Selasa, 20 Oktober 2015

(ber)Cermin

“Pernahkah kau melihat keburukan seseorang sedalam mungkin hingga kau sendiri tak pernah melihat seperti apa dirimu secara nyata ? Pernahkah sedetik saja kau tersadar untuk menengok wajahmu sendiri? Bercerminlah barang semenit maka kau tak akan jadi orang yang lupa diri.”
***


Kata itu maha kaya. Kata benda mampu menjadi kata kerja. Hingga manusia tak perlu repot memikirkan apa yang harus dilakukannya dalam kehidupan di dunia. Hari ini ingin bercerita sedikit tentang apa itu wajah. Seberapa penting mengenali wajah kita sendiri. Acap kali orang berpikir bahwa paras cantik, wajah rupawan mampu menjadi daya pikat dan nilai awal dalam perjumpaan pertama kali dengan orang yang baru dikenal. Mungkin, sebagian kawan sekalian pernah mengalami percakapan seperti ini :

13 Juli 2014

“Hai, Gue Malik”
“Oh, Hai, Gue Siska.”

Mereka berkenalan seperti biasa. Tetapi di dalam hati dan pikiran mereka sedang sibuk menilai masing-masing pribadi. Entah itu dari intonasi suara, raut wajah, tatapan mata, atau senyum atau tidaknya mereka.

(“ Wah ganteng juga nih dia. Suaranya keren banget.”)
Itu yang ada di pikiran Siska setelah berkenalan dengan Malik. Lain halnya dengan Malik.

(“ Kenalan kok jutek amat sih mukanya. Gak senyum sekali. Katanya dia cewek tercantik di kampus. Hmmm...”)

Masing-masing sibuk mengamati, sibuk menganalisa. Siska yang detik itu juga menganggumi Malik lewat suara, sedang Malik yang menilai Siska dari raut wajahnya. Malik yang mengharapkan perempuan tercantik di kampusnya benar-benar dapat menunjukkan “cantiknya” malah tidak terkesima dengan Siska. Benar adanya, pertemuan pertama merupakan kesan pertama.

13 Juli 2015

“Eh, Mal. Gue inget deh waktu kita pertama kali ketemu. Suara lo tu keren banget. Idaman cewek-cewek yang pertama kali ngomong terus suaranya berat gitu. Beuh, jadi idola lo di kampus. Dan emang bener ya, orang-orang terkesima ke lo karena suara lo yang syahdu itu. Hahahahaaa”

“Haha, becanda aja lo Sis. Namanya juga penyanyi, suara jadi kunci utama lah yah. Eh tapi ngomongin pas awal ketemu, gue baru inget deh. Asli lo jutek banget orangnya. Gak senyum, gak welcomed gitu kenalan sama gue. Ternyata lo orang yang asik juga ya, Sis.”

Dari perkenalan mereka hingga akhirnya menjadi akrab seiring waktu, Malik paham sekarang, tak selamanya wajah cemberut yang ia lihat dari Siska akan terus begitu. Toh, Malik menjadi akrab dengan Siska bukan karena “wajahnya” melainkan karena “karakternya”. Malik pun tersadar bahwa ia menjadi berhenti “mencari tahu” tentang Siska karena penilaian awal yang klise, didasarkan pada raut wajah. Padahal tak melulu begitu.

Mungkin cerita di atas pernah dialami sendiri oleh kawan sekalian, saya pun begitu. Orang menanggap saya adalah orang yang pendiam, tertutup dan sifat-sifat lain yang berkaitan dengan ciri-ciri seorang yang introvert. Padahal tidak begitu. Tak semua orang pula harus tersenyum lebar untuk memperlihatkan betapa ramahnya diri kita. Tak semua orang juga yang tidak secara spontan tersenyum pada awal pertemuan karena karakter manusia yang beragam rupanya. Awal pertemuan dengan seseorang dan menilainya tak melulu lewat wajah. Meresapi dalam orang tersebut tentu akan lebih fair dan lebih adil bagi orang itu. Karena itulah manusia. Tidak ada yang sama. Sedang anak kembar pun berbeda kepribadiannya.

Nah, sebelum men-judge seseorang baik atau buruk, mencari keburukan seseorang terlebih dan mirisnya hanya melalui wajahnya, akan menjadi tidak adil bukan? Sedang diri sendiri tak pernah melihat wajah sendiri bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain.

Tulisan ini semata-mata hanya ingin berbagi. Benar-benar berasal dari pengalaman pribadi. Sedikit terinspirasi dari suatu buku yang saya baca beberapa halaman tadi sore di sebuah toko buku. Terima Kasih inspirasinya! Terima Kasih sudah mampir ! Terima Kasih juga yang sudah membaca J


Oct, 20th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar