“Ada kalanya hujan menenangkan kami, para pencari rindu
yang tak bertuan. Ada kalanya petir membangunkan kami, dari khayalan yang tak
beralasan. Kata orang pun, rindu itu menyiksa batin. Ucap yang lain, rindu itu
membakar waktu perlahan. Sia-sia. Tak ada artinya.”
***
Karena inilah
semua rasa menyia-nyiakan tenaga. Kata orang pun hidup itu pilihan. Maka,
memilih untuk mendekat atau menjauh tak jadi soal. Pada akhirnya, setiap orang
harus berperang melawan rasa yang tak diundang, yang biasa dinamakan kerinduan.
Benar pula adanya, dikelilingi oleh ratusan bahkan ribuan orang tak ada gunanya
, kecuali mereka yang benar-benar tulus. Segerombolan pemuda dan pemudi duduk
di depan api unggun yang mereka buat untuk menghangatkan malam ini. Akhir tahun
ini tidak sekedar dingin yang menusuk tulang, tapi jiwa yang perlahan meringis
kedinginan.
Bono hanya
memandang ponselnya. Ia seperti berada di tempat yang lain. Teman-teman yang
lain memaklumi tingkahnya. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Menanti
telepon keluarganya.
“Bon, telepon
duluan. Gak ada salahnya, kan? Bukan berarti harus nunggu terus kan?”
“Mereka gak
anggap gue ada lagi, kenapa harus gue yang mulai?”
“ Masih
berkutat dengan ‘No news is a good news’ ?”
“Hmm..iya. Ya udahlah,
kan gue yang nunggu. Jadi gue yang capek sendiri kan?Hehe, I’m okay.”
Ginka selalu
geram mendengar ucapan Bono yang tiap tahun terdengar sama dan selalu optimis. Ia
merebut ponsel Bono dan seketika membantingnya.
“Gin !”
Wajah Bono
memerah dan meredam kekesalannya.
“ Kenapa?
Hancur juga gak apa-apa kan ? Toh gak ada kabar bukannya lebih baik? “
“Jadi, lo
ngeharapin gue gak akan pernah dapet kabar apa-apa? Gitu?”
“Hmm..iya. Sekalian
aja, bunga 3 tahun yang lalu itu lo siram bunga, biar hidup lagi. Itupun kalo
lo masih berpikir waras, Bon. Jujur, ngeliat lo gini gue yang lelah.”
Ginka
meluapkan emosinya di tengah-tengah acara api unggun yang seharusnya khidmat
dan tenang. Seperti arena tinju, hanya Bono dan Ginka yang emosinya membara.
“Berhenti ikut
campur urusan gue, Gin. Gue yang ngalaminnya sendiri, gue yang ngehadapinnya
sendiri. Lo, gak perlu ngerasain gimana sakitnya gue.”
“Oh, jadi gue
pura-pura gak tahu, gitu maksud lo? Lo yakin, Bon? Walaupun gue udah bilang
berapa kali keluarga lo udah gak ada lagi? Atau kenapa lo gak pulang dan cari
tahu semuanya?”
“Ibu gue
janji, kalo setelah pulang dia langsung ngabarin gue. Dan Ibu gue juga yang janji,
kalo dia yang bakal nelpon gue. Dan gue gak akan pulang sebelum Ibu yang
ngomong ke gue.”
Ginka mulai
menyerah menghadapi Bono.
“Bon, sebagai
temen lo dari 10 tahun yang lalu gue gak pengen ngeliat lo kayak gini. Ini udah
tahun ketiga lo nunggu yang gak pasti, Bon. Pulang dan pastiin semuanya.
Please...”
Bono bangkit
dari kursinya. Layaknya seorang petinju yang lelah bertarung, Bono berjalan
menunduk. Ia menatap Ginka sebelum pergi.
“Gin, lo gak
tahu rasanya ditinggal tanpa pamit, tanpa sepatah kata apapun. Dan, yang pergi
tanpa pamit itu adalah keluarga gue. Gimana caranya gue harus bertahan kalo gue
anggap mereka udah gak ada? Buat apa gue tetap hidup? Karena itu gue selalu ngeharapin
telepon dari mereka, dari Ibu. Walaupun, mereka sebenarnya udah gak ada...”
December 27th 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar