Senin, 22 Februari 2016

Untuk Sebuah Keberanian

Teruntuk Sebuah Keberanian yang Kuharap Meyakinkanku...

Baru kali ini aku mengetik, membaca, lalu menghapus dan mengetik ulang kembali. Hanya untuk sebuah surat kaleng. Bukan karena tidak tahu apa yang ingin kutulis. Tetapi hanya pemikiran-pemikiran kecil dan konyol yang datang dan pergi. Kemarin aku hendak menuliskan surat kaleng teruntuk seseorang. Seseorang yang sudah lama kutemui dan banyak hal yang harus kusampaikan. Namun entah kenapa waktu dan kesempatan tak pernah mempertemukan kami. Takdir pun begitu. Mungkin saja tidak menghendakinya.

Biasanya pun ketika aku menulis cerpen atau apapun aku tidak pernah meragu, paling tidak hanya memperbaiki satu atau dua kata. Tapi hanya untuk 1 surat kaleng ? Aku telah duduk di depan laptop selama1,5 jam dengan membaca ulang lalu menukar isinya. Dan pada akhirnya ? Surat kaleng itu tidak kunjung selesai. Sejenak aku tertawa kecil. Lalu terpikir, “Ah, berarti aku belum mengungkapkan semuanya dengan sungguh-sungguh.”

Maka, kuputuskan di lain hari ketika pikiran tenang akan kutulis lagi, tanpa revisi. Hehe. Hmm... selain butuh pikiran yang tenang ternyata aku pun tak punya keberanian yang cukup. “Bagaimana nanti dia tahu kalau aku mengiriminya surat?” atau “Bagaimana setelah ia membaca surat itu lalu tahu kalau aku yang menulisnya dan dia jadi ilfeel kepadaku?” atau “Bagaimana kalau nanti dia mencelaku atau menertawakanku?”. Pemikiran-pemikiran “bagaimana kalau nanti” itu-lah yang mengganggu dan menyebabkan surat kaleng itu tak kunjung selesai.

Terkadang merasa bodoh, tapi terkadang aku buru-buru refleksi diri. Aku tidak harus melakukan ini. Tapi ada sedikit keinginan kalau aku harus menulis ini. Dan keberanianku mulai pasang surut. Tak stabil. Terkadang goyah, terkadang tersadar dan mulai menulis lagi. Keraguan itu mematahkan keberanianku. Dan entahlah, apakah surat kaleng itu akan kutulis atau tidak.

Tapi, teruntuk keberanianku yang tiba-tiba bersembunyi untuk hal ini...Aku tidak tahu hal ini benar atau tidak. Aku tahu kalau keberanianku akan mengikuti kata hatiku dan pasti mendengar aba-aba dari logikaku. Ah...I feel like a fool. Haha...Hanya untuk memutuskan hal ini saja terlalu banyak pergolakan. Heuu.


Dari Aku yang Tertawa Kecil Karena Keraguan Konyol Kecilku


RED

@redinasyafril

Tidak ada komentar:

Posting Komentar