Teruntuk Sebuah Keberanian yang Kuharap Meyakinkanku...
Baru kali ini aku mengetik, membaca, lalu menghapus dan
mengetik ulang kembali. Hanya untuk sebuah surat kaleng. Bukan karena tidak
tahu apa yang ingin kutulis. Tetapi hanya pemikiran-pemikiran kecil dan konyol
yang datang dan pergi. Kemarin aku hendak menuliskan surat kaleng teruntuk
seseorang. Seseorang yang sudah lama kutemui dan banyak hal yang harus
kusampaikan. Namun entah kenapa waktu dan kesempatan tak pernah mempertemukan
kami. Takdir pun begitu. Mungkin saja tidak menghendakinya.
Biasanya pun ketika aku menulis cerpen atau apapun aku
tidak pernah meragu, paling tidak hanya memperbaiki satu atau dua kata. Tapi
hanya untuk 1 surat kaleng ? Aku telah duduk di depan laptop selama1,5 jam
dengan membaca ulang lalu menukar isinya. Dan pada akhirnya ? Surat kaleng itu
tidak kunjung selesai. Sejenak aku tertawa kecil. Lalu terpikir, “Ah, berarti
aku belum mengungkapkan semuanya dengan sungguh-sungguh.”
Maka, kuputuskan di lain hari ketika pikiran tenang akan
kutulis lagi, tanpa revisi. Hehe. Hmm... selain butuh pikiran yang tenang
ternyata aku pun tak punya keberanian yang cukup. “Bagaimana nanti dia tahu
kalau aku mengiriminya surat?” atau “Bagaimana setelah ia membaca surat itu
lalu tahu kalau aku yang menulisnya dan dia jadi ilfeel kepadaku?” atau
“Bagaimana kalau nanti dia mencelaku atau menertawakanku?”. Pemikiran-pemikiran
“bagaimana kalau nanti” itu-lah yang mengganggu dan menyebabkan surat kaleng
itu tak kunjung selesai.
Terkadang merasa bodoh, tapi terkadang aku buru-buru
refleksi diri. Aku tidak harus melakukan ini. Tapi ada sedikit keinginan kalau
aku harus menulis ini. Dan keberanianku mulai pasang surut. Tak stabil.
Terkadang goyah, terkadang tersadar dan mulai menulis lagi. Keraguan itu
mematahkan keberanianku. Dan entahlah, apakah surat kaleng itu akan kutulis
atau tidak.
Tapi, teruntuk keberanianku yang tiba-tiba bersembunyi
untuk hal ini...Aku tidak tahu hal ini benar atau tidak. Aku tahu kalau
keberanianku akan mengikuti kata hatiku dan pasti mendengar aba-aba dari
logikaku. Ah...I feel like a fool. Haha...Hanya untuk memutuskan hal ini saja
terlalu banyak pergolakan. Heuu.
Dari Aku yang Tertawa Kecil Karena Keraguan Konyol
Kecilku
RED
@redinasyafril
Tidak ada komentar:
Posting Komentar