Selasa, 13 Oktober 2015

Helai

“Selembut kata di buku ini, kugenggam tangannya. Sehangat kisah di buku ini, kupeluk raganya. Sebanyak lembaran cerita ini, aku masih saja merindukannya.”

***


Thomas

Kegiatan rutin di setiap pagi, menanti kekasih. Walau kekasihku tak pernah mewujudkan wajahnya, tak tahu kehadirannya, tapi aku yakin dia selalu duduk di depanku.Tragedi itu membuat seluruh ingatanku lupa. Aku yakin dahulu pernah punya kekasih sungguhan, tapi kenapa kini tak pernah ada di sampingku. Itu pertanyaan besar yang tak kunjung terjawab selama 5 tahun ini. Dan lagi, aku masih menantinya.

Aku selalu duduk menghadap pintu masuk, berjaga siapa tahu dia muncul di hadapanku. Pikiranku kadang kacau sembari menunggu. Bagaimana bisa aku menyadari jika dia duduk di depanku sedang melihat dia masuk ke restoran ini saja tak pernah.

Aku pernah bercengkrama dengan salah satu pramusaji di sini. Ketika aku mengatakan

“Mbak, ada seorang perempuan yang duduk di depan saya, jadi tolong kursinya jangan dirapatkan ya mbak.”

Pramusaji itu lalu menarik kursi itu dengan wajah bingung sekaligus takut. Keesokan harinya aku juga pernah mengatakan kepada pramusaji yang sama.

“Mbak, mau kenalan sama dia gak?”

Tentu saja pramusaji itu langsung bergidik ngeri mendengar ucapanku. Lalu, aku tersadar dengan ucapanku sendiri. Apa yang aku lakukan selama ini, apa yang aku bicarakan bertahun-tahun. Sungguh seperti orang yang tidak waras.

Nolin

Ternyata hidup di demensi yang tak seharusnya itu sulit. Bersyukur ada orang yang sadar akan kehadiranku, tapi menjadikan orang itu tidak normal. Ia terkadang ingin memperkenalkanku dengan orang lain, tapi hanya ia yang merasakan, hanya ia yang selalu ‘melihatku’. Aku ingin pergi meninggalkannya, tapi aku selalu ingin di sampingnya. Seperti aku ini ada untuk dia dan seperti aku pernah ada dalam hidupnya, terasa dekat, terasa nyaman, terasa kenal dirinya begitu lama. Memang benar jika aku bukan ‘manusia’. Tapi, aku enggan disebut roh. Aku yakin aku masih hidup, bahkan Thomas pun mengakui kehadiranku. Namun, setelah aku bertemu Thomas setiap hari, setiap pagi, aku lalu yakin bahwa aku ini memang roh.
Aku juga masih yakin bahwa aku pernah menjadi bagian dari hidup Thomas. Bahkan pernah selalu berada di sampingnya. Tapi kapan.....

***

“Ini buku yang kamu cari, Lin...”

Thomas memberikan buku itu dengan wajah kesal. Pekerjaannya yang menumpuk mengubah Thomas menjadi seseoran yang moody-an.

“Hmm...aku udah nemu juga kok buku ini.”

Nolin menjawab dengan ketus dan menolak mengambil buku yang telah Thomas belikan untuknya.
“Loh, kok kamu gak bilang sih kalau udah punya bukunya?”

Nada suara Thomas meninggi. Ia makin kesal dengan sikap Nolin yang tidak menghargainya
.
“Aku udah minta tolong ke kamu sebulan yang lalu  dan kamu gak nyariin kan. Makanya aku usaha sendiri. Dan aku nemu buku ini di toko-toko lama. Terus kenapa kamu yang marah?”

“Bukan gitu, Lin. Seenggaknya kamu bilang dong udah nemuin bukunya. Bukan diam kayak gini.”

“Untuk apa aku bilang? Sedangkan aku ulang tahun juga gak kamu gubris, padahal aku udah bilang ke kamu. Cuma perkara buku, ya udah lah.”

Nolin makin meninggakan suaranya. Thomas lalu terdiam mendengar perkataan Nolin.

“Oke. Terserah kamu lah, Lin. Lain kali jangan minta tolong kalau bisa ngerjain sendiri. Aku balik ke kantor dulu.”

***

Nolin berjalan kembali ke rumahnya. Restoran tempat Thomas memberikan buku tadi adalah tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Pikiran Nolin terlalu sesak karena pertengkaran kecil itu. Tetapi, karena Nolin yang berjalan sambil melamun tidak menyadari kalau ia berjalan di antara motor yang ramai. Dan tiba-tiba.....

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......”

Nolin lalu tersungkur di jalan beraspal tepat di depan restoran itu. Ia bersimbah darah. Kerumunan orang lalu mengangkat tubuh Nolin yang tergeletak.

Thomas yang baru saja meninggalkan restoran itu beberapa puluh meter, melihat kerumunan di depan restoran. Ia lalu mentancap gas motor dan melewati truk-truk yang ramai karena kemacetan. Naasnya, truk dari arah yang berlawanan melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi dan menabrak Thomas yang juga menancap gas motornya. Thomas lalu terjatuh. Ia terlempar dari motornya.

***

“Thom? Kamu udah sadar, Nak?”

Thomas yang tergeletak lemas menjawab ucapan Ibunya dengan suara yang serak.

“Hmm...Bu....”

“Kamu masih ingat Ibu kan?”

“Masih, Bu...”

“Syukurlah, Nak...Kamu kenapa malah berbalik arah Thom? Kamu mau ngeliat Nolin ya?”

Thomas lalu terdiam. Ia memegang kepalanya yang diperban.

“Nolin? Nolin siapa, Bu?”
***

Thomas

Sudah 5 tahun. Ingatanku tak kunjung pulih. Tapi, ada beberapa ingatan yang kian lama kian mendekat. Namun anehnya sulit untuk dilihat dengan mata. Aku yakin dia ada, tapi siapa. Aku ingat aku pernah menggenggam tangannya, memeluknya. Tapi siapa. Aku juga ingat terakhir kali aku pernah memberikan sebuah buku kepada seseorang. Tapi kepada siapa.

Nolin

Aku merasa sedih. Aku yang dikatakan roh ternyata masih bisa merasakan sedih. Aku selalu sedih melihat Thomas, melihatnya merindukan namun tak tahu kepada siapa. Melihat Thomas seakan menggenggam tanganku, tapi tak tahun menggenggam siapa. Namun, satu yang kutahu. Dia selalu menggenggam tanganku, memelukku erat, dan merindukanku. Dan buku yang pernah ia berikan, aku selalu kusimpan, walau Thomas tak tahu aku senang memiliki buku ini.




Oct, 13th 2015


RED


Tidak ada komentar:

Posting Komentar