“Ini surat terakhir.
Sebelum akhirnya aku benar-benar berhenti mendoakanmu
untuk bahagia.
Aku tidak ingin kejam padamu.
Tapi setidaknya, aku tidak ingin menyiksa diriku .
Mendoakanmu berarti melepaskanmu.
Melepaskanmu berarti berjalan maju.
Ini tulisan terakhirku tentang segalanya darimu.
Maka aku akan bersegera pergi.
Benar-benar menjauh, bersama alas kakiku. “
***
Setahun yang lalu seseorang pernah melalui suatu kisah.
Kisah yang manis bagaikan teh madu yang diseduh di setiap pagi dan tentunya
menghangatkan tubuh. Kisah itu makin hari makin tak menentu. Bagaimana tidak?
Rasa yang seharusnya tumbuh dari mata ke mata, namun ternyata tak selalu
begitu. Cukup dari jarak antara pulau yang terpisah, rasa itu tiba-tiba tumbuh.
Takjub memang, tapi lama kelamaan terasa janggal. Terasa tak masuk akal.
Bagaimana bisa jatuh cinta dalam beberapa waktu tanpa bertemu, tanpa menatap
satu sama lain? Ah, ini yang dinamakan cinta buta. Benar-benar tidak bisa
melihat mana yang tulus dan mana yang busuk. Cinta itu membuat pula dalam waktu
singkat sebuah kisah polos penuh kejujuran menjadi kisah menusuk dan menekuk
dalam sekejap, kejamnya pula mengubah seorang yang tak tahu menahu menjadi ‘penjahat’
yang seketika menghilang, seketika lenyap.
Setahun kemudian, seorang itu hidup di antara
bayang-bayang sebuah kesalahan. Bayang-bayang sebuah janji yang tak dapat ia
tepati. Tetapi luar biasanya dari kisah ini adalah, ia yang mengubah seorang
itu menjadi seorang yang ‘kejam’ kini meraih kebahagiaan yang luar biasa. Ia
menemukan yang lainnya. Ia mengumbar kebahagiaan sedang seorang itu masih hidup
dengan perasaan bersalah.
Seorang itu mirisnya dengan ikhlas mendoakan
kebahagiaannya. Begitu juga seseorang yang telah bersama dengan ia. Karena apa?
Karena seorang itu menduga bahwa ia mendapatkan seseorang yang lain dengan ‘cara’
yang sama.
Seorang itu lalu terdiam. Mememjamkan matanya sejenak.
Lalu ia bergegas pergi untuk melakukan rutinitasnya. Hari-harinya dilewati
dengan tawa, dengan bahagia, dengan kisah yang baru. Tak pernah terbersit lagi
dengannya untuk mengingat keindahan setahun yang lalu. Ternyata kebahagiaan
yang sesunggunya bagi seorang itu adalah seperti ini. Dengan langkah yang
ringan, ia berjalan, berlari kian kemari ke tempat yang disuka, ke tempat
mengejar segala impian masa muda.
Ketika perjalanan pulang dari kegiatannya, seorang itu
lalu berkata dalam hati
“Aku akan berhenti memikirkannya. Aku akan berhenti
mengenang kebahagiaan yang lalu. Aku akan mengejar kebahagiaan kini dan nanti.
Aku akan berhenti mendoakanmu. Aku akan berhenti mengharapkan kebahagiaan
untukmu. Karna ternyata kamu lebih bergerak cepat dari yang kuduga. Aku takut
kamu mengulang kesalahan yang sama kepada orang lain. Maka, kudoakan selalu
untukmu. Namun, kini aku benar-benar berhenti. Aku mendoakanmu bukan karena aku
merasa bersalah kepadamu. Tapi aku tak tega melihatmu jatuh pada kekeliruan
yang sama, tapi dengan orang yang berbeda. Miris, bukan? Maka, kini aku
mendoakanmu untuk selalu berada di jalan yang seharusnya, melakukan cara yang
baik untuk meraih seseorang. Semoga aku menjadi orang yang terakhir yang
menjadi ‘korban’ kekeliruanmu, dan semoga kamu jadi pelajaran terakhir bagiku
untuk nanti aku meraih seseorang yang jauh lebih baik daripada kamu.”
Lalu seorang itu melanjutkan perjalanannya. Di sepanjang
perjalanan, seorang itu melihat banyak keindahan yang tak pernah disadari.
Bahkan bunga di pinggir jalan pun begitu serasi dengan alas kaki yang
dipakainya hari ini. Langkahnya makin ringan, seiring doa terakhir untuknya
diucapkan dalam hati.
November,
13th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar