Jumat, 13 November 2015

Alas Kaki

“Ini surat terakhir.
Sebelum akhirnya aku benar-benar berhenti mendoakanmu untuk bahagia.
Aku tidak ingin kejam padamu.
Tapi setidaknya, aku tidak ingin menyiksa diriku .
Mendoakanmu berarti melepaskanmu.
Melepaskanmu berarti berjalan maju.
Ini tulisan terakhirku tentang segalanya darimu.
Maka aku akan bersegera pergi.

Benar-benar menjauh, bersama alas kakiku. “
***

Setahun yang lalu seseorang pernah melalui suatu kisah. Kisah yang manis bagaikan teh madu yang diseduh di setiap pagi dan tentunya menghangatkan tubuh. Kisah itu makin hari makin tak menentu. Bagaimana tidak? Rasa yang seharusnya tumbuh dari mata ke mata, namun ternyata tak selalu begitu. Cukup dari jarak antara pulau yang terpisah, rasa itu tiba-tiba tumbuh. Takjub memang, tapi lama kelamaan terasa janggal. Terasa tak masuk akal. Bagaimana bisa jatuh cinta dalam beberapa waktu tanpa bertemu, tanpa menatap satu sama lain? Ah, ini yang dinamakan cinta buta. Benar-benar tidak bisa melihat mana yang tulus dan mana yang busuk. Cinta itu membuat pula dalam waktu singkat sebuah kisah polos penuh kejujuran menjadi kisah menusuk dan menekuk dalam sekejap, kejamnya pula mengubah seorang yang tak tahu menahu menjadi ‘penjahat’ yang seketika menghilang, seketika lenyap.

Setahun kemudian, seorang itu hidup di antara bayang-bayang sebuah kesalahan. Bayang-bayang sebuah janji yang tak dapat ia tepati. Tetapi luar biasanya dari kisah ini adalah, ia yang mengubah seorang itu menjadi seorang yang ‘kejam’ kini meraih kebahagiaan yang luar biasa. Ia menemukan yang lainnya. Ia mengumbar kebahagiaan sedang seorang itu masih hidup dengan perasaan bersalah.
Seorang itu mirisnya dengan ikhlas mendoakan kebahagiaannya. Begitu juga seseorang yang telah bersama dengan ia. Karena apa? Karena seorang itu menduga bahwa ia mendapatkan seseorang yang lain dengan ‘cara’ yang sama.
Seorang itu lalu terdiam. Mememjamkan matanya sejenak. Lalu ia bergegas pergi untuk melakukan rutinitasnya. Hari-harinya dilewati dengan tawa, dengan bahagia, dengan kisah yang baru. Tak pernah terbersit lagi dengannya untuk mengingat keindahan setahun yang lalu. Ternyata kebahagiaan yang sesunggunya bagi seorang itu adalah seperti ini. Dengan langkah yang ringan, ia berjalan, berlari kian kemari ke tempat yang disuka, ke tempat mengejar segala impian masa muda.

Ketika perjalanan pulang dari kegiatannya, seorang itu lalu berkata dalam hati

“Aku akan berhenti memikirkannya. Aku akan berhenti mengenang kebahagiaan yang lalu. Aku akan mengejar kebahagiaan kini dan nanti. Aku akan berhenti mendoakanmu. Aku akan berhenti mengharapkan kebahagiaan untukmu. Karna ternyata kamu lebih bergerak cepat dari yang kuduga. Aku takut kamu mengulang kesalahan yang sama kepada orang lain. Maka, kudoakan selalu untukmu. Namun, kini aku benar-benar berhenti. Aku mendoakanmu bukan karena aku merasa bersalah kepadamu. Tapi aku tak tega melihatmu jatuh pada kekeliruan yang sama, tapi dengan orang yang berbeda. Miris, bukan? Maka, kini aku mendoakanmu untuk selalu berada di jalan yang seharusnya, melakukan cara yang baik untuk meraih seseorang. Semoga aku menjadi orang yang terakhir yang menjadi ‘korban’ kekeliruanmu, dan semoga kamu jadi pelajaran terakhir bagiku untuk nanti aku meraih seseorang yang jauh lebih baik daripada kamu.”



Lalu seorang itu melanjutkan perjalanannya. Di sepanjang perjalanan, seorang itu melihat banyak keindahan yang tak pernah disadari. Bahkan bunga di pinggir jalan pun begitu serasi dengan alas kaki yang dipakainya hari ini. Langkahnya makin ringan, seiring doa terakhir untuknya diucapkan dalam hati.


November, 13th 2015


RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar