Teruntuk Daun Kering yang Kusapu Pagi Ini...
Selamat datang, Bulan Februari ! Itu
sapa-ku pagi tadi. Berniat bangun pagi sekali agar bisa menunaikan sholat subuh
tepat waktu. Seperti biasa membersihkan rumah sejenak dan halaman depan. Hal
biasa namun menyenangkan bagiku adalah ketika menyapu halaman. Biasa ? Jelas.
Tapi, benar kata Ibu bahwa membersihkan rumah
dapat memberi energi positif untuk hari itu. Maka, tak keberatan pula
aku menyapu setiap sudut halaman yang cukup besar ini.
Setiap pagi, aku menjumpaimu. Memang
tak berasal dari pohon yang ada di rumahku. Tetapi, kamu selalu saja singgah
dan terjatuh di halaman rumahku. Panggilan ‘kamu’ yang kumaksud di surat ini
adalah daun kering yang setiap hari selalu mampir dan parkir sejenak di halaman
rumahku. Ya, memang hanya dedaunan kering. Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi,
pagi ini aku tiba-tiba ‘ bercermin ‘ pada salah satu daun kering yang sedang
kusapu.
Teruntuk daun kering, kenapa kamu
begitu rapuh? Padahal keberadaanmu dinanti cukup lama oleh si empunya? Apakah
kamu begitu lelah berada di ranting pohon itu? Atau apakah tak ada tempat lagi
untukmu di pohon besar itu? Tak bisakah kamu tetap di sana dan tak jatuh lalu
rapuh ketika terinjak?
Setidaknya pertanyaan ini yang selalu
terlintas padaku tatkala melihat daun-daun berguguran dari tempat peraduannya,
dulu. Dan seketika jawaban itu muncul saat kamu kukumpulkan pada tempat sampah.
Ah...ya. Manusia pun begitu. Walaupun manusia dihiasi dengan dunia yang penuh
perhalusan. Baik itu kata-kata yang digunakan, perlakuan yang diberikan atau
segala sesuatu yang baik-baik. Ya, karena manusia tak sama dengan daun (yang
notabene adalah tumbuhan). Karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang
paling mulia dibanding makhluk hidup lainnya, hal ini tak pernah terbantahkan.
Maka, jelas sudah nasib manusia
berbeda.
Teruntuk daun kering yang kujumpai
pagi ini, mungkin kau telah begitu lelah hidup dan melekat di pohon itu. Lalu
berakhirlah hidupmu di halaman rumahku pagi ini. Aku tahu kamu sudah berjuang
keras bersama daun-daun lain yang ada di pohon itu. Aku tahu kamu pernah
berwujud tegap dan berwarna hijau segar. Hingga akhirnya dan pada waktunya kamu
pun berubah menjadi hijau tua, hijau tua pekat dan lebih pekat hingga berakhir
menjadi warna coklat.
Teruntuk daun kering yang kusapa pagi
ini, mungkin setiap kita punya masa. Sudah pasti. Lihatlah wujudmu kini. Dan
ya, aku sudah tahu jawabannya. Masa itu sudah kadaluarsa. Masa itu sudah
menjumpai akhirnya. Dan kamu pun tak bisa berbuat apa-apa.
Begitu jugalah aku, pasti. Suatu masa
nanti. Kini aku berdiri tegap di masa mudaku. Melakukan segala hal. Bertindak
semua yang kucita-citakan. Dan aku pun bernasib sama denganmu nanti. Aku akan
menjumpai masa di mana aku akan tua, dan berakhir jatah hidupku.
Tetapi aku yakin, wahai daun
kering...Aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Karena aku yakin, kamu
pun begitu dulu. Ketika masih menjadi daun yang muda.
Di akhir surat ini, teruntuk daun kering yang telah kuistirahatkan di tempatmu, ada pesan yang telah kau sampaikan padaku pagi ini.
Maka, izinkan aku mengucapkan terima kasih untuk pernah berjuang di atas sana,
di atas pohon kokoh di sebelah rumahku. Terima kasih sudah jatuh dengan indah
di halaman rumahku dan telah memberikan cermin yang dapat kugunakan sejenak.
Dari Seseorang yang Menyapa Pagimu...
RED
@redinasyafril
#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar