“Sorot matanya telah lelah
menandakan ia menyerah. Senyum wajahnya telah luntur mengguratkan hatinya
pasrah. Kau tahu? Manusia tidak mampu ditempa kekecewaan yang sama. Tidak lagi
dengan hal yang itu-itu saja.”
Pagi
itu Ibu sumringah sekali. Semangat mempersiapkan segala hal. Apa yang akan
disajikan, berapa jumlah bunga yang akan dipasang, jenis musik apa yang akan
diperdengarkan hingga pakaian apik yang akan dikirimkan kelak untuk saudara-saudara
jauhnya. Aku tak kalah sibuk. Membantu Ibu menggambarkan model bajunya. Ibu
ingin kakak dan adiknya terlihat cantik di hari besar kakak-kakakku. Setelah
selesai, kakak dengan cekatan mengirimkan tumpukan kain-kain yang siap untuk
dijahit. Sungguh bahagia rasanya. Bila orang menganggap ini hal yang biasa,
tidak untuk kami, tidak untuk Ibu. Ibu, yang sudah berumur 56 tahun mungkin Ibu
yang tampak bahagia, ceria dan gemar menebar senyum. Tapi dibalik senyumnya,
Ibu menyimpan banyak kisah. Kisah itu sering diceritakan pada kami. Bukan
sekali ataupun dua kali. Sering bahkan. Ceritanya pilu. Bisa dikatakan, sering
diasingkan, dipojokkan, dipersalahkan. Aku yang saat itu masih 6 tahun sempat
tak paham, kenapa Ibu selalu sendiri, kenapa Ibu tidak pernah diajak pergi
bersama kakak-kakaknya. Kini setelah dewasa, aku bertemu dengan mereka. Sikap
mereka kepada Ibu memang terlihat palsu. Atau memang begitu. Entahlah. Seiring
berjalannya waktu, satu hal yang baru aku pahami.
Ya,
mereka memang palsu. Kepeduliannya, kebaikannya, bahkan senyuman mereka terlalu
palsu.
Hari
itu, hari besar itu tiba. Kami sibuk. Kami disini (aku, dua orang kakakku, Ayah
dan Ibu) hingga lupa makan, mengurus banyak hal. Mereka lalu tiba berbondong-bondong
ke rumahku. Ibu dengan tangan terbuka menerima mereka dan menjamu mereka, tidak
kurang sedikit pun. Walau wajah lelah terlihat jelas setelah Ibu berpergian seharian, Ibu tetap
semangat bercerita dan tertawa seakan luka lamanya dipendam mendalam. Aku pun
ikut senang melihat Ibu akhirnya bisa berkumpul. Jadilah aku tenang karena Ibu
sudah berada di tengah saudara-saudaranya yang akan membantunya nanti.
Tak
selang beberapa jam, salah satu dari tanteku berbisik kepadaku
“Ri,
tante mau pergi dulu ya. Ada urusan sebentar.”
Oh
baiklah. Aku pada saat itu terdiam. Acara macam apa, sebesar resepsi pernikahan
seperti itu, seorang tante hanya datang sebentar lalu pergi.
“Mau
kemana, tante?”
Kalimat
itu terlontar begitu saja.
“Ini
mau ke danau yang bagus itu.”
Aku
sempat terdiam beberapa menit. Akal sehatku sempat terhenti. Dia berlalu tanpa
menunggu jawabanku. Aku memandang Ibu dari jauh. Ibu hanya tersenyum melihatku.
Jadilah aku dan kedua kakakku yang menemani Ibu hingga acara selesai.
Sepulangnya
kami, ada pemandangan yang membuatku terdiam untuk kesekian kalinya. Tidak ada
lagi koper-koper mereka. Pikiran konyolku adalah apakah rumahku dirampok? Kenapa semua
koper mereka raib? Tidak. Bukan itu ternyata. Mereka memang berkemas, lalu
pergi. Tanpa pamit. Ibu lalu tertawa kecil. Berpaling, mengambil segelas air.
Besok acara masih dilanjutkan. Sedang mereka malah menghilang. Aku yang tidak
dapat memendam emosi ini terlalu lama lalu meluapkan kekesalanku kepada Ibu.
“Bu,
mereka pergi tanpa pamit. Bahkan 15 menit gak
ada di acara. Ngapain mereka jauh-jauh kesini tapi akhirnya pergi, tanpa
pamit?”
“Itulah
mereka, Nak. Hatinya seperti tersesat ya.”
Jawaban
Ibu singkat. Wajah kecewa Ibu sudah menjawab semuanya. Aku tidak perlu
membahasnya. Ibu yang hendak menuju kamar lalu terhenti langkahnya.
“Nak,
kamu dan kakak-kakakmu jangan begitu ya kelak. Saling membantu. Saling
mendukung. Jangan jatuhkan satu orang untuk menaikkan satu yang lainnya. Jangan
biarkan mereka sendiri. Tak perlu saling melukai kalau ada kata-kata yang baik
untuk menasehati. Hargai setiap langkah mereka. Jangan halang-halangi karena
kebusukan hati. Kalian lahir dari rahim yang sama. Kalian berbagi darah yang
sama. Melukai yang lain berarti melukai diri kalian sendiri. Percuma. Hidup hanya
sekali, Nak. Jangan berbuat sesuatu yang kalian sesali nanti.”
***
Pesan
tersirat Ibu waktu kecil dulu baru aku pahami sekarang. Bukan karena kain
abu-abu yang tidak mereka gunakan di hari besar Ibuku pada akhirnya, tapi keikhlasan mereka untuk
turut berbahagia terlalu gelap untuk ditatap. Aku percaya, sebaik apapun bentuk
perbuatan, jika orang yang menerima kebaikan ditutupi oleh hati yang kelabu,
tidak akan merekah manisnya perbuatan itu.
***
150918
RED
RED
Suka banget kk
BalasHapus