Minggu, 30 Oktober 2016

Aromanis (bagian tiga)

III
Missed Call

Dia ada di depanku. Aku tak menyangka hari ini benar-benar terjadi dalam hidupku. Sebagian teman menyebutku lelaki yang setia. Sebagian lagi ada yang menyebutku lelaki terbodoh yang pernah ada. Terkadang ada juga yang mengatakan aku adalah salah satu orang yang benar-benar menganggap cinta itu buta. Sampai detik ini dia duduk di depanku, aku masih saja menyukainya. Entah bagaimana caranya agar aku bisa membencinya sekali saja. Sekali saja sudah cukup. Menandakan aku manusia normal. Tidak hanya melihat satu perempuan saja selama hidupku.

“ Wess..berarti kalo denger lagu gini harusnya dibarengi sama dance, Nar. Ya gak? Jadi biar menjiwai. Hehe.” Aku memulai pembicaraan di tengah makan malam yang sedikit kaku seperti ini.
“Selalu. Gue kan sendirian denger lagu ini ya nari-nari gak jelas. Daripada gue harus ke club, mending gue nari sendiri. Lampunya gak perlu remang-remang, gak berisik karena bunyi bass yang nyaris ngeledakin jantung, terus nikmatin sendiri. Hmm..” Ia mulai tersenyum kepadaku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Kinar, dan ini senyuman pertamanya untuk-ku setelah sekian lama.

Situasi mulai tenang. Kinar mulai tersenyum dan mau diajak bicara. Mungkin ini pertanda baik bagiku. Hingga detik ini, aku masih tetap berjuang mendapatkan hatinya. Entah bagaimanapun caranya. Mungkin dia sudah membenciku beberapa kali. Dan kejadian itu selalu terulang setiap aku mendekatinya. Dimana pun ia berada. Aku selalu ingin memberi perhatian kepadanya. Agar Kinar juga tidak lupa bahwa aku masih menyukainya.

Tapi, Erik sepertinya menjadi penghalang dan pengacau situasi yang sudah lebih tenang seperti ini. Perkataan Erik membuat Kinar terdiam lama. Hingga pandangan Kinar yang terlalu dalam dan hanya Kinar dan Erik yang saja memahaminya. Memang benar Erik dulu menyukai Kinar ketika SD, tapi itu sudah lama sekali, kan? Tidak mungkin rasa suka masih ada. Lagipula, Erik sudah beberapa kali bergonta-ganti pacar. Atau mungkin di antara mereka masih ada masalah yang belum terselesaikan. Entah ketika SD ataupun SMP.

“Setelah gue pikir-pikir, lo mulai ngungkit masa lalu ya, Rik? Biar apa sih? “ Kinar akhirnya bertanya kepada Erik yang mengatakan hal yang tidak aku mengerti.
“Ah, itu masa lalu ya? Oke, gue baru inget lo gak suka ngungkit masa lalu. Tapi lo sadar kan, semakin lo menghindar untuk membahasnya, semakin jauh lo membawa masa lalu itu ke masa depan. Gak akan pernah selesai.” Erik berbicara dengan nada yang serius dan menatap Kinar.

Jujur, aku tidak memahami masalah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku memang teman Erik dari kecil hingga sekarang, tapi kami jarang berbagi cerita seperti ini. Karena aku biasa bercerita dengan Hiram, yang juga menjadi teman dekat Kinar.

“Oke. Gue bicarain ini di depan lo langsung. Gak apa-apa kan, Rik? Di sini ada Riyo juga?” Kinar balik menantang Erik dengan suara yang percaya diri.

Ya. Berarti ada masalah di masa lalu yang terbawa hingga kini. Dan aku tidak pernah tahu itu.

“Lo tahu kenapa gue bersikap dingin dan ga simpatik ke lo, Rik? Gue yakin lo tahu.”
“Mungkin gue tahu, tapi gue gak sadar aja.”

Mereka masih berbicara dengan suara yang rendah. Mereka seakan tidak menganggap aku ada dan terus berbicara.

“Bisa dibilang gue suka sama lo, sejak SD. Bahkan sejak Agni bilang ke gue dan lo jadi couple gue pas ujian nari dan banyak kejadian lain, sampai SMA. Gue masih aja suka sama lo. Padahal gue tahu lo punya pacar. Dan gue juga sering berantem sama Agni waktu itu karena lo. Tapi gue malah jadi temen deket sama Sarah waktu itu.”

Kami berdua terdiam. Aku dan Erik tidak berkutik sama sekali. Terpaku mendengar pengakuan Kinar. Baru kali ini aku mendengar perempuan menyatakan perasaanya secara langsung. Dan rasanya begitu luar biasa. Sekaligus membuat perasaanku tiba-tiba campur aduk. Gelisah tak karuan. Kinar lalu melanjutkan ucapannya.

“ Gue sebenernya gak terlalu peduli kalau lo masih suka gue atau gak waktu itu. Lagipula kita beda SMA dan gak pernah ketemu lagi. Oke. Sejak saat itu gue berusaha melupakan rasa itu. Sampai kuliah, hidup gue tenang. Gue bisa suka sama orang lain tanpa harus ingat rasa suka yang ga pernah kesampaian. Tapi yang bikin gue gak habis pikir adalah bisa-bisanya lo muncul lagi, ngedeketin gue lagi dan seakan-akan ngasih gue harapan? Dan gak lama setelah itu, lo malah jadian sama junior SMA gue.  Dan yang lebih parah lagi, lo masih merasa kita temen deket dan berusaha ngehubungin gue lagi?”

Perasaanku makin tak karuan. Sebegitu sukanya Kinar pada Erik? Dan selama ini aku masih berusaha mendekatinya. Kinar masih melanjutkan ucapannya.

“Itu yang paling gue sesalin seumur hidup gue. Menyukai orang yang salah. Bener-bener ngebuang waktu gue yang paling berharga. Bener-bener ngebuat gue jadi orang yang paling jahat di dunia ini. Bahkan gue terlalu jahat ke Riyo.” Kinar lalu menatapku.

Aku lalu melihat penyesalan di mata Kinar. Ketika ia mengatakan dia terlalu jahat buatku, entah kenapa aku merasa telah lebih jahat kepadanya. Ketika ia berusaha mengendalikan perasaannya, menderita karena ketidakjelasan yang Erik berikan kepadanya, aku malah ikut ‘menyiksa’ perasaannya. Aku jadi ingat apa yang dikatakan Hiram 2 tahun lalu. Ketika Hiram pernah berbicara dengan Kinar pada saat reunian. Dan Hiram menceritakannya kepadaku.

“ Kinar ngomong gini ke gue, Yo. ‘Gue jahat banget ke Riyo. Selama ini dia berusaha ngedekatin gue, dan gue selalu nolak dia ketika dia berusaha ngedeketin gue. Walaupun gue udah bilang Riyo lebih cocok jadi sahabat gue, dia tetap kekeuh ngedeketin gue. Dia gak akan mungkin suka sama gue dalam 5 tahun ke depan, kan? Aaargh..’ gue gak bisa kasar sama orang lain dan terpaksa harus tetap baik ke dia.’

Aku memang terlalu jahat membuatnya berpikir kalau dia yang telah jahat kepadaku. Mungkin benar. Entah kenapa aku masih tetap menyukai, mungkin dalam 5 tahun ke depan. Perasaan itu akan tetap sama. Terlebih mendengar pengakuannya tentang Erik di depan kami berdua, aku jadi tidak bisa berpikir jernih. Ia menahannya sendiri. Berbeda denganku yang selalu diberi kesempatan oleh Kinar untuk mendekatinya.

“ Gue terlalu sibuk dengan perasaan yang basi ini sampai gue gak bisa ngeliat orang lain yang mungkin jauh lebih baik, daripada lo.” Kinar menyelesaikan ucapannya.

Erik masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih menatap Kinar.

“Jadi gue harus apa, Nar? Biar perasaan lo lebih baik ? Biar gue juga bisa menebus kesalahan gue. Ya. Itu memang salah gue dari awal.” Erik berusaha menjawab pengakuan Kinar setenang mungkin.
“Entahlah. Kalau lo dateng tiba-tiba gini, gue yang jadi frustasi. Akhir-akhir ini gue juga mati rasa. Gak lagi suka sama siapa-siapa. Tapi kali ini gue gak akan pergi kemana-mana. Kalau ini yang harus gue hadapin, ya gue hadapain. Karena lari dan pergi bukan solusi. Malah masa lalu itu akan ikut kemana gue pergi. “

 Kinar berbicara tenang. Ia lalu menatapku sesaat.

“Sori, Yo. Lo jadi denger semua ini. Lagipula gue akan tetap di sini. Kalian juga bakal tinggal di sini. Kalau masih ada masa lalu yang malah ngebuat kita gak nyaman, entah salah satu dari kita akan pergi. Ya gak? “
“Iya, Nar. Bener. Ternyata ini masalah kalian yang banyak temen-temen omongin. Hmm..bahkan gue gak tahu.” Aku merespon ucapan Kinar.
“Wah, sampai jadi bahan obrolan juga sama yang lain. Padahal gue nyimpen masalahnya sendiri. Ya udah, gue harus kerja besok. Dan tenang aja, gue gak akan emosian atau kesel lagi ke lo, Rik. Lagipula kita punya hidup masing-masing, kan? Gue juga udah sibuk sama si manajer.” Kinar menutup pembicaraan yang awalnya dingin dan kini berubah lebih mencair.

Erik malah tidak banyak bicara. Ketika akan kembali ke kamar atas, Erik mengatakan sesuatu kepada Kinar.

“Jadi sekarang teman kan ? “
“Hmm..”
Kinar mengangguk meng-iyakan pertanyaan singkat Erik. Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka berteman kembali.

***
35 Panggilan Keluar

Ia tidak kunjung mengangkat telepon-ku. Aku masih berusaha menghubunginya. Panggilan ke-36, aku mulai menyerah. Sudah jam 3 pagi. Rencanaku gagal. Mungkin tahun depan, Kinar akan menjawab teleponku. Setiap tahun aku berusaha menjadi orang yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tapi usaha tahunan itu tidak pernah berhasil. Aku sudah mulai berpikir, dia terlalu jahat kepadaku. Tapi bodohnya, aku masih saja berusaha, mencoba dan terus mendekatinya.

Berbulan-bulan setelah hari ulang tahunnya itu, aku tidak pernah menghubunginya lagi. Memikirkannya pun tidak sesering biasanya. Mungkin hidupnya sekarang lebih tenang. Tidak ada aku yang selalu mengusik hari-harinya. Tapi tahun ini, aku pasti menemuinya. Dia juga pasti akan menemuiku. Reuni SMA tahunan beberapa hari lagi. Aku tahu dia akan datang. Dua hari sebelum reuni, Kinar bertemu dengan Hiram di tempat kafe Hiram bekerja. Memang Kinar hanya akan bertemu teman-teman dekat ketika dia SMA. Tapi aku juga dekat dengan Hiram dan selalu ke kafenya.

Sore itu aku duduk di teras kafe. Sebenarnya aku sedang meanunggu Kinar. Benarlah. Dia datang. Aku melihat wajahnya yang cukup kaget. Dengan gaya khasnya yang selalu akrab dengan kami yang satu sekolah dari TK, dia menyalami kami satu per satu. Aku menyalaminya dan tersenyum. Sepertinya dia tidak terlalu memperhatikanku. Dan seakan lupa apa yang terjadi di antara kami. Sebuah panggilan yang tidak pernah ia jawab.

Di dalam kafe, Kinar sedang mengobrol dengan Hiram. Ia bisa dengan akrab ketika bicara dengan Hiram. Jika denganku, Kinar selalu diam. Aku mendatangi mereka. Hiram dengan cekatan mengubah topik pembicaraan.

“Wah, Nar. Lo udah lama banget gak kesini loh? “ ucap Hiram membuka pembicaraan.
" Bahaya kalo gue sering nongkrong kesini, cerita lo gak ada yang bener, Ram. Haha.”
“Lo suka gitu ya, Nar. Padahal gue ngasih advice buat lo. Kurang baik apa lagi coba.” Hiram menatapku seakan ingin memberitahu untuk ikut mengobrol.
“Eh ini gimana kalian nih ? Kayaknya masih diem-dieman aja nih. Hehe” Hiram seperti tidak pernah kehabisan kata-kata untuk memperolok aku dan Kinar.

Kinar yang tadinya duduk dengan posisi santai, lalu menatapku yang duduk di samping kirinya.

“ Diem-dieman? Kenapa harus diem-dieman coba. Kayak gue lagi musuhan sama Riyo gitu? Becanda aja lo, Ram.”
“Haha, ya ini liat sekarang. Ga ngobrol satu sama lain. Emang ya usaha Riyo paling luar biasa.” Hiram belum juga berhenti meledek Kinar.
“Udah deh basi banget gak sih bawa masa lalu mulu, Ram? Lo kayaknya selama ini jadi kompornya deh.” Kinar mulai berbicara dengan nada yang serius.
“Ya elah, Nar. Gitu aja emosi. Kayaknya gue gak ikut-ikutan lah ya masalah kalian berdua.”

Hiram lalu meninggalkan kami berdua.

Aku merasakan Kinar yang tidak nyaman dengan aku yang duduk di sebelahnya. Tapi aku akan tetap membicarakan hal itu. Ya. Harus sekarang. Tetapi, sebelum aku ingin mulai berbicara, Kinar berbicara 1 detik lebih dulu.

“Yo, gue tahu apa yang bakal lo omongin. Gini ya. Alasan kenapa gue selalu diem di deket lo, mungkin lo udah tahu kan ? Yang pasti gue udah ngasih tahu lo alasannya jauh sebelum hari ini.Tapi, gue gak paham kenapa lo tetap berusaha sejauh ini. Lo mau bikin gue jadi orang jahat yah? Seakan-akan gue yang paling jahat.”

Aku cukup kaget mendengar perkataannya seperti itu. Hingga aku tidak bisa mengucapkan apa-apa. Kinar melanjutkan perkataannya lagi.

“Lo ingat apa yang gue bilang dulu? Gue lebih nyaman di deket lo kalo lo mau jadi temen gue. Bahkan jadi sahabat. Kayak gue sama Hiram. Karena itu yang bisa gue rasain. Bahkan sampai sekarang. Lo paham kan maksud gue ? Jadi berhenti buat gue jadi orang jahat, Yo. Gue udah cukup jahat sama diri gue sendiri. Dan gue bisa ngerasain apa yang lo rasain. Karena gue juga melakukan hal yang sama seperti apa yang lo lakuin sekarang.”

Ucapan Kinar membuatku tidak bisa berkata-kata. Sesaat aku terdiam lalu mulai mengumpulkan keberanian.

“ Seperti yang lo bilang, lo juga merasakan apa yang gue rasakan kan, Nar?  Sampai sekarang lo belum berhenti berusaha kan, Nar? Gue pun begitu. Gue belum berhenti berusaha. Gue gak pernah maksa lo kok. Dan gue yakin lo ngelakuin hal yang sama Nar. Gue akan ngehargain keputusan lo itu. Tapi lo tahu kan kenapa gue tetap kayak gini? Gue pun belum menemukan waktu yang tepat kapan gue harus berhenti. Apa alasan gue berhenti. Setidaknya biarkan gue berhenti di waktu yang tepat. Biar penyesalan itu lebih terasa tepat juga.”


Pembicaraan itu terjadi  1 tahun yang lalu. Lihatlah 1 tahun kemudian. Ternyata aku belum dipertemukan dengan waktu dan alasan yang tepat untuk berhenti berusaha.

***
(bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar