Bahagia itu diumpamakan dengan sesuatu yang manis.
Setelah terasa senang di awal lalu lama kelamaan manisnya hilang, mulai hambar,
makin datar hingga pada akhirnya menjadi kenangan dan mulai membuyar.
Setidaknya sudah berusaha.
Setidaknya pernah merasa.
Walau berakhir begitu saja.
Itu yang aku, kamu
dan dia lalui. Mungkin yang kita harapkan tak selalu menjadi milik kita.
Mungkin yang kita idamkan tak akan pernah ada di dalam hidup kita. Tapi
kemungkinan itu-lah yang memulai kehidupan kita yang sesungguhnya. Dengan
mempertahankan perasaan yang bertahun-tahun lamanya, aku bisa memahami dan
menghargai betapa berat suatu perasaan dan bagaimana sulitnya berjuang dengan
keangkuhan perasaan ini. Bahkan setelah didera dengan sebuah kenyataan, aku
terlalu teguh untuk melupakan. Bersikeras bahwa menunggu sampai akhir itu
seburah keharusan. Padahal tidak. Jika saja mengikhlaskan dari awal,
mengungkapkan pada saat itu juga, dan tidak membawa-bawa ke masa depan,
setidaknya penyesalan itu tidak bertumbuh dalam perasaan.
Kemungkinan lain adalah Erik dan Riyo juga mulai
menyadari hal itu. Aku pun juga. Kami sibuk dengan angan-angan kami sendiri.
Sibuk dengan spekulasi kami sendiri. Tanpa melihat bahwa yang kami dambakan
malah berakhir menjadi sebuah hubungan lain. Menjadi kawan. Kami melupakan perasaan
yang tak terbalas dan berputar-putar seperti ini. Kami mengakhiri pemikiran
bahwa memiliki adalah satu-satunya cara untuk bahagia.
Padahal, bahagia yang seharusnya kami tuju cukup yang
sederhana saja. Saling memaafkan. Saling melapangkan. Saling mendoakan. Maka,
masa depan yang akan menentukan jalannya. Kami hanya cukup berdamai. Bukan
antara aku dengan Erik atau antara Erik dengan aku atau bahkan aku dengan Riyo.
Ini bukan cinta segitiga. Ini hanya permainan yang kami ciptakan sendiri.
Permainan perasaan. Yang kami perlukan hanya berdamai.
Lima tahun berlalu. Berlalu sejak pengakuan yang penuh
keberanian itu. Oleh-ku. Seorang Kinar yang dulunya hanya bisa memendam dan
menerka-nerka. Kini kami tumbuh menjadi seorang yang lebih dewasa lagi. Bukan
sebagai 3 manusia yang sibuk memperjuangkan kebahagiaan individualnya, tapi
sebagai 3 kawan yang saling mendukung, saling berbicara dan saling tertawa
bersama.
Erik setelah 5 tahun akhirnya lulus dan mendapat gelar
magisternya dan bekerja sesuai dengan impian sebagai eksekutif muda. Dia tidak
lagi berpacaran dengan junior SMA-ku. Katanya, dia lelah berpacaran. Dia lelah
pedekate. Dia lelah mengoleksi mantan. Dia hanya sibuk membangun kehidupan
finansial. Dan selalu menjadi orang yang mengusik hidupku dengan candaannya,
sikap usilnya dan terkadang wejangan-wejangan sok bijaknya. Ketika aku akan
bertunangan dengan salah seorang teman sekantor dulu, dia sempat mengatakan hal
ini kepadaku.
“Nar, ntar kalo udah nikah lo jangan galak-galak ya sama
suami lo. Mata lo itu kalo marah kayak kebakaran, ada apinya. Haha. Dan satu
lagi. Kebiasaan jujur lo itu. Pertahanin. Karena laki-laki kagum sama sifat
perempuan yang gak nyimpen perasaannya lama-lama. Laki-laki bukan magician.
Yang bisa nebak pikiran dan perasaan perempuan. Hehe”
Berbeda dengan Riyo. Ia tidak pernah meledek atau
mengusili-ku. Ia selalu menjadi pendengar yang baik bahkan ketika aku sedang
marah atau kesal. Memang benar perkiraanku ketika SMP, kalau dia memang cocok
menjadi sahabatku. Dia ada ketika aku menghadapi masa-masa sulit ketika
hubunganku dengan tunanganku ada masalah. Dia selalu ada memberiku solusi. Dan
aku pun sering memberikan solusi kepadanya. Termasuk menjodohkannya dengan
temanku.
“Akhirnya setelah bertahun-tahun, gue jadi cowok normal
lagi, Nar. Bisa suka dan jatuh cinta sama cewek lain. Hehe.”
Sekalinya bercanda, dia selalu membuatku tercengang. Ya,
memang benar. Aku nyaris saja mengubahnya menjadi pria yang tidak normal.
***
“Nih, Nar. Hadiah dari kita. Biasanya kan sesama cewek
ada bridal shower atau semacamnya gitu kan. Kalau kita cuma bisa ngasih kado
ini.”
“Apaan nih? Kotak segede ini isinya apaan sih? Gue curiga
sama kalian.”
“Ya ampun, Nar. Gue sama Erik ngasih ini spesial buat
lo.”
Kinar membuka sebuah kotak warna ungu yang di atasnya
dihias dengan pita putih. Kotak sebesar mesin cuci ini membuat Kinar curiga dan
membuatnya membuka dengan hati-hati.
“Kalau kalian ngasi yang macem-macem, gue laporin ya
kalian berdua ke kantor polisi.”
“Percaya deh sama kita. Lo akan terharu kalo liat kado dari
kita berdua.”
Kinar membukanya.
Kinar lalu terdiam melihat isi kotak itu.
“Kenapa isi kotak
sebesar ini isinya......aromanis? Sebanyak ini? Buat apa woi?”
“Lo inget gak waktu
lo patah hati hampir ditinggalin sama tunangan lo itu. Lo ngajak kita makan aromanis
sampai kita nyaris muntah-muntah dan sakit tenggorakan? Setelah itu, lo udah
gak down lagi dan besoknya hubungan lo baik-baik aja kan?”
“Nah, gue sama Riyo
ngasih ini ya buat jaga-jaga aja. Seandainya lo ngadepin masalah, ya lo makan
aja aromanis ini. Setahun juga gak akan habis deh. Ya at least, walaupun kita
gak bisa bantuin lo ketika ada masalah, lo bisa kabur dan nangis bareng
aromanis ini. Haha.“
Wajah Kinar lalu berubah. Ia tersenyum dan meneteskan air
mata.
“ Hmm....walaupun
gue gak pernah jadian sama salah satu dari kalian, tapi kalian boyfriend-able
kok. Hehehe.
“Hahaha.
Boyfriend-able banget nih kita. Hahaha. Selagi ada manisnya hidup, inget aja
rasa manisnya, Nar. Karena semuanya gak akan selalu manis pada akhirnya. Ya,
gak? Hehe”
“Iya, bener, Rik, Yo. Karena yang hanya perlu kita lakuin
cuma, jalani, lalui, rasakan bahagianya.“
***
(tamat)
Desember, 2016
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar