Rabu, 18 November 2015

Huruf Keempat

“...Karena menunggumu bukan perkara bagiku. Karena mengharapkanmu  bukan sakit bagiku. Maka, jangan tanyakan padaku seberapa besar rasa itu. Karena rasa itu tak berbilang bagiku. Karena hanya satu nama bagiku, sampai kapanpun.”

***

Setiap saat ketika lelah itu datang, aku hanya mengharapkan satu orang saja tak memaki, tak menghujat atau tak membebaniku dengan apapun. Tetapi kenyataannya berbeda. Pulang ke rumah setelah lelah bekerja mengharuskanku untuk bertarung dengan semua tekanan itu. Setidaknya pula ada senyuman hari ini yang bisa kusematkan di wajah lesu-ku. Lima menit kubaringkan tubuhmu ini untuk mengumpulkan kembali semangat yang mulai berserakan. Ah...akan lebih menyenangkan bila ‘seseorang’ menanyakan kabarku. Itu pasti membuatku bahagia. Tetapi sangat disayangkan ‘seseorang’ itu entah kemana kini. Mungkin ia sibuk dengan hidupnya sendiri.

Awan yang kini berubah jingga bersiap menyapa malam. Aku tiba-tiba tergerak ingin memandangi awan jingga yang megah ini. Angin sayup-sayup menyentuh wajahku. Begitu sejuk. Masih pula kutatap layar ponselku. Siapa tahu ada secercah kebahagiaan yang muncul petang ini. Selang beberapa menit, aku masih saja menatap jauh pemandangan petang ini. Tetapi ada sosok yang begitu menarik pandanganku. Ia berjalan dari kejauhan dan entah kenapa senyumannya terlihat jelas oleh kedua mataku. Padahal ia masih berada di jarak yang cukup jauh dariku. Mungkinkah, ‘dia’?

***

“Telepon aku kenapa gak diangkat sih tadi?”

Dani menatapku dalam ketika bertanya soal kejadian tadi siang. Aku yang tak tahu harus menjawab apa lalu berkelit.

“Tadi aku sibuk kerja, Kak. Lagian kalo diangkat entar malah panjang lagi obrolannya. Ya kan?” 

Aku sibuk membaca raut mukanya. Berjaga kalau ia tak sadar bahwa aku sedang tak ingin berdebat dengan rasa malasku untuk menjawab teleponnya.

“Ah, kamu emang kebiasaan. Kan udah janji mau jawab telepon aku kapan aja. Lupa yah? Hmm..yaudah deh...” .Wajah Dani nampak kecewa. Itu yang aku lihat.

“Iya deh...maaf...Emang tadi mau ngobrolin apa sih?”. Aku pun tetap ingin tahu apa yang hendak ia bicarakan padaku tadi siang.

“Hmm...bukan masalah penting sih, tapi pengen curhat aja. Hehe...” . Kembali, wajah Dani kembali menenangkan. Entah apapun permintaannya kepadaku, curhat-lah, sekedar berbincang ringan atau bercanda, wajahnya tak dapat membekukan hatiku begitu saja. Ia begitu ligat mengetuk mata hati-ku dan mengunci rapat akal sehatku, bahwa ia pasti ingin bercerita tentang kekasihnya.

“Oh...kenapa lagi doi, Kak? Ngambek lagi? “ . Aku berusaha mengendalikan ekspresi wajahku.

“Iya nih...Kadang capek tapi kadang gak mau lepas dari dia. Jadi bingung deh...Hehe. Udahlah, curhatan aku gak usah dipikirin banget. Basi kali ya ceritanya?”

“Enggak kok, Kak. Aku siap kok ngedengerin apapun itu cerita Kakak. Hahaha....Terus gimana sekarang?”. Aku masih saja “bermain” dengan kepura-puraan bercampur rasa tak enak hati meladeni “kisahnya” yang terkadang tak ingin aku dengar.

“Ya gitu lah...Nanti pas weekend harus dibujuk dulu, jalan-jalan kemana gitu, pasti ngambeknya ilang. Hehe. Eh, weekend nanti kamu gak kemana-mana, Lyn?”

“Ha? Ah...weekend? Ada lah nanti sama temen pergi jalan.”

“Hmm..baguslah, biar gak stres jangan lupa refreshing hehe. Eitss....sama cowok yaa?Cieee”

“Yaa begitulahh...emang Kak Dani aja yang bisa pergi sama cewek. Hahah...”

“Iya dehhh, semoga lancar deh buat kamu Lyn...Ya udah, aku pulang dulu yah, mau jemput doi yang lagi ngambek hehehe. Makasi loh mau denger cerita aku. Daaahhh...”

“ Iya Kak..Hati-hati yaa...”

***

Petang yang kini berubah malam dan sudah ditemani hujan, terasa berbeda. Entah kenapa hujan malam ini terlalu dingin. Tapi sialnya, rasa yang tak karuan ini tak kunjung membeku. Rasa ini tetap saja mendidih walau sebenarnya terlalu banyak kenyataan yang hendak memadamkannya.

“Oi....ngelamun aja lo. Kenapa? Melow karena malem-malem gini ujan?”

“Apann sih lo Wan? Gak lucu banget.”

“Mikirin tuh cowok? Duh lo ya Lyn yahh...gak sadar apa dia tuh udah punya pacar. Lo masih aja ngeharapi tu cowok. Salut gue sama lo, Lyn.”

“Lo kalo gak ngasih bantuan ke gue, gak usah ganggu deh.”

“Nih ya Lyn...Gue kasih tahu sedikit saran buat lo. Nunggu sih boleh. Tapi mengharapkan terlalu tinggi tuh gak baek. Gak pantes aja gitu. Kayak dia suka sama lo aja.”

“Lama-lama omongan lo kemana-mana ya, Wan. Ini urusan gue mau suka sama siapa. Gak usah repot ngasih saran ke gue.”

“Lo yakin dia suka sama lo, pada akhirnya?”

Pertanyaan Iwan, salah satu teman yang selalu menggoyahkan rasa yang aku punya terhadap Dani benar-benar membuatku terdiam.

“Entahlah. Setidaknya hati gue gak kosong. Hati gue ada rasa yang tumbuh. Gue bangga sama apa yang gue alami sekarang. Terserah mau dia punya pacar atau enggak. Gue yang punya perasaan ini, masalah dia suka sama gue atau enggak? Dunia ini punya sesuatu yang paling adil yang bakal nentuin semuanya. Lo mau tau namanya apa? Waktu. Gue siap untuk menunggu entah berapa lama waktu itu. Dan gue, gak pernah nyesel suka sama dia. “

***

Namun, selain waktu, dunia ini punya juga yang Maha Dahsyat. Kekuatan Doa. Aku selalu berharap dan berdoa agar penantian ini tak sia-sia. Akan kujaga rasa ini sebaik mungkin, selalu.



November, 18th 2015



RED

(teruntuk seorang kawan yang ternyata pernah merasakan hal yang sama denganku. Jagalah perasaan itu. Memang butuh waktu yang tak menentu, tetapi akan ada sesuatu yang manis apabila kita selalu menjaga  rasa itu. :) )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar