“Selalu
tersenyum, bersenandung, walau sakit terkadang mengkungkung. Ia tak lantas
berhenti bernyanyi, karena itulah yang diingini. Mereka tak takut untuk
bermimpi, karena itulah mereka, tak lantas berputus asa.”
***
Akhir pekan
ini aku melewati dengan cara yang berbeda. Tidak sekedar berhura-hura,
bergembira karena sedang berakhir pekan, atau bermalas-malasan. Seorang sahabat
yang hebat mengajakku ke suatu tempat yang tak terpikirkan olehku untuk
berkunjung kesana. Tempat itu sebuah rumah, rumah sederhana di sebuah jalan
kecil, di terasnya dihiaskan oleh tanaman yang sejuk, pepohonan dan pagar
pendek yang menyambut kedatangan kami. Kedatangan kami bagai berkunjung ke
sebuah rumah seorang kawan, seorang sahabat bahkan seperti ke rumah keluarga
yang bagai lama tak berjumpa. Mereka menyalami kami, tersenyum dan wajah mereka
mengguratkan kegembiraan, keriangan, bahkan aku sempat lupa, ini tempat apa.
Yang aku tahu, akhir pekan ini aku hendak pergi bermain, berkumpul teman-teman
kecil yang sedikit pun tak menampakkan wajah sendu.
***
Seperti yang
kubayangkan, rumahnya menyenangkan, terlebih teman-teman di sini. Mereka
bersenda gurau, saling bertukar cerita, sedang anak-anaknya terkadang menangis,
terlihat nampak lelah lalu ditidurkan di pangkuan mereka. Aku terdiam sejenak
ketika melihat banyak ibu-ibu muda yang menghadapi hal seperti ini. Mereka
datang dari berbagai pelosok daerah. Ibu pengurus di sini pun bercerita, rumah
ini banyak dikunjungi ketika mereka telah selesai melakukan kemoterapi. Lalu
seorang bocah laki-laki menyeletuk, mengatakan jika itu bukan kemoterapi, tapi
perawatan, hanya perawatan. Sejenak kami tawa kami tergelak. Lalu, ada pula
seorang ibu yang bercerita kalau kesulitan mereka bukan di saat tidak punya
uang, namun di saat obat yang mereka butuhkan tidak tersedia. Itu yang membuat
keadaan semakin sulit. Nafsu makan yang turun naik, anak balita, anak-anak
seperti ini yang harusnya bermain dengan bebasnya, lemas karena obat yang
mereka butuhkan tidak ada. Tapi, kekuatan yang mereka peroleh di sini ketika
berkumpul, itulah yang membuat mereka bertahan. Ada pula yang bercerita,
biasanya ada seorang anak yang selalu riang, selalu gembira, namun karena salah
seorang temannya yang pergi meninggalkan selamanya, ia berubah murung. Ya,
benar adanya. Kekuatan ini bisa muncul dari mana saja.
Ada seorang
anak yang menarik perhatian. Ia sungguh menggemaskan. Ia menghampiri kami tanpa
rasa malu. Dengan rasa percaya diri, ia memperkenalkan dirinya.
“Namanya
siapa?”
“Nama aku
Agni..”
“Nama
panjangnya siapa?”
“Dwi Agni
Almira...”
“Wah,
namanya cantik ya... Umur Agni berapa?”
“6 tahun...”
“Agni udah
bisa berhitung belum?”
“Udah Kak...”
“Kalau baca
udah bisa?”
“Udah
Kak...Agni bisa baca braile kok...”
Aku lalu
terdiam. Mukanya manis, hidungnya mancung, suaranya pun tenang dan
menggemaskan. Ia berbicara dengan lantang, seakan kesulitan bukan menjadi
halanngan baginya.
“Oh iya,
hobi Agni apa? Agni bisa nyanyi gak?”
“Bisa,
Kak...”
Seketika,
Agni mengambil posisi yang menarik perhatian kami semua. Ia berdiri dan
bernyanyi di tengah kami. Dengan suara lantang, suaranya jernih terdengar.
Tidak cukup satu lagu, dua lagu hingga lagu ketiga, Agni dengan setia menghibur
kami. Terbalik memang. Seharusnya, kami yang menghibur mereka di sini. Namun,
melihat semangat mereka, semangat Agni, kami, aku tersadar bahwa apapun yang
kita hadapi, seberat apapun yang menghalangi, sesulit apapun kesulitan yang tak
dapat dilewati, selalu bahagia, selalu membahagiakan, karena di balik itu semua
tersimpan suatu kekuatan, suatu harapan. Karena, hidup itu harus seimbang.
Setiap orang punya kesulitan, dan pasti ada kebahagiaan yang terselip di
antaranya. Kita hanya perlu mencari, dan mengekplorasi. Seperti Agni yang tak
pernah lelah bernyanyi. Dengan suara jernihnya, kami percaya Agni tak akan
lantas berhenti bernyanyi. Ia akan terus bernyanyi, atau apapun itu yang ingin
ia raih, aku percaya Agni akan meraihnya. Dari raut wajahnya, Agni bercahaya,
Agni pasti bisa melaluinya.
Semoga Agni
dan teman-teman lainnya yang sedang berjuang untuk meraih kehidupan dan
kebahagiaan yang sesungguhnya segera diberi kesembuhan, tetap diberi kekuatan,
selalu berpegang pada harapan, dan aku yakin Tuhan tak akan pernah diam. Cepat
sembuh, teman-teman kecil nan menggemaskan!
“They dare to have dreams, what are we afraid of?” –Yayasan Kasih
Anak Kanker Bandung , 5 Septermber 2015-
6th September 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar