“Berikan satu kesempatan lagi untukku, agar
semua terasa jelas, tak hilang begitu saja tanpa bekas. Bahwa sepenggal kisah
ini pernah menjadi bagian sebuah kebahagiaan dan sepanjang hayat akan selalu
kusimpan.”
***
Langkah ini begitu berani. Kutinggalkan semua cerita lama
yang terlalu membuaiku makin dalam hingga lupa apa arti kebahagiaan sebenarnya.
Cukup sudah aku mengulang seluruh cerita itu, toh dia, mereka tak pernah
menganggap kisah itu nyata. Maka kuputuskan untuk menjalani hidup yang baru, di
tempat yang baru pula.Tempat ini tak begitu asing bagiku. Tetapi setiap orang
yang ada di sini terasa baru bagiku. Hari ini aku memakai jaket tebal agar
lebih hangat. Maklum saja 5 derajat Celcius menusuk setiap tulang belulang
seorang rantau dari negeri yang hanya memiliki 2 musim, mengharuskan fisik ini
untuk tetap kuat. Aku berjalan melewati setiap bangunan tua yang menjadi daya
tarik tempat ini. Bermodalkan selembar kertas yang telah kutandai dengan warna
spidol yang berbeda-beda, aku melangkah pasti mengunjungi setiap sudut tempat
ini. Banyak yang berpergian entah itu bersama teman, kekasih atau keluarga.
Setelah berkeliling, yakinlah hanya aku yang berjalan sendiri, berfoto sendiri,
berdecak kagum sendiri. Serba sendiri.
Ternyata, banyak bentuk kebahagiaan yang dapat kusyukuri.
Salah satunya ini. Sepasang mata tiba-tiba menghentikan langkahku. Mata itu
menatapku dalam, seakan tersenyum, seakan hendak ingin mendekat. Tiba-tiba pula
senyum di bibirku tersimpul. Entah kenapa aku bisa tersenyum kepada seseorang
yang asing. Seorang pria. Perawakannya gagah. Kedua tangannya tersimpan di
saku. Mungkin ingin menghangatkan kedua telapak tangannya. Aku masih saja
berdiri terdiam di dekat sebuah tembok. Ia berjalan mengarahku. Derap langkahnya
begitu yakin, seakan bertemu dengan seorang yang ia kenal. Jelas aku tidak
mengenalnya! Ia berhenti tepat di hadapanku. Aku bingung harus berbuat apa.
Tapi sungguh aneh, jantungnya ini tiba-tiba berdegup tak karuan. Pertanda apa
ini? Apakah penyakitku kembali? Penyakit jatuh cinta dalam 3 detik itu muncul
pada saat seperti ini? Ah, jangan sampai! Mana mungkin aku langsung menjatuhkan
hatiku pada seseorang yang terlalu asing bagiku.
Ia lalu menyunggingkan senyumnya. Cukup manis. Matanya
seperti turut tersenyum pula. Ia mengulurkan tangannya, tanda ingin bersalaman,
ingin berkenalan. Wajahku seketika mengguratkan tanda tanya besar. Tanpa
berbicara, tanpa mengucapkan sepatah kata, ia ingin bersalaman denganku. Lucu
sekali!
Aku berjalan mundur, meninggalkan orang asing dengan
senyuman manisnya itu. Ia tiba-tiba menarik tanganku. Tentu aku terkejut. Lalu
satu kata yang ia ucapkan “Hai...”
Aku kembali memasang ekspresi bingung yang tak paham akan
situasi ini. Dia menunjuk peta yang telah kubuat. Lalu menuliskan sesuatu.
“Maaf. Aku hanya ingin berteman. Bolehkah aku melihat
petamu untuk tahu harus kemana tujuanku pergi setelah ini? Aku benar-benar
tidak tahu tempat ini.”
Aku lalu tertawa kecil. Adakah orang seperti ini? Tak
bisakah dia berbicara untuk mengutarakan keinginannya?
Aku berpikir sejenak. Aku menduga ia seorang yang tidak
bisa berbicara. Walaupun agak aneh ketika ia bisa mengucapkan “Hai” dan malah
menulis apa yang diinginkan. Karena tidak berkawan di sini, aku “membagi”
petaku. Peta yang menuntunku untuk menjelajahi tempat ini.
Pagi hingga petang kami melewati setiap tempat bersama,
tanpa sepatah kata. Ia hanya tersenyum melihatku setiap kami saling bertukar
pandang. Entah kenapa, kesendiriaan ini lama-lama terisi dengan sedikit
kebahagiaan. Rasanya begitu hangat. Apa aku sudah terhipnotis dengan
tatapannya? Apa aku jatuh hati dengan senyumannya?
Benar-benar tak bisa kupikirkan dengan akal sehatku. Aku
masih saja berjalan beriringan bersamanya.
Di ujung jalan, kami berpisah.
“Terima Kasih untuk hari ini. Jika takdir mempertemukan,
besok kita bertemu di tempat selanjutnya yang ada di peta itu. Oke?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.
Ia tersenyum lagi. Seperti sudah yakin bahwa kami akan
bertemu kembali esok hari.
Ia berjalan jauh dan makin jauh. Padahal aku ingin
mengatakan sesuatu kepadanya...
“Entahlah. Apakah besok aku bisa melihat peta yang kubuat
ini. Apakah besok aku masih bisa berjalan ke tempat itu. Apakah besok aku bisa
melihat senyummu lagi. Apakah besok...aku masih menatapmu, menatap dunia.”
Aku kembali ke rumah sakit. Penyakit yang ada di tubuh ini mulai melemahkanku. Aku berharap operasi besok hari bisa menjawab semua
pertanyaan itu, pertanyaan yang hendak kutanyakan kepadamu. Apakah aku masih
bisa bernafas. Entahlah. Tetapi, detik sebelum aku berjuang, aku setidaknya
merangkai sebuah kisah indah dengan seseorang yang bahkan aku tak tahu namanya.
November, 14 th 2015
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar