Teruntuk yang tak berjendela dan secangkir
teh pahit di tanggal delapan...
Setahun berlalu. Tahun lalu
juga ikut ambil bagian dalam #PosCinta ini. Sudah setahun juga semuanya berlalu
tentang aku dan semuanya. Dari tempat dimana aku sekarang menulis dan menulis
surat cinta yang tidak lagi selama sebulan. Tahun ini mungkin sama atau mungkin
bisa berbeda dengan tahun yang kemarin. Tapi yang jelas, pagi ini aku juga
tidak akan menulis untuk seseorang. Tapi sesuatu. Suatu tempat yang harus
menyamankan aku selama 2 tahun ini.
Ruangnya cukup besar, terang,
bersih dan terasa hommy. Setiap
membuka pintu, aku selalu memikirkan “ah, aku sedang ada di rumah.” Sugesti yang
cukup baik untuk membuat betah diri ini. Tapi ini sudah lebih dari cukup,
menurutku. Karena bersyukur adalah awal dari rasa bahagia maka bersyukur saja,
Din!
Namun tetap saja, ada yang
disayangkan dari ruang yang cukup besar
ini. Tak ada jendela yang bisa menyambut pagi dan menghantarkan sore hari. Terkadang,
hidup memang begini. Berusaha melengkapi tetapi masih terasa kurang. Teh pahit di
cangkir ku ini juga sudah mulai dingin. Mungkin teh pahitku persis seperti aku. Perlu jendela agar bisa
menghangatkan pagi ini.
Teruntuk ruang yang tak
berjendela, bertemanlah denganku. Aku hanya butuh suasana hangat agar setiap
hari dimulai dan diakhiri dengan rasa tenang. Teruntuk teh pahit yang
menyelematkan perut yang mulai kedinginan, terima kasih ya. Kemampuan menahan
rasa yang sudah kuasah selama beberapa tahun ternyata tidak sia-sia.
Maka pagi ini aku menulis surat
cinta untuk semua ‘teman’ baru karena ‘mereka’ aku harus dan bisa bertahan.
Tetap bahagia dan tetap bersyukur, ya!
Dari
Penggemar jendela dan teh pahit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar