Minggu, 31 Januari 2016

Sepeda Tua


“ Di antara dua irama sepeda tua, Kau sematkan sebuah rasa yang tak biasa. Maka biarkan pagi ini menari  seperti ini, walau kita mengayuh dua sepeda yang berbeda. “

***

Sebuah kotak makanan berwarna merah terang telah terisi penuh dengan roti 3 potong yang dibentuk segitiga, lengkap dengan cemilan lainnya. Tak lupa buah salak yang menjadi buah kesukaannya. Karena kesukaannya itu pula, ia sering diceramahi Eyang karena kebiasaan makan buah salak akan mengganggu pencernaan (petuah Eyang yang ia dengar sejak kecil, dan entah iya entah tidak kebenaran itu di dunia kedokteran. Entahlah. Ia pun tak pernah mencari tahu. Tak pernah ingin.).  Tetapi, ceramah Eyang tak pernah ia ‘amalkan’. Hingga sekarang, ia tetap memakan buah salak di pagi hari.
Piknik di minggu pagi ini memang kebiasaannya pula. Bukan sore hari, tetapi pagi. Ia selalu membayangkan sarapan minggu pagi di taman dekat rumah masa kecilnya. Sekarang, impian kecilnya itu bisa diwujudkannya. Walaupun jarak rumahnya sekarang dengan taman cukup jauh. Dan impian lainnya, ia ingin bersepeda menuju taman itu.
Taman yang ia maksud persis berada di dekat rumah masa kecilnya. Rumput hijau, pohon rindang, langit biru menjadi payungnya. Memang, zaman sekarang tak pernah terlihat lagi orang-orang piknik di taman itu. Terang saja, taman itu berbeda. Menakutkan bagi mereka (orang-orang yang enggan lagi untuk piknik di sana), namun menyenangkan baginya. Selain impian piknik itu, ia juga ingin mengayuh sepeda untuk menuju ke taman itu.
Lengkaplah sudah. Keranjang piknik lengkap diisi dengan makanan buatannya sendiri, ditemani sepeda tua milik Bapak dan cuaca yang bersahabat. Cerah, berangin, sejuk. Ia mengayuh sepeda tua itu bagai sedang bermain film. Ia memakai rok bermotif kembang berwarna pink, dan memang sengaja berpakaian seperti itu. Ia ingin terlihat cantik, terlihat paling bahagia hari itu. Walaupun sepedanya sudah cukup tua, tetapi masih tangguh untuk dikayuh.
Perjalanannya menjadi lebih cepat karena ditampuh dengan mengayuh. Ia letakkan secara sembarang dengan posisi tertidur sepeda tua itu. Ia lalu tersenyum. Entah kepada siapa. Tidak ada siapa-siapa di taman itu. Mungkin ia tersenyum kepada rumput hijau.
“Terima kasih sudah menungguku dan menyambutku. Maaf, aku tidak kunjung kembali. Tapi, lihatlah aku! Akhirnya aku datang kesini lagi.”
Ia berusaha berbicara. Kepada rumput. Seakan rumput itu sedang menyambutnya. Ia lalu tersenyum. Membaringkan tubuhnya di atas rumput yang masih hijau dan terlihat segar apalagi terkena sinar pantulan matahari pagi.

“ Hah...Sungguh menyenangkan. Ya kan? “
“ Ya kan?? ”

Ia menekankan pertanyaannya. Seakan sedang bertanya pendapat seseorang.

“ Ahh... sudah 5 tahun ya. “
“ Lima tahun juga rumput ini tiba-tiba bisu, Gus. “
“ Kamu terlalu cepat pergi. Aku jadi sendiri sekarang. “
“ Ingat tidak, sepeda itu? Dia sekarang jadi sahabatku. Tuh, dia sedang berbaring juga. Anggap saja mengisi tempatmu. “

Ia lalu menitikkan air mata.

“Ah, kenapa aku menangis! Aku sudah janji padamu kan Gus, aku tidak akan menangis lagi. Ya..sudah 5 tahun habis air mataku karena kamu! “
“Ya, cuma karena kamu! Tapi, Gus...Aku masih merasa kamu mengayuh sepeda di sampingku. Seperti waktu dulu. Sepeda-mu tua sekali, sungguh! “

Air mata itu hilang dengan senyum kecilnya.

“Hah...setiap minggu pagi, mulai dari hari ini, Aku pasti kesini terus, Gus. Sampai aku lelah nanti, sampai aku gak sanggup ngayuh sepeda-mu itu, sepeda butut! “
“ Tapi, setidaknya...Kamu suami terhebat yang pernah ada. Kamu sahabat kecilku yang paling juara, Gus! “
Setelah 5 tahun ia mengalami kerapuhan, kini ia memilih untuk memulainya semua kembali. Bukan untuk melupakan, tetapi untuk tetap menjaganya. Menjaga setiap kenangan, menjaga setiap kebiasaan, menjaga perasaan yang telah dipisahkan dengan alam yang berbeda.
***

January, 31th 2016



RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar