Rabu, 26 September 2018

Asta


“Kata orang, ada tempat yang memberikan kehangatan. Kata yang lain tempat itu disebut tempat mereka pulang. Entah siapa yang mereka bicarakan. Hingga pada suatu saat tersadar oleh seseorang yang lain bahwa ‘tempat’ itu yang tak pernah menenangkannya.”
***

Ada ribuan, bahkan jutaan mereka yang disebut anak. Anak yang lahir dari seorang Ibu. Ibu yang bagi setiap anak tersebut selalu dibanggakan, dipamerkan dan digadang-gadang menjadi Ibu terhebat yang mereka miliki. Begitu juga aku. Kamu, mungkin? Ya, dengan segala kehebatan seorang Ibu, wanita-wanita yang beruntung menjadi seorang Ibu selalu punya tempat teristimewa di dalam hati setiap anaknya. Malam itu, sepulang beraktivitas seharian, Ibu yang kuharap menjadi wanita yang kubanggakan di depan teman-temanku, lagi-lagi membuatku tertawa. Bukan karena lucu. Tetapi, karena......

***

“Mir, sepatu yang di rak itu, gak pernah kamu pakai ya?”

“Pakai kok, Bu. Kadang-kadang aja kalau mau jalan sama temen.”

“Mubazir banget jarang dipakai, kasihin ke anak Pakde, Mir. Dia bilang mau pergi acara kampus atau apa gitu, dia belum beli sepatu baru.”

Itu, sepatuku Bu. Dalam hatiku.

Aku tidak bisa menjawab. Entah kenapa hanya tertahan begitu saja. Seperti biasa, aku hanya berlalu. Tak berniat melanjutkan debat yang pada akhirnya  Ibu membujukku lagi untuk memberikan barang kepunyaanku, lalu akhirnya aku setuju dan diiming-imingi dengan barang baru yang akan Ibu ganti, dan tentunya tidak akan pernah terjadi, ya, Ibu tidak akan pernah mengganti.

Begitu seterusnya. Dua puluh tahun lebih.

Keesokan harinya, aku pulang larut malam. Berusaha berdiri tegak di kereta yang penuh sesak, tubuhku seakan hendak rubuh ditambah aku yang gemar kekurangan oksigen membuat fisikku kian lemah dan butuh istirahat yang cukup. Terbayang olehku di rumah nanti Ibu dan yang lainnya masih terjaga. Masih tersedia nasi dan lauk hangat yang mungkin bisa menyegarkanku lagi.

Tidak. Rumah sudah gelap. Aku disambut dengan orang-orang yang sudah terlelap. Masih pukul 9. Tapi rumah ini terasa begitu sepi. Aku berjalan menghampiri ruang makan. Kosong. Ya, aku terlalu berharap lebih. Sejak kapan mereka menyisakan makanan hangat, atau bahkan makanan yang sudah dingin? Khayalanku terlalu jauh.

Keesokan paginya, seperti biasa pula seakan tidak terjadi apa-apa. Semua beraktivitas dengan normal. Aku sudah siap menyiapkan sarapan, pakaian kerja kakak dan abang iparku, mencuci pakaian dan segala macam pekerjaan rumah yang entah kenapa hanya aku yang sibuk dengan itu. Aku memandang Ibu dari kejauhan. Akankah dia tersenyum memandangku dan bertanya bagaimana hariku kemarin? Atau malah sebaliknya, tatapan datar?

“Kamu kenapa, Mir?”

Bukan tersenyum atau tatapan datar. Ibu bertanya “kenapa aku”. Jawaban apa Ibu harapkan dariku?

Gak. Gak apa-apa.”

“Nanti siapin makan keponakanmu, ya. Tadi malam mereka gak makan.”

Ingin rasanya berteriak dan menggemakan kelelahan ini, di tengah rumah ini. Hanya satu yang membuatku bertahan. Hanya dia yang membuatku akhirnya diam.

Ayah.

Setiap malam ketika waktu senggang, Ayah selalu berbisik padaku “Kamu jangan kemana-mana ya, Mir. Ayah gak sanggup kalau gak ada kamu di rumah.” Saat itu aku hanya bisa mengangguk mengiyakan sembari menatap mata Ayah yang sudah lelah karena semakin senja usianya. Setidaknya Ayah selalu ada membalas tatapanku dengan senyuman. Lalu terpikir lagi entah kenapa aku lupa bagaimana Ibu menatap dan tersenyum padaku. Ia bagai antara ada dan tiada bagiku. Ada di hadapanku tapi terlalu jauh untuk kuraih. Akhirnya setiap hari aku sibuk bertanya, sibuk berdebat dengan pikiranku sendiri, “Apa salahku, Bu?”

***

Teruntuk seorang kawan, kisahmu begitu sulit untuk aku bayangkan. Sungguh. Ada dua bentuk hidup yang aku tahu. Satu, hidup tanpa kecemasan dan dua, hidup tanpa kehangatan. Hidup tanpa kecemasan? Mungkin banyak orang yang bisa merasakannya. Mereka sebut hidup yang bahagia. Kenapa? Karena banyak orang yang mendukungnya. Keluarga. Sekumpulan mereka yang saling bahu membahu, membantu dan tak pernah lelah menghilangkan kecemasan di antara mereka. Saling mendukung, katanya.

Hidup tanpa kehangatan? Sedikit yang aku tahu. Bahkan satu dari seribu orang. Mendengar ada yang mengalami hidup seperti ini, aku bergidik. Bagaimana bisa? Apakah karena suatu kesalahan? Aku pun tak tahu. Bahkan kamu pun tak tahu, iya kan? Tapi satu yang jelas dan aku pahami bahwa, banyak orang yang hidup tanpa kecemasan akan menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang bahagia dan hal-hal baik lain yang akan menghampiri mereka. Tetapi, hanya satu orang yang hidup tanpa kehangatan, namun ia malah mampu menjadi orang yang sangat hangat, yang tak pernah lelah mendukung orang di sekitarnya karena orang itu tahu bagaimana rasanya dikesampingkan dan tak jarang, dilupakan. Seburuk-buruknya manusia, ia tetap manusia. Karena kamu tetap bertahan, berjuang memaafkan dan tak lupa mengusahakan, hatimu malah lebih hangat, bahkan tanpa orang-orang yang terlalu menutup hatinya untuk menerima, keberadaanmu.





RED
26092018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar