Sabtu, 10 Oktober 2015

Pintu Tanpa Judul

“ Jika boleh diadu antara hati dan besi, jelas hati yang menjadi juaranya. Besi kian lama kian berkarat lalu rapuh. Namun hati, kian lama kian mengeras malah tak mampu luluh.”
***



Kualamatkan segenap rindu setiap tahun. Surat demi surat kukirimkan agar ia luluh lalu kembali. Aku tak mampu menghubunginya via suara karena merasa suaraku terlalu kejam untuk ia dengar. Ya, aku mengaku salah. Seluruh alasan kepergiannya memang akulah penyebabnya. Tapi, entah kali ini aku ingin sekali memohon kepadanya untuk pulang sejenak, ke rumah ini, melewati pintu rumah yang tua ini. Dan bila ia pulang nanti, akan kusambut dengan senyuman tulus, tangisan jujur, dan beribu permintaan maaf. Tak lupa, akan kuletakkan segenggam balon kesukaannya ketika ia kecil dulu.

***

“Kamu bukan anak Ayah sama Ibu. Jadi kenapa aku harus ngalah sama kamu?”

Itu ucapan gadis kecil yang masih berumur 10 tahun kepada adiknya yang berumur 7 tahun. Pantas saja ia membenciku. Kalimat itu lebih tajam dibanding pisau baginya. Kalimat itu pula yang menjadi alasan ia meninggalkan rumah kami. Ayah bertahun-tahun mencari adikku kian kemari sejak keputusannya untuk pergi dari rumah. Ia tak pernah mengabari kami lagi. Andai Ayah dan Ibu tahu a aku penyebabnya, habislah aku. Maka, untuk menebus dosaku aku selalu berupaya untuk mencari dan membawa adik pulang. Tapi sayang, walaupun setelah 15 tahun aku mengetahui keberadaannya, aku tak mampu membawanya pulang, mengatakan kalau aku ini kakakknya.

“Mil, kalau aku ke rumah hari sabtu gimana? Biar kita bisa bicarain tanggal pastinya.”

“Hmm..boleh sih Gung, tapi...”

“Tapi kenapa, Mil ?”

“Ibu aku masih kurang sehat, jadi aku ga yakin Ibu bisa terima tamu atau gak...”

“Gitu ya...Ya udah, nanti kalau Ibu udah baikan kabarin aku yah, Mama sama Papa pengen ketemu keluarga kamu secepatnya.”

“Iya...Oh iya Gung...”

“Adik kamu, Tiara...Dia baik-baik aja kan?”

“Tiara? Hmm, baik kok. Eh gimana kalau kita makan malem bertiga? Biar Tiara bisa lebih dekat sama kamu?Gimana, Mil?”

Pertanyaan Agung membuat aku benar-benar terkejut. Bagaimana aku harus menghadapi ini. Tapi, cepat atau lambat hal ini harus aku hadapi.

“Boleh, Gung...”

***

Keesokan malam, aku menunggu Agung dan Tiara di sebuah restoran yang tak jauh dari rumahku. Hatiku tak karuan. Entah bagaimana aku harus bersikap. Dan, entah sebagai siapa aku bersikap. Tak lama kemudian, mereka menghampiri kursiku.

“Mil, maaf lama nunggu ya...Tadi Tiara ada kuliah tambahan, makanya aku jemput dia dulu.”

“Oh iya, gak apa-apa Gung...”

Aku berdiri terdiam. Kaku. Aku melihat wajahnya. Dalam. Rindu yang tak bisa kuluapkan detik ini.
“Oh iya, Ra, kamu belum pernah ketemu sama Mila yah? Mil, ini adik aku, Tiara. Ra, ini tunangan kakak, Mila.”

Aku lalu menjulurkan tangan. Entah apa yang ada di pikiranku. Haruskah aku pura-pura tidak tahu? Haruskah aku berlagak tidak mengenalinya. Aku masih menunggu ia menyalamiku juga.

“Jadi dia tunangan kakak? Yakin?”

Jawaban Tiara cukup mengejutkanku. Terlebih Agung.

“Ra, kok kamu ngomong gitu sih?”

“Yah, gak apa-apa kak. Kayaknya kakak gak terlalu kenal sama perempuan ini.”

“Ra, kamu kalo ngomong yang sopan dong. Dia lebih besar daripada kamu. Lagian, dia bentar lagi jadi kakak ipar kamu, Ra. Yang sopan dong. “

Suara Agung lalu meninggi. Keadaan makin merunyam. Aku bingung harus bertindak apa.

“Mil, maafin ucapan adik aku ya... Gak tahu kenapa akhir-akhir ini dia emosian. Maafin ya, Mil...”

Agung lalu menenangkanku. Wajar Agung marah besar kepadanya. Tapi aku, pantas menerima “tamparan” seperti itu. Bahkan seharusnya lebih keras.”

Tiara yang masih berdiri di samping Agung enggan untuk duduk di kursi di hadapanku.

“Ra, kamu minta maaf dulu sama Mila. Atau gak, kamu pulang aja. Jangan bikin suasana gak enak kayak gini dong.”

Wajah Tiara memerah. Ia terlihat marah kepada Agung.

“Kak Agung ngusir aku?”

“Bukan ngusir Ra, tapi...”

“Cuma karena dia, aku diginiin Kak? Kak...aku bahkan gak butuh kakak seperti dia, apa?Kakak ipar? Dia pernah nelantarin aku bahkan ketika aku masih jadi adiknya. Sekarang, kalo dia jadi kakak ipar aku, aku diapain Kak? Dibuang? Diusir kayak Kak Agung lakuin tadi?”

“Ra, bukan gitu...”

Agung lalu terdiam. “Apa? Nelantarin kamu? Mila kakak kamu? Maksud kamu?”

Aku tertegun. Ia mengatakannya seluruhnya kepada Agung.

“Iya, Kak. Dulu, sebelum Papa, Mama dan Kak Agung nemuin aku di panti asuhan, aku dulunya adik perempuan ini. Dia yang bilang aku bukan anak orang tua perempuan ini. Aku kecewa, aku lari dari rumah waktu aku masih 7 tahun. Aku hilang, gak tahu jalan pulang, dan makanya aku ditemuin di panti asuhan.”

Ceritanya lagi-lagi menusuk hatiku. Aku tak ingin tinggal diam.

“Tapi, kita udah nyari kamu kemana-mana, Sya...Aku bahkan nemuin alamat kamu, kirim surat setiap tahun, tapi kamu gak pernah balas surat kakak.”

Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak bertahun-tahun akhirnya terluapkan di hadapan adikku, adik yang menghilang, adik yang tak kunjung pulang, adik yang tak pernah kembali ke rumah.
Agung tidak mampu berkata apa-apa. Ia terlalu kaget mendengar cerita ini.

“Kita pulang yuk, Sya...Ibu sekarang sedang sakit, kita selama ini berusaha nyari kamu...tapi...”

Tiara masih tidak ingin menatapku. Aku lalu beranjak dari kursi. Berlutut dan memohon maaf kepadanya.

“Maafin kakak, Tasya...Kakak yang salah. Kamu tetap anak Ayah sama Ibu. Semua salah Kakak, Sya..Maafin kakak...”

“Aku gak akan pernah mau kembali ke rumah itu. Bahkan menginjakkan kaki ke pintu rumah itu aja aku gak akan mau. Jangan pernah ganggu hidup aku lagi. Udah cukup kamu ngusir aku, udah cukup...”

***

Aku terlalu berdosa untuk memilih bahagia. Aku melepaskan Agung. Aku melepaskan Tiara. Aku membiarkan mereka menjadi masa lalu. Aku yang akan menanggung semua. Segenggam balon yang telah kusiapkan mungkin akan memudar warnanya seiring waktu. Dan, pintu rumah ini tak mungkin dilewati Tasya, adik kecil yang pernah kumiliki selama 7 tahun. Maafkan Kakak, Dik... Akan kujaga selalu Ayah dan Ibu, orang tua yang pasti selalu kamu rindukan, namun tak dapat kamu ungkapkan. Akan kukatakan kepada mereka bahwa kamu baik-baik saja dan tumbuh menjadi wanita yang cantik.

***


Oct, 10th 2015




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar