Rabu, 26 Oktober 2016

Aromanis (bagian dua)

II
Menari Bersamamu

Sudah kuduga. Dia akan menjadi perempuan yang cantik. Mungkin menyukai dan mengaguminya adalah suatu pencapain terbaik sepanjang kehidupanku selama remaja. Sama halnya dengan remaja perempuan, laki-laki ketika remaja pun perlu menentukan cinta pertamanya dengan tepat. Cantik. Harga mati. Maka pilihanku tak akan pernah salah. Hingga kini pun, dengan bermodal social media aku tetap bisa melihat kehidupannya yang cukup luar biasa. Bertemu dengannya? Sebelum mati pun, itu yang harus aku lakukan.

Walaupun aku sudah berganti-ganti pacar, bukan berarti aku berhenti menyukainya. Bahkan ketika aku sempat menjomblo beberapa waktu, dia yang pertama kali aku hubungi sejak bertahun-tahun lost contact. Seperti yang diharapkan, dia memang asyik diajak bicara. Tidak pernah kehabisan bahan. Walaupun selalu jutek dan sinis. Hingga pada suatu ketika, aku baru sadar kalau aku menjadi laki-laki yang tidak tahu diri. Setelah dekat dengan junior di kampus, aku malah jadian dengannya. Dan dia? Cinta pertamaku itu? Terlupakan dengan kebodohanku. Ia pasti sudah menganggapku cowok tak berperasaan.

Rasa suka itu muncul ketika kami SD. Lucu memang. Aku baru melihatnya setelah 3 tahun kemudian. Memang kami dulu pernah berada di  TK yang sama. Lalu dia masuk ke SD ke yang lain dan akhirnya pindah ke SD yang sama denganku. Rambutnya yang bergelombang, tinggi badannya yang sama denganku, dan lesung pipi yang merekah ketika ia mulai tersenyum dan tertawa. Ternyata tidak berubah setelah 5 tahun tidak pernah bertemu. Satu hal lain yang aku ingat sampai sekarang. Kami tidak pernah berbicara langsung. Sepatah kata pun.

***
“Jadi gimana katanya? Mau gak?” Aku bertanya gugup kepadanya.
“Ya pasti enggak lah. Mana ada cewek ditembak lewat temennya. Ada gak menurut lo? Terus dia bilang gini.....” jawab Agni, seorang teman perempuan yang aku mintakan tolong untuk mengatakan kepada Kinar bahwa aku suka padanya.
“Apa apa? Dia bilang apa?” Aku makin gugup tak karuan.
“Katanya dia gak akan nerima lo. Soalnya Syimi juga suka sama lo. Gitu katanya. Lo tahu sendiri kan, mereka se-geng. Kalo dari mereka suka sama cowok yang sama, salah satunya pasti ngalah.” jelas Agni menyampaikan semua yang disampaikan Kinar.
“Ha? Syimi? Ya terus hubungan geng, Syimi suka sama gue apa? Yang gue suka kan Kinar. Apa urusannya sama Syimi. Terus gue gimana? Jadi dia gimana ? Kinar suka sama gue apa enggak sebenernya?” Aku mulai bicara emosi.
“Kalo kedengerannya sih Kinar suka sama lo. Tapi kalo dia bilang gitu, lo berarti ditolak, Rik.” jawab Agni sembari berlalu meninggalkanku, berusaha mengartikan ucapan yang Kinar. Abstrak dan buram.

Setelah hari itu, aku tidak pernah berusaha mencari jawaban yang tidak terjawab. Semakin dipikirkan, semakin banyak yang aku pertanyakan. Mulai hari itu, aku berhenti memikirkannya. Tapi rasa suka ini, entah kapan akan berakhir. Kelas 6 dan sudah menyukai perempuan adalah sebuah pencapaian terbesar untuk seorang remaja. Dua bulan lagi akan menjadi anak SMP, maka pergerakannya harus lebih cepat. Aku harus sudah punya pacar ketika SMP nanti. Entah bagaimana caranya. Entah dengan siapa. Tapi yang jelas, aku tetap tidak bisa melupakan Kinar begitu saja. Bagaimana bisa.

Celakanya, dia selalu muncul di hadapanku. Hari ini adalah ujian akhir kelas seni budaya. Kami harus menari secara berpasangan. Melihatnya di sana, memakai rok kuning dan mulai menari dengan Adib, aku mulai panas. Entah perasaan marah atau kesal yang menggerakkan kaki ini, aku berjalan ke arah mereka. Mereka berhenti menari dan mulai menatapku.

“Tadi kata Pak Bayu, gue disuruh ganti pasangan. Soalnya Adib lebih cocok sama Syimi.” Aku mengatakan dengan percaya diri agar terdengar meyakinkan.
“Oh iya? Hmm.. Ya udah.” Adib menjawab singkat dan meninggalkan Kinar dalam waktu yang singkat.

Kini tinggal kami berdua. Ini yang kuinginkan tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kami hanya  terdiam tanpa berbicara sampai beberapa menit. Ketika ada aba-aba mulai menari, barulah kami saling berhadapan. Aku mulai menegakkan kepala. Berusaha melihatnya. Tapi mata kami tidak saling memandang. Kinar tetap menari sesuai irama musik. Ia seperti tidak mempedulikanku. Walaupun ia tetap menjadi pasangan menariku.

Aku masih saja terdiam. Tidak bisa memulai percakapan di antara kami. Jika aku tidak juga mengajaknya bicara kini, aku yakin di masa depan entah salah satu di antara kami pasti akan menyesal. Atau kami berdua akan menyesal. Entah bentuk penyesalan apa yang aku maksud. Hanya hati ini yang bisa menjawab. Kini dan di masa depan. Kami masih tetap menari dan menari. Hingga musik selesai, ia lalu meninggalkanku.

Tiga bulan kemudian, penyesalan itu benar-benar terjadi. Aku dan Kinar masuk ke SMP yang sama. Dan tetap, kami tidak saling bicara. Kinar bisa sangat akrab dengan teman-temanku. Begitu juga denganku. Aku bisa bercanda dan tertawa dengan teman-temannya. Tapi jika mata kami tiba-tiba bertemu, Kinar langsung memalingkan wajahnya. Aku merasa ‘Ah, dia mungkin tidak menyukaiku lagi.’ Sejak saat itu, aku tidak memikirkannya lagi. Aku mulai berpacaran dengan Agni. Orang yang membawa pesan suka-ku kepada Kinar.

***

Menjadi mahasiswa lagi adalah the worst plan ever. Seharusnya sudah menjadi pegawai kantoran atau setidaknya aku sudah menjadi seorang profesioanl, tetapi inilah aku sekarang. Melanjutkan S2 adalah upaya terakhir di tengah kekalutan sebagai pengangguran 1 tahun lamanya. Pilihan untuk tinggal di kos ini juga tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Membuka cerita lama, lama sekali. Bahkan mengalahkan cinta monyet yang ada. Bagaimana aku harus menghadapinya? Apa yang harus aku katakan padanya?

Setelah melewati satu hari ini, aku belum bertemu lagi dengan Kinar. Mungkin dia belum pulang kerja atau sedang kelayapan di luar sana. Ah, entahlah. Peduli apa aku dengan Kinar. Aku juga sudah punya pacar. Tapi, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya bisa memikirkan bagaimana aku bisa tinggal berdekatan dengan Kinar? Terlebih, ada urusan yang belum kuselesaikan dengannya. Bertahun-tahun lamanya.

Ingin melihat keadaan malam di sekitar perumahan ini, aku mengambil jaket dan berjalan-jalan sebentar. Saat akan membuka pintu, Kinar terlihat masuk dan membawa banyak kantong plastik. Mungkin, untuk lebih mendekatinya aku tidak harus mulai dengan pembicaraan. Tapi dengan membantunya membawa kantong plastik yang seabrek itu.

“Banyak amat belanjaan lo. Sini, gue bawain.” Aku menawarkan bantuan kepadanya sambil meraih kantong plastik yang super berat ini.
“Gak usah. Gue bisa sendiri.” Kinar menjawab singkat dan berlalu meninggalkanku.
“Sok kuat lo. Berat banget loh itu. Sini gue bantuin.” Aku masih berusaha menawarkan bantuan
Kinar lalu meletakkan barang belanjaannya di lantai garasi dan ekspresi wajahnya berubah.
“Kayaknya kita bukan dalam hubungan yang saling bantu kayak gini deh. Lagipula, lo kok bisa bersikap cool dan seolah-olah itu kita temen deket atau bahkan temen baik. Tetap kayak lo yang dulu aja. Anggap gue gak ada. Kayak dulu. Bahkan ketika gue ada di depan lo. Anggap gue gak ada. Hmm? Oke?”

Aku terdiam mendengar ucapannya itu. Sekarang aku memahami bentuk penyesalan berantai yang terjadi bertahun-tahun lamanya ini.

“Lo gak bisa ngelupain yang dulu ya, Nar? Lo masih anggap gue itu cowok yang hobinya mainin perasaan cewek ya?” tanyaku dengan nada suara tenang.
“Ini yang gak pernah gue pahamin. Sampai kapan lo akan sadar kalo sikap lo itu bahkan menyakiti orang dalam waktu yang lama. Seakan-akan orang itu yang salah. Padahal semua kesalahan itu, lo yang ciptain. Hah...Rik. Sekarang kita di umur yang bukan remaja lagi. Banyak yang harus dipikirin. Bahkan cerita basi kayak gini gak usah diungkit-ungkit. Kalau lo gak dateng kesini, hidup gue udah cukup tenang. Tapi.....”

Pembicaraan kami terpotong karena seseorang yang datang ke rumah. Karena sudah malam, aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari perawakannya orang itu rupanya Riyo. Riyo adalah teman dekatku. Riyo juga teman satu sekolah dengan Kinar dari TK bahkan hingga SMA. Dan mendengar dari teman-teman yang lain, Riyo juga menyukai Kinar sejak SMP mungkin hingga sekarang.

Kinar masih terdiam dan berdiri di antara barang belanjaan yang ia jatuhkan. Melihat Riyo ada di hadapannya, Kinar tidak bisa berkata apa-apa. Aku lalu menyambut Riyo yang membawa koper dan membantu membawakannya. Kami bertiga lalu berdiri dan saling memandang. Hingga aku memutuskan untuk membuka percakapan di tengah suasana yang awkward ini.

“Oh iya, Nar. Nyokap lo udah cerita kan kemaren. Ada satu lagi yang bakal ngekos di atas bareng  gue. Riyo yang bakal ngekos bareng gue.”

Kinar masih terdiam dan memandang kami berdua. Seperti ibu kos yang galak, matanya juga memancarkan aura angker seakan bersiap memarahi kami berdua.

“Hmm...Bener-bener nih Mama. Gak bisa biarin hidup gue tenang, sekali aja.”
Kinar mulai menampakkan wajah kesalnya.
“Jadi, yang ngekos bareng lo, Riyo? Hah. Joke macam apaan nih? Jadi, gue harus ketemu kalian tiap hari, ngeliat kalian tiap hari, aaaghhhhh!!!!”

Teriakan Kinar membuat kami terkejut. Aku tidak pernah melihat dia seemosi dan sekesal ini. Yang aku ingat tentang wajah Kinar adalah senyum dan tawanya. Tapi situasi sekarang jauh berbeda. Mungkin aku dan Riyo seperti akan digebuk habis-habisan olehnya.

“Kalian mau tahu apa resolusi gue tahun ini?” Kinar bertanya kepada kami dengan pandangan dead eyes.
Aku dan Riyo serentak terpaku menatapnya dan berusaha mendengarkan apa yang diucapakan Kinar.

“Hidup di masa kini. Gak akan pernah berurusan dengan masa lalu. Apapun itu. Masalah, kejadian, kenangan, orang-orangnya, dan yang berhubungan dengan yang basi-basi, termasuk kalian. Itu resolusi yang seharusnya gue capai. Sekarang bulan september, kan? Setidaknya gue masih punya 4 bulan lagi untuk pertahanin ini semua. Hidup gue udah cukup tenang. Tapi, kalian.......”

Riyo yang tak ingin membuat Kinar makin emosi berusaha menenangkannya.

“Gue gak bermaksud untuk ganggu lo kok, Nar. Ya walaupun selama ini gue kayak stalker dalam hidup. Tapi, gue janji kok gak akan ganggu hidup lo.”
“Hah? Setidaknya lo sadar kesalahan lo ya. Apa gue aja yang keluar dari rumah ini dari cari kosan ? Kenapa dari sekian banyak orang, kalian berdua yang ada di hadapan gue sekarang? Aarghh, stresss!”

Kinar mengangkat semua belanjaannya dan masuk ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan yang tak pernah dibicarakan bertahun-tahun lamanya ini.

“Apa salahnya hidup di masa lalu, Nar? Toh ga semua buruk kan. Kita semua punya kenangan. Dan gak ada salahnya kalo kita ingat-ingat sampai sekarang. Lo bukan gak mau hidup di masa lalu. Lo cuma lelah dan menyesal kenapa masa lalu jadi susah dilupain dan dimaafin sekarang.”

Ucapanku membuat langkahnya terhenti. Kinar menjatuhkan kantong plastiknya lagi.

“Terus gue harus apa? Gue yang terjebak di permainan lo, tapi gue yang harus menderita. Itu maksud lo? Iya, gue akuin. Rasa suka ke lo dulu terdengar bodoh dan gegabah. Dan gue jatuh di hal yang sama, 2 kali. Apa gak ada kesempatan buat gue suka sama orang yang tepat? Setidaknya biarin gue ngelupain. Sekali aja. Bukannya ngelupain itu satu-satunya cara kita  bisa bahagia?

Angin malam ini cukup dingin. Hingga mendengar ucapan Kinar, tubuh hingga perasaan ini mendadak dingin. Kinar bergegas masuk ke rumah dan tinggalah aku dan Riyo. Riyo hanya terdiam dan melihat sikap Kinar yang tak pernah ia kira bakal semarah ini. Ia mengharapkan sambutan yang hangat dan wajah sumringah dari Kinar. Melihat Riyo berdiri terpaku, aku membawanya ke kamar atas. Membantunya membereskan kamar. Karena kali ini, Kinar tidak mungkin akan membantu kami membersihkan kamar Riyo. Ia sudah cukup menyeramkan hari ini.

Besok harinya, aku dan Riyo harus ke kampus mengurus administrasi sebagai mahasiswa baru. Kali ini, aku satu kampus, satu jurusan bahkan satu kosan dengan teman masa kecil hingga sekarang yang selalu menjadi kompetitor basketku. Aku sebenarnya jarang bertemunya. Hanya belakangan kami selalu bersama, jadi akhir-akhir kami lebih dekat. Kalau bicara tentang Riyo dan Kinar, mereka termasuk kisah klasik yang belum ada ending-nya. Aku hanya mendengar dari Hiram, salah satu teman dekat kami juga, dan Hiram juga dekat dengan Kinar ketika SMA. Hiram pernah menceritakan kalau Kinar sudah beberapa kali menolak Riyo yang selalu mendekatinya.

Tapi aku tidak tahu alasan pastinya kenapa. Alasan klise yang selalu Kinar gunakan ketika menolak cowok yang naksir dengannya (yang aku tahu ketika SMP sampai SMA) adalah dia belum mau pacaran. Kinar ingin fokus sekolah. Karena alasan itu mungkin saja Riyo masih mengharapkan Kinar yang membuka hatinya untuk Riyo. Jika dilihat dari gelagat Kinar tadi malam, pendekatan Riyo mungkin belum berhasil juga. Wah, Kinar is one of a kind. Berbeda dari perempuan lainnya. Susah didekati. Antara misterius dan jual mahal. Tapi aku yakin, Kinar punya alasan sendiri untuk itu.

Aku melihat Kinar dari tangga sedang memakai sepatu di teras. Wajahnya sudah tidak sekusut tadi malam. Semoga kesalnya sudah meredam dan pagi ini aku akan mencoba menyapanya. Ah, tidak. Jika aku menyapanya dia akan marah dan bicara sinis kepadaku. Sepertinya Kinar sedang terburu-buru juga. Mungkin hari ini aku tidak bisa menyapanya. Mungkin lain kali.

***

Sudah 2 hari ini aku dan Riyo pergi pagi dan pulang larut malam. Karena ada pelatihan mahasiswa baru, kami hanya bisa numpang tidur di kosan dan keluar pagi-pagi buta. Kinar? Aku juga belum menemuinya lagi. Apa kabar, Kinar? Apa dia masih kesal pada aku dan Riyo? Entahlah. Tapi hari ini aku dan Riyo tidak keluar kosan. Kami beristirahat seharian layaknya kerbau yang berdiam diri di kubangan.

Hari ini juga weekend. Kami tidak punya rencana untuk nongkrong atau pergi keluar. Benar-benar menghabiskan hari dengan tidur. Suara air tumpah terdengar di garasi. Seperti ada orang yang menyiramkan air dan mengepel lantainya. Mungkin Kinar. Ternyata Kinar rajin juga. Weekend-nya dihabiskan dengan bersih-bersih. Tapi aku tetap tidak ingin menggerakan badan ini. Tertidur hingga malam tiba.

Karena perut yang lapar, aku dan Riyo berniat mencari makan. Kami turun dari tangga besi yang cukup berisik dan hampir terdengar ke dalam rumah Kinar. Mungkin suara kaki kami akan jadi alasan Kinar memulai kemarahannya. Lalu tiba-tiba, Kinar keluar dari pintu belakang yang menghadap tangga akses keluar kami.

“Pada mau kemana? Nyari makan?” Mukanya tidak semarah seperti malam itu.
Aku dan Riyo menghentikan langkah kaki kami. Sudah pasti wajah kami terkejut karena Kinar yang muncul tiba-tiba.
“Hm? Oh. Iya. Kita mau nyari makan dulu.” jawabku terbata-bata.
“Ini gue masak lebih. Makan di sini aja. Daripada mubazir.” Kinar mengajak kami makan malam bersama sembari berlalu tanpa menunggu kami menjawab iya atau tidak.

Tanpa pikir panjang kami masuk ke rumah. Entah bagaimana bisa ia berani tinggal di rumah yang cukup besar seperti ini, sendirian. Bahkan kemarin ia sempat mengatakan lebih baik tinggal sendiri daripada ada orang lain. Wah.

Kinar menghidupkan musik yang agak sedikit nge-beat dan aku tidak menyangka ia mendengar lagu ber-genre ini. Meja makannya sudah penuh dengan makanan.

“Lo masak sendiri, Nar?” Riyo membuka percakapan awkward malam ini.
“Iya. Yuk, makan.”  Kinar lalu duduk di kursi dan mempersilahkan juga kami untuk ikut makan.

Kinar, aku dan Riyo dengan tenang menghabiskan makanan kami masing-masing. Tidak ada yang bicara. Hanya suara musik yang mengisi kehampaan rumah ini. Aku mencoba memecahkan kekakuan ini.

“ Hmm.. gue gak nyangka selera lagu lo begini, Nar.” Bicaraku singkat sembari menyendok makanan.
“ Terus gue harusnya denger lagu apa? Lagu mellow gitu? Gak baik denger lagu mellow kalo sendirian di rumah. Menyedihkan. Lama-lama menyeramkan. Ya gak?” jawab Kinar singkat dengan muka santainya.

Riyo mulai tertawa kecil. Ia sepertinya juga mencoba untuk mencairkan suasana.

“ Wess..berarti kalo denger lagu gini harusnya dibarengi sama dance, Nar. Ya gak? Jadi biar menjiwai. Hehe.”
“Selalu. Gue kan sendirian denger lagu ini ya nari-nari gak jelas. Daripada gue harus ke club, mending gue nari sendiri. Lampunya gak perlu remang-remang, gak berisik karena bunyi bass yang nyaris ngeledakin jantung, terus nikmatin sendiri. Hmm..” Kinar mulai tersenyum ketika merespon ucapan Riyo.

Mendengar Kinar mengatakan ia lebih suka menari sendiri, seketika teringat waktu itu. Ketika ia bisa menari dengan semangatnya, tanpa memandang mataku, tanpa tersenyum kepadaku. Tetapi ia bisa memandang dan tersenyum kepada orang lain. Tanpa sadar aku malah mengatakan hal yang membuat Kinar mendadak diam.

“Dulu seharusnya ketika lo nari sama gue, lo ngelihat mata gue dan senyum, Nar. Karena ketika ada orang lain yang nari bareng lo, kita bukan sekedar nari aja, tapi kita bisa  lebih berbagi kebahagiaan. Dan kalo dulu lo gitu, sekarang gue yakin lo lebih milih nari bareng-bareng daripada sendirian gitu. Gue yakin lo gak akan terbiasa sendiri kayak gini.”

Kinar terdiam. Memandangku dalam. Seperti hendak mengatakan sesuatu yang sudah lama terpendam tapi tidak bisa diucapkannya. Ia masih saja begitu,tetap membungkam.

***
(bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar