Kamis, 31 Desember 2015

Kisah Waktu Itu

“ Tak perlu sibuk membenci, tak perlu repot membalas. Toh, sakit itu pasti sembuh. Tuhan Maha Baik. Dia ciptakan sesuatu yang namanya ‘waktu’, dan jika kamu lewati dengan ketabahan, maka perihnya akan hilang. Tenang saja. Akan ada saatnya kamu menengok sedikit ke belakang dan berucap ‘Ah, kisah waktu itu? Ya sudah, sudah berlalu.”

***


Saya gemar menulis. Apa saja. Mungkin sedikit buram ketika mendeskripsikan makna “apa saja” itu. Kelak, saya berharap menjadi penulis betulan. Penulis yang punya buku ciptaan sendiri, lengkap dengan isi-isinya. Sekarang? Saya sedang menulis. Jika sedang ingin, saya bisa menulis cerita fiksi, cerita non-fiksi dan cerita-cerita lain yang mengada-ada. Saya bisa menulis lalu menghapus dan menulis terus menghapus kembali, selama 4 jam lamanya.

Tetapi, di tulisan saya kali ini bukan tentang cerita cinta, cerita patah hati atau cerita romansa lainnya. Saya hanya ingin, menulis. Anggap saja ingin memutar kembali waktu yang terlewati di 365 hari di tahun 2015 ini.

Saya pernah menulis hal seperti ini di tahun lalu, 2014. Saya ingat betul setiap kejadian dari bulan Januari hingga Desember dan saya tuliskan begitu runtut. Saya juga ingat satu hal yang konyol. Adalah meminta salah satu ‘seseorang’ di tahun 2014 itu untuk membacanya. Singkatnya, saya membuat kesalahan kepadanya. Tapi tidak secara murni itu kesalahan saya.

Entah saya harus mengatakan diri saya baik hati atau terlalu dungu, saya mendoakannya. Bukan berarti saya ingini Give to Receive, tapi ini benar-benar kisah yang lucu. Saya mendoakan dia bahagia, dan syukurlah dia akhirnya menemukan kebahagiaan (setelah observasi melalui media sosial yang tak sengaja saya lihat).

Bukan tentang kebahagiaan dia yang saya ingin ceritakan di sini, tetapi ini tentang setiap waktu yang dilewati dalam 12 bulan ini. Mungkin, saya tidak akan mengkisahkan setiap kejadian di 12 bulan itu. Tapi, saya ingin berbagi sedikit tentang apa yang orang sebut manusia dan perasaan.

Perasaan, bukan hanya tentang pria dan wanita dalam suatu hubungan pacaran. Lebih kepada perasaan yang kita rasakan setiap menit ketika bertemu kawan, lawan, atau yang sekedar berpapasan.
Berbicara tentang kawan, mungkin akan beruntung jika kamu telah menemukan seorang kawan yang benar-benar “sohib” dan mengerti luar dalam tentang hidupmu. Atau mungkin, belum menemukan kawan yang benar-benar bisa disebut kawan. Saya ? Hmm..entahlah. Hingga tahun 2015 ini bahkan di penghujung tahun pun, saya tidak bisa menyebutkan 1 kawan yang benar-benar mengetahui, memahami, menerima diri saya. Kawan yang saya punya hingga kini mungkin hanya tahu kehidupan “sisi bahagia” saja. Selebihnya? Tidak ada yang tahu tentang saya.

Mungkin, tipe orang seperti saya adalah lebih baik mendengarkan daripada menceritakan. Ya, beginilah jadinya. Saya menganggap setiap masalah yang saya hadapi, tak perlu orang tahu. Selama saya mampu, selama saya sanggup. Maka, term sahabat akan tidak pas jika diucapkan. Saya hanya punya kawan-kawan yang baik. Sahabat ? Mungkin tidak. Karena mengharapkan lebih kepada orang lain untuk memahami kita, itu mustahil. Pada akhirnya, we just need to stand by ourself.

Tetapi, setiap cerita, setiap suka hingga duka yang saya lewati bersama mereka tidak akan terlupakan. Karena benar adanya, bahwa setiap kejadian yang berlalu hingga berwujud kenangan, jangan dibuang. Kenanglah! Selagi kita masih bernafas.

Sedangkan lawan? Sangat seru jika ada di hidup kita. Mereka yang mendorong hidup kita, tentu ke arah lebih baik. Karena kenapa? Mereka memberikan contoh kepada kita, tentang kehidupan mereka yang menyedihkan sehingga pasti kita tidak ingin seperti mereka. Kita pasti berusaha lebih baik. Maka, tak akan seru katanya kalau hidup ini tak ada lawan.

Untuk setiap orang yang membenci, menentang bahkan ingin menjatuhkan, setidaknya pikirkan cara yang terbaik. Pakailah cara yang elegan, agar tak terlalu kentara bahwa setiap waktumu tak terbuang sia-sia dengan kebencian.

Setiap orang yang berpapasan selama setahun ini, entah itu di jalan, di pasar, di restoran, di perpustakaan, di kampus, di persimpangan, di mana pun kalian pernah ditemui, terima kasih pernah lalu lalang walau hanya sekejap. Akan luar biasa jika kita bertemu di waktu lain dan siapa tahu kita berkenalan. Terkadang, saya tersenyum atau bahkan iba atau bahkan pernah menyapa, hal itu luar biasa. Mungkin, mereka pernah menjadi inspirasi untuk setiap kata yang ada di tulisan yang lalu ataupun tulisan ini.

Mengakhiri celotehan saya ini, terima kasih semua. Setiap rasa bahagia, rasa perih hingga sakit, dan rasa-rasa lainnya, hanya terima kasih yang seorang manusia dapat ucapkan. Untuk mensyukurinya. Dan, ada kata lain selain itu, yaitu maaf. Maaf untuk setiap kesengajaan, ketidaksengajaan karena pernah melukai, menyakiti, melupakan ataupun meninggalkan apapun dan siapapun. Karena, saya juga masih manusia yang hanya mengucapkan kata maaf jika salah.

Selamat melanjutkan hari Jumat, di tanggal 1 di tahun yang baru. Selamat dan semangat melakukan perubahan untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Selamat meningat kisah kemarin hari di Kamis tanggal 31. Selamat tersenyum-senyum hingga menghela nafas ketika mengenang kisah waktu itu.... J

Dec 31th 2015

RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar