Membuktikan
kau mampu, berarti kau harus menggemakan pikiranmu.
Menjelaskan
kau tahu, berarti kau harus meneriakkan seruanmu.
Menyerukan
kau tak lagi redup, berarti kau membuka ruang yang dulu hampa.
Membiarkan
kau bersuara, biarkan belenggumu kini menyala.
***
Hujan
makin deras. Waktu makin ringkas. Nala berlari kecil mengejar kereta yang
sepuluh menit lagi dijadwalkan berangkat. Sepatu yang dipakai Nala hari ini
sangat tidak sesuai untuk kakinya yang harus berlari cepat. Flat shoes hadiah dari Maryam masih
digunakannya. Maryam. Teman masa kecilnya, 5 tahun yang lalu. Ia tidak boleh
terlambat. Terlambat berarti Nala harus menghadapi hal itu lagi. Tidak, dalam
pikirnya. Nala mempercepat langkahnya. Tak peduli hujan yang mulai membasahi
wajahnya. Ia harus segera sampai stasiun. Tidak boleh tidak.
...
Nala
terlambat. Keretanya berlalu begitu saja di hadapannya. Segerombolan ibu-ibu
memakai baju kebaya lengkap dengan kain menghalangi langkah Nala yang
seharusnya bisa berlari lebih cepat. Keringat bercampur dengan air hujan yang
membasahi wajah Nala. Nafasnya terhengal. Nala tidak bisa berpikir jernih jika
kereta terakhir malam ini sudah meninggalkannya. Ia mengistirahatkan tubuhnya
sejenak di dinding stasiun yang dingin. Serupa dengan pikirannya. Nala menatap
nanar sekelilingnya. Haruskah aku kembali ke jalan dan menyebrang? Menyebrang
untuk meraih angkutan lain? Sudah berkali-kali atau bahkan ribuan kali, Nala
menghindarinya. Sedapat mungkin sepulang kerja, Nala hanya berjalan lurus
melewati trotoar atau bahkan Nala bisa saja memutari jalan itu agar tidak
sampai ‘kesana’. Bahkan sebisa mungkin, Nala bekerja di rumah saja. Tidak
begini. Lelah memikirkan bagaimana di luar nanti? Bagaimana aku pergi ke kantor
nanti? Bagaimana aku harus pulang nanti? Terlalu banyak ketakutan, kecemasan
dan kegelisahan. Itulah Nala, Nala di masa lalu, sebelum bertemu Maryam.
*
“Skenario
kamu kali ini sangat menyentuh, Nal! Bahkan Mas Bagyo aja bisa nangis ketika
aku kasih skenario kamu yang baru 70% itu.” Maryam menjelaskan kesan sutradara
yang akan mengadaptasi ceritaku ke dalam filmnya. Mas Bagyo namanya. Ia
terkenal sangat strict, keras kepala
tapi sebenarnya ia idealis. Ia ingin semua ceritanya masuk akal dan merasuk
pikiran penontonnya nanti. Maryam yang kukenal dari ketika kuliah merupakan
teman terbaikku. Maryam mengenalkanku pada dunia sesungguhnya. Dunia yang membiarkan
semua karya diperdengarkan ke banyak manusia. Maryam yang mendorongku untuk
tidak hanya menulis dalam diam, tapi juga menulis sembari menyuarakan. Entah
apa yang Maryam maksud. Tapi atas motivasinya itu, barulah aku mulai menulis.
Dengan menyuarakan, sesuai pesan Maryam.
Skenario
itu menjadi awal pijakanku di dunia menulis. Enam bulan berkutat dengan tulis,
edit, tulis dan edit. Akhirnya menjadi sebuah cerita dalam film. Puas? Tidak.
Karena setelah aku menulis skenario itu, aku kembali menjadi Nala. Berdiam
lagi. Terlalu takut dunia luar.
“Nal,
kamu gak akan nonton filmnya? Seriusan?” Maryam bertanya serius padaku.
“Yap,
serius. Toh aku juga udah tahu ceritanya.” Jawabanku memang cenderung santai,
karena jika dijawab serius akan memancing perdebatan dengan Maryam.
“Ya
udah, ini sepatu.” Maryam menyerahkan sepatu merah maroon yang entah dalam
rangka d dia memberikannya kepadaku.
“Buat
apa? Aduh, Mar. Sejak kapan aku pakai sepatu kayak gitu. Haha. Terlalu cantik, Mar. Kamu aja yang pakai.” Aku menolak sepatu
yang terlalu feminin itu tanpa mencobanya terlebih dahulu. Andai aku mencobanya
terlebih dahulu. Maryam pasti senang, saat itu.
“
Lo tuh ya. Gak menghargai pemberian sahabat terbaik lo dan satu-satunya ini. Gak
mau tahu. Ini sepatu aku simpan di sini. Harus dipakai. Entah untuk apa. Untuk
ke kantor, mungkin?”
“Ke
kantor? Becanda aja, Mar! Bye! Aku akan kembali ke gua
ternyamanku. Hehe.”
“NALA!”
Tiba-tiba
saja Maryam berteriak. Aku menatapnya bingung. Mata Maryam mulai berkaca-kaca.
Seperti tangis yang akan pecah, Maryam berusaha menahan dengan mengepalkan
tangan dan badannya yang mulai bergetar.
“Mar?
Kamu kenapa?”
Maryam
seakan sedang menenangkan dirinya dan mulai berbicara.
“Tunjukkan
kalau lo mampu. Tunjukkan kalau lo ada. Lo gak bisa begini terus. Apa yang lo
lakuin sendiri di sini, di rumah yang kosong ini, Nal? Kenapa lo bertahan di
masa lalu? “
Aku
mulai mengerti arah pembicaraan Maryam.
“Aku
gak akan menjelaskan ini lagi ke
kamu, Mar. Kamu orang pertama dan yang terakhir yang paham kenapa aku begini.
Jadi jangan biarkan aku ngejelasin hal yang sama lagi.”
“Jelasin
apa? Lo bahkan gak ngejelasin
apa-apa, Nal. Lo terlalu takut untuk
membuka pintu rumah ini. Lo bahkan
takut gue ajak berjalan keluar.
Bahkan menyebrangi jalan aja lo
langsung lemas. Bagian mana yang lo jelasin ke gue?”
“Ya.
Itu semua. Semua itu udah menjelaskan ke kamu, Mar. Aku gak akan pernah kembali keluar. Aku gak akan pernah menyebrangi jalan yang terlalu menyeramkan itu.
Aku akan tetap diam di rumah ini, menjaga rumah ini. Supaya aku gak lihat mereka lagi, Mar.”
Maryam
menghela nafas. Ia menatap mata Nala dalam-dalam. Maryam tahu yang dimaksud
Nala adalah orang tuanya. Malam yang nahas merenggut mereka, orang tua Nala. Nala
umur 8 tahun pernah hilang dari rumah. Salah satu pekerja di rumahnya mengajak
Nala pergi ke suatu tempat, entah menculik atau apa, tidak tahu pasti. Nala
ditemukan menangis di pinggir jalan raya di tengah hujan deras. Nala menangis
kencang. Tapi tak ada satu orang pun yang menghiraukannya. Mungkin tangisan
Nala mengendap dengan derasnya hujan. Nala berdiri diam di depan penyebrangan
jalan karena hendak pulang. Nala tahu jalan pulang. Ia tinggal menyebrang
jalan. Jalan lurus akan sampai di rumahnya. Tapi Nala terlalu takut untuk mulai
menyebranginya.
Beruntung,
ibu dan ayah Nala menemukannya. Mereka yang sudah sibuk mencari ke sudut-sudut
kota, malah menemukan Nala di seberang jalan. Sedekat itu ia akan bertemu ayah
dan ibunya. Sesingkat itu pula ia kehilangan ayah dan ibunya. Kepanikan mereka
yang berlari menemukan Nala membawa petaka. Sebuah truk yang ugal-ugalan menerobos
lampu merah. Disitulah Nala menyambut kehilangannya, di seberang jalan.
*
Satu-satunya
untuk bertahan adalah melangkah ke depan. Itu yang Nala teriakkan dalam
pikirannya setiap pagi, setiap hari ia bersiap untuk menghadapi dunia luar.
Awalnya, Nala diremehkan. Seorang anak rumahan yang tidak punya pengalaman di
lapangan terjun bebas ke dunia profesional tulis-menulis. Tapi ia tetap
mengingat pesannya, pesan Maryam sebelum meninggalkannya malam itu dan tidak
pernah kembali.
“Pilihan
di dunia ini banyak, Nal. Tapi untukmu pilihan itu hanya dua. Berdiam atau Bergerak.
Sama-sama kata kerja. Tapi aku yakin kamu tahu mana yang lebih membuatmu ‘bekerja’.
Bergeraklah, Nal. Setidaknya untuk sisa hidupmu, sisa perjuanganmu. Cari alasan
kenapa kamu bertahan.”
Nala
masih saja berdiri di pinggir jalan. Masih membiarkan tubuhnya basah menampung
derasnya hujan malam itu. Tanda hijau untuk menyebrang jalan menyala. Entah
bergerak maju atau berjalan. Nala sibuk berpikir. Lalu ia melihat satu titik.
Seperti harus diraih. Bagai sebuah halusinasi. Nala terdorong untuk berjalan.
Ia mulai menyebrangi jalan.
...
Nala
tahu yang berjalan bukanlah kakinya. Tapi hatinya yang hendak melangkah ke
depan tanpa peduli apa yang dulu menahannya.
***
01102018
RED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar