“ Di antara dua irama sepeda tua, Kau sematkan sebuah rasa
yang tak biasa. Maka biarkan pagi ini menari seperti ini, walau kita mengayuh dua sepeda
yang berbeda. “
***
Sebuah kotak makanan berwarna merah terang telah terisi
penuh dengan roti 3 potong yang dibentuk segitiga, lengkap dengan cemilan
lainnya. Tak lupa buah salak yang menjadi buah kesukaannya. Karena kesukaannya
itu pula, ia sering diceramahi Eyang
karena kebiasaan makan buah salak akan mengganggu pencernaan (petuah Eyang yang
ia dengar sejak kecil, dan entah iya
entah tidak kebenaran itu di dunia kedokteran. Entahlah. Ia pun tak pernah mencari tahu. Tak pernah ingin.). Tetapi, ceramah Eyang tak pernah ia ‘amalkan’.
Hingga sekarang, ia tetap memakan
buah salak di pagi hari.
Piknik di minggu pagi ini memang kebiasaannya pula. Bukan
sore hari, tetapi pagi. Ia selalu
membayangkan sarapan minggu pagi di taman dekat rumah masa kecilnya. Sekarang,
impian kecilnya itu bisa diwujudkannya. Walaupun jarak rumahnya sekarang dengan
taman cukup jauh. Dan impian lainnya, ia
ingin bersepeda menuju taman itu.
Taman yang ia
maksud persis berada di dekat rumah masa kecilnya. Rumput hijau, pohon rindang,
langit biru menjadi payungnya. Memang, zaman sekarang tak pernah terlihat lagi
orang-orang piknik di taman itu. Terang saja, taman itu berbeda. Menakutkan
bagi mereka (orang-orang yang enggan lagi untuk piknik di sana), namun
menyenangkan baginya. Selain impian piknik itu, ia juga ingin mengayuh sepeda untuk menuju ke taman itu.
Lengkaplah sudah. Keranjang piknik lengkap diisi dengan
makanan buatannya sendiri, ditemani sepeda tua milik Bapak dan cuaca yang
bersahabat. Cerah, berangin, sejuk. Ia
mengayuh sepeda tua itu bagai sedang bermain film. Ia memakai rok bermotif kembang berwarna pink, dan memang sengaja
berpakaian seperti itu. Ia ingin
terlihat cantik, terlihat paling bahagia hari itu. Walaupun sepedanya sudah
cukup tua, tetapi masih tangguh untuk dikayuh.
Perjalanannya menjadi lebih cepat karena ditampuh dengan
mengayuh. Ia letakkan secara
sembarang dengan posisi tertidur sepeda tua itu. Ia lalu tersenyum. Entah kepada siapa. Tidak ada siapa-siapa di
taman itu. Mungkin ia tersenyum
kepada rumput hijau.
“Terima kasih sudah menungguku dan menyambutku. Maaf, aku
tidak kunjung kembali. Tapi, lihatlah aku! Akhirnya aku datang kesini lagi.”
Ia berusaha berbicara. Kepada rumput. Seakan rumput itu
sedang menyambutnya. Ia lalu
tersenyum. Membaringkan tubuhnya di atas rumput yang masih hijau dan terlihat
segar apalagi terkena sinar pantulan matahari pagi.
“ Hah...Sungguh menyenangkan. Ya kan? “
“ Ya kan?? ”
Ia
menekankan pertanyaannya. Seakan sedang bertanya pendapat
seseorang.
“ Ahh... sudah 5 tahun ya. “
“ Lima tahun juga rumput ini tiba-tiba bisu, Gus. “
“ Kamu terlalu cepat pergi. Aku jadi sendiri sekarang. “
“ Ingat tidak, sepeda itu? Dia sekarang jadi sahabatku.
Tuh, dia sedang berbaring juga. Anggap saja mengisi tempatmu. “
Ia lalu menitikkan air mata.
“Ah, kenapa aku menangis! Aku sudah janji padamu kan Gus,
aku tidak akan menangis lagi. Ya..sudah 5 tahun habis air mataku karena kamu! “
“Ya, cuma karena kamu! Tapi, Gus...Aku masih merasa kamu
mengayuh sepeda di sampingku. Seperti waktu dulu. Sepeda-mu tua sekali,
sungguh! “
Air mata itu hilang dengan senyum kecilnya.
“Hah...setiap minggu pagi, mulai dari hari ini, Aku pasti
kesini terus, Gus. Sampai aku lelah nanti, sampai aku gak sanggup ngayuh
sepeda-mu itu, sepeda butut! “
“ Tapi, setidaknya...Kamu suami terhebat yang pernah ada.
Kamu sahabat kecilku yang paling juara, Gus! “
Setelah 5 tahun ia mengalami kerapuhan, kini ia memilih untuk memulainya semua
kembali. Bukan untuk melupakan, tetapi untuk tetap menjaganya. Menjaga setiap
kenangan, menjaga setiap kebiasaan, menjaga perasaan yang telah dipisahkan dengan
alam yang berbeda.
***
January, 31th 2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar