“ Jika boleh
diadu antara hati dan besi, jelas hati yang menjadi juaranya. Besi kian lama kian
berkarat lalu rapuh. Namun hati, kian lama kian mengeras malah tak mampu luluh.”
***
Kualamatkan segenap rindu setiap tahun. Surat demi surat
kukirimkan agar ia luluh lalu kembali. Aku tak mampu menghubunginya via suara
karena merasa suaraku terlalu kejam untuk ia dengar. Ya, aku mengaku salah.
Seluruh alasan kepergiannya memang akulah penyebabnya. Tapi, entah kali ini aku
ingin sekali memohon kepadanya untuk pulang sejenak, ke rumah ini, melewati
pintu rumah yang tua ini. Dan bila ia pulang nanti, akan kusambut dengan
senyuman tulus, tangisan jujur, dan beribu permintaan maaf. Tak lupa, akan
kuletakkan segenggam balon kesukaannya ketika ia kecil dulu.
***
“Kamu bukan
anak Ayah sama Ibu. Jadi kenapa aku harus ngalah sama kamu?”
Itu ucapan gadis kecil yang masih berumur 10 tahun kepada
adiknya yang berumur 7 tahun. Pantas saja ia membenciku. Kalimat itu lebih
tajam dibanding pisau baginya. Kalimat itu pula yang menjadi alasan ia
meninggalkan rumah kami. Ayah bertahun-tahun mencari adikku kian kemari sejak
keputusannya untuk pergi dari rumah. Ia tak pernah mengabari kami lagi. Andai Ayah
dan Ibu tahu a aku penyebabnya, habislah aku. Maka, untuk menebus dosaku aku
selalu berupaya untuk mencari dan membawa adik pulang. Tapi sayang, walaupun setelah
15 tahun aku mengetahui keberadaannya, aku tak mampu membawanya pulang,
mengatakan kalau aku ini kakakknya.
“Mil, kalau aku ke rumah hari sabtu gimana? Biar kita
bisa bicarain tanggal pastinya.”
“Hmm..boleh sih Gung, tapi...”
“Tapi kenapa, Mil ?”
“Ibu aku masih kurang sehat, jadi aku ga yakin Ibu bisa
terima tamu atau gak...”
“Gitu ya...Ya udah, nanti kalau Ibu udah baikan kabarin
aku yah, Mama sama Papa pengen ketemu keluarga kamu secepatnya.”
“Iya...Oh iya Gung...”
“Adik kamu, Tiara...Dia baik-baik aja kan?”
“Tiara? Hmm, baik kok. Eh gimana kalau kita makan malem
bertiga? Biar Tiara bisa lebih dekat sama kamu?Gimana, Mil?”
Pertanyaan Agung membuat aku benar-benar terkejut.
Bagaimana aku harus menghadapi ini. Tapi, cepat atau lambat hal ini harus aku
hadapi.
“Boleh, Gung...”
***
Keesokan malam, aku menunggu Agung dan Tiara di sebuah
restoran yang tak jauh dari rumahku. Hatiku tak karuan. Entah bagaimana aku
harus bersikap. Dan, entah sebagai siapa aku bersikap. Tak lama kemudian,
mereka menghampiri kursiku.
“Mil, maaf lama nunggu ya...Tadi Tiara ada kuliah
tambahan, makanya aku jemput dia dulu.”
“Oh iya, gak apa-apa Gung...”
Aku berdiri terdiam. Kaku. Aku melihat wajahnya. Dalam.
Rindu yang tak bisa kuluapkan detik ini.
“Oh iya, Ra, kamu belum pernah ketemu sama Mila yah? Mil,
ini adik aku, Tiara. Ra, ini tunangan kakak, Mila.”
Aku lalu menjulurkan tangan. Entah apa yang ada di
pikiranku. Haruskah aku pura-pura tidak tahu? Haruskah aku berlagak tidak
mengenalinya. Aku masih menunggu ia menyalamiku juga.
“Jadi dia tunangan kakak? Yakin?”
Jawaban Tiara cukup mengejutkanku. Terlebih Agung.
“Ra, kok kamu ngomong gitu sih?”
“Yah, gak apa-apa kak. Kayaknya kakak gak terlalu kenal
sama perempuan ini.”
“Ra, kamu kalo ngomong yang sopan dong. Dia lebih besar
daripada kamu. Lagian, dia bentar lagi jadi kakak ipar kamu, Ra. Yang sopan
dong. “
Suara Agung lalu meninggi. Keadaan makin merunyam. Aku
bingung harus bertindak apa.
“Mil, maafin ucapan adik aku ya... Gak tahu kenapa
akhir-akhir ini dia emosian. Maafin ya, Mil...”
Agung lalu menenangkanku. Wajar Agung marah besar
kepadanya. Tapi aku, pantas menerima “tamparan” seperti itu. Bahkan seharusnya
lebih keras.”
Tiara yang masih berdiri di samping Agung enggan untuk
duduk di kursi di hadapanku.
“Ra, kamu minta maaf dulu sama Mila. Atau gak, kamu
pulang aja. Jangan bikin suasana gak enak kayak gini dong.”
Wajah Tiara memerah. Ia terlihat marah kepada Agung.
“Kak Agung ngusir aku?”
“Bukan ngusir Ra, tapi...”
“Cuma karena dia, aku diginiin Kak? Kak...aku bahkan gak
butuh kakak seperti dia, apa?Kakak ipar? Dia pernah nelantarin aku bahkan
ketika aku masih jadi adiknya. Sekarang, kalo dia jadi kakak ipar aku, aku
diapain Kak? Dibuang? Diusir kayak Kak Agung lakuin tadi?”
“Ra, bukan gitu...”
Agung lalu terdiam. “Apa? Nelantarin kamu? Mila kakak
kamu? Maksud kamu?”
Aku tertegun. Ia mengatakannya seluruhnya kepada Agung.
“Iya, Kak. Dulu, sebelum Papa, Mama dan Kak Agung nemuin
aku di panti asuhan, aku dulunya adik perempuan ini. Dia yang bilang aku bukan
anak orang tua perempuan ini. Aku kecewa, aku lari dari rumah waktu aku masih 7
tahun. Aku hilang, gak tahu jalan pulang, dan makanya aku ditemuin di panti
asuhan.”
Ceritanya lagi-lagi menusuk hatiku. Aku tak ingin tinggal
diam.
“Tapi, kita udah nyari kamu kemana-mana, Sya...Aku bahkan
nemuin alamat kamu, kirim surat setiap tahun, tapi kamu gak pernah balas surat
kakak.”
Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak bertahun-tahun
akhirnya terluapkan di hadapan adikku, adik yang menghilang, adik yang tak
kunjung pulang, adik yang tak pernah kembali ke rumah.
Agung tidak mampu berkata apa-apa. Ia terlalu kaget
mendengar cerita ini.
“Kita pulang yuk, Sya...Ibu sekarang sedang sakit, kita
selama ini berusaha nyari kamu...tapi...”
Tiara masih tidak ingin menatapku. Aku lalu beranjak dari
kursi. Berlutut dan memohon maaf kepadanya.
“Maafin kakak, Tasya...Kakak yang salah. Kamu tetap anak
Ayah sama Ibu. Semua salah Kakak, Sya..Maafin kakak...”
“Aku gak akan pernah mau kembali ke rumah itu. Bahkan
menginjakkan kaki ke pintu rumah itu aja aku gak akan mau. Jangan pernah ganggu
hidup aku lagi. Udah cukup kamu ngusir aku, udah cukup...”
***
Aku terlalu berdosa untuk memilih bahagia. Aku melepaskan
Agung. Aku melepaskan Tiara. Aku membiarkan mereka menjadi masa lalu. Aku yang
akan menanggung semua. Segenggam balon yang telah kusiapkan mungkin akan
memudar warnanya seiring waktu. Dan, pintu rumah ini tak mungkin dilewati
Tasya, adik kecil yang pernah kumiliki selama 7 tahun. Maafkan Kakak, Dik...
Akan kujaga selalu Ayah dan Ibu, orang tua yang pasti selalu kamu rindukan,
namun tak dapat kamu ungkapkan. Akan kukatakan kepada mereka bahwa kamu
baik-baik saja dan tumbuh menjadi wanita yang cantik.
***
Oct, 10th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar