Minggu, 27 September 2015

Ketika Matahari Terbenam Bersanding dengan Lampu Jalan

“Semua terlihat indah ketika mensyukuri, apapun itu.”
***


Hal yang paling lumrah dalam hidupku adalah menghadapi masalah, menghadapi musuh yang senyata-nyatanya menampakkan wujudnya di depanku. Namun, hal yang paling menyulitkan dan menyiksa adalah ketika berhadapan dengan seseorang yang jelas-jelas menjadi panutan tetapi harus berbalik menjadi seseorang yang kukonfrontasi. Hari demi hari makin sulit, detik demi detik kian berat, melawan rasa benci yang malah menggunung. Yang tak kusangka adalah ia jatuh pada lubang yang tak kuduga sebelumnya. Hingga aku harus mengata-ngatainya karena kekhilafannya. Salah memang, dosa apalagi, tapi kali ini aku sulit memaafkan, aku sulit melupakan, sulit pula tuk menghiraukan. Air mata tak butuh kali ini kutumpahkan. Karena aku terlalu muak, berlarut-larut menyaksikan tingkah lakunya yang tak karuan. Lalu tersadar satu hal, tersentak satu soal, tak aneh ia begini. Aku ternyata pernah menduga hal ini terjadi. Hanya masalah waktu. Kurang bersyukur. Itu penyebabnya. Dan bom waktu itu akhirnya meledak karena satu sikap yang berbulan-bulan, bertahun-tahun, menjadi penyakit yang tertimbun.

***

“Terus ini gimana dong Bude?”

“Kita harus sabar dulu,Nak. Jangan gegabah”

“Jangan gegabah gimana Bude? Kalau Ayah yang tahu duluan gimana? Lebih baik kita yang sadarin Ibu duluan, Bude...”

“Iya, Nak...Bude paham. Akan lebih baik menghindarkan Ayah sama Ibu-mu yang bertengkar, tapi kita pastikan Ibu jangan dekat-dekat dulu sama orang itu, ya....”

Kami berdua lalu terdiam sejenak. Mata kami sibuk melihat ke segala arah. Tapi pikiran kami hanya sama pada satu titik. Ibu.

***

“Nak, ndak pulang ke rumah? Ini udah mulai sore, Nak...”

“Iya, Bude...Sebentar lagi. Kalau pun pulang, Ibu sibuk ngomongin orang itu. Aku kesal mendengarnya. Tapi ya Bude...”

“Kenapa Nak?”

“Apa ini akhirnya Ibu begini? Ibu sering cerita ke aku kalau Ibu menyesal sama Ayah selama ini. Ibu menyesal karena meninggalkan kehidupan Ibu yang dulu.Aku dengarnya juga lama kelamaan sesak, Bude...Padahal semua yang Ibu mau pasti diturutin Ayah...Gak kurang satu apapun.”

“Hmm...iya, Nak. Ibu mu orangnya seperti itu. Bude yakin semua ini ada hikmahnya.”

“Iya, Bude. Aku baru sadar, kalau kita setiap harinya bersyukur setiap nikmat yang diterima, apapun itu, pasti bahagia. Walaupun ada yang bikin sedih, tapi sisakan waktu semenit saja mengucap syukur atas semua yang sudah diperoleh hingga kini. Kalau hidup dengan sibuk mengingat masa lalu, hidup hanya berujung penyesalan. Akhirnya, milih “kabur” lah, “lari” lah. Hmm...aku baru sadar setelah lihat Ibu berubah begini.”

“Iya...Kamu mulai sekarang ajak orang tuamu untuk bahagia akan hal kecil. Kadang mereka lupa hal kecil yang bisa membuat mereka mengingat nikmat hidup yang diterimanya.”

“Iya Bude...hmm....Aku pulang dulu ya, Bude. Kalau jauhin Ibu kayak gini, nanti Ibu malah lupa sama aku, hehe. Assalamualaikum Bude...”

“Waalaikumsallam...Hati-Hati Ndo’. ”

***

Aku memutuskan pulang senja ini. Kendaraan yang lalu lalang, jalanan sibuk, duduk berdesakan di antara penumpang lain. Namun, udara yang berhembus bagai menembus di tengah senja ini, menyejukkan pikiran yang terasa panas mengingat semua yang menjadi beban. Pikiranku sibuk memikirkan berbagai solusi, jalan keluar hingga ide-ide konyol dan nekat dalam menghadapi perbuatan Ibu. Tiba-tiba, cahaya matahari senja yang hendak terbenam mengalihkan pandanganku. Sinarnya terlalu kuat. Namun begitu mantap kembali ke rumahnya. Pesonanya begitu megah hingga terlintas bahwa keindahan tak perlu jauh-jauh diraih, tak perlu ke pantai, tak perlu laut, tak perlu ke gunung.
 Jalanan yang kulewati sore ini sudah menemaniku untuk menyaksikan pertunjukan gratis namun berkelas dari Sang Pencipta bernama Matahari Terbenam. Bahkan, lampu jalan yang berdiri kokoh dengan topangan besi baja di pinggir-pinggir jalan kalah saing dengan karisma matahari senja ini. Selain keindahan yang tiba-tiba menyilaukan mata ini, aku lalu teringat Ibu di rumah. Andai saja Ibu bersamaku duduk berdampingan dan turut menyaksikan indahnya langit senja ini, ia mungkin sadar akan kebahagiaan yang begitu sederhana ini. 
Aku juga ingin Ibu yakin bahwa Tuhan telah memilihkan Ibu sebuah takdir yang bisa sama indahnya dengan matahari terbenam walau terkadang melihatnya pada tempat yang tepat, waktu yang tepat pula daripada hanya menyadari sebuah cahaya yang ditopang dengan sebuah besi yang berdiri kokoh namun indahnya tak ada bandingan dengan matahari terbenam di senja hari.



Sept 27th 2015



RED

1 komentar:

  1. Terimakasih atas cerita yg indah.Terus berkarya,dan tuangkan setiap apa yg ada dlm pikiran dan hatimu.

    Selalu Menantikan kisahmu selanjutnya

    BalasHapus