“Ayah apa
kabar? Sehat, kan? Aku mengharapkan Ayah selalu sehat. Tapi ingin tahu harapan
lainku, Yah? Aku berharap, pertanyaan ini dapat kutanyakan langsung kepada,
Ayah...”
Besar di antara keluarga yang besar. Empat saudara, cukup
ramai ternyata. Banyak yang terlewatkan pula. Hal yang dulu tak pernah
kuperbuat selama masa kecil menjadi suatu yang kusesalkan kini. Jika ditanya,
apakah aku bahagia? Mungkin bisa saja aku jawab, ya, aku bahagia. Ayah dan Ibu
selalu mencukupkan hidupku, hidup kami sekeluarga. Tak ada rasa kurang, ya
walaupun ada sedikit terbersit, aku kurang merasa kebahagiaan “senyatanya” di
tengah keluarga. Tapi, tak mengapa. Tahun kian tahun, kini umurku bertambah.
Sempat tertegun, apa yang hendak kuraih? Kepuasaan diri macam apa yang
kuimpikan? Inilah kekosongan yang tiba-tiba terpikirkan olehku. Apa yang sudah
kuperbuat untuk mereka. Ah, hal sederhana yang ingin kutanyakan, apa kabar?
Ayah, Ibu...Apa kabar? Namun, aku sudah sering berbincang dengan Ibu, sedang
Ayah...beliau sibuk memenuhi hidup kami. Yah, apa kabar?
***
Ayah mengetuk pintu dengan kuat seperti biasa. Setiap
ketukan pintunya di petang kami selalu membubarkan kami yang sedang sibuk menggambar,
saling berbuat usil, menertawakan satu sama lain, sedang aku menjadi korban
keusilan mereka. Alhasil, aku merengek menangis mencari Ibu. Ayah lalu duduk di
sofa coklat di dekat meja di mana kami selalu belajar. Ia menyandarkan badannya
yang kelelahan sepulang berdagang. Kakakku yang paling besar lalu dengan
sigapnya mengambil langkah seribu mengambilkan segelas besar air untuk ayah.
Gelas yang Ayah selalu pakai memang terbilang unik. Besar, tinggi, dan bening.
Kami selalu menggunakan kalimat ini ketika bertanya...”Bu...gelas Ayah yang
mana Bu?”
Lalu Ibu menjawab dengan teriakan kuat, “Gelas Abak di
lemari ...”.
Ya, air dengan gelas Abak. Ia selalu menghabiskan air di
gelas besar itu dalam hitungan detik. Ah...pikirku, Ia terlalu haus hingga
ketika berdagang dari pagi hingga petang tak ada waktu untuk sekedar minum air.
Aku berpikir ketika masih kecil, Ayah selalu kehausan ternyata. Maka, aku
bertekad untuk selalu mengantarkan segelas air untuk Ayah sepulang berdagang.
Itu inginku semasa kecil.
***
Beranjak remaja, tak banyak yang dapat kuceritakan kepada
Ayah. Ibu selalu menjadi pendengar keluh kesahku, keluh kesah kami. Kami
menganggap Ibu-lah pahlawan di setiap langkah kami. Semasa sekolah, semasa
lelah, Ibu yang selalu ada. Hingga kami, khususnya aku lupa keberadaan Ayah.
Maka, aku tak pernah sekalipun “curhat” tentang diriku kepada Ayah. Hingga aku
tak pernah apa yang Ayah rasa, yang Ayah lihat ketika aku beranjak remaja
seperti ini. Tak berselang lama, waktu bagai diputar begitu cepat, menginjak
bangku kuliah, banyak pula yang kualami. Sekali waktu aku pulang ke rumah dari
rantau, melihat Ayah mengetuk pintu dengan bunyi yang seperti biasa keras, dan
lalu terduduk di kursi. Aku melihatnya dari kejauhan, “Ah, Ayah haus...”.
Berlarilah aku membawa gelas besar berisi air putih untuk Ayah. Aku
meletakkannya. Lalu, tak ada suara lain, selain suara air yang habis diminum
Ayah. “Ya..Ayah masih haus, selalu haus, bahkan sejak kecil ketika aku
melihatnya kehausan seperti ini.
***
Ya...jarakku dengan Ayah kini cukup jauh. Jika dengan
pesawat aku harus menempuh 3 jam perjalanan. Jika ditempuh dengan bus, aku
harus melewati 3 hari 2 malam perjalanan. Entah kenapa, malam ini, aku ingin
meletakkan segelas air untuk Ayah yang mungkin kelelahan dengan semua beban dan
ketidaksanggupan seiring bertambah senja usianya.Tapi, selain meletakkan
segelas air untuk Ayah, aku juga ingin menanyakan kabarnya. Hal lain yang ingin
kudengar selain suaranya yang selalu
lega setelah mendengarnya minum segelas air, aku juga ingin dengar kisah
hidupnya yang tak pernah kudengar selama ini.
Aku terlalu lengah melewatkan waktuku ketika berada di sampingnya.
Hingga kesan yang tertinggal bagiku hanya suara ketukan pintu yang keras dan ekspresi
lega setelah meneguk habis segelas air dariku.
***
Sept,19th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar