Sabtu, 19 September 2015

Segelas Air

“Ayah apa kabar? Sehat, kan? Aku mengharapkan Ayah selalu sehat. Tapi ingin tahu harapan lainku, Yah? Aku berharap, pertanyaan ini dapat kutanyakan langsung kepada, Ayah...”

***

Besar di antara keluarga yang besar. Empat saudara, cukup ramai ternyata. Banyak yang terlewatkan pula. Hal yang dulu tak pernah kuperbuat selama masa kecil menjadi suatu yang kusesalkan kini. Jika ditanya, apakah aku bahagia? Mungkin bisa saja aku jawab, ya, aku bahagia. Ayah dan Ibu selalu mencukupkan hidupku, hidup kami sekeluarga. Tak ada rasa kurang, ya walaupun ada sedikit terbersit, aku kurang merasa kebahagiaan “senyatanya” di tengah keluarga. Tapi, tak mengapa. Tahun kian tahun, kini umurku bertambah. Sempat tertegun, apa yang hendak kuraih? Kepuasaan diri macam apa yang kuimpikan? Inilah kekosongan yang tiba-tiba terpikirkan olehku. Apa yang sudah kuperbuat untuk mereka. Ah, hal sederhana yang ingin kutanyakan, apa kabar? Ayah, Ibu...Apa kabar? Namun, aku sudah sering berbincang dengan Ibu, sedang Ayah...beliau sibuk memenuhi hidup kami. Yah, apa kabar?

***

Ayah mengetuk pintu dengan kuat seperti biasa. Setiap ketukan pintunya di petang kami selalu membubarkan kami yang sedang sibuk menggambar, saling berbuat usil, menertawakan satu sama lain, sedang aku menjadi korban keusilan mereka. Alhasil, aku merengek menangis mencari Ibu. Ayah lalu duduk di sofa coklat di dekat meja di mana kami selalu belajar. Ia menyandarkan badannya yang kelelahan sepulang berdagang. Kakakku yang paling besar lalu dengan sigapnya mengambil langkah seribu mengambilkan segelas besar air untuk ayah. Gelas yang Ayah selalu pakai memang terbilang unik. Besar, tinggi, dan bening. Kami selalu menggunakan kalimat ini ketika bertanya...”Bu...gelas Ayah yang mana Bu?”

Lalu Ibu menjawab dengan teriakan kuat, “Gelas Abak di lemari ...”.

Ya, air dengan gelas Abak. Ia selalu menghabiskan air di gelas besar itu dalam hitungan detik. Ah...pikirku, Ia terlalu haus hingga ketika berdagang dari pagi hingga petang tak ada waktu untuk sekedar minum air. Aku berpikir ketika masih kecil, Ayah selalu kehausan ternyata. Maka, aku bertekad untuk selalu mengantarkan segelas air untuk Ayah sepulang berdagang. Itu inginku semasa kecil.

***

Beranjak remaja, tak banyak yang dapat kuceritakan kepada Ayah. Ibu selalu menjadi pendengar keluh kesahku, keluh kesah kami. Kami menganggap Ibu-lah pahlawan di setiap langkah kami. Semasa sekolah, semasa lelah, Ibu yang selalu ada. Hingga kami, khususnya aku lupa keberadaan Ayah. Maka, aku tak pernah sekalipun “curhat” tentang diriku kepada Ayah. Hingga aku tak pernah apa yang Ayah rasa, yang Ayah lihat ketika aku beranjak remaja seperti ini. Tak berselang lama, waktu bagai diputar begitu cepat, menginjak bangku kuliah, banyak pula yang kualami. Sekali waktu aku pulang ke rumah dari rantau, melihat Ayah mengetuk pintu dengan bunyi yang seperti biasa keras, dan lalu terduduk di kursi. Aku melihatnya dari kejauhan, “Ah, Ayah haus...”. Berlarilah aku membawa gelas besar berisi air putih untuk Ayah. Aku meletakkannya. Lalu, tak ada suara lain, selain suara air yang habis diminum Ayah. “Ya..Ayah masih haus, selalu haus, bahkan sejak kecil ketika aku melihatnya kehausan seperti ini.

***

Ya...jarakku dengan Ayah kini cukup jauh. Jika dengan pesawat aku harus menempuh 3 jam perjalanan. Jika ditempuh dengan bus, aku harus melewati 3 hari 2 malam perjalanan. Entah kenapa, malam ini, aku ingin meletakkan segelas air untuk Ayah yang mungkin kelelahan dengan semua beban dan ketidaksanggupan seiring bertambah senja usianya.Tapi, selain meletakkan segelas air untuk Ayah, aku juga ingin menanyakan kabarnya. Hal lain yang ingin kudengar selain  suaranya yang selalu lega setelah mendengarnya minum segelas air, aku juga ingin dengar kisah hidupnya yang tak pernah kudengar selama ini.  Aku terlalu lengah melewatkan waktuku ketika berada di sampingnya. Hingga kesan yang tertinggal bagiku hanya suara ketukan pintu yang keras dan ekspresi lega setelah meneguk habis segelas air dariku.

***


Sept,19th 2015




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar