Minggu, 27 Desember 2015

Merindu


“Ada kalanya hujan menenangkan kami, para pencari rindu yang tak bertuan. Ada kalanya petir membangunkan kami, dari khayalan yang tak beralasan. Kata orang pun, rindu itu menyiksa batin. Ucap yang lain, rindu itu membakar waktu perlahan. Sia-sia. Tak ada artinya.”
***


Karena inilah semua rasa menyia-nyiakan tenaga. Kata orang pun hidup itu pilihan. Maka, memilih untuk mendekat atau menjauh tak jadi soal. Pada akhirnya, setiap orang harus berperang melawan rasa yang tak diundang, yang biasa dinamakan kerinduan. Benar pula adanya, dikelilingi oleh ratusan bahkan ribuan orang tak ada gunanya , kecuali mereka yang benar-benar tulus. Segerombolan pemuda dan pemudi duduk di depan api unggun yang mereka buat untuk menghangatkan malam ini. Akhir tahun ini tidak sekedar dingin yang menusuk tulang, tapi jiwa yang perlahan meringis kedinginan.

Bono hanya memandang ponselnya. Ia seperti berada di tempat yang lain. Teman-teman yang lain memaklumi tingkahnya. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Menanti telepon keluarganya.

“Bon, telepon duluan. Gak ada salahnya, kan? Bukan berarti harus nunggu terus kan?”

“Mereka gak anggap gue ada lagi, kenapa harus gue yang mulai?”

“ Masih berkutat dengan ‘No news is a good news’ ?”

“Hmm..iya. Ya udahlah, kan gue yang nunggu. Jadi gue yang capek sendiri kan?Hehe, I’m okay.”

Ginka selalu geram mendengar ucapan Bono yang tiap tahun terdengar sama dan selalu optimis. Ia merebut ponsel Bono dan seketika membantingnya.

“Gin !”

Wajah Bono memerah dan meredam kekesalannya.

“ Kenapa? Hancur juga gak apa-apa kan ? Toh gak ada kabar bukannya lebih baik? “

“Jadi, lo ngeharapin gue gak akan pernah dapet kabar apa-apa? Gitu?”

“Hmm..iya. Sekalian aja, bunga 3 tahun yang lalu itu lo siram bunga, biar hidup lagi. Itupun kalo lo masih berpikir waras, Bon. Jujur, ngeliat lo gini gue yang lelah.”

Ginka meluapkan emosinya di tengah-tengah acara api unggun yang seharusnya khidmat dan tenang. Seperti arena tinju, hanya Bono dan Ginka yang emosinya membara.

“Berhenti ikut campur urusan gue, Gin. Gue yang ngalaminnya sendiri, gue yang ngehadapinnya sendiri. Lo, gak perlu ngerasain gimana sakitnya gue.”

“Oh, jadi gue pura-pura gak tahu, gitu maksud lo? Lo yakin, Bon? Walaupun gue udah bilang berapa kali keluarga lo udah gak ada lagi? Atau kenapa lo gak pulang dan cari tahu semuanya?”

“Ibu gue janji, kalo setelah pulang dia langsung ngabarin gue. Dan Ibu gue juga yang janji, kalo dia yang bakal nelpon gue. Dan gue gak akan pulang sebelum Ibu yang ngomong ke gue.”

Ginka mulai menyerah menghadapi Bono.

“Bon, sebagai temen lo dari 10 tahun yang lalu gue gak pengen ngeliat lo kayak gini. Ini udah tahun ketiga lo nunggu yang gak pasti, Bon. Pulang dan pastiin semuanya. Please...”

Bono bangkit dari kursinya. Layaknya seorang petinju yang lelah bertarung, Bono berjalan menunduk. Ia menatap Ginka sebelum pergi.

“Gin, lo gak tahu rasanya ditinggal tanpa pamit, tanpa sepatah kata apapun. Dan, yang pergi tanpa pamit itu adalah keluarga gue. Gimana caranya gue harus bertahan kalo gue anggap mereka udah gak ada? Buat apa gue tetap hidup? Karena itu gue selalu ngeharapin telepon dari mereka, dari Ibu. Walaupun, mereka sebenarnya udah gak ada...”






December 27th 2015



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar