Rabu, 03 Februari 2016

Terbiasa Sendiri

Teruntuk Kamu Yang Hari Ini Tersenyum Bahagia...


Tiga puluh menit yang lalu, aku tertegun sejenak melihatmu. Memang tidak melihat secara langsung, karena begitu canggihnya teknologi dan aku pun bisa melihat kebahagiaan itu. Terasa berbeda ketika aku melihat di dunia maya bahwa kamu hari ini tersenyum bahagia. Aku ingat begitu kekanak-kanakannya aku tidak mempedulikan kehadiranmu. Terkadang juga tidak bersemangat ketika kamu mengirim pesan singkat. Ataupun tidak begitu antusias karena perhatian yang kamu berikan.
Ya, itu waktu yang dulu. Mungkin beberapa hari yang lalu kamu masih bersikap ingin baik, ingin lebih dekat kepadaku. Tetapi sepertinya, kamu telah menemukan apa yang pantas kau dapatkan. Seseorang yang melihatmu. Bukan seperti aku, yang selalu mengabaikanmu.
Mungkin, kamu berpikir aku sudah lupa tentang apa yang pernah kita lalui dulu. Mana mungkin aku lupa? Aku memang gemar mengatakan diriku pelupa, tetapi nyatanya aku bisa mengingat banyak hal secara rinci pun bisa.
Aku ingat betapa gigihnya kamu mendekatiku dulu. Hingga aku pun ingat, ketika aku mengatakan bahwa aku sangat senang jika kamu bisa menjadi seorang sahabat. Tapi ya...tentu saja kamu tidak menerima itu. Aku pun ingat ketika kamu selalu melihatku dari jauh. Dan hingga hari itu, kita bertemu setelah dewasa. Setelah pertemuan itu, aku masih bertanya-tanya kenapa tidak pernah ada perasaan itu? Aku kembali, mengingatkan pada diriku bahwa kamu akan tepat bila menjadi sahabatku.
Aku pun pernah mengakui betapa “kejamnya” aku. Dan kamu tahu aku pun pernah menceritakan pada sahabatmu dan sahabatku juga. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku memang seseorang yang jahat. Aku tak pernah memberikanmu kesempatan sekali pun.
Tapi aku telah berdoa untukmu, agar kamu melupakanku. Mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan syukurlah, doaku terkabul. Hari ini aku melihatmu tersenyum. Terlihat bahagia. Dengan seseorang yang lain. Semoga ketika kita bertemu di lain waktu, kita bisa bertemu dan berbincang seperti seorang sahabat yang dekat, tanpa ada perasaan yang tertahan ataupun perasaan yang lain.
Semoga kamu berbahagia, sahabat lamaku. Dan terima kasih telah mengajarkanku bagaimana rasanya bertahan, menunggu dan pada akhirnya mengikhlaskan.
Dengan apa yang kulihat hari ini, aku kembali meneguhkan hati.  Karena aku telah terbiasa sendiri. Setidaknya apa yang dulu kutakutkan kini tidak terjadi. Aku akan kembali menjalaninya seperti biasa. Sembari melihat bentuk-bentuk kebahagiaan lainnya yang diperoleh oleh orang-orang yang selalu kudoakan.


Dari Seseorang yang Doanya Telah Terkabul...


RED

@redinasyafril

1 komentar: