Senin, 01 Februari 2016

Masa

Teruntuk Daun Kering yang Kusapu Pagi Ini...

Selamat datang, Bulan Februari ! Itu sapa-ku pagi tadi. Berniat bangun pagi sekali agar bisa menunaikan sholat subuh tepat waktu. Seperti biasa membersihkan rumah sejenak dan halaman depan. Hal biasa namun menyenangkan bagiku adalah ketika menyapu halaman. Biasa ? Jelas. Tapi, benar kata Ibu bahwa membersihkan rumah  dapat memberi energi positif untuk hari itu. Maka, tak keberatan pula aku menyapu setiap sudut halaman yang cukup besar ini.

Setiap pagi, aku menjumpaimu. Memang tak berasal dari pohon yang ada di rumahku. Tetapi, kamu selalu saja singgah dan terjatuh di halaman rumahku. Panggilan ‘kamu’ yang kumaksud di surat ini adalah daun kering yang setiap hari selalu mampir dan parkir sejenak di halaman rumahku. Ya, memang hanya dedaunan kering. Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi, pagi ini aku tiba-tiba ‘ bercermin ‘ pada salah satu daun kering yang sedang kusapu.

Teruntuk daun kering, kenapa kamu begitu rapuh? Padahal keberadaanmu dinanti cukup lama oleh si empunya? Apakah kamu begitu lelah berada di ranting pohon itu? Atau apakah tak ada tempat lagi untukmu di pohon besar itu? Tak bisakah kamu tetap di sana dan tak jatuh lalu rapuh ketika terinjak?

Setidaknya pertanyaan ini yang selalu terlintas padaku tatkala melihat daun-daun berguguran dari tempat peraduannya, dulu. Dan seketika jawaban itu muncul saat kamu kukumpulkan pada tempat sampah. Ah...ya. Manusia pun begitu. Walaupun manusia dihiasi dengan dunia yang penuh perhalusan. Baik itu kata-kata yang digunakan, perlakuan yang diberikan atau segala sesuatu yang baik-baik. Ya, karena manusia tak sama dengan daun (yang notabene adalah tumbuhan). Karena manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dibanding makhluk hidup lainnya, hal ini tak pernah terbantahkan.

Maka, jelas sudah nasib manusia berbeda.
Teruntuk daun kering yang kujumpai pagi ini, mungkin kau telah begitu lelah hidup dan melekat di pohon itu. Lalu berakhirlah hidupmu di halaman rumahku pagi ini. Aku tahu kamu sudah berjuang keras bersama daun-daun lain yang ada di pohon itu. Aku tahu kamu pernah berwujud tegap dan berwarna hijau segar. Hingga akhirnya dan pada waktunya kamu pun berubah menjadi hijau tua, hijau tua pekat dan lebih pekat hingga berakhir menjadi warna coklat.

Teruntuk daun kering yang kusapa pagi ini, mungkin setiap kita punya masa. Sudah pasti. Lihatlah wujudmu kini. Dan ya, aku sudah tahu jawabannya. Masa itu sudah kadaluarsa. Masa itu sudah menjumpai akhirnya. Dan kamu pun tak bisa berbuat apa-apa.

Begitu jugalah aku, pasti. Suatu masa nanti. Kini aku berdiri tegap di masa mudaku. Melakukan segala hal. Bertindak semua yang kucita-citakan. Dan aku pun bernasib sama denganmu nanti. Aku akan menjumpai masa di mana aku akan tua, dan berakhir jatah hidupku.

Tetapi aku yakin, wahai daun kering...Aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Karena aku yakin, kamu pun begitu dulu. Ketika masih menjadi daun yang muda.

Di akhir surat ini, teruntuk daun kering yang telah kuistirahatkan di tempatmu, ada pesan yang telah kau sampaikan padaku pagi ini. Maka, izinkan aku mengucapkan terima kasih untuk pernah berjuang di atas sana, di atas pohon kokoh di sebelah rumahku. Terima kasih sudah jatuh dengan indah di halaman rumahku dan telah memberikan cermin yang dapat kugunakan sejenak.


Dari Seseorang yang Menyapa Pagimu...



RED
@redinasyafril

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar