirkan oleh kita terdengar di tempat yang mustahil ada. Banyak orang bilang, hal itu mungkin terjadi. Tapi, jika ada suatu “pesan” tersembunyi yang ingin disampaikan, bukankah harusnya muncul pada hal yang tidak mustahil? Mulai memikirkan hal positif, dari hari ini, pagi ini.”

Aku disadarkan oleh perkataan Tante. Ia mengarahkanku pada suatu solusi yang selama ini kubutuhkan.

“Jadi aku harus gimana, Tante biar rasa takut itu hilang?”

“Bangun pagi, atur nafas, sugesti diri melalui pikiran, lalu katakan dalam hati ‘Today’s gonna be awesome’, atau kata-kata lain yang mampu mendorong kita pada kekuatan positif. Tante yakin, hari yang akan dilalui walaupun ada yang mengganggu, tapi kita bakal menghadapinya dengan keberanian, kekuatan bukan dengan ketakutan. Oke?”

Aku sedikit lega mendengarkan wejangan seorang Ibu yang menyemangatiku pagi ini.

“Iya, Tante. I will hehe...Jadi suara itu mungkin seperti awan, awan yang membentuk sendiri karena pikiran kita sendiri.”




August, 3th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar