“Karena sebuah nilai dijumpai dari sebuah tradisi. Maka
tradisi adalah sesuatu yang harus tetap lestari.”
Nikmatnyo Basamo. Nikmat yang dapat dirasakan bersama ini dapat kita
jumpai dalam suatu Budaya Minangkabau yang disebut dengan Makan Bajamba. Secara global, Indonesia memang memiliki karakter
yang mengedepankan kebersamaan. Tidak heran, cukup banyak budaya di Indonesia
yang juga memiliki nilai filosofi yang juga didasarkan pada nilai kebersamaan.
Makan Bajamba yang merupakan budaya dari Masyarakat Minangkabau ini diketahui
lahir dari sebuah daerah yaitu Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.[1]
Budaya makan bajamba ini dapat diartikan sebagai makan bersama (dengan 3 sampai
7 orang yang duduk melingkar) yang menggunakan piring atau nampan (juga dapat
disebut talam).
Makanan yang disajikan di atas nampan besar (talam) yaitu berupa nasi yang dicukupkan
untuk jumlah orang yang akan makan bajamba beserta lauk pauk (biasa disebut
samba) seperti Anyang Daging, Gulai Itiak
Hijau, Gajeboh jo Cubadak. Selain ketiga samba itu, dapat pula dihidangkan samba nan salapan [2] lainnya
seperti gulai ayam, rendang, asam gulai babat yang lebih di kenal dengan paruik lauak, karupuk tunjuk balado, terung
balado pergedel, dan ikan pangek. Lauk
pauk atau samba tersebut diletakkan
di atas nasi lalu makanan telah siap untuk dinikmati bersama. Namun, ketika
akan memulai makan, orang yang lebih tua di antara kita harus makan terlebih
dahulu. Untuk para lelaki ketika makan bajamba haruslah duduk baselo (bersila), sedangkan untuk perempuan duduk basimpuah (bersimpuh).
(Dikutip dari https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/11/0e/cb/110ecba4095cd47448a095c132794984.jpg)
Selain yang disebutkan di atas, terdapat hal penting
lainnya yang menjadi ciri khas makan bajamba dalam budaya Minangkabau. Nasi
disuapi dengan cara sedikit melempar dengan tangan kanan dan tangan kiri digunakan
untuk menampung nasi apabila terjatuh. Maka, ketika makan bajamba yang
dilakukan 3-7 orang tersebut tidak akan “berdesakan” karena tidak perlu
menunduk ketika menyuapi makanan. Selain itu, makan bajamba ini memperlihatkan
bahwa hanya nasi beserta lauk pauk yang ada di hadapan kita saja yang boleh
dimakan.
(dikutip dari http://images1.rri.co.id/thumbs/berita_230676_800x600_Makan_Bajamba_Tradisi_Budaya_di_Hari_Jadi_Kota_Bukittinggi_2.jpg)
Sekilas, makan bajamba ini nampak sederhana. Makan bersama
dengan beberapa orang berserta cara-cara lainnya akan terasa “kosong” jika
tidak dimaknai secara mendalam. Budaya makan bajamba ini sebenarnya
menggambarkan beberapa filosofi hidup yang menjadikan pedoman bagi masyarakat
Minangkabau. Pelaksanaan makan bajamba ini biasanya dilakukan ketika terdapat
pesta pernikahan atau biasa disebut baralek
dan juga biasa dilakukan saat batagak
panghulu atau sebagai acara pengukuhan kepala adat di suatu daerah di Minangkabau. Makan bajamba ini
dilakukan untuk memperat tali persaudaraan di antara seluruh masyarakat di
daerah tertentu di Minangkabau. Mereka berkumpul untuk merayakan suatu acara
dengan makan bersama dengan saling berbagi.
Saling berbagi dari makan bajamba ini terlihat ketika
kita dengan rasa tenggang rasa memikirkan orang lain dan tidak hanya menikmati
makanan itu secara sendirian. Ketika duduk bersama dengan sanak saudara, rasa
saling menghormati tersebut terlihat pula saat setiap orang harus menyuapi
makanan dengan cara melempar ke mulut (dengan jarak yang dekat). Agar apa? Agar
kepala tidak perlu ditundukkan dan menghalani orang lain yang sedang makan
pula. Selain itu, ketika makan bajamba hanya diperbolehkan menghabiskan makanan
yang ada di hadapan kita. Hal itu dimaksudkan bahwa kita hanya boleh mengambil
apa yang menjadi bagian kita. Semuanya pun sudah dibagi rata. Menghargai apa
yang dimiliki orang lain dan mensyukuri apa yang kita miliki adalah nilai yang
ingin disampaikan dalam makan bajamba ini. Rasa tanggung jawab pun harus
dimiliki dalam budaya makan bajamba ini. Karena apa yang berada di atas nampan
atau talam tersebut harus dihabiskan secara bersama.
Dalam satu budaya saja, budaya sederhana yang dilakukan
setiap hari dimana pun kita berada yaitu makan, di Minangkabau memiliki nilai
yang dapat dipetik dan diamalkan bersama. Dewasa ini, pergeseran kebiasaan yang
akhirnya dibudayakan orang banyak orang seperti makan berdiri, makan
menggunakan sendok dan cara lainnya memang tidak cocok apabila dilakukan di
daerah Minangkabau. Budaya seperti makan bajamba inilah yang memberikan
kebahagiaan bagi banyak orang karena proses kehidupan sosial dapat tetap hidup.
Bukan tidak ingin membuka diri dengan cara atau budaya
lain, tetapi indahnya budaya lokal yang tetap dilestarikan bahkan hingga kini
oleh generasi masa sekarang adalah kunci utama agar budaya suatu daerah dan
budaya – budaya yang ada di Indonesia tidak akan runtuh “dimakan” zaman.
Ingatlah bahwa seseorang yang membudayakan budaya di
tengah hal baru ataupun hal asing yang berdatangan
bukanlah orang yang kolot, tetapi dia-lah orang yang mencintai dirinya sendiri,
leluhur, negeri dan Sang Pencipta.
Bukittinggi, 29 Februari 2016
Redina Syafril Munir
Referensi :
(Artikel ini
ditulis oleh untuk mengikuti Gramedia
Blogger Competition #46thMenginspirasi #NowWeSee )
[1] Dikutip dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Makan_bajamba
pada Senin, 29 Februari 2016 pukul 19:53 WIB
[2] Dikutip dari http://www.pelangiholiday.com/2015/01/uniknya-makan-bajamba-di-bukittinggi.html
pada Senin, 29 Februari 2016 pukul 20:11 WIB


sungguh beragam budaya Indonesia ya Uni, khususnya minangkabau. Makan bajamba itu mirip dengan tradisi Islam, dimana Nabi biasa makan basamo sahabat2nya dalam satu wadah atau bajana, makan menggunakan tiga jari. Makan jadi nikmat berkah pula hehe.
BalasHapus