Sabtu, 14 November 2015

Tatapan Tanpa Suara

 “Berikan satu kesempatan lagi untukku, agar semua terasa jelas, tak hilang begitu saja tanpa bekas. Bahwa sepenggal kisah ini pernah menjadi bagian sebuah kebahagiaan dan sepanjang hayat akan selalu kusimpan.”

***


Langkah ini begitu berani. Kutinggalkan semua cerita lama yang terlalu membuaiku makin dalam hingga lupa apa arti kebahagiaan sebenarnya. Cukup sudah aku mengulang seluruh cerita itu, toh dia, mereka tak pernah menganggap kisah itu nyata. Maka kuputuskan untuk menjalani hidup yang baru, di tempat yang baru pula.Tempat ini tak begitu asing bagiku. Tetapi setiap orang yang ada di sini terasa baru bagiku. Hari ini aku memakai jaket tebal agar lebih hangat. Maklum saja 5 derajat Celcius menusuk setiap tulang belulang seorang rantau dari negeri yang hanya memiliki 2 musim, mengharuskan fisik ini untuk tetap kuat. Aku berjalan melewati setiap bangunan tua yang menjadi daya tarik tempat ini. Bermodalkan selembar kertas yang telah kutandai dengan warna spidol yang berbeda-beda, aku melangkah pasti mengunjungi setiap sudut tempat ini. Banyak yang berpergian entah itu bersama teman, kekasih atau keluarga. Setelah berkeliling, yakinlah hanya aku yang berjalan sendiri, berfoto sendiri, berdecak kagum sendiri. Serba sendiri.

Ternyata, banyak bentuk kebahagiaan yang dapat kusyukuri. Salah satunya ini. Sepasang mata tiba-tiba menghentikan langkahku. Mata itu menatapku dalam, seakan tersenyum, seakan hendak ingin mendekat. Tiba-tiba pula senyum di bibirku tersimpul. Entah kenapa aku bisa tersenyum kepada seseorang yang asing. Seorang pria. Perawakannya gagah. Kedua tangannya tersimpan di saku. Mungkin ingin menghangatkan kedua telapak tangannya. Aku masih saja berdiri terdiam di dekat sebuah tembok. Ia berjalan mengarahku. Derap langkahnya begitu yakin, seakan bertemu dengan seorang yang ia kenal. Jelas aku tidak mengenalnya! Ia berhenti tepat di hadapanku. Aku bingung harus berbuat apa. Tapi sungguh aneh, jantungnya ini tiba-tiba berdegup tak karuan. Pertanda apa ini? Apakah penyakitku kembali? Penyakit jatuh cinta dalam 3 detik itu muncul pada saat seperti ini? Ah, jangan sampai! Mana mungkin aku langsung menjatuhkan hatiku pada seseorang yang terlalu asing bagiku.

Ia lalu menyunggingkan senyumnya. Cukup manis. Matanya seperti turut tersenyum pula. Ia mengulurkan tangannya, tanda ingin bersalaman, ingin berkenalan. Wajahku seketika mengguratkan tanda tanya besar. Tanpa berbicara, tanpa mengucapkan sepatah kata, ia ingin bersalaman denganku. Lucu sekali!

Aku berjalan mundur, meninggalkan orang asing dengan senyuman manisnya itu. Ia tiba-tiba menarik tanganku. Tentu aku terkejut. Lalu satu kata yang ia ucapkan “Hai...”

Aku kembali memasang ekspresi bingung yang tak paham akan situasi ini. Dia menunjuk peta yang telah kubuat. Lalu menuliskan sesuatu.

“Maaf. Aku hanya ingin berteman. Bolehkah aku melihat petamu untuk tahu harus kemana tujuanku pergi setelah ini? Aku benar-benar tidak tahu tempat ini.”

Aku lalu tertawa kecil. Adakah orang seperti ini? Tak bisakah dia berbicara untuk mengutarakan keinginannya?

Aku berpikir sejenak. Aku menduga ia seorang yang tidak bisa berbicara. Walaupun agak aneh ketika ia bisa mengucapkan “Hai” dan malah menulis apa yang diinginkan. Karena tidak berkawan di sini, aku “membagi” petaku. Peta yang menuntunku untuk menjelajahi tempat ini.

Pagi hingga petang kami melewati setiap tempat bersama, tanpa sepatah kata. Ia hanya tersenyum melihatku setiap kami saling bertukar pandang. Entah kenapa, kesendiriaan ini lama-lama terisi dengan sedikit kebahagiaan. Rasanya begitu hangat. Apa aku sudah terhipnotis dengan tatapannya? Apa aku jatuh hati dengan senyumannya?

Benar-benar tak bisa kupikirkan dengan akal sehatku. Aku masih saja berjalan beriringan bersamanya.

Di ujung jalan, kami berpisah.

“Terima Kasih untuk hari ini. Jika takdir mempertemukan, besok kita bertemu di tempat selanjutnya yang ada di peta itu. Oke?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.
Ia tersenyum lagi. Seperti sudah yakin bahwa kami akan bertemu kembali esok hari.
Ia berjalan jauh dan makin jauh. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya...
“Entahlah. Apakah besok aku bisa melihat peta yang kubuat ini. Apakah besok aku masih bisa berjalan ke tempat itu. Apakah besok aku bisa melihat senyummu lagi. Apakah besok...aku masih menatapmu, menatap dunia.”

Aku kembali ke rumah sakit. Penyakit yang ada di tubuh ini mulai melemahkanku. Aku berharap operasi besok hari bisa menjawab semua pertanyaan itu, pertanyaan yang hendak kutanyakan kepadamu. Apakah aku masih bisa bernafas. Entahlah. Tetapi, detik sebelum aku berjuang, aku setidaknya merangkai sebuah kisah indah dengan seseorang yang bahkan aku tak tahu namanya.


November, 14 th 2015




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar