Teruntuk
Esok Hari dan Hari-Hari Selanjutnya.
Satu bulan Januari ini sangat berbeda. Berubah menjadi
seseorang yang tak bisa kemana-mana dengan sesuka hati, tak selincah biasanya,
terhenti untuk mengerjakan segudang rencana. Bukan karena tak ingin, tapi
karena tak bisa. Ada satu hal yang menghambat, dan hal itu benar-benar
membuatku sungguh kesal.
Mungkin, aku tak dapat menceritakannya secara rinci.
Tetapi sebut saja, aku sakit satu bulan di Jjanuari ini. Sakitnya tak bisa pula
kudeskripsikan. Awalnya aku kesal, karena aku sudah cukup menjaga pola hidupku.
Jadi, tak mungkin aku jatuh sakit dan penyakitnya itu pun cukup sederhana.
Tetapi, sakitnya terjadi selama sebulan ini.
Di surat ini, surat pertama yang kusebut surat cinta ini
aku tidak akan menceritakan kejadian bulan ini, tetapi hanya menjadi pelajaran
berharga bagiku. Ya, memang pengalaman yang sungguh buruk sekali. Saking
buruknya, aku tidak bisa marah ataupun kesal. Maka, kujadikan semuanya ini
hikmah, sebuah pembelajaran.
Dua hari yang lalu aku resmi menyelesaikan tugasku
sebagai mahasiswa strata 1. Bahagia bukan main. Ada gelar disematkan setelah 3
suku kata namaku. Gelarnya pun cukup membebani dan tak pernah aku bayangkan
sejak kecil. Aku memang tak pernah bercita-cita sebagai penegak hukum atau
penegak keadilan, atau profesi di bidang hukum. Tetapi, aku anggap ini takdir
yang membawaku hingga ke fase ini. Ini anugerah, kuakui. Karena 4,5 perjuangan
untuk menyelesaikan ini semua bukan perjalanan yang mudah.
Nah, di surat cinta pertamaku ini, aku tidak akan
mengirimkan kepada seseorang. Tapi, padaku sendiri. Pada hari esok dan
hari-hari selanjutnya yang akan kulalui. Besok, bulan Februari akan menyapa
kita semua. Siap atau tidak, dengan rencana atau tidak, kita harus menghadapi
bulan baru di tahun 2016. Sudah banyak rencana yang kususun, maka ingin kusapa
hari esok dengan semangat baru.
Kepada hari esok dan hari-hari selanjutnya, berbaik
hatilah kepadaku, berbaik hatilah kepada kami. Semoga apapun yang kulewati,
akan diberkahi Allah, dilancarkan segala urusan. Amin...
Oh iya, jujur saja selama hidupku aku belum pernah
menulis surat cinta. Dan, ya...aku hanya pernah menerima surat cinta tanpa
pernah membalasnya (hahaa! Sungguh !). Kini entah apa makna surat cinta bagiku
yang usianya telah 22 seperti ini. Jika aku masih remaja, entah itu duduk di
bangku sekolah menengah pertama atau di bangku menengah atas maka aku
deskrpisikan surat cinta itu sebagai surat pernyataan cinta kepada seorang
laki-laki. Hm..mungkin pemikiranku masih sejauh itu.
Tetapi, surat cinta yang akan kubuat selama 30 hari
kedepan akan kutujukan kepada setiap yang kulihat, setiap yang kurasa, setiap
yang kudengar, setiap yang kujumpai dan pada setiap yang kuharapkan. Maka, akan
berikan surat cinta, surat yang kutulis dengan sepenuh hati. Kepada siapapun
dan apapun itu.
Sampai sini dulu surat cinta ku ini. Surat cinta pertama
setelah bertahun-tahun lamanya, surat yang kutulis dengan sepenuh hati teruntuk
hari-hari baru di bulan Februari. Semoga esok hari lebih baik. Semoga
rekan-rekan yang membaca surat ini pun menjumpai kebahagiaan di hari esok dan
selanjutnya. Ciao!
Dari penulis surat cinta yang telah lama tidak menulis
surat cinta...
RED
@redinasyafril
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar