Rabu, 21 Desember 2016

Aromanis (bagian akhir) ; Sebuah Kado

Bahagia itu diumpamakan dengan sesuatu yang manis. Setelah terasa senang di awal lalu lama kelamaan manisnya hilang, mulai hambar, makin datar hingga pada akhirnya menjadi kenangan dan mulai membuyar.

Setidaknya sudah berusaha.
Setidaknya pernah merasa.
Walau berakhir begitu saja.

Itu yang aku, kamu dan dia lalui. Mungkin yang kita harapkan tak selalu menjadi milik kita. Mungkin yang kita idamkan tak akan pernah ada di dalam hidup kita. Tapi kemungkinan itu-lah yang memulai kehidupan kita yang sesungguhnya. Dengan mempertahankan perasaan yang bertahun-tahun lamanya, aku bisa memahami dan menghargai betapa berat suatu perasaan dan bagaimana sulitnya berjuang dengan keangkuhan perasaan ini. Bahkan setelah didera dengan sebuah kenyataan, aku terlalu teguh untuk melupakan. Bersikeras bahwa menunggu sampai akhir itu seburah keharusan. Padahal tidak. Jika saja mengikhlaskan dari awal, mengungkapkan pada saat itu juga, dan tidak membawa-bawa ke masa depan, setidaknya penyesalan itu tidak bertumbuh dalam perasaan.

Kemungkinan lain adalah Erik dan Riyo juga mulai menyadari hal itu. Aku pun juga. Kami sibuk dengan angan-angan kami sendiri. Sibuk dengan spekulasi kami sendiri. Tanpa melihat bahwa yang kami dambakan malah berakhir menjadi sebuah hubungan lain. Menjadi kawan. Kami melupakan perasaan yang tak terbalas dan berputar-putar seperti ini. Kami mengakhiri pemikiran bahwa memiliki adalah satu-satunya cara untuk bahagia.

Padahal, bahagia yang seharusnya kami tuju cukup yang sederhana saja. Saling memaafkan. Saling melapangkan. Saling mendoakan. Maka, masa depan yang akan menentukan jalannya. Kami hanya cukup berdamai. Bukan antara aku dengan Erik atau antara Erik dengan aku atau bahkan aku dengan Riyo. Ini bukan cinta segitiga. Ini hanya permainan yang kami ciptakan sendiri. Permainan perasaan. Yang kami perlukan hanya berdamai.

Lima tahun berlalu. Berlalu sejak pengakuan yang penuh keberanian itu. Oleh-ku. Seorang Kinar yang dulunya hanya bisa memendam dan menerka-nerka. Kini kami tumbuh menjadi seorang yang lebih dewasa lagi. Bukan sebagai 3 manusia yang sibuk memperjuangkan kebahagiaan individualnya, tapi sebagai 3 kawan yang saling mendukung, saling berbicara dan saling tertawa bersama.

Erik setelah 5 tahun akhirnya lulus dan mendapat gelar magisternya dan bekerja sesuai dengan impian sebagai eksekutif muda. Dia tidak lagi berpacaran dengan junior SMA-ku. Katanya, dia lelah berpacaran. Dia lelah pedekate. Dia lelah mengoleksi mantan. Dia hanya sibuk membangun kehidupan finansial. Dan selalu menjadi orang yang mengusik hidupku dengan candaannya, sikap usilnya dan terkadang wejangan-wejangan sok bijaknya. Ketika aku akan bertunangan dengan salah seorang teman sekantor dulu, dia sempat mengatakan hal ini kepadaku.


“Nar, ntar kalo udah nikah lo jangan galak-galak ya sama suami lo. Mata lo itu kalo marah kayak kebakaran, ada apinya. Haha. Dan satu lagi. Kebiasaan jujur lo itu. Pertahanin. Karena laki-laki kagum sama sifat perempuan yang gak nyimpen perasaannya lama-lama. Laki-laki bukan magician. Yang bisa nebak pikiran dan perasaan perempuan. Hehe”

Berbeda dengan Riyo. Ia tidak pernah meledek atau mengusili-ku. Ia selalu menjadi pendengar yang baik bahkan ketika aku sedang marah atau kesal. Memang benar perkiraanku ketika SMP, kalau dia memang cocok menjadi sahabatku. Dia ada ketika aku menghadapi masa-masa sulit ketika hubunganku dengan tunanganku ada masalah. Dia selalu ada memberiku solusi. Dan aku pun sering memberikan solusi kepadanya. Termasuk menjodohkannya dengan temanku.

“Akhirnya setelah bertahun-tahun, gue jadi cowok normal lagi, Nar. Bisa suka dan jatuh cinta sama cewek lain. Hehe.”
Sekalinya bercanda, dia selalu membuatku tercengang. Ya, memang benar. Aku nyaris saja mengubahnya menjadi pria yang tidak normal.

***

“Nih, Nar. Hadiah dari kita. Biasanya kan sesama cewek ada bridal shower atau semacamnya gitu kan. Kalau kita cuma bisa ngasih kado ini.”
“Apaan nih? Kotak segede ini isinya apaan sih? Gue curiga sama kalian.”
“Ya ampun, Nar. Gue sama Erik ngasih ini spesial buat lo.”

Kinar membuka sebuah kotak warna ungu yang di atasnya dihias dengan pita putih. Kotak sebesar mesin cuci ini membuat Kinar curiga dan membuatnya membuka dengan hati-hati.

“Kalau kalian ngasi yang macem-macem, gue laporin ya kalian berdua ke kantor polisi.”
“Percaya deh sama kita. Lo akan terharu kalo liat kado dari kita berdua.”

Kinar membukanya.
Kinar lalu terdiam melihat isi kotak itu.

“Kenapa isi kotak sebesar ini isinya......aromanis? Sebanyak ini? Buat apa woi?”
“Lo inget gak waktu lo patah hati hampir ditinggalin sama tunangan lo itu. Lo ngajak kita makan aromanis sampai kita nyaris muntah-muntah dan sakit tenggorakan? Setelah itu, lo udah gak down lagi dan besoknya hubungan lo baik-baik aja kan?”
“Nah, gue sama Riyo ngasih ini ya buat jaga-jaga aja. Seandainya lo ngadepin masalah, ya lo makan aja aromanis ini. Setahun juga gak akan habis deh. Ya at least, walaupun kita gak bisa bantuin lo ketika ada masalah, lo bisa kabur dan nangis bareng aromanis ini. Haha.“

Wajah Kinar lalu berubah. Ia tersenyum dan meneteskan air mata.

“ Hmm....walaupun gue gak pernah jadian sama salah satu dari kalian, tapi kalian boyfriend-able kok. Hehehe.
“Hahaha. Boyfriend-able banget nih kita. Hahaha. Selagi ada manisnya hidup, inget aja rasa manisnya, Nar. Karena semuanya gak akan selalu manis pada akhirnya. Ya, gak? Hehe”
“Iya, bener, Rik, Yo. Karena yang hanya perlu kita lakuin cuma, jalani, lalui, rasakan bahagianya.“

***
(tamat)


Desember, 2016


RED
                                                                                              



Tidak ada komentar:

Posting Komentar