I
Sarapan Sewindu
Padat, pengap, merayap. Aku tidak sedang menggambarkan
situasi jalan yang berantakan bukan main. Oke, sebut saja tentang situasi
jalan. Tetapi lebih parah daripada itu, deskripsi padat-pengap-merayap itu
lebih menggambarkan tentang kondisi hidupku. Hidup sebagai manusia berkepala 2 ( baca : berumur 20 tahun keatas ) berarti penuh tanggung jawab, penuh
pengharapan dan segala bentuk ambisi yang belum tersampaikan. Sekian tentang
deskripsi hidup yang sedang kuhadapi.
Persoalan lainnya juga tentang banyak hal. Malam ini
makan apa, di mana, dan hmm...dengan siapa. Pertanyaan pertama bisa aku jawab
dengan mudah. Antara nasi padang atau nasi goreng seafood depan rumah. Keputusannya soal nanti, tergantung seberapa
lapar perut ini. Pertanyaan di mana, hmm...juga mudah untuk dijawab. Depan
rumah atau di depan kantor. Dan yang terakhir, dengan siapa. Selama ini tidak
pernah atau bahkan belum pernah terpikirkan bahwa di umur ini seharusnya aku
sudah tidak single lagi! Tapi ya,
takdir dan usaha terkadang tidak pernah saling bekerja sama.
Takdir? Usaha?
Jujur, itu bukan jawaban yang tepat bagi sebagian orang yang sampai saat ini
masih saja single. Ada satu jawaban
lain yang tidak pernah disadari oleh aku, kamu ataupun mereka. Sedang aku saja
baru tersadar beberapa menit yang lalu. Mungkin di waktu yang tepat, aku akan
lebih menyadarinya. Sebuah penyesalan terbaik sekaligus terbodoh. Dan aku hanya
bisa mengasihini diriku sendiri. Biasanya jago memberikan saran dan pendapat
untuk teman yang sedang galau urusan percintaan, dan hah! Lihatlah si single dengan angkuhnya memberi
wejangan. Yah, well...we’re immediately
being a experienced if other people feel that. And guess what, I’ve never been
on that situation actually. Haha!
Masih berjalan di tengah klason mobil, angkot, motor yang
seakan-akan ingin menjadi raja jalanan dan ingin menjadi yang terdepan,
pikiranku terkadang melayang-layang memikirkan ketidakmungkinan dalam hidupku.
Mengapa aku masih single. Mengapa aku
masih sendiri. Di tengah keramaian seperti ini. Dan sepertinya aku saja yang
masih sanggup sendiri.
***
“Weekend gini harusnya pergi jalan-jalan kek atau
olahraga atau ngapain kek. Ini malah diem di rumah aja.” Kedatangan Mama
seperti biasa memberikan suasana yang lebih “hidup” di rumah yang biasanya sepi
seperti kuburan. Tak ketinggalan, nasihat langganan yang selalu aku dengar
ketika beliau berkunjung setiap 3 bulan.
“Kalo keluar rumah lagi itu namanya ngabisin energi, Ma.
Lagian kalau pergi main kan entar ngeluarin duit juga. Mending disimpen
duitnya.” Aku masih betah dengan bantal empuk dan remote yang sibuk mencari
channel televisi.
“Untuk apa punya duit tapi gak bisa dinikmatin ih. Kamu
tuh sama kayak Papa, alesan gak mau pergi jalan-jalan biar hemat, mau nabung
untuk inilah, itulah. Padahal akhirnya gak untuk apa-apa. Huh.” Mama yang
tadinya memberi nasihat berujung curhat. Ya, itulah Mama.
“Haha, Ma...Kalo Papa mah beda lah. Papa kan mau
investasi. Lah aku baru juga kerja, uangnya juga gak banyak. Entar kalo udah
banyak, baru aku jalan-jalan bareng Mama, kan. Hehe.”
“Ah, kalian tuh
hobinya ngasih harapan aja. Janjinya ngajak Mama jalan-jalan tapi liat aja
entar. Pada lupa. Ya udah, Mama ke dapur dulu.” Percakapan seperti ini tidak
akan pernah ada akhirnya. Pasti berujung Mama yang menjadi korban PHP.
Ternyata, bukan cuma aku yang menjadi korban PHP di dunia ini, Mama pun
merasakan yang sama .
Hari minggu sore adalah hari yang selalu tepat untuk
berdiam diri di kamar hingga malam. Tidur, bangun lalu tidur lagi dan akhirnya
terbangun di tengah malam adalah ritual fantastis seorang anak gadis sepertiku.
Bahkan ketika ada Mama pun, setelah dimarahi habis-habisan aku masih saja
menjadi penghuni kamar seharian. Kali ini Mama tidak mempedulikan ritual
‘fantastis’ ini. Mendengar ada suara di depan rumah, konsentrasiku untuk masuk
ke alam mimpi terganggu sudah.
Setelah berusaha menutup mata sembari menyumbat telinga
dengan earphone yang berisikan
lagu-lagu slow, kantuk ini tak
kunjung datang. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku keluar dari kamar. Ternyata
tidur yang gagal lebih menyebalkan daripada bangun telat ketika sedang
terburu-buru. Pikiran yang ingin hibernasi tapi dipaksa melihat dunia nyata
lagi. Jika tidak karena orang-orang yang berisik di depan rumahku, aku pasti
sudah sukses menjalani “ritual” akhir pekan ini.
“ Ma, siapa sih yang di luar? Ngetuk- ngetuk pager
segala. Berisik banget. Gak ngeliat ada bel apa.” Aku melihat keadaan luar
dengan menyibakkan gorden.
“ Oh, udah dateng kali ya?” tanya Mama yang berteriak
kencang dari dapur.
“Hm? Siapa yang mau dateng? “ Aku malah balik bertanya.
“Tolong bukain pintu dong, Nar. Itu temen Mama. Nanti
suruh masuk aja ya. Mama mau ganti baju dulu.” jawab Mama tergesa-gesa masuk ke
kamar.
Melihat Mama tergesa-gesa, Aku pun ikut tergesa-gesa
membuka pintu.
“Iya, sebentar..”
Aku keluar membuka pagar.
Seorang ibu paruh baya membawa tas yang bisa dibilang
semi koper, berwajah putih bersih dengan rambut sebahu tersenyum sumringah
kepadaku. Aku membalas senyumannya. Sedikit
awkward dan kaku. Membalas senyum seseorang yang sangat hangat. Terlebih
orang yang tidak pernah aku temui.
“Mama ada di rumah, Nar?” Ibu itu bertanya ramah.
Hmm..Dia tahu namaku. Dia kenal aku. Kenapa aku tidak
mengenalinya? Mungkin Mama yang memberi tahu namaku. Ya, mungkin seperti itu.
“Oh iya, ada kok Tante. Silahkan masuk.” jawabku ramah.
“Eh iya, Kinar. Ini Tante gak sendiri loh. Tante sama
Erik. “ ucap Ibu yang tahu namaku, tapi aku bahkan tidak tahu namanya.
“Siapa ? Erik? “ aku bertanya ragu.
“Iya, Erik. Erik temen Kinar dari TK kan yah?” Ibu itu
tiba-tiba menyebut nama yang ‘tabu’ dalam hidupku dari sekian tahun yang lalu.
Aku terdiam seketika. Berusaha bersikap setenang mungkin,
seakan-akan tidak mengenal nama yang Ibu itu sebut.
Tidak.
Aku kenal Ibu ini. Aku pernah bertemu Ibu ini. Walaupun
entah kapan pertemuan pertama dan terakhir, tapi aku tiba-tiba ingat siapa Ibu
ini. Ah, tidak! Ibu ini bukan mama-nya ‘dia’ kan? ‘Dia’ yang kuanggap tabu
namanya, ‘dia’ yang tadi kata Ibu ini datang bersamanya. Ke rumahku? ‘Dia’ ?
Habislah aku. Runtuhlah segala ketegaran dan kekuatan melupakanku selama ini.
Hancur seketika setelah mendengar nama-‘nya’ disebut di depan rumahku. But, why? Aaargh!
“Kinaaarrrr....Kenapa gak dibawa masuk tamu kitaa..” Mama
memanggilku di depan pintuku.
Aku bagai sedang
lelap dalam lamunan tiba-tiba terbangun dengan teriakan Mama yang menggelegar.
“Oh iya, ayo masuk,
Tante.”
Tanpa berpikir panjang, aku mengambil tas bawaannya. Dan
tepat ketika tas ini hendak diserahkan kepadaku, ada tangan lain yang berusaha
mengambil tas ini. Orang yang bernama tabu itu. Ia sepertinya tidak hanya
mempermainkan perasaanku sejak dulu, tapi juga tas ini yang malah ikut
dipermainkannya.
Pandanganku tepat
mengarah ke matanya. Tanpa ingin menyapa atau bahkan tersenyum, aku langsung
menarik tas itu.
“Biar aku aja yang
bawa, Tante. “
Aku berjalan dan tidak menghiraukan orang yang bernama
tabu bagiku. Ketika berjalan 3 langkah, ada tangan yang berusaha menahan tangan
kananku. Langkahku ikut tertahan dan terhenti. Aku terdiam sejenak dan tidak
langsung membalikkan badan.
“Long time no see,
Nar!”
Suaranya. Bahkan aku merinding mendengar suaranya.
Seperti suara dari dunia lain atau dari alam gaib yang menembus telinga ini.
Aku membalikkan badanku perlahan. Mempersiapkan kalimat sapaan yang tak biasa
pula.
“Semenjak kuliah di Bandung lo pake bahasa inggris?”
ucapku dengan santai dan tatapan tidak simpatik kepada ‘nya’.
“Bisa aja lo. Sama-sama kuliah di Bandung ini, masa’ gue
nginggris sih.” jawabnya dengan nada
yang sama seperti aku dengar terakhir kali ketika SMP.
“Nah makanya. Kalo gue jadi fasih bisa bahasa Sunda, nah
lo makin terasah ya english language-nya. Ya baguslah.” Aku tak kalah membalas
dengan nada malas dan tidak ingin melanjutkan percakapan dingin ini.
“Ya elah, gue becanda kali tadi. Lo parah lah. Kita
sama-sama di Bandung, tapi gak pernah ketemu sekali pun.” Ia mulai membuka percakapan
dengan serius.
“Terus? Lo mau bilang gue sombong gitu? Karena kita gak
pernah ketemu? Yang aneh itu elo. Nge-chat gue tapi seolah-olah gue di dunia
yang berbeda.” Aku membalas dengan ucapan yang lebih mengarah ke nada sinis.
“Ohh...jadi lo sebenernya pengen gue ajak ketemuan, ya?
Gitu, kan? Ciyeh...Iya gue paham kok lo kangen pasti sama gue. Haha.” Dengan
nada bicara itu, aku sudah cukup kesal meladeni percakapan pertama kami setelah
bertahun-tahun.
“Terserah lo deh. Entah kenapa gue penyesalan itu baru
dateng setelah sekian lama. Argh kenapa baru sekarang.”
Aku menyelesaikan
pembicaraan abstrak itu dengan kalimat yang mungkin hanya aku saja yang dapat
memahaminya.
***
Lima jam berharga dalam weekend minggu ke-3 bulan
September. Terbuang. Sia-sia. Ternodai dengan pertemuan yang tidak pernah
diharapkan. Bahkan dibayangkan saja sudah cukup mengerikan. Pertemuan itu
ternyata bukan sekedar pertemuan. Kedatangan Mama juga bukan sebuah anugerah
kali ini. Kunjungan Mama bukan untuk anak gadisnya yang tampak rapuh dan
menyedihkan melainkan untuk menyambut orang yang bernama tabu itu.
Aku sudah terbiasa sendiri. Malam ini tiba-tiba ramai.
Dan hidupku seketika ramai. Mama sibuk menyuruhku ini itu. Mulai menyiapkan
kasur, selimut, bantal, menyapu kamar, dan bla-bla-bla. Aku tidak pernah
membayangkan hari Minggu yang seharusnya indah terusik dan menjadi berisik
karena 1 orang.
“Nar, sini deh.” Mama mengajakku mengobrol di kamarnya.
Perasaanku tidak enak. Ekpresi Mama seperti ingin meminta
sesuatu dan hendak bicara hati-hati kepadaku. Persis ketika waktu aku SMA, Mama
ingin meminjam motorku untuk dipakai keponakannya yang notabene adalah sepupuku
yang sangat hobi ugal-ugalan dan bandel tak karuan.
“Jadi gini, Nar.
Kamu kenal Erik, kan? Dia kan temen kamu dari TK. Inget, kan? “
“Iya, Ma, Inget.
Sebenernya gak pengen diinget-inget lagi sih.” Jawabku dengan nada yang tidak
antusias.
“Ih, jangan ngomong
gitu. Mamanya itu temen Mama sekarang. Kita sering pergi bareng. Akhir-akhir
ini keluarganya sering bantuin usaha Papa. Nah, Erik itu lagi S2, Nar. Dia lagi
nyari kosan. Kebetulan kita ada kamar di atas. Kita jadiin kosan aja buat dia.
Saling bantu gitu Nar.” Mama menjelaskan situasi yang sama sekali tidak pernah
aku bayangkan sebelumnya.
“Jadi? Mama mau
Erik ngekos di kamar atas? Gitu? Aduh Ma....” Aku tidak dapat berpikir
seketika. Apa jadinya dia tinggal berdekatan denganku. Kenapa harus dia yang
jadi anak teman Mama dan kenapa keluarganya yang harus membantu usaha Papa? Dan
kenapa harus aku yang menghadapinya?
“Kinar...itung-itung
saling bantu ih. Lagipula kamu ada yang jagain kan. Nanti ada satu lagi yang
ngekos di atas bareng Erik. Dia temen kamu juga kok dari TK.” Mama berusaha
meyakinkanku yang tiba-tiba pusing memikirkannya.
“Ha? Siapa lagi?
Aduhhhh, Ma...Ini bukan rumah reunian, Ma. Kenapa semua temen lama aku yang
ngekos. Eh tunggu, si Itu, si Erik, dia gak bisa apa nyari kosan yang deket
kampusnya? Kenapa harus di sini sih? Aku jadi gak nyaman lah, Ma...” Aku
memohon agar hal ini tidak jadi kenyataan.
“Loh kenapa gak
nyaman sih, Nar? Dia kan deket sama kamu. Kata Erik, kalian sering ngobrol
sampai beberapa bulan juga. Berarti dia temen kamu, kan?”
“Deket? Wah, itu
orang yah, beneran. Deket apaan, Ma. Duh, gak tahu deh. Terserah Mama lah. Aku
juga sibuk kerja juga. Aku gak bisa setiap hari jadi ibu kos. Jadi gimana nya
Mama yang urus, ya.” Aku beranjak pergi dengan kekalutan yang tak diundang
seperti ini.
“Duh
Kinaar....Besok Mama udah pulang, Narrrrr!” teriak Mama yang mendadak
menghentikan langkah kaki ini.
“Pulanggggg???????
Mamaaaa! Terus dia gimanaaaa? “
***
Senin. Satu kata
mengerikan tapi harus dilalui dengan ketegaran. Terlebih dari seorang yang
telah memimpikan hari sabtu dan minggunya berakhir indah yang mestinya berakhir
epic. Bangkit dari tempat tidur dan
mulai bersiap-siap adalah satu dari sekian hal terberat dan melelahkan dalam
dunia nyata. Mengingat Mama dan Tante Evin ( Mama-nya seseorang itu ) sudah
pulang meninggalkan sejuta tanggung jawab yang harus aku kerjakan sendiri,
pertama-tama aku harus mandi dan sarapan. Setidaknya ada kemajuan dalam 10
menit pertama setelah bangun di Senin pagi.
“Kinaaaaaarrrrr!!!!”
Suara itu. Teriakan
itu. Jujur, 2 atau 3 hari yang lalu aku punya khayalan konyol yang sempat
terlintas ketika pulang dari kantor pada sore yang hiruk pikuk itu. Adalah
sebuah khayalan tentang orang itu muncul dalam hidupku setelah bertahun-tahun
lamanya. Delapan tahun? Hmm..mungkin sekitar 8 tahun. Dan pada kenyataan,
khayalan itu menjadi phuffffhhhh.....like
a magic, it happens!
“Apa?” jawabku
datar.
“Jutek amat. Inii.”
Ia menyerahkan kantong plastik hitam kepadaku.
“Apaan nih?”
jawabku dengan nada suara yang sedang curiga kepadanya. Kepada kantong plastik
hitam ini.
“Bom. Ya lo pikir?
Nih sarapan.” jawaban dan nada suaranya tidak pernah berubah. Tidak pernah
bersahabat.
“Gue bisa masak
sendiri. Ngapain beli sarapan di luar segala sih.” Kali ini aku merespon
ucapannya dengan sinis bukan main.
“Wah, di mana-mana
kalo ada yang beliin makanan terlebih sarapan di pagi buta gini, seharusnya yang
diucapin tuh ‘terima kasih’, ato ‘duh lo baik banget sih’. Lo cewek gak sih?
Gak bisa ramah dikit deh.”
“Lo sejak kapan
peduli sama jawaban gue? Lagipula gue gak minta dibeliin sarapan sama lo kok.
Terus apaan coba lo tiba-tiba baik gini ke gue? Dan gak ada hubungannya ya sama
cewek harus ramah ketika dia dibeliin sarapan sama cowok. Pemikiran lo aja yang
aneh.”
“Nar, lo jutek gak
di mana-mana ya. Ketika gue nge-chat lo, jutek. Eh ketemu langsung jutek. Gue
kenapa segegabah itu yah. Ckck. Eh udah deh. Pagi-pagi gini udah debat kusir
aja. Bisa gak sarapan dengan tenang dulu nanti debatnya dilanjutin lagi, hmm?”
“Ah terserah lo
deh. Senin pagi gue rusak karena lo deh asli.”
“Sarapan di meja
makan lo aja ya, Nar!”
Benar-benar tak
karuan hari senin pagi ini. Tamu tak diundang dan sarapan yang tak diinginkan.
Dan pada kenyataannya, setelah delapan tahun tidak pernah bertemu, bertatap
muka, bertegur sapa hingga sekalipun berbicara di dunia nyata, aku melewati
sarapan dengannya. Walau dengan semangkok bubur dan ditemani kicauan burung
yang terdengar semangat dibanding aku yang sudah mengeluh, hari ini mungkin
hari yang terbaik bagi Teen Kinar
yang mengharapkan hal ini 8 tahun yang lalu. Andai Teen Kinar yang kini berbicang dengannya, meski tidak akan pernah
memiliki dan dimiliki olehnya, itu sudah cukup.
Tetapi, rasa itu
entah kenapa ada yang berbeda hingga kini. Masih terasa hingga kini. Meski
sedikit. Tapi aku tak sadar itu apa. Entah dia juga sadar atau tidak. Bahkan
kami masih seperti ini. Tidak ada yang berubah. Menyimpannya sendiri.
Masing-masing. Tanpa ingin tahu rasanya kepadaku. Atau rasaku kepadanya.
Begitu terus,
selama delapan tahun.
***
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar