Minggu, 23 Oktober 2016

Aromanis (bagian satu)

I
Sarapan Sewindu

Padat, pengap, merayap. Aku tidak sedang menggambarkan situasi jalan yang berantakan bukan main. Oke, sebut saja tentang situasi jalan. Tetapi lebih parah daripada itu, deskripsi padat-pengap-merayap itu lebih menggambarkan tentang kondisi hidupku. Hidup sebagai manusia berkepala 2 ( baca : berumur 20 tahun keatas ) berarti penuh tanggung jawab, penuh pengharapan dan segala bentuk ambisi yang belum tersampaikan. Sekian tentang deskripsi hidup yang sedang kuhadapi.

Persoalan lainnya juga tentang banyak hal. Malam ini makan apa, di mana, dan hmm...dengan siapa. Pertanyaan pertama bisa aku jawab dengan mudah. Antara nasi padang atau nasi goreng seafood depan rumah. Keputusannya soal nanti, tergantung seberapa lapar perut ini. Pertanyaan di mana, hmm...juga mudah untuk dijawab. Depan rumah atau di depan kantor. Dan yang terakhir, dengan siapa. Selama ini tidak pernah atau bahkan belum pernah terpikirkan bahwa di umur ini seharusnya aku sudah tidak single lagi! Tapi ya, takdir dan usaha terkadang tidak pernah saling bekerja sama.

 Takdir? Usaha? Jujur, itu bukan jawaban yang tepat bagi sebagian orang yang sampai saat ini masih saja single. Ada satu jawaban lain yang tidak pernah disadari oleh aku, kamu ataupun mereka. Sedang aku saja baru tersadar beberapa menit yang lalu. Mungkin di waktu yang tepat, aku akan lebih menyadarinya. Sebuah penyesalan terbaik sekaligus terbodoh. Dan aku hanya bisa mengasihini diriku sendiri. Biasanya jago memberikan saran dan pendapat untuk teman yang sedang galau urusan percintaan, dan hah! Lihatlah si single dengan angkuhnya memberi wejangan. Yah, well...we’re immediately being a experienced if other people feel that. And guess what, I’ve never been on that situation actually. Haha!

Masih berjalan di tengah klason mobil, angkot, motor yang seakan-akan ingin menjadi raja jalanan dan ingin menjadi yang terdepan, pikiranku terkadang melayang-layang memikirkan ketidakmungkinan dalam hidupku. Mengapa aku masih single. Mengapa aku masih sendiri. Di tengah keramaian seperti ini. Dan sepertinya aku saja yang masih sanggup sendiri.

***

“Weekend gini harusnya pergi jalan-jalan kek atau olahraga atau ngapain kek. Ini malah diem di rumah aja.” Kedatangan Mama seperti biasa memberikan suasana yang lebih “hidup” di rumah yang biasanya sepi seperti kuburan. Tak ketinggalan, nasihat langganan yang selalu aku dengar ketika beliau berkunjung setiap 3 bulan.

“Kalo keluar rumah lagi itu namanya ngabisin energi, Ma. Lagian kalau pergi main kan entar ngeluarin duit juga. Mending disimpen duitnya.” Aku masih betah dengan bantal empuk dan remote yang sibuk mencari channel televisi.

“Untuk apa punya duit tapi gak bisa dinikmatin ih. Kamu tuh sama kayak Papa, alesan gak mau pergi jalan-jalan biar hemat, mau nabung untuk inilah, itulah. Padahal akhirnya gak untuk apa-apa. Huh.” Mama yang tadinya memberi nasihat berujung curhat. Ya, itulah Mama.

“Haha, Ma...Kalo Papa mah beda lah. Papa kan mau investasi. Lah aku baru juga kerja, uangnya juga gak banyak. Entar kalo udah banyak, baru aku jalan-jalan bareng Mama, kan. Hehe.”

“Ah, kalian tuh hobinya ngasih harapan aja. Janjinya ngajak Mama jalan-jalan tapi liat aja entar. Pada lupa. Ya udah, Mama ke dapur dulu.” Percakapan seperti ini tidak akan pernah ada akhirnya. Pasti berujung Mama yang menjadi korban PHP. Ternyata, bukan cuma aku yang menjadi korban PHP di dunia ini, Mama pun merasakan yang sama .

Hari minggu sore adalah hari yang selalu tepat untuk berdiam diri di kamar hingga malam. Tidur, bangun lalu tidur lagi dan akhirnya terbangun di tengah malam adalah ritual fantastis seorang anak gadis sepertiku. Bahkan ketika ada Mama pun, setelah dimarahi habis-habisan aku masih saja menjadi penghuni kamar seharian. Kali ini Mama tidak mempedulikan ritual ‘fantastis’ ini. Mendengar ada suara di depan rumah, konsentrasiku untuk masuk ke alam mimpi terganggu sudah.

Setelah berusaha menutup mata sembari menyumbat telinga dengan earphone yang berisikan lagu-lagu slow, kantuk ini tak kunjung datang. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku keluar dari kamar. Ternyata tidur yang gagal lebih menyebalkan daripada bangun telat ketika sedang terburu-buru. Pikiran yang ingin hibernasi tapi dipaksa melihat dunia nyata lagi. Jika tidak karena orang-orang yang berisik di depan rumahku, aku pasti sudah sukses menjalani “ritual” akhir pekan ini.

“ Ma, siapa sih yang di luar? Ngetuk- ngetuk pager segala. Berisik banget. Gak ngeliat ada bel apa.” Aku melihat keadaan luar dengan menyibakkan gorden.
“ Oh, udah dateng kali ya?” tanya Mama yang berteriak kencang dari dapur.
“Hm? Siapa yang mau dateng? “ Aku malah balik bertanya.
“Tolong bukain pintu dong, Nar. Itu temen Mama. Nanti suruh masuk aja ya. Mama mau ganti baju dulu.” jawab Mama tergesa-gesa masuk ke kamar.
Melihat Mama tergesa-gesa, Aku pun ikut tergesa-gesa membuka pintu.
“Iya, sebentar..”

Aku keluar membuka pagar.

Seorang ibu paruh baya membawa tas yang bisa dibilang semi koper, berwajah putih bersih dengan rambut sebahu tersenyum sumringah kepadaku. Aku membalas senyumannya. Sedikit awkward dan kaku. Membalas senyum seseorang yang sangat hangat. Terlebih orang yang tidak pernah aku temui.

“Mama ada di rumah, Nar?” Ibu itu bertanya ramah.
Hmm..Dia tahu namaku. Dia kenal aku. Kenapa aku tidak mengenalinya? Mungkin Mama yang memberi tahu namaku. Ya, mungkin seperti itu.
“Oh iya, ada kok Tante. Silahkan masuk.” jawabku ramah.
“Eh iya, Kinar. Ini Tante gak sendiri loh. Tante sama Erik. “ ucap Ibu yang tahu namaku, tapi aku bahkan tidak tahu namanya.
“Siapa ? Erik? “ aku bertanya ragu.
“Iya, Erik. Erik temen Kinar dari TK kan yah?” Ibu itu tiba-tiba menyebut nama yang ‘tabu’ dalam hidupku dari sekian tahun yang lalu.

Aku terdiam seketika. Berusaha bersikap setenang mungkin, seakan-akan tidak mengenal nama yang Ibu itu sebut.

Tidak.

Aku kenal Ibu ini. Aku pernah bertemu Ibu ini. Walaupun entah kapan pertemuan pertama dan terakhir, tapi aku tiba-tiba ingat siapa Ibu ini. Ah, tidak! Ibu ini bukan mama-nya ‘dia’ kan? ‘Dia’ yang kuanggap tabu namanya, ‘dia’ yang tadi kata Ibu ini datang bersamanya. Ke rumahku? ‘Dia’ ? Habislah aku. Runtuhlah segala ketegaran dan kekuatan melupakanku selama ini. Hancur seketika setelah mendengar nama-‘nya’ disebut di depan rumahku. But, why? Aaargh!

“Kinaaarrrr....Kenapa gak dibawa masuk tamu kitaa..” Mama memanggilku di depan pintuku.
Aku bagai sedang lelap dalam lamunan tiba-tiba terbangun dengan teriakan Mama yang menggelegar.

“Oh iya, ayo masuk, Tante.”

Tanpa berpikir panjang, aku mengambil tas bawaannya. Dan tepat ketika tas ini hendak diserahkan kepadaku, ada tangan lain yang berusaha mengambil tas ini. Orang yang bernama tabu itu. Ia sepertinya tidak hanya mempermainkan perasaanku sejak dulu, tapi juga tas ini yang malah ikut dipermainkannya.

Pandanganku tepat mengarah ke matanya. Tanpa ingin menyapa atau bahkan tersenyum, aku langsung menarik tas itu.

“Biar aku aja yang bawa, Tante. “

Aku berjalan dan tidak menghiraukan orang yang bernama tabu bagiku. Ketika berjalan 3 langkah, ada tangan yang berusaha menahan tangan kananku. Langkahku ikut tertahan dan terhenti. Aku terdiam sejenak dan tidak langsung membalikkan badan.

Long time no see, Nar!”

Suaranya. Bahkan aku merinding mendengar suaranya. Seperti suara dari dunia lain atau dari alam gaib yang menembus telinga ini. Aku membalikkan badanku perlahan. Mempersiapkan kalimat sapaan yang tak biasa pula.

“Semenjak kuliah di Bandung lo pake bahasa inggris?” ucapku dengan santai dan tatapan tidak simpatik kepada ‘nya’.

“Bisa aja lo. Sama-sama kuliah di Bandung ini, masa’ gue nginggris sih.” jawabnya  dengan nada yang sama seperti aku dengar terakhir kali ketika SMP.

“Nah makanya. Kalo gue jadi fasih bisa bahasa Sunda, nah lo makin terasah ya english language-nya. Ya baguslah.” Aku tak kalah membalas dengan nada malas dan tidak ingin melanjutkan percakapan dingin ini.

“Ya elah, gue becanda kali tadi. Lo parah lah. Kita sama-sama di Bandung, tapi gak pernah ketemu sekali pun.” Ia mulai membuka percakapan dengan serius.
“Terus? Lo mau bilang gue sombong gitu? Karena kita gak pernah ketemu? Yang aneh itu elo. Nge-chat gue tapi seolah-olah gue di dunia yang berbeda.” Aku membalas dengan ucapan yang lebih mengarah ke nada sinis.
“Ohh...jadi lo sebenernya pengen gue ajak ketemuan, ya? Gitu, kan? Ciyeh...Iya gue paham kok lo kangen pasti sama gue. Haha.” Dengan nada bicara itu, aku sudah cukup kesal meladeni percakapan pertama kami setelah bertahun-tahun.
“Terserah lo deh. Entah kenapa gue penyesalan itu baru dateng setelah sekian lama. Argh kenapa baru sekarang.” 

Aku menyelesaikan pembicaraan abstrak itu dengan kalimat yang mungkin hanya aku saja yang dapat memahaminya.

***

Lima jam berharga dalam weekend minggu ke-3 bulan September. Terbuang. Sia-sia. Ternodai dengan pertemuan yang tidak pernah diharapkan. Bahkan dibayangkan saja sudah cukup mengerikan. Pertemuan itu ternyata bukan sekedar pertemuan. Kedatangan Mama juga bukan sebuah anugerah kali ini. Kunjungan Mama bukan untuk anak gadisnya yang tampak rapuh dan menyedihkan melainkan untuk menyambut orang yang bernama tabu itu.

Aku sudah terbiasa sendiri. Malam ini tiba-tiba ramai. Dan hidupku seketika ramai. Mama sibuk menyuruhku ini itu. Mulai menyiapkan kasur, selimut, bantal, menyapu kamar, dan bla-bla-bla. Aku tidak pernah membayangkan hari Minggu yang seharusnya indah terusik dan menjadi berisik karena 1 orang.

“Nar, sini deh.” Mama mengajakku mengobrol di kamarnya.

Perasaanku tidak enak. Ekpresi Mama seperti ingin meminta sesuatu dan hendak bicara hati-hati kepadaku. Persis ketika waktu aku SMA, Mama ingin meminjam motorku untuk dipakai keponakannya yang notabene adalah sepupuku yang sangat hobi ugal-ugalan dan bandel tak karuan.

“Jadi gini, Nar. Kamu kenal Erik, kan? Dia kan temen kamu dari TK. Inget, kan? “
“Iya, Ma, Inget. Sebenernya gak pengen diinget-inget lagi sih.” Jawabku dengan nada yang tidak antusias.
“Ih, jangan ngomong gitu. Mamanya itu temen Mama sekarang. Kita sering pergi bareng. Akhir-akhir ini keluarganya sering bantuin usaha Papa. Nah, Erik itu lagi S2, Nar. Dia lagi nyari kosan. Kebetulan kita ada kamar di atas. Kita jadiin kosan aja buat dia. Saling bantu gitu Nar.” Mama menjelaskan situasi yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“Jadi? Mama mau Erik ngekos di kamar atas? Gitu? Aduh Ma....” Aku tidak dapat berpikir seketika. Apa jadinya dia tinggal berdekatan denganku. Kenapa harus dia yang jadi anak teman Mama dan kenapa keluarganya yang harus membantu usaha Papa? Dan kenapa harus aku yang menghadapinya?
“Kinar...itung-itung saling bantu ih. Lagipula kamu ada yang jagain kan. Nanti ada satu lagi yang ngekos di atas bareng Erik. Dia temen kamu juga kok dari TK.” Mama berusaha meyakinkanku yang tiba-tiba pusing memikirkannya.
“Ha? Siapa lagi? Aduhhhh, Ma...Ini bukan rumah reunian, Ma. Kenapa semua temen lama aku yang ngekos. Eh tunggu, si Itu, si Erik, dia gak bisa apa nyari kosan yang deket kampusnya? Kenapa harus di sini sih? Aku jadi gak nyaman lah, Ma...” Aku memohon agar hal ini tidak jadi kenyataan.
“Loh kenapa gak nyaman sih, Nar? Dia kan deket sama kamu. Kata Erik, kalian sering ngobrol sampai beberapa bulan juga. Berarti dia temen kamu, kan?”
“Deket? Wah, itu orang yah, beneran. Deket apaan, Ma. Duh, gak tahu deh. Terserah Mama lah. Aku juga sibuk kerja juga. Aku gak bisa setiap hari jadi ibu kos. Jadi gimana nya Mama yang urus, ya.” Aku beranjak pergi dengan kekalutan yang tak diundang seperti ini.
“Duh Kinaar....Besok Mama udah pulang, Narrrrr!” teriak Mama yang mendadak menghentikan langkah kaki ini.
“Pulanggggg??????? Mamaaaa! Terus dia gimanaaaa? “

***

Senin. Satu kata mengerikan tapi harus dilalui dengan ketegaran. Terlebih dari seorang yang telah memimpikan hari sabtu dan minggunya berakhir indah yang mestinya berakhir epic. Bangkit dari tempat tidur dan mulai bersiap-siap adalah satu dari sekian hal terberat dan melelahkan dalam dunia nyata. Mengingat Mama dan Tante Evin ( Mama-nya seseorang itu ) sudah pulang meninggalkan sejuta tanggung jawab yang harus aku kerjakan sendiri, pertama-tama aku harus mandi dan sarapan. Setidaknya ada kemajuan dalam 10 menit pertama setelah bangun di Senin pagi.

“Kinaaaaaarrrrr!!!!”

Suara itu. Teriakan itu. Jujur, 2 atau 3 hari yang lalu aku punya khayalan konyol yang sempat terlintas ketika pulang dari kantor pada sore yang hiruk pikuk itu. Adalah sebuah khayalan tentang orang itu muncul dalam hidupku setelah bertahun-tahun lamanya. Delapan tahun? Hmm..mungkin sekitar 8 tahun. Dan pada kenyataan, khayalan itu menjadi phuffffhhhh.....like a magic, it happens!

“Apa?” jawabku datar.
“Jutek amat. Inii.” Ia menyerahkan kantong plastik hitam kepadaku.
“Apaan nih?” jawabku dengan nada suara yang sedang curiga kepadanya. Kepada kantong plastik hitam ini.
“Bom. Ya lo pikir? Nih sarapan.” jawaban dan nada suaranya tidak pernah berubah. Tidak pernah bersahabat.
“Gue bisa masak sendiri. Ngapain beli sarapan di luar segala sih.” Kali ini aku merespon ucapannya dengan sinis bukan main.
“Wah, di mana-mana kalo ada yang beliin makanan terlebih sarapan di pagi buta gini, seharusnya yang diucapin tuh ‘terima kasih’, ato ‘duh lo baik banget sih’. Lo cewek gak sih? Gak bisa ramah dikit deh.”
“Lo sejak kapan peduli sama jawaban gue? Lagipula gue gak minta dibeliin sarapan sama lo kok. Terus apaan coba lo tiba-tiba baik gini ke gue? Dan gak ada hubungannya ya sama cewek harus ramah ketika dia dibeliin sarapan sama cowok. Pemikiran lo aja yang aneh.”
“Nar, lo jutek gak di mana-mana ya. Ketika gue nge-chat lo, jutek. Eh ketemu langsung jutek. Gue kenapa segegabah itu yah. Ckck. Eh udah deh. Pagi-pagi gini udah debat kusir aja. Bisa gak sarapan dengan tenang dulu nanti debatnya dilanjutin lagi, hmm?”
“Ah terserah lo deh. Senin pagi gue rusak karena lo deh asli.”
“Sarapan di meja makan lo aja ya, Nar!”

Benar-benar tak karuan hari senin pagi ini. Tamu tak diundang dan sarapan yang tak diinginkan. Dan pada kenyataannya, setelah delapan tahun tidak pernah bertemu, bertatap muka, bertegur sapa hingga sekalipun berbicara di dunia nyata, aku melewati sarapan dengannya. Walau dengan semangkok bubur dan ditemani kicauan burung yang terdengar semangat dibanding aku yang sudah mengeluh, hari ini mungkin hari yang terbaik bagi Teen Kinar yang mengharapkan hal ini 8 tahun yang lalu. Andai Teen Kinar yang kini berbicang dengannya, meski tidak akan pernah memiliki dan dimiliki olehnya, itu sudah cukup.

Tetapi, rasa itu entah kenapa ada yang berbeda hingga kini. Masih terasa hingga kini. Meski sedikit. Tapi aku tak sadar itu apa. Entah dia juga sadar atau tidak. Bahkan kami masih seperti ini. Tidak ada yang berubah. Menyimpannya sendiri. Masing-masing. Tanpa ingin tahu rasanya kepadaku. Atau rasaku kepadanya.


Begitu terus, selama delapan tahun.

***
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar