Teruntuk Kamu Yang Hari Ini Tersenyum Bahagia...
Tiga puluh menit yang lalu, aku tertegun sejenak melihatmu.
Memang tidak melihat secara langsung, karena begitu canggihnya teknologi dan
aku pun bisa melihat kebahagiaan itu. Terasa berbeda ketika aku melihat di
dunia maya bahwa kamu hari ini tersenyum bahagia. Aku ingat begitu
kekanak-kanakannya aku tidak mempedulikan kehadiranmu. Terkadang juga tidak
bersemangat ketika kamu mengirim pesan singkat. Ataupun tidak begitu antusias
karena perhatian yang kamu berikan.
Ya, itu waktu yang dulu. Mungkin beberapa hari yang lalu
kamu masih bersikap ingin baik, ingin lebih dekat kepadaku. Tetapi sepertinya,
kamu telah menemukan apa yang pantas kau dapatkan. Seseorang yang melihatmu.
Bukan seperti aku, yang selalu mengabaikanmu.
Mungkin, kamu berpikir aku sudah lupa tentang apa yang
pernah kita lalui dulu. Mana mungkin aku lupa? Aku memang gemar mengatakan
diriku pelupa, tetapi nyatanya aku bisa mengingat banyak hal secara rinci pun
bisa.
Aku ingat betapa gigihnya kamu mendekatiku dulu. Hingga aku
pun ingat, ketika aku mengatakan bahwa aku sangat senang jika kamu bisa menjadi
seorang sahabat. Tapi ya...tentu saja kamu tidak menerima itu. Aku pun ingat ketika
kamu selalu melihatku dari jauh. Dan hingga hari itu, kita bertemu setelah
dewasa. Setelah pertemuan itu, aku masih bertanya-tanya kenapa tidak pernah ada
perasaan itu? Aku kembali, mengingatkan pada diriku bahwa kamu akan tepat bila
menjadi sahabatku.
Aku pun pernah mengakui betapa “kejamnya” aku. Dan kamu
tahu aku pun pernah menceritakan pada sahabatmu dan sahabatku juga. Aku
mengatakan kepadanya bahwa aku memang seseorang yang jahat. Aku tak pernah
memberikanmu kesempatan sekali pun.
Tapi aku telah berdoa untukmu, agar kamu melupakanku.
Mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan syukurlah, doaku terkabul. Hari
ini aku melihatmu tersenyum. Terlihat bahagia. Dengan seseorang yang lain.
Semoga ketika kita bertemu di lain waktu, kita bisa bertemu dan berbincang
seperti seorang sahabat yang dekat, tanpa ada perasaan yang tertahan ataupun
perasaan yang lain.
Semoga kamu berbahagia, sahabat lamaku. Dan terima kasih
telah mengajarkanku bagaimana rasanya bertahan, menunggu dan pada akhirnya
mengikhlaskan.
Dengan apa yang kulihat hari ini, aku kembali meneguhkan
hati. Karena aku telah terbiasa sendiri.
Setidaknya apa yang dulu kutakutkan kini tidak terjadi. Aku akan kembali menjalaninya
seperti biasa. Sembari melihat bentuk-bentuk kebahagiaan lainnya yang diperoleh
oleh orang-orang yang selalu kudoakan.
Dari Seseorang yang Doanya Telah Terkabul...
RED
@redinasyafril
Nice story...:D
BalasHapus