“Selembut kata di buku ini, kugenggam tangannya. Sehangat kisah di buku ini, kupeluk raganya.
Sebanyak lembaran cerita ini, aku masih saja merindukannya.”
***
Thomas
Kegiatan rutin di setiap pagi, menanti kekasih. Walau
kekasihku tak pernah mewujudkan
wajahnya, tak tahu kehadirannya, tapi aku yakin dia selalu duduk di
depanku.Tragedi itu membuat seluruh ingatanku lupa. Aku yakin dahulu pernah
punya kekasih sungguhan, tapi kenapa
kini tak pernah ada di sampingku. Itu pertanyaan besar yang tak kunjung
terjawab selama 5 tahun ini. Dan lagi, aku masih menantinya.
Aku selalu duduk menghadap pintu masuk, berjaga siapa
tahu dia muncul di hadapanku.
Pikiranku kadang kacau sembari menunggu. Bagaimana bisa aku menyadari jika dia
duduk di depanku sedang melihat dia masuk ke restoran ini saja tak pernah.
Aku pernah bercengkrama dengan salah satu pramusaji di
sini. Ketika aku mengatakan
“Mbak, ada seorang perempuan yang duduk di depan saya,
jadi tolong kursinya jangan dirapatkan ya mbak.”
Pramusaji itu lalu menarik kursi itu dengan wajah bingung
sekaligus takut. Keesokan harinya aku juga pernah mengatakan kepada pramusaji
yang sama.
“Mbak, mau kenalan sama dia gak?”
Tentu saja pramusaji itu langsung bergidik ngeri
mendengar ucapanku. Lalu, aku tersadar dengan ucapanku sendiri. Apa yang aku
lakukan selama ini, apa yang aku bicarakan bertahun-tahun. Sungguh seperti
orang yang tidak waras.
Nolin
Ternyata hidup di demensi yang tak seharusnya itu sulit. Bersyukur
ada orang yang sadar akan kehadiranku, tapi menjadikan orang itu tidak normal.
Ia terkadang ingin memperkenalkanku dengan orang lain, tapi hanya ia yang
merasakan, hanya ia yang selalu ‘melihatku’. Aku ingin pergi meninggalkannya,
tapi aku selalu ingin di sampingnya. Seperti aku ini ada untuk dia dan seperti
aku pernah ada dalam hidupnya, terasa dekat, terasa nyaman, terasa kenal
dirinya begitu lama. Memang benar jika aku bukan ‘manusia’. Tapi, aku enggan
disebut roh. Aku yakin aku masih hidup, bahkan Thomas pun mengakui kehadiranku.
Namun, setelah aku bertemu Thomas setiap hari, setiap pagi, aku lalu yakin
bahwa aku ini memang roh.
Aku juga masih yakin bahwa aku pernah menjadi bagian dari
hidup Thomas. Bahkan pernah selalu berada di sampingnya. Tapi kapan.....
***
“Ini buku yang kamu cari, Lin...”
Thomas memberikan buku itu dengan wajah kesal.
Pekerjaannya yang menumpuk mengubah Thomas menjadi seseoran yang moody-an.
“Hmm...aku udah nemu juga kok buku ini.”
Nolin menjawab dengan ketus dan menolak mengambil buku
yang telah Thomas belikan untuknya.
“Loh, kok kamu gak bilang sih kalau udah punya bukunya?”
Nada suara Thomas meninggi. Ia makin kesal dengan sikap
Nolin yang tidak menghargainya
.
“Aku udah minta tolong ke kamu sebulan yang lalu dan kamu gak nyariin kan. Makanya aku usaha
sendiri. Dan aku nemu buku ini di toko-toko lama. Terus kenapa kamu yang marah?”
“Bukan gitu, Lin. Seenggaknya kamu bilang dong udah
nemuin bukunya. Bukan diam kayak gini.”
“Untuk apa aku bilang? Sedangkan aku ulang tahun juga gak
kamu gubris, padahal aku udah bilang ke kamu. Cuma perkara buku, ya udah lah.”
Nolin makin meninggakan suaranya. Thomas lalu terdiam
mendengar perkataan Nolin.
“Oke. Terserah kamu lah, Lin. Lain kali jangan minta
tolong kalau bisa ngerjain sendiri. Aku balik ke kantor dulu.”
***
Nolin
berjalan kembali ke rumahnya. Restoran tempat Thomas memberikan buku tadi
adalah tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Pikiran Nolin
terlalu sesak karena pertengkaran kecil itu. Tetapi, karena Nolin yang berjalan
sambil melamun tidak menyadari kalau ia berjalan di antara motor yang ramai.
Dan tiba-tiba.....
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......”
Nolin
lalu tersungkur di jalan beraspal tepat di depan restoran itu. Ia bersimbah
darah. Kerumunan orang lalu mengangkat tubuh Nolin yang tergeletak.
Thomas
yang baru saja meninggalkan restoran itu beberapa puluh meter, melihat
kerumunan di depan restoran. Ia lalu mentancap gas motor dan melewati truk-truk
yang ramai karena kemacetan. Naasnya, truk dari arah yang berlawanan melaju dengan
kecepatan yang cukup tinggi dan menabrak Thomas yang juga menancap gas
motornya. Thomas lalu terjatuh. Ia terlempar dari motornya.
***
“Thom? Kamu udah sadar, Nak?”
Thomas yang tergeletak lemas menjawab ucapan Ibunya
dengan suara yang serak.
“Hmm...Bu....”
“Kamu masih ingat Ibu kan?”
“Masih, Bu...”
“Syukurlah, Nak...Kamu kenapa malah berbalik arah Thom?
Kamu mau ngeliat Nolin ya?”
Thomas lalu terdiam. Ia memegang kepalanya yang diperban.
“Nolin? Nolin siapa, Bu?”
***
Thomas
Sudah 5 tahun. Ingatanku tak kunjung pulih. Tapi, ada
beberapa ingatan yang kian lama kian mendekat. Namun anehnya sulit untuk
dilihat dengan mata. Aku yakin dia ada,
tapi siapa. Aku ingat aku pernah menggenggam tangannya, memeluknya. Tapi
siapa. Aku juga ingat terakhir kali aku pernah memberikan sebuah buku kepada
seseorang. Tapi kepada siapa.
Nolin
Aku merasa sedih. Aku yang dikatakan roh ternyata masih
bisa merasakan sedih. Aku selalu sedih melihat Thomas, melihatnya merindukan
namun tak tahu kepada siapa. Melihat Thomas seakan menggenggam tanganku, tapi
tak tahun menggenggam siapa. Namun, satu yang kutahu. Dia selalu menggenggam
tanganku, memelukku erat, dan merindukanku. Dan buku yang pernah ia berikan,
aku selalu kusimpan, walau Thomas tak tahu aku senang memiliki buku ini.
Oct, 13th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar