Sabtu, 19 September 2015

Koma Lalu Titik

Tapi, ingat kawan. Tangan hanya dua. Berpikir ingin menggenggam dunia, mungkin bagai umpama. Ada kalanya, bercermin sekejap, sekedar melihat, sudah sejauh mana langkah itu berderap. Setelah itu ingat lagi, kawan. Usaha perlu dilanjutkan. Sejauh langkah kembali digerakkan. Beri waktu koma untuk berada di antara titik.”

***


Genap 4 tahun. Lengkap sudah aku. Sudahlah tak ada yang percaya kalau aku sudah dewasa, tak yakinlah mereka kalau aku sudah berubah, tak kunjung pula aku berkehidupan semestinya. Penyesalan itu klasik, klise. Selalu datang di akhir. Dulu, kata seorang teman, kalo di awal bukan penyesalannya, Mur, perkenalan namanya. Ya...ya... aku selalu berkomitmen pada diri untuk tak sekalipun mengalami sebuah penyesalan. Namun tetap, ‘pesona’ sebuah penyesalan menyilaukanku. Lalai bertahun-tahun, hura-hura kian kemari, tak sadar masa muda masa berkarya, aku menghabiskan masa itu dengan percuma.

***

“Mau ngalor-ngidul kemana lagi kamu Mur?”

Ibu selalu menyapa tiap pagiku dengan kalimat yang sama. Kalimat yang tak kreatif, karena selalu mengulang kata-kata yang sama, 4 tahun lamanya.

“Ya ampun, Bu...Amur   bukan mau ngalor-ngidul kok. Selama ini Amur juga nyari kerjaan, Bu...”

“Capek Ibu ngeliat kamu begini. Kamu ndak capek begini? Masukin lamaran sana sini?”

“Amur gak akan nyerah, Bu. Tolong Bu, sekali ini aja. Amur bisa kok kayak Bang Uli sama Kak Lira kerja di kantor besar begitu.”

“Kamu ini gimana sih, Mur...Kan Ibu udah bilang, ndak usah kerja kantoran seperti kakakmu itu, kerja yang mana kamu cocok, asal halal...Makanya sampe sekarang gini-gini aja, Mur...”

Kali ini aku hampir menyerah bukan untuk mencari pekerjaan, tapi mendengar kata-kata Ibu.

“Sekali ini saja, Bu...Kalo Amur gak keterima juga, Amur gak bakal masukin lamaran lagi ke kantor-kantor deh.”

“Terus kalau ndak ngelamar, rencana kamu apa lagi toh, Mur?”

“Tunggu aja, Bu...Sekali ini aja.Amur pamit...Assalamualaikum...”

***

“Pak, kali ini tolong liat design saya, Pak...Ini design baru, original dan saya yakin belum ada perusahaan yang pakai konsep, Pak...”

“Duh, Mur...Ini tahun ke-4 loh Mur...Kamu kenapa gak kerja di galeri atau di perusahaan arsitektur sih, Mur...”

“Walaupun ini tahun ke-4, saya yakin tahun ini terakhir saya memohon sama Bapak, saya hanya ingin kerja di sini, Pak...Konsep ini saya ciptain khusus untuk perusahaan ini, Pak...”

“Kenapa sih, Mur...Ya ampun, kamu tuh bikin saya kehabisan kata-kata...”

“Tolong pertimbangin sekali lagi, Pak...”

Lagi, memang ini tahun ke-4 aku memohon kepada orang yang sama, menawarkan maksud yang sama namun dengan karya yang berbeda. Aku tetap bersikeras ingin bekerja di sini.

***

“Amur?”

“Kak Lir?”

“Kamu ngapain kantor kakak?”

“Ooo...gak cuma...”

“Eh, terus ini kenapa pake jas segala?”

“Hmm...itu...”

Amur bertemu Lira, kakaknya di halte depan kantor Lira. Amur yang selama ini selalu lolos dari kakaknya, kini tak seberuntung biasanya. Hingga Amur kehabisan kata-kata dan tak bisa menjawab pertanyaan kakaknya.

“Amurrrr...Malah bengong...Kamu ngapain di sini? Ngelamar kerja lagi?”

Mendengar kakaknya mengatakan kalimat seperti itu, Amur merasa tersinggung.

“Hmm...Kayaknya bertahun-tahun ngedenger aku kerjaannya ngelamar kerjaan kayaknya bukan hal yang aneh lagi ya, Kak? Iya lah, kakak yang dengan mudahnya masuk ke kantor Ayah tanpa susah payah jadi gak akan tahu rasanya “ngelamar kerja” itu kayak apa.”

Amur tiba-tiba tak mampu menahan emosinya hingga kata-kata itu terucap kepada Lira. Lira lalu tertegun.

“Maksud kamu apa, Mur? Siapa suruh pas sekolah, pas kuliah gak dapet nilai bagus ha? Salah kakak karena masuk dengan gampangnya ke kantor Ayah, ha?”

Lira balas membentak Amur dengan suara bergetar.

“Tapi, Kak... Sedikit aja kakak, abang, ayah sama ibu ngeliat apa yang aku buat, apa yang aku perjuangin selama ini, Amur gak akan sekeras ini ngelamar di kantor Ayah, dan gak ada yang peduli sama sekali kan?”

Amur yang mengepalkan tangannya untuk menguatkan diri membalas ucapan Lira namun tak ingin mengeraskan suaranya kepada Lira.

“Apa? Ngelamar di kantor Ayah? Kamu...selama ini?Mur..untuk apa?Kenapa selama bertahun-tahun ngelamar di kantor Ayah? Kenapa gak coba di kantor lain, Mur?”

“Kenapa? Hah...Aku gak tahu harus mulai darimana, kak...Aku emang anak angkat ayah sama ibu. Aku juga mau jadi bagian dari keluarga. Aku denger kok kata Ayah 4 tahun lalu, setelah aku lulus, Ayah bilang kita harus sama-sama jaga nama baik keluarga, sama-sama membesarkan usaha Ayah selama ini. Baru kita bisa disebut bagian dari keluarga ini. Kakak masuk kantor ini, Abang juga masuk kantor ini. Terus aku? Aku harus apa biar bisa jadi bagian dari keluarga ini selamanya?”

Amur kini tidak mampu menahan air matanya. Semua yang ditahan selama ini diungkapkan kepada Lira.

“Mur, kamu...Kamu gak perlu kayak kita, jadilah kamu. Kamu bisa ngelakuin hal yang kamu bisa, Mur. Bukan berarti kamu bukan keluarga kita.”

Lira menatap Amur dalam-dalam. Ia menguatkan adiknya yang ia temui ketika Amur berumur 3 tahun. Amur berbeda, Amur tak seperti Uli maupun Lira, karena Amur memang berbeda.

“Mur, denger kakak ya. Cukup tahun ini terakhir kamu kayak gini ya. Kamu harus jadi diri sendiri. Dan berhenti berpikiran sama seperti kamu waktu kecil dulu. Kita keluarga, apapun yang terjadi. Kamu gak perlu jadi kakak atau Bang Uli. Kakak tahu usaha kamu bukan hanya ini. Sekarang lihat diri kamu, lanjutin apa yang seharusnya, berhenti dari apa yang gak perlu kamu lakukan. Oke?”

***

Genap 2 tahun. Aku merasa belum lengkap. Hal menyenangkan yang selama ini aku kerjakan, belum menghentikan keinginanku untuk melakukan hal lain. Dulu, kata seorang kakak, lanjutkan apa yang seharusnya, yang tidak perlu? Hentikan. Mulai hal baru, mulai karya baru.

“Mau kemana lagi, Mur?”

Ibu selalu menyapa setiap akhir pekanku dengan kata-kata yang sama. Kalimat yang tak diubah sedikit pun, selama 2 tahun lamanya.

“Ya ampun...Bu, Amur gak mungkin kali ini ninggalin mereka ngerjain semua. Ini proyek besar, Bu...Sebagai kepala tim, Amur gak mau melewatkan sedikit pun kerjaan spektakuler ini, Bu...Hehehe...”

“Ini hari libur, Mur...Istirahat sebentar di rumah, Mur...”

“Nanti deh, Bu...Selagi masih banyak tenaga, selagi masih muda, harus sering-sering gerak, kerja...Hehehe..., Amur berangkat dulu ya, Bu...Assalamualaikum...”

***



Sept, 19th 2015




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar