Minggu, 21 Agustus 2016

Kopi Untuk Tami

“Untuk sebuah kesunyian yang tersimpan dalam hati. Untuk sebuah kejujuran yang terungkap setelah jauh berlari. Untuk sebuah kisah yang dimulai dari segelas kopi. “
***
Jika saja perjalanan ini tidak pernah dimulai, segalanya tidak akan pernah berubah. Benar kata sebagian orang yang bijak ( yang mengaku dirinya bijak atau bahkan mereka memang bijak ) “Perubahan akan terjadi ketika menggerakkan.” Menggerakkan apa yang tadinya diam. Tergerakkan karena suatu ketidaknyamanan. Jika saja segelas kopi itu tak kuterima, mungkin segala rahasia terpendam begitu saja. Tak terkuak. Tak terungkap. Bila aku tak mencoba untuk meminum kopi pemberian Mbok Atis saat itu, hari ini mungkin tak pernah ada. Aku tak mungkin menjadi Tami yang normal lagi.

Pemberontakan yang direncanakan bertahun-tahun lamanya akhirnya pecah juga. Ibarat perang antara 2 negara dan tak dapat diredam lagi, aku dan Ayah adalah 2 negara yang siap saling menyerang. Siap saling membombardir, hingga tak ada yang ingin saling mengalah.Pemberontakan yang kubicarakan tadi bukan sekedar amarah yang meluap, kekesalan yang memuncak atau sekedar pergolakan anak remaja.

Pemberontakan ini lebih mengarah pada langkah besar yang sungguh kuno. Istilah umumnya “kabur dari rumah”. Istilah yang sedikit berkelasnya mungkin bisa disebut “belajar mandiri dengan hidup sendiri”. Setiap uang saku yang kuterima dari Ayah selalu kusimpan dan kutabung. Bekal untuk perjalanan yang dibumbui dengan pemberontakan. Yap! Tepat di umur 19 tahun ini. Ya, ini yang kutunggu-tunggu. Rencana kali ini kupastikan mulus. Malam ini aku berangkat.

***

“Oke, nginep di Kuta terus lanjut ke Kintamani. Ada Danau Batur yang keren juga katanya. Fix! Bali akan jadi first escape gue! “

Dua setengah jam. Info klasik yang dicari dari internet cukup melegakan. Setidaknya, hanya butuh waktu 2,5 jam untuk mengunjungi danau yang terkenal itu. Mencari tempat dan spot-spot pemandangan yang menakjubkan bisa menjadi pelarian sesaat. Ya, asalkan tidak sampai 4 jam. Tami bergegas membawa ranselnya. Sembari menunggu mobil yang dijanjikan mbak yang bekerja di tempat Tami menginap, Tami memandang jauh ke langit Bali yang hari ini biru bersih.

“Ayah sedang sepeda-an kemana, ya?”. Lamunan itu buyar ketika mobil yang akan ditumpangi Tami akhirnya tiba setelah 10 menit.

Sejenak, Tami melupakan hal-hal konyol yang tiba-tiba menghampiri pikirannya.  “Ayah tidak akan sesedih itu.” Kembali Tami bermenung.

“Kan ada Tante Igit. Anaknya Tante Igit juga ada. Toh itu yang Ayah mau. Ayah sudah membentuk keluarga kecilnya sendiri. Tanpa aku, Ayah baik-baik aja.” Tami mengecek smartphone-nya. Sampai 2 hari ini juga Ayah Tami tidak menghubunginya.”

Satu jam, lalu dua jam, mobil yang Tami tumpangi berhenti di sebuah warung. Ada 5 penumpang yang melakukan perjalanan ke Kintamani. Tiga orang adalah 1 keluarga yang Tami gambarkan sangat bahagia karena terlihat dari keakraban mereka bertiga, ayah-ibu beserta anaknya yang kira-kira berumur 10 tahun. Satu lagi seorang pria yang kira-kira berumur 30-an, seperti sedang melakukan perjalanan “escape” versi pegawai kantoran. Terlihat dari wajahnya cukup stress, namun setelah memandang pepohonan yang rimbun, wajahnya lalu sumringah. Dan satunya lagi, seorang remaja yang seharusny dalam waktu dekat beranjak dewasa yang sedang melakukan perjalanan “pemberontakan”. Tami lalu tertawa kecil. Seakan-akan merasa pandai setelah membaca seluruh raut wajah penumpang lain.

“Mbak, mau minum apa?” tanya  seorang Ibu paruh baya  kepada Tami sembari menyajikan gorengan hangat kepada pria kantoran perawakan 30-an tadi.

“Teh ada, Bu?”
“Kopi aja mau ndak? Soalnya teh-nya belum dipanasin.”
“Oh, kalo gitu, enggak usah deh Bu...Makasih....”
Pria kantoran tadi lalu mengajak Tami mengobrol.
“Padahal entar di Kintamani lo harus nyoba kopinya. Kalo gak suka kopi kan sayang banget ya jauh-jauh ke Kintamani.”

Tami yang sedang sibuk melihat pemandangan sekitar merasa terusik dengan ucapan pria kantoran tadi.

“Ya kalo gak suka ya mau gimana. Lagipula ke Kintamani kan bisa lihat pemandangannya juga. Selain mau nyari kopi, Mas.” jawab Tami.
Pria kantoran tadi tiba-tiba tertawa kecil.
“Mas? Gue tua banget ya mukanya?”
Tami mulai gerah meladeni pria kantoran ini.

“Terus gue harus manggil apa? Bang? Emang Mas abang kandung saya? Atau Om??” Tami tidak bisa menahan kejutekan yang tanpa ia sadari mulai meninggikan suaranya.


“Duh, muka boleh segitu lah ya, 30an atau berapalah. Tapi angka depannya masih 2 lah. “ Pria kantoran itu menjawab santai.

“29? Oke, Bang! “
“Wahh...lo pinter banget. Eh mengingat gue gak akan ngajak lo ngomong selama di mobil atau sesampainya di Kintamani, sedikit wejangan buat lo yang gue rasa sedang liburan sembari kabur dari rumah, selagi lo belum suka, apa salahnya mencoba. Setelah mencoba, lo akan pernah mau mencari alasan untuk gak suka. Terutama tentang kopi. Selagi muda, Dek. Coba segalanya yang baik-baik.”

Tami  berlalu tak ingin menghiraukan ucapan pria kantoran itu. Sisa perjalanan ke Kintamani, Tami lewati dengan tidur pulas. Ia bertekad akan terbangun di kawasan Kintamani dan akan terkagum-kagum dengan pemandangannya.

***

“Wah....”
Tami hanya bisa tercengang.
This is life, Tam! No doubt! Gue gak akan pernah menyesal pernah kesini.”
Tami dan rombongan lain menuju suatu tempat makan siang yang pemandangannya langsung mengarah pada Danau Batur. Ketika yang lain sedang fokus pada seorang penjual kopi di sekitaran jalan, Tami hanya memandangi seorang wanita yang sedang memikul kerangjang rotan yang cukup besar di punggungnya. Tanpa disadari, Tami berlari ke arahnya.

“Sini saya bantu, Bu.”

Wanita tua itu tersenyum melihat Tami.
“Aduh, ada yang mau bantuin si Mbok ini ya.”
“Hehe, sini saya bantu Mbok.”
Tami dan Mbok bersama-sama membawa keranjang rotan besar itu. Pria kantoran yang memberi Tami wejangan tadi lalu berteriak dari kejauhan “Jangan lupa mencoba, Dek!”

***

“Mencoba opo toh ndok kata laki-laki tadi?” Mbok memulai percakapan ketika mereka sudah sampai di sebuah rumah kayu yang cukup hangat.
“Oh, enggak Mbok. Omongannya gak jelas tadi. Tapi dia nyuruh saya nyoba kopi. Padahal saya gak pernah minum kopi. Hhehe. Kopi kan pahit. Aku gak pernah suka kopi.”
“Oh begitu. Kenapa toh ndak suka. Padahal ndak semua kopi itu pahit. Sama halnya dengan ndak semua orang itu baik dan ndak semua orang itu jahat. Ndak semua kehidupan menyakitkan dan ndak semua kehidupan itu membahagiakan. Ya toh?”

“Iya, Mbok. Bener. Tapi aku belum pernah nemuin kopi yang gak pahit. Sama halnya dengan gak pernah aku temuin orang yang bener-bener tulus dan baik dan orang yang bener-bener jahat dan kejam. Hehe. Iya kan, Mbok?”

“Hmm..iya ndok. Coba minuman ini ya. Ini namanya kopi yang ndak pahit. Kopi yang akan buat si ndok ini jadi suka kopi.”
Tami menerima cangkir dari Mbok. Tami nampak ragu-ragu. Sudah jelas ia tidak akan ingin mencoba minuman kopi pahit ini. Tetapi, senyum kecil lalu tersungging di wajah Tami. Ia lalu meneguk kopi itu lagi.

“Gimana ? Enak toh ndok?”
“Enak. Gak pahit.” Tami tersenyum kepada Mbok.
“Setidaknya kita terbuka pada setiap hal. Apalagi yang baik-baik, seperti kopi ini ndok. Kopi Kintamani itu kopi yang bersahabat untuk yang ndak suka kopi yang pekat dan pahit. Syukurlah si ndok sekarang suka kopi.”
“Setidaknya ya Mbok. Setidaknya semua harus dicoba pada awalnya. Mbok, kalau aku mencoba untuk jujur pada diri sendiri, mencoba untuk lebih terbuka, mungkin aku gak akan sampai di rumah si Mbok ya? Hehe.”

“Loh, kenapa gitu toh ndok? Memangnya si ndok datang kesini karena sedang marah ya?”
“Hmm..iya...” jawab Tami singkat.

“Setidaknya ya Mbok, kalau aku bisa bicara dengan orang yang selalu aku percaya, hari ini gak akan ada ya Mbok?” ucap Tami sembari memikirkan Ayahnya.

“Memang nya si ndok ada masalah apa? Kok jadi sedih begini?”

“Aku sedang lari Mbok. Tapi gak tahu gimana caranya kembali lagi.” Jawab Tami mulai menahan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.

“Kalau si ndok sedang berlari, si ndok juga harus tahu kapan akan berhenti untuk istirahat atau untuk benar-benar berhenti. Jangan lari lalu tersesat, ndok.”
“Iya, Mbok. Setelah minum kopi ini, setidaknya perasaan ingin lari ini makin lama makin hilang. Hmm..jadi kangen Ayah.” Tami lalu menggenggam kopi yang masih hangat itu.

“Ayah-nya ndok pasti sedang sedih mencari sekarang. Pulanglah sebelum makin jauh berlari yah?”
“Iya, Mbok. “ Tami lalu tersenyum lagi dan bersiap pergi.


“Makasih ya Mbok, kopinya hangat. Mungkin aku selama ini merasa kedinginan. Tapi kopi ini benar-benar menghangatkan.”


***



21 Agustus 2016





RED


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar