Rabu, 08 Februari 2017

Teh Pahit

Teruntuk  yang tak berjendela dan secangkir teh pahit di tanggal delapan...


Setahun berlalu. Tahun lalu juga ikut ambil bagian dalam #PosCinta ini. Sudah setahun juga semuanya berlalu tentang aku dan semuanya. Dari tempat dimana aku sekarang menulis dan menulis surat cinta yang tidak lagi selama sebulan. Tahun ini mungkin sama atau mungkin bisa berbeda dengan tahun yang kemarin. Tapi yang jelas, pagi ini aku juga tidak akan menulis untuk seseorang. Tapi sesuatu. Suatu tempat yang harus menyamankan aku selama 2 tahun ini.

Ruangnya cukup besar, terang, bersih dan terasa hommy. Setiap membuka pintu, aku selalu memikirkan “ah, aku sedang ada di rumah.” Sugesti yang cukup baik untuk membuat betah diri ini. Tapi ini sudah lebih dari cukup, menurutku. Karena bersyukur adalah awal dari rasa bahagia maka bersyukur saja, Din!

Namun tetap saja, ada yang disayangkan dari ruang  yang cukup besar ini. Tak ada jendela yang bisa menyambut pagi dan menghantarkan sore hari. Terkadang, hidup memang begini. Berusaha melengkapi tetapi masih terasa kurang. Teh pahit di cangkir ku ini juga sudah mulai dingin. Mungkin teh pahitku  persis seperti aku. Perlu jendela agar bisa menghangatkan pagi ini.

Teruntuk ruang yang tak berjendela, bertemanlah denganku. Aku hanya butuh suasana hangat agar setiap hari dimulai dan diakhiri dengan rasa tenang. Teruntuk teh pahit yang menyelematkan perut yang mulai kedinginan, terima kasih ya. Kemampuan menahan rasa yang sudah kuasah selama beberapa tahun ternyata tidak sia-sia.

Maka pagi ini aku menulis surat cinta untuk semua ‘teman’ baru karena ‘mereka’ aku harus dan bisa bertahan. Tetap bahagia dan tetap bersyukur, ya!



Dari





Penggemar jendela dan teh pahit 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar