Kamis, 03 Mei 2018

Catatan Paseban #1 (Cerita Setiap Manusia)


Aku belajar banyak. Sebanyak jumlah kata yang akan kutulis malam ini. Seperti biasa, aku butuh satu lagu, satu kekecewaan, dan satu jam untuk menulis sesuatu. Kini, setelah berbulan-bulan lari dari pikiran “Aku tidak cukup baik untuk menulis”, kuputuskan untuk menulis. Karena menulis bukan untuk mengatakan aku adalah orang baik atau “aku lebih baik darimu maka aku menulis”. Tidak. Aku menulis karena aku sedang baik-baik saja. Baik-baik saja menghadapi setiap manusia yang selalu mengusik ketenangan hidupku. Baik-baik saja menjalani setiap menit yang dilalui dengan kesalahan, kegagalan, dan kepenatan.

--

Tentang setiap manusia itu? Aku sempat bertemu dengan manusia yang elok rupanya, tapi tidak sikapnya. Mungkin aku pun begitu. Tidak begitu baik sikapnya. Aku juga sempat berbincang dengan manusia yang selalu berkata terima kasih, tapi tidak pernah berkata maaf. Kalau untuk ini, aku tidak pernah begitu. Aku yakin. Aku sempat pula tersenyum dengan manusia yang selalu tertawa dan berbincang denganku, dari waktu ke waktu, tapi tidak ingat denganku untuk hal-hal kecil. Aku sama sekali bukan tipe orang seperti itu.

Terakhir beberapa bulan belakangan, aku sempat akan bertemu dengan manusia yang (sepertinya) ada butuhnya, tapi tidak lagi menyapa. Aku jelas tidak pernah seperti itu. Dari sekian banyak jenis manusia yang berjumpa denganku, yang paling menyita waktu adalah manusia yang entah (diam-diam) suka lalu ada, tapi tidak muncul lagi beberapa saat. Aku pikir dia makhluk apa. Datang dan pergi sesuka hati, sebutannya.

--
Maka, untuk setiap manusia yang kutemui itu, aku tidak pernah menyerah untuk mengenal mereka, menghargai mereka, ataupun sekadar menyapa mereka. Tidak akan pernah.
Karena menyerah berarti ada yang salah dengan kita. Karena menyerah berarti aku yang menyita waktu mereka, bukan mereka. Aku pasti punya celah, macam setiap manusia itu. Tapi mungkin saja dalam hal yang berbeda. Hal yang membedakan adalah sikapku kepada mereka. Bukan seperti sikap mereka kepadaku.
--
Jika aku tidak nyaman di dekat manusia yang elok rupanya tapi tidak sikapnya, maka aku tidak akan membiarkan sikapnya menyakitiku. Sedapat mungkin tidak lepas dari “tersiksa”-nya aku dengan sikapnya.

Jika aku tidak bisa tersenyum lagi pada manusia yang selalu berkata terima kasih dan tidak pernah berkata maaf, maka aku tidak akan lupa untuk mengatakan terima kasih dan maaf kepada siapapun, termasuk manusia itu. Sedapat mungkin dengan ringan hati mengucapkannya dan dengan kepala yang tidak pernah mendongak.
Jika aku tidak bahagia dengan manusia yang selalu tertawa dan berbincang dengaku tapi tidak ingat hal-hal kecil tentangku, maka aku akan mengingatkan manusia itu seberapa banyak waktu yang telah aku habiskan dengannya. Sedapat mungkin aku tidak akan pernah lupa setiap kejadian antara aku dan manusia itu. Karena aku tidak suka membuang waktu dengan percuma, hanya karena lupa.
Jika aku tidak ingin bertemu dengan manusia yang ada ketika butuh dan tiba-tiba tidak menyapa, maka ketika bertemu pada suatu waktu, aku pastikan akan bertanya, “Kenapa harus aku?”. Sedapat mungkin aku tidak akan memperlihatkan kekesalan kepada manusia itu.
Jika aku tidak suka dengan orang yang diam-diam suka lalu malah tak ada, maka aku akan diam. Sedapat mungkin aku diam. Karena suka terkadang lebih indah dalam diam. Begitu juga denganku.

--
Tidak akan membiarkan aku tersiksa. Begitu juga denganmu. Lawan sikap menyebalkannya. Jangan hanya menerima. Karena menerima seperti itu bisa disebut pasrah. Dia terlalu lupa bahwa di dunia ini bukan hanya dia yang bisa bersikap. Aku juga bisa. Kamu pun juga.
Tidak akan lupa terima kasih dan maaf. Hanya dengan 2 mantra itu, hidup sudah cukup. Tak kurang bahkan sangat berlebih. Betapa syahdunya ketika manusia tetap menjaga ucapannya dan selalu menundukkan kepalanya bahkan ketika ia sedang di awan. Aku tidak akan lupa. Kamu pun juga.
Tidak akan berhenti mengingat. Setiap menit. Bahkan gerak-gerik. Mau seberapa jauh pun aku dihempas jauh dari suatu masa, aku akan tetap tertawa dan berbagi suka. Duka? Yakinlah, jika belum bertemu dengan seseorang yang belum memahami apa saja dukamu, kamu hanya butuh beberapa waktu dari hari ini untuk menemukannya. Aku tidak akan lelah menunggu. Kamu pun juga.
Tidak akan pernah kesal pada setiap manusia yang butuh. Tidak apa. Karena bisa jadi aku salah satu dari setiap manusia itu. Inilah hidup yang dirancang dengan apik oleh Tuhan. Manusia dengan manusia. Dan bejuta-juta manusia yang mampir di hidup kita. Toh hidup ada karena sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Tak masalah. Tapi yang jadi masalah, sikapmu ketika butuh dan tidak butuh. Aku tidak akan pergi begitu saja ketika tidak butuh (lagi). Kamu pun juga.
Tidak akan tidak diam. Masih menunggu akhir cerita tentang ini. Suka terkadang indah dalam diam. Kepadamu? Aku tidak akan berhenti menunggu waktu itu tiba. Aku, tidak akan lelah berhenti menanti saat itu. Sampai pada saat yang tepat. Kamu pun juga.





03/05/18


red.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar