“Kata orang, ada tempat yang
memberikan kehangatan. Kata yang lain tempat itu disebut tempat mereka pulang.
Entah siapa yang mereka bicarakan. Hingga pada suatu saat tersadar oleh seseorang
yang lain bahwa ‘tempat’ itu yang tak pernah menenangkannya.”
***
Ada
ribuan, bahkan jutaan mereka yang disebut anak. Anak yang lahir dari seorang
Ibu. Ibu yang bagi setiap anak tersebut selalu dibanggakan, dipamerkan dan
digadang-gadang menjadi Ibu terhebat yang mereka miliki. Begitu juga aku. Kamu,
mungkin? Ya, dengan segala kehebatan seorang Ibu, wanita-wanita yang beruntung
menjadi seorang Ibu selalu punya tempat teristimewa di dalam hati setiap
anaknya. Malam itu, sepulang beraktivitas seharian, Ibu yang kuharap menjadi
wanita yang kubanggakan di depan teman-temanku, lagi-lagi membuatku tertawa.
Bukan karena lucu. Tetapi, karena......
***
“Mir,
sepatu yang di rak itu, gak pernah
kamu pakai ya?”
“Pakai
kok, Bu. Kadang-kadang aja kalau mau jalan sama temen.”
“Mubazir
banget jarang dipakai, kasihin ke
anak Pakde, Mir. Dia bilang mau pergi acara kampus atau apa gitu, dia belum
beli sepatu baru.”
Itu,
sepatuku Bu. Dalam hatiku.
Aku
tidak bisa menjawab. Entah kenapa hanya tertahan begitu saja. Seperti biasa,
aku hanya berlalu. Tak berniat melanjutkan debat yang pada akhirnya Ibu membujukku lagi untuk memberikan barang
kepunyaanku, lalu akhirnya aku setuju dan diiming-imingi dengan barang baru
yang akan Ibu ganti, dan tentunya tidak akan pernah terjadi, ya, Ibu tidak akan
pernah mengganti.
Begitu
seterusnya. Dua puluh tahun lebih.
Keesokan
harinya, aku pulang larut malam. Berusaha berdiri tegak di kereta yang penuh
sesak, tubuhku seakan hendak rubuh ditambah aku yang gemar kekurangan oksigen
membuat fisikku kian lemah dan butuh istirahat yang cukup. Terbayang olehku di
rumah nanti Ibu dan yang lainnya masih terjaga. Masih tersedia nasi dan lauk
hangat yang mungkin bisa menyegarkanku lagi.
Tidak.
Rumah sudah gelap. Aku disambut dengan orang-orang yang sudah terlelap. Masih
pukul 9. Tapi rumah ini terasa begitu sepi. Aku berjalan menghampiri ruang
makan. Kosong. Ya, aku terlalu berharap lebih. Sejak kapan mereka menyisakan
makanan hangat, atau bahkan makanan yang sudah dingin? Khayalanku terlalu jauh.
Keesokan
paginya, seperti biasa pula seakan tidak terjadi apa-apa. Semua beraktivitas
dengan normal. Aku sudah siap menyiapkan sarapan, pakaian kerja kakak dan abang
iparku, mencuci pakaian dan segala macam pekerjaan rumah yang entah kenapa
hanya aku yang sibuk dengan itu. Aku memandang Ibu dari kejauhan. Akankah dia
tersenyum memandangku dan bertanya bagaimana hariku kemarin? Atau malah
sebaliknya, tatapan datar?
“Kamu
kenapa, Mir?”
Bukan
tersenyum atau tatapan datar. Ibu bertanya “kenapa aku”. Jawaban apa Ibu
harapkan dariku?
“Gak. Gak
apa-apa.”
“Nanti
siapin makan keponakanmu, ya. Tadi malam mereka gak makan.”
Ingin
rasanya berteriak dan menggemakan kelelahan ini, di tengah rumah ini. Hanya
satu yang membuatku bertahan. Hanya dia yang membuatku akhirnya diam.
Ayah.
Setiap
malam ketika waktu senggang, Ayah selalu berbisik padaku “Kamu jangan
kemana-mana ya, Mir. Ayah gak sanggup kalau gak ada kamu di rumah.” Saat itu
aku hanya bisa mengangguk mengiyakan sembari menatap mata Ayah yang sudah lelah
karena semakin senja usianya. Setidaknya Ayah selalu ada membalas tatapanku dengan
senyuman. Lalu terpikir lagi entah kenapa aku lupa bagaimana Ibu menatap dan
tersenyum padaku. Ia bagai antara ada dan tiada bagiku. Ada di hadapanku tapi
terlalu jauh untuk kuraih. Akhirnya setiap hari aku sibuk bertanya, sibuk
berdebat dengan pikiranku sendiri, “Apa salahku, Bu?”
***
Teruntuk
seorang kawan, kisahmu begitu sulit untuk aku bayangkan. Sungguh. Ada dua
bentuk hidup yang aku tahu. Satu, hidup tanpa kecemasan dan dua, hidup tanpa kehangatan.
Hidup tanpa kecemasan? Mungkin banyak orang yang bisa merasakannya. Mereka sebut
hidup yang bahagia. Kenapa? Karena banyak orang yang mendukungnya. Keluarga.
Sekumpulan mereka yang saling bahu membahu, membantu dan tak pernah lelah
menghilangkan kecemasan di antara mereka. Saling mendukung, katanya.
Hidup
tanpa kehangatan? Sedikit yang aku tahu. Bahkan satu dari seribu orang.
Mendengar ada yang mengalami hidup seperti ini, aku bergidik. Bagaimana bisa?
Apakah karena suatu kesalahan? Aku pun tak tahu. Bahkan kamu pun tak tahu, iya
kan? Tapi satu yang jelas dan aku pahami bahwa, banyak orang yang hidup tanpa
kecemasan akan menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang bahagia dan
hal-hal baik lain yang akan menghampiri mereka. Tetapi, hanya satu orang yang
hidup tanpa kehangatan, namun ia malah mampu menjadi orang yang sangat hangat,
yang tak pernah lelah mendukung orang di sekitarnya karena orang itu tahu
bagaimana rasanya dikesampingkan dan tak jarang, dilupakan. Seburuk-buruknya
manusia, ia tetap manusia. Karena kamu tetap bertahan, berjuang memaafkan dan
tak lupa mengusahakan, hatimu malah lebih hangat, bahkan tanpa orang-orang yang
terlalu menutup hatinya untuk menerima, keberadaanmu.
RED
26092018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar