II
Menari
Bersamamu
Sudah kuduga. Dia
akan menjadi perempuan yang cantik. Mungkin menyukai dan mengaguminya adalah
suatu pencapain terbaik sepanjang kehidupanku selama remaja. Sama halnya dengan
remaja perempuan, laki-laki ketika remaja pun perlu menentukan cinta pertamanya
dengan tepat. Cantik. Harga mati. Maka pilihanku tak akan pernah salah. Hingga
kini pun, dengan bermodal social media
aku tetap bisa melihat kehidupannya yang cukup luar biasa. Bertemu dengannya?
Sebelum mati pun, itu yang harus aku lakukan.
Walaupun aku sudah
berganti-ganti pacar, bukan berarti aku berhenti menyukainya. Bahkan ketika aku
sempat menjomblo beberapa waktu, dia yang pertama kali aku hubungi sejak
bertahun-tahun lost contact. Seperti
yang diharapkan, dia memang asyik diajak bicara. Tidak pernah kehabisan bahan.
Walaupun selalu jutek dan sinis. Hingga pada suatu ketika, aku baru sadar kalau
aku menjadi laki-laki yang tidak tahu diri. Setelah dekat dengan junior di
kampus, aku malah jadian dengannya. Dan dia? Cinta pertamaku itu? Terlupakan
dengan kebodohanku. Ia pasti sudah menganggapku cowok tak berperasaan.
Rasa suka itu
muncul ketika kami SD. Lucu memang. Aku baru melihatnya setelah 3 tahun
kemudian. Memang kami dulu pernah berada di
TK yang sama. Lalu dia masuk ke SD ke yang lain dan akhirnya pindah ke
SD yang sama denganku. Rambutnya yang bergelombang, tinggi badannya yang sama
denganku, dan lesung pipi yang merekah ketika ia mulai tersenyum dan tertawa.
Ternyata tidak berubah setelah 5 tahun tidak pernah bertemu. Satu hal lain yang
aku ingat sampai sekarang. Kami tidak pernah berbicara langsung. Sepatah kata
pun.
***
“Jadi gimana
katanya? Mau gak?” Aku bertanya gugup kepadanya.
“Ya pasti enggak
lah. Mana ada cewek ditembak lewat temennya. Ada gak menurut lo? Terus dia
bilang gini.....” jawab Agni, seorang teman perempuan yang aku mintakan tolong
untuk mengatakan kepada Kinar bahwa aku suka padanya.
“Apa apa? Dia
bilang apa?” Aku makin gugup tak karuan.
“Katanya dia gak
akan nerima lo. Soalnya Syimi juga suka sama lo. Gitu katanya. Lo tahu sendiri
kan, mereka se-geng. Kalo dari mereka suka sama cowok yang sama, salah
satunya pasti ngalah.” jelas Agni menyampaikan semua yang disampaikan Kinar.
“Ha? Syimi? Ya
terus hubungan geng, Syimi suka sama gue apa? Yang gue suka kan Kinar. Apa urusannya
sama Syimi. Terus gue gimana? Jadi dia gimana ? Kinar suka sama gue apa enggak
sebenernya?” Aku mulai bicara emosi.
“Kalo kedengerannya
sih Kinar suka sama lo. Tapi kalo dia bilang gitu, lo berarti ditolak, Rik.”
jawab Agni sembari berlalu meninggalkanku, berusaha mengartikan ucapan yang
Kinar. Abstrak dan buram.
Setelah hari itu, aku tidak pernah berusaha mencari
jawaban yang tidak terjawab. Semakin dipikirkan, semakin banyak yang aku
pertanyakan. Mulai hari itu, aku berhenti memikirkannya. Tapi rasa suka ini,
entah kapan akan berakhir. Kelas 6 dan sudah menyukai perempuan adalah sebuah
pencapaian terbesar untuk seorang remaja. Dua bulan lagi akan menjadi anak SMP,
maka pergerakannya harus lebih cepat. Aku harus sudah punya pacar ketika SMP
nanti. Entah bagaimana caranya. Entah dengan siapa. Tapi yang jelas, aku tetap
tidak bisa melupakan Kinar begitu saja. Bagaimana bisa.
Celakanya, dia selalu muncul di hadapanku. Hari ini
adalah ujian akhir kelas seni budaya. Kami harus menari secara berpasangan.
Melihatnya di sana, memakai rok kuning dan mulai menari dengan Adib, aku mulai
panas. Entah perasaan marah atau kesal yang menggerakkan kaki ini, aku berjalan
ke arah mereka. Mereka berhenti menari dan mulai menatapku.
“Tadi kata Pak Bayu, gue disuruh ganti pasangan. Soalnya
Adib lebih cocok sama Syimi.” Aku mengatakan dengan percaya diri agar terdengar
meyakinkan.
“Oh iya? Hmm.. Ya udah.” Adib menjawab singkat dan
meninggalkan Kinar dalam waktu yang singkat.
Kini tinggal kami berdua. Ini yang kuinginkan tapi tidak
tahu harus berbuat apa. Kami hanya
terdiam tanpa berbicara sampai beberapa menit. Ketika ada aba-aba mulai
menari, barulah kami saling berhadapan. Aku mulai menegakkan kepala. Berusaha
melihatnya. Tapi mata kami tidak saling memandang. Kinar tetap menari sesuai
irama musik. Ia seperti tidak mempedulikanku. Walaupun ia tetap menjadi
pasangan menariku.
Aku masih saja terdiam. Tidak bisa memulai percakapan di
antara kami. Jika aku tidak juga mengajaknya bicara kini, aku yakin di masa
depan entah salah satu di antara kami pasti akan menyesal. Atau kami berdua
akan menyesal. Entah bentuk penyesalan apa yang aku maksud. Hanya hati ini yang
bisa menjawab. Kini dan di masa depan. Kami masih tetap menari dan menari.
Hingga musik selesai, ia lalu meninggalkanku.
Tiga bulan kemudian, penyesalan itu benar-benar terjadi.
Aku dan Kinar masuk ke SMP yang sama. Dan tetap, kami tidak saling bicara.
Kinar bisa sangat akrab dengan teman-temanku. Begitu juga denganku. Aku bisa
bercanda dan tertawa dengan teman-temannya. Tapi jika mata kami tiba-tiba
bertemu, Kinar langsung memalingkan wajahnya. Aku merasa ‘Ah, dia mungkin tidak
menyukaiku lagi.’ Sejak saat itu, aku tidak memikirkannya lagi. Aku mulai
berpacaran dengan Agni. Orang yang membawa pesan suka-ku kepada Kinar.
***
Menjadi mahasiswa
lagi adalah the worst plan ever.
Seharusnya sudah menjadi pegawai kantoran atau setidaknya aku sudah menjadi
seorang profesioanl, tetapi inilah aku sekarang. Melanjutkan S2 adalah upaya
terakhir di tengah kekalutan sebagai pengangguran 1 tahun lamanya. Pilihan
untuk tinggal di kos ini juga tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Membuka
cerita lama, lama sekali. Bahkan mengalahkan cinta monyet yang ada. Bagaimana
aku harus menghadapinya? Apa yang harus aku katakan padanya?
Setelah melewati
satu hari ini, aku belum bertemu lagi dengan Kinar. Mungkin dia belum pulang
kerja atau sedang kelayapan di luar sana. Ah, entahlah. Peduli apa aku dengan
Kinar. Aku juga sudah punya pacar. Tapi, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku
hanya bisa memikirkan bagaimana aku bisa tinggal berdekatan dengan Kinar?
Terlebih, ada urusan yang belum kuselesaikan dengannya. Bertahun-tahun lamanya.
Ingin melihat
keadaan malam di sekitar perumahan ini, aku mengambil jaket dan berjalan-jalan
sebentar. Saat akan membuka pintu, Kinar terlihat masuk dan membawa banyak
kantong plastik. Mungkin, untuk lebih mendekatinya aku tidak harus mulai dengan
pembicaraan. Tapi dengan membantunya membawa kantong plastik yang seabrek itu.
“Banyak amat
belanjaan lo. Sini, gue bawain.” Aku menawarkan bantuan kepadanya sambil meraih
kantong plastik yang super berat ini.
“Gak usah. Gue bisa
sendiri.” Kinar menjawab singkat dan berlalu meninggalkanku.
“Sok kuat lo. Berat
banget loh itu. Sini gue bantuin.” Aku masih berusaha menawarkan bantuan
Kinar lalu meletakkan barang belanjaannya di lantai
garasi dan ekspresi wajahnya berubah.
“Kayaknya kita
bukan dalam hubungan yang saling bantu kayak gini deh. Lagipula, lo kok bisa
bersikap cool dan seolah-olah itu kita temen deket atau bahkan temen baik.
Tetap kayak lo yang dulu aja. Anggap gue gak ada. Kayak dulu. Bahkan ketika gue
ada di depan lo. Anggap gue gak ada. Hmm? Oke?”
Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Sekarang aku
memahami bentuk penyesalan berantai yang terjadi bertahun-tahun lamanya ini.
“Lo gak bisa ngelupain yang dulu ya, Nar? Lo masih anggap
gue itu cowok yang hobinya mainin perasaan cewek ya?” tanyaku dengan nada suara
tenang.
“Ini yang gak pernah gue pahamin. Sampai kapan lo akan
sadar kalo sikap lo itu bahkan menyakiti orang dalam waktu yang lama.
Seakan-akan orang itu yang salah. Padahal semua kesalahan itu, lo yang ciptain.
Hah...Rik. Sekarang kita di umur yang bukan remaja lagi. Banyak yang harus
dipikirin. Bahkan cerita basi kayak gini gak usah diungkit-ungkit. Kalau lo gak
dateng kesini, hidup gue udah cukup tenang. Tapi.....”
Pembicaraan kami terpotong karena seseorang yang datang
ke rumah. Karena sudah malam, aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari
perawakannya orang itu rupanya Riyo. Riyo adalah teman dekatku. Riyo juga teman
satu sekolah dengan Kinar dari TK bahkan hingga SMA. Dan mendengar dari
teman-teman yang lain, Riyo juga menyukai Kinar sejak SMP mungkin hingga
sekarang.
Kinar masih terdiam dan berdiri di antara barang
belanjaan yang ia jatuhkan. Melihat Riyo ada di hadapannya, Kinar tidak bisa
berkata apa-apa. Aku lalu menyambut Riyo yang membawa koper dan membantu
membawakannya. Kami bertiga lalu berdiri dan saling memandang. Hingga aku
memutuskan untuk membuka percakapan di tengah suasana yang awkward ini.
“Oh iya, Nar. Nyokap lo udah cerita kan kemaren. Ada satu
lagi yang bakal ngekos di atas bareng
gue. Riyo yang bakal ngekos bareng gue.”
Kinar masih terdiam dan memandang kami berdua. Seperti
ibu kos yang galak, matanya juga memancarkan aura angker seakan bersiap
memarahi kami berdua.
“Hmm...Bener-bener nih Mama. Gak bisa biarin hidup gue
tenang, sekali aja.”
Kinar mulai menampakkan wajah kesalnya.
“Jadi, yang ngekos bareng lo, Riyo? Hah. Joke macam apaan
nih? Jadi, gue harus ketemu kalian tiap hari, ngeliat kalian tiap hari,
aaaghhhhh!!!!”
Teriakan Kinar membuat kami terkejut. Aku tidak pernah
melihat dia seemosi dan sekesal ini. Yang aku ingat tentang wajah Kinar adalah
senyum dan tawanya. Tapi situasi sekarang jauh berbeda. Mungkin aku dan Riyo seperti
akan digebuk habis-habisan olehnya.
“Kalian mau tahu
apa resolusi gue tahun ini?” Kinar bertanya kepada kami dengan pandangan dead eyes.
Aku dan Riyo serentak terpaku menatapnya dan berusaha
mendengarkan apa yang diucapakan Kinar.
“Hidup di masa kini. Gak akan pernah berurusan dengan
masa lalu. Apapun itu. Masalah, kejadian, kenangan, orang-orangnya, dan yang
berhubungan dengan yang basi-basi, termasuk kalian. Itu resolusi yang
seharusnya gue capai. Sekarang bulan september, kan? Setidaknya gue masih punya
4 bulan lagi untuk pertahanin ini semua. Hidup gue udah cukup tenang. Tapi,
kalian.......”
Riyo yang tak ingin membuat Kinar makin emosi berusaha
menenangkannya.
“Gue gak bermaksud untuk ganggu lo kok, Nar. Ya walaupun
selama ini gue kayak stalker dalam hidup. Tapi, gue janji kok gak akan ganggu
hidup lo.”
“Hah? Setidaknya lo sadar kesalahan lo ya. Apa gue aja
yang keluar dari rumah ini dari cari kosan ? Kenapa dari sekian banyak orang,
kalian berdua yang ada di hadapan gue sekarang? Aarghh, stresss!”
Kinar mengangkat semua belanjaannya dan masuk ke dalam
rumah. Tanpa pikir panjang aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan yang
tak pernah dibicarakan bertahun-tahun lamanya ini.
“Apa salahnya hidup di masa lalu, Nar? Toh ga semua buruk
kan. Kita semua punya kenangan. Dan gak ada salahnya kalo kita ingat-ingat
sampai sekarang. Lo bukan gak mau hidup di masa lalu. Lo cuma lelah dan
menyesal kenapa masa lalu jadi susah dilupain dan dimaafin sekarang.”
Ucapanku membuat langkahnya terhenti. Kinar menjatuhkan
kantong plastiknya lagi.
“Terus gue harus apa? Gue yang terjebak di permainan lo,
tapi gue yang harus menderita. Itu maksud lo? Iya, gue akuin. Rasa suka ke lo
dulu terdengar bodoh dan gegabah. Dan gue jatuh di hal yang sama, 2 kali. Apa
gak ada kesempatan buat gue suka sama orang yang tepat? Setidaknya biarin gue
ngelupain. Sekali aja. Bukannya ngelupain itu satu-satunya cara kita bisa bahagia?
Angin malam ini cukup dingin. Hingga mendengar ucapan
Kinar, tubuh hingga perasaan ini mendadak dingin. Kinar bergegas masuk ke rumah
dan tinggalah aku dan Riyo. Riyo hanya terdiam dan melihat sikap Kinar yang tak
pernah ia kira bakal semarah ini. Ia mengharapkan sambutan yang hangat dan
wajah sumringah dari Kinar. Melihat Riyo berdiri terpaku, aku membawanya ke
kamar atas. Membantunya membereskan kamar. Karena kali ini, Kinar tidak mungkin
akan membantu kami membersihkan kamar Riyo. Ia sudah cukup menyeramkan hari
ini.
Besok harinya, aku dan Riyo harus ke kampus mengurus
administrasi sebagai mahasiswa baru. Kali ini, aku satu kampus, satu jurusan
bahkan satu kosan dengan teman masa kecil hingga sekarang yang selalu menjadi
kompetitor basketku. Aku sebenarnya jarang bertemunya. Hanya belakangan kami
selalu bersama, jadi akhir-akhir kami lebih dekat. Kalau bicara tentang Riyo
dan Kinar, mereka termasuk kisah klasik yang belum ada ending-nya. Aku hanya mendengar dari Hiram, salah satu teman dekat
kami juga, dan Hiram juga dekat dengan Kinar ketika SMA. Hiram pernah
menceritakan kalau Kinar sudah beberapa kali menolak Riyo yang selalu
mendekatinya.
Tapi aku tidak tahu alasan pastinya kenapa. Alasan klise
yang selalu Kinar gunakan ketika menolak cowok yang naksir dengannya (yang aku
tahu ketika SMP sampai SMA) adalah dia belum mau pacaran. Kinar ingin fokus
sekolah. Karena alasan itu mungkin saja Riyo masih mengharapkan Kinar yang
membuka hatinya untuk Riyo. Jika dilihat dari gelagat Kinar tadi malam,
pendekatan Riyo mungkin belum berhasil juga. Wah, Kinar is one of a kind. Berbeda dari perempuan lainnya. Susah didekati.
Antara misterius dan jual mahal. Tapi aku yakin, Kinar punya alasan sendiri
untuk itu.
Aku melihat Kinar dari tangga sedang memakai sepatu di
teras. Wajahnya sudah tidak sekusut tadi malam. Semoga kesalnya sudah meredam
dan pagi ini aku akan mencoba menyapanya. Ah, tidak. Jika aku menyapanya dia
akan marah dan bicara sinis kepadaku. Sepertinya Kinar sedang terburu-buru
juga. Mungkin hari ini aku tidak bisa menyapanya. Mungkin lain kali.
***
Sudah 2 hari ini aku dan Riyo pergi pagi dan pulang larut
malam. Karena ada pelatihan mahasiswa baru, kami hanya bisa numpang tidur di
kosan dan keluar pagi-pagi buta. Kinar? Aku juga belum menemuinya lagi. Apa
kabar, Kinar? Apa dia masih kesal pada aku dan Riyo? Entahlah. Tapi hari ini
aku dan Riyo tidak keluar kosan. Kami beristirahat seharian layaknya kerbau
yang berdiam diri di kubangan.
Hari ini juga weekend.
Kami tidak punya rencana untuk nongkrong atau pergi keluar. Benar-benar
menghabiskan hari dengan tidur. Suara air tumpah terdengar di garasi. Seperti
ada orang yang menyiramkan air dan mengepel lantainya. Mungkin Kinar. Ternyata
Kinar rajin juga. Weekend-nya
dihabiskan dengan bersih-bersih. Tapi aku tetap tidak ingin menggerakan badan
ini. Tertidur hingga malam tiba.
Karena perut yang lapar, aku dan Riyo berniat mencari
makan. Kami turun dari tangga besi yang cukup berisik dan hampir terdengar ke
dalam rumah Kinar. Mungkin suara kaki kami akan jadi alasan Kinar memulai
kemarahannya. Lalu tiba-tiba, Kinar keluar dari pintu belakang yang menghadap
tangga akses keluar kami.
“Pada mau kemana? Nyari makan?” Mukanya tidak semarah
seperti malam itu.
Aku dan Riyo menghentikan langkah kaki kami. Sudah pasti
wajah kami terkejut karena Kinar yang muncul tiba-tiba.
“Hm? Oh. Iya. Kita mau nyari makan dulu.” jawabku terbata-bata.
“Ini gue masak lebih. Makan di sini aja. Daripada
mubazir.” Kinar mengajak kami makan malam bersama sembari berlalu tanpa
menunggu kami menjawab iya atau tidak.
Tanpa pikir panjang kami masuk ke rumah. Entah bagaimana
bisa ia berani tinggal di rumah yang cukup besar seperti ini, sendirian. Bahkan
kemarin ia sempat mengatakan lebih baik tinggal sendiri daripada ada orang
lain. Wah.
Kinar menghidupkan musik yang agak sedikit nge-beat dan aku tidak menyangka ia
mendengar lagu ber-genre ini. Meja
makannya sudah penuh dengan makanan.
“Lo masak sendiri, Nar?” Riyo membuka percakapan awkward
malam ini.
“Iya. Yuk, makan.”
Kinar lalu duduk di kursi dan mempersilahkan juga kami untuk ikut makan.
Kinar, aku dan Riyo dengan tenang menghabiskan makanan kami
masing-masing. Tidak ada yang bicara. Hanya suara musik yang mengisi kehampaan
rumah ini. Aku mencoba memecahkan kekakuan ini.
“ Hmm.. gue gak nyangka selera lagu lo begini, Nar.”
Bicaraku singkat sembari menyendok makanan.
“ Terus gue harusnya denger lagu apa? Lagu mellow gitu?
Gak baik denger lagu mellow kalo sendirian di rumah. Menyedihkan. Lama-lama
menyeramkan. Ya gak?” jawab Kinar singkat dengan muka santainya.
Riyo mulai tertawa kecil. Ia sepertinya juga mencoba
untuk mencairkan suasana.
“ Wess..berarti kalo denger lagu gini harusnya dibarengi
sama dance, Nar. Ya gak? Jadi biar menjiwai. Hehe.”
“Selalu. Gue kan sendirian denger lagu ini ya nari-nari
gak jelas. Daripada gue harus ke club, mending gue nari sendiri. Lampunya gak
perlu remang-remang, gak berisik karena bunyi bass yang nyaris ngeledakin
jantung, terus nikmatin sendiri. Hmm..” Kinar mulai tersenyum ketika merespon
ucapan Riyo.
Mendengar Kinar mengatakan ia lebih suka menari sendiri,
seketika teringat waktu itu. Ketika ia bisa menari dengan semangatnya, tanpa
memandang mataku, tanpa tersenyum kepadaku. Tetapi ia bisa memandang dan
tersenyum kepada orang lain. Tanpa sadar aku malah mengatakan hal yang membuat
Kinar mendadak diam.
“Dulu seharusnya ketika lo nari sama gue, lo ngelihat
mata gue dan senyum, Nar. Karena ketika ada orang lain yang nari bareng lo,
kita bukan sekedar nari aja, tapi kita bisa
lebih berbagi kebahagiaan. Dan kalo dulu lo gitu, sekarang gue yakin lo
lebih milih nari bareng-bareng daripada sendirian gitu. Gue yakin lo gak akan
terbiasa sendiri kayak gini.”
Kinar terdiam. Memandangku dalam. Seperti hendak
mengatakan sesuatu yang sudah lama terpendam tapi tidak bisa diucapkannya. Ia
masih saja begitu,tetap membungkam.
***
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar