Senin, 29 Februari 2016

Nikmatnyo Basamo

“Karena sebuah nilai dijumpai dari sebuah tradisi. Maka tradisi adalah sesuatu yang harus tetap lestari.”

 Nikmatnyo Basamo. Nikmat yang dapat dirasakan bersama ini dapat kita jumpai dalam suatu Budaya Minangkabau yang disebut dengan Makan Bajamba. Secara global, Indonesia memang memiliki karakter yang mengedepankan kebersamaan. Tidak heran, cukup banyak budaya di Indonesia yang juga memiliki nilai filosofi yang juga didasarkan pada nilai kebersamaan. Makan Bajamba yang merupakan budaya dari Masyarakat Minangkabau ini diketahui lahir dari sebuah daerah yaitu Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.[1] Budaya makan bajamba ini dapat diartikan sebagai makan bersama (dengan 3 sampai 7 orang yang duduk melingkar) yang menggunakan piring atau nampan (juga dapat disebut talam).

Makanan yang disajikan di atas nampan besar (talam) yaitu berupa nasi yang dicukupkan untuk jumlah orang yang akan makan bajamba beserta lauk pauk (biasa disebut samba) seperti Anyang Daging, Gulai Itiak Hijau, Gajeboh jo Cubadak. Selain ketiga samba itu, dapat pula dihidangkan samba nan salapan [2] lainnya seperti gulai ayam, rendang, asam gulai babat yang lebih di kenal dengan paruik lauak, karupuk tunjuk balado, terung balado pergedel, dan ikan pangek. Lauk pauk atau samba tersebut diletakkan di atas nasi lalu makanan telah siap untuk dinikmati bersama. Namun, ketika akan memulai makan, orang yang lebih tua di antara kita harus makan terlebih dahulu. Untuk para lelaki ketika makan bajamba haruslah duduk baselo (bersila), sedangkan untuk perempuan duduk basimpuah (bersimpuh).

(Dikutip dari https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/11/0e/cb/110ecba4095cd47448a095c132794984.jpg)

Selain yang disebutkan di atas, terdapat hal penting lainnya yang menjadi ciri khas makan bajamba dalam budaya Minangkabau. Nasi disuapi dengan cara sedikit melempar dengan tangan kanan dan tangan kiri digunakan untuk menampung nasi apabila terjatuh. Maka, ketika makan bajamba yang dilakukan 3-7 orang tersebut tidak akan “berdesakan” karena tidak perlu menunduk ketika menyuapi makanan. Selain itu, makan bajamba ini memperlihatkan bahwa hanya nasi beserta lauk pauk yang ada di hadapan kita saja yang boleh dimakan.

(dikutip dari http://images1.rri.co.id/thumbs/berita_230676_800x600_Makan_Bajamba_Tradisi_Budaya_di_Hari_Jadi_Kota_Bukittinggi_2.jpg)

Sekilas, makan bajamba ini nampak sederhana. Makan bersama dengan beberapa orang berserta cara-cara lainnya akan terasa “kosong” jika tidak dimaknai secara mendalam. Budaya makan bajamba ini sebenarnya menggambarkan beberapa filosofi hidup yang menjadikan pedoman bagi masyarakat Minangkabau. Pelaksanaan makan bajamba ini biasanya dilakukan ketika terdapat pesta pernikahan atau biasa disebut baralek dan juga biasa dilakukan saat batagak panghulu atau sebagai acara pengukuhan kepala adat di suatu  daerah di Minangkabau. Makan bajamba ini dilakukan untuk memperat tali persaudaraan di antara seluruh masyarakat di daerah tertentu di Minangkabau. Mereka berkumpul untuk merayakan suatu acara dengan makan bersama dengan saling berbagi.

Saling berbagi dari makan bajamba ini terlihat ketika kita dengan rasa tenggang rasa memikirkan orang lain dan tidak hanya menikmati makanan itu secara sendirian. Ketika duduk bersama dengan sanak saudara, rasa saling menghormati tersebut terlihat pula saat setiap orang harus menyuapi makanan dengan cara melempar ke mulut (dengan jarak yang dekat). Agar apa? Agar kepala tidak perlu ditundukkan dan menghalani orang lain yang sedang makan pula. Selain itu, ketika makan bajamba hanya diperbolehkan menghabiskan makanan yang ada di hadapan kita. Hal itu dimaksudkan bahwa kita hanya boleh mengambil apa yang menjadi bagian kita. Semuanya pun sudah dibagi rata. Menghargai apa yang dimiliki orang lain dan mensyukuri apa yang kita miliki adalah nilai yang ingin disampaikan dalam makan bajamba ini. Rasa tanggung jawab pun harus dimiliki dalam budaya makan bajamba ini. Karena apa yang berada di atas nampan atau talam tersebut harus dihabiskan secara bersama.

Dalam satu budaya saja, budaya sederhana yang dilakukan setiap hari dimana pun kita berada yaitu makan, di Minangkabau memiliki nilai yang dapat dipetik dan diamalkan bersama. Dewasa ini, pergeseran kebiasaan yang akhirnya dibudayakan orang banyak orang seperti makan berdiri, makan menggunakan sendok dan cara lainnya memang tidak cocok apabila dilakukan di daerah Minangkabau. Budaya seperti makan bajamba inilah yang memberikan kebahagiaan bagi banyak orang karena proses kehidupan sosial dapat tetap hidup.

Bukan tidak ingin membuka diri dengan cara atau budaya lain, tetapi indahnya budaya lokal yang tetap dilestarikan bahkan hingga kini oleh generasi masa sekarang adalah kunci utama agar budaya suatu daerah dan budaya – budaya yang ada di Indonesia tidak akan runtuh “dimakan” zaman.

Ingatlah bahwa seseorang yang membudayakan budaya di tengah  hal baru ataupun hal asing yang berdatangan bukanlah orang yang kolot, tetapi dia-lah orang yang mencintai dirinya sendiri, leluhur, negeri dan Sang Pencipta.

Bukittinggi, 29 Februari 2016


Redina Syafril Munir

Referensi :

(Artikel ini ditulis oleh untuk mengikuti Gramedia Blogger Competition #46thMenginspirasi #NowWeSee )




[1] Dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Makan_bajamba pada Senin, 29 Februari 2016 pukul 19:53 WIB
[2]   Dikutip dari http://www.pelangiholiday.com/2015/01/uniknya-makan-bajamba-di-bukittinggi.html pada Senin, 29 Februari 2016 pukul 20:11 WIB

1 komentar:

  1. sungguh beragam budaya Indonesia ya Uni, khususnya minangkabau. Makan bajamba itu mirip dengan tradisi Islam, dimana Nabi biasa makan basamo sahabat2nya dalam satu wadah atau bajana, makan menggunakan tiga jari. Makan jadi nikmat berkah pula hehe.

    BalasHapus