Senin, 01 Oktober 2018

Nala Kini Menyala


Membuktikan kau mampu, berarti kau harus menggemakan pikiranmu.

Menjelaskan kau tahu, berarti kau harus meneriakkan seruanmu.

Menyerukan kau tak lagi redup, berarti kau membuka ruang yang dulu hampa.

Membiarkan kau bersuara, biarkan belenggumu kini menyala.

***


Hujan makin deras. Waktu makin ringkas. Nala berlari kecil mengejar kereta yang sepuluh menit lagi dijadwalkan berangkat. Sepatu yang dipakai Nala hari ini sangat tidak sesuai untuk kakinya yang harus berlari cepat. Flat shoes hadiah dari Maryam masih digunakannya. Maryam. Teman masa kecilnya, 5 tahun yang lalu. Ia tidak boleh terlambat. Terlambat berarti Nala harus menghadapi hal itu lagi. Tidak, dalam pikirnya. Nala mempercepat langkahnya. Tak peduli hujan yang mulai membasahi wajahnya. Ia harus segera sampai stasiun. Tidak boleh tidak.

...

Nala terlambat. Keretanya berlalu begitu saja di hadapannya. Segerombolan ibu-ibu memakai baju kebaya lengkap dengan kain menghalangi langkah Nala yang seharusnya bisa berlari lebih cepat. Keringat bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah Nala. Nafasnya terhengal. Nala tidak bisa berpikir jernih jika kereta terakhir malam ini sudah meninggalkannya. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak di dinding stasiun yang dingin. Serupa dengan pikirannya. Nala menatap nanar sekelilingnya. Haruskah aku kembali ke jalan dan menyebrang? Menyebrang untuk meraih angkutan lain? Sudah berkali-kali atau bahkan ribuan kali, Nala menghindarinya. Sedapat mungkin sepulang kerja, Nala hanya berjalan lurus melewati trotoar atau bahkan Nala bisa saja memutari jalan itu agar tidak sampai ‘kesana’. Bahkan sebisa mungkin, Nala bekerja di rumah saja. Tidak begini. Lelah memikirkan bagaimana di luar nanti? Bagaimana aku pergi ke kantor nanti? Bagaimana aku harus pulang nanti? Terlalu banyak ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Itulah Nala, Nala di masa lalu, sebelum bertemu Maryam.

*

“Skenario kamu kali ini sangat menyentuh, Nal! Bahkan Mas Bagyo aja bisa nangis ketika aku kasih skenario kamu yang baru 70% itu.” Maryam menjelaskan kesan sutradara yang akan mengadaptasi ceritaku ke dalam filmnya. Mas Bagyo namanya. Ia terkenal sangat strict, keras kepala tapi sebenarnya ia idealis. Ia ingin semua ceritanya masuk akal dan merasuk pikiran penontonnya nanti. Maryam yang kukenal dari ketika kuliah merupakan teman terbaikku. Maryam mengenalkanku pada dunia sesungguhnya. Dunia yang membiarkan semua karya diperdengarkan ke banyak manusia. Maryam yang mendorongku untuk tidak hanya menulis dalam diam, tapi juga menulis sembari menyuarakan. Entah apa yang Maryam maksud. Tapi atas motivasinya itu, barulah aku mulai menulis. Dengan menyuarakan, sesuai pesan Maryam.
Skenario itu menjadi awal pijakanku di dunia menulis. Enam bulan berkutat dengan tulis, edit, tulis dan edit. Akhirnya menjadi sebuah cerita dalam film. Puas? Tidak. Karena setelah aku menulis skenario itu, aku kembali menjadi Nala. Berdiam lagi. Terlalu takut dunia luar.

“Nal, kamu gak akan nonton filmnya? Seriusan?” Maryam bertanya serius padaku.

“Yap, serius. Toh aku juga udah tahu ceritanya.” Jawabanku memang cenderung santai, karena jika dijawab serius akan memancing perdebatan dengan Maryam.

“Ya udah, ini sepatu.” Maryam menyerahkan sepatu merah maroon yang entah dalam rangka d dia memberikannya kepadaku.

“Buat apa? Aduh, Mar. Sejak kapan aku pakai sepatu kayak gitu. Haha. Terlalu cantik, Mar. Kamu aja yang pakai.” Aku menolak sepatu yang terlalu feminin itu tanpa mencobanya terlebih dahulu. Andai aku mencobanya terlebih dahulu. Maryam pasti senang, saat itu.

Lo tuh ya. Gak menghargai pemberian sahabat terbaik lo dan satu-satunya ini. Gak mau tahu. Ini sepatu aku simpan di sini. Harus dipakai. Entah untuk apa. Untuk ke kantor, mungkin?”

“Ke kantor? Becanda aja, Mar! Bye! Aku akan kembali ke gua ternyamanku. Hehe.”

“NALA!”

Tiba-tiba saja Maryam berteriak. Aku menatapnya bingung. Mata Maryam mulai berkaca-kaca. Seperti tangis yang akan pecah, Maryam berusaha menahan dengan mengepalkan tangan dan badannya yang mulai bergetar.
“Mar? Kamu kenapa?”
Maryam seakan sedang menenangkan dirinya dan mulai berbicara.

“Tunjukkan kalau lo mampu. Tunjukkan kalau lo ada. Lo gak bisa begini terus. Apa yang lo lakuin sendiri di sini, di rumah yang kosong ini, Nal? Kenapa lo bertahan di masa lalu? “

Aku mulai mengerti arah pembicaraan Maryam.

“Aku gak akan menjelaskan ini lagi ke kamu, Mar. Kamu orang pertama dan yang terakhir yang paham kenapa aku begini. Jadi jangan biarkan aku ngejelasin hal yang sama lagi.”

“Jelasin apa? Lo bahkan gak ngejelasin apa-apa, Nal. Lo terlalu takut untuk membuka pintu rumah ini. Lo bahkan takut gue ajak berjalan keluar. Bahkan menyebrangi jalan aja lo langsung lemas. Bagian mana yang lo jelasin ke gue?”

“Ya. Itu semua. Semua itu udah menjelaskan ke kamu, Mar. Aku gak akan pernah kembali keluar. Aku gak akan pernah menyebrangi jalan yang terlalu menyeramkan itu. Aku akan tetap diam di rumah ini, menjaga rumah ini. Supaya aku gak lihat mereka lagi, Mar.”

Maryam menghela nafas. Ia menatap mata Nala dalam-dalam. Maryam tahu yang dimaksud Nala adalah orang tuanya. Malam yang nahas merenggut mereka, orang tua Nala. Nala umur 8 tahun pernah hilang dari rumah. Salah satu pekerja di rumahnya mengajak Nala pergi ke suatu tempat, entah menculik atau apa, tidak tahu pasti. Nala ditemukan menangis di pinggir jalan raya di tengah hujan deras. Nala menangis kencang. Tapi tak ada satu orang pun yang menghiraukannya. Mungkin tangisan Nala mengendap dengan derasnya hujan. Nala berdiri diam di depan penyebrangan jalan karena hendak pulang. Nala tahu jalan pulang. Ia tinggal menyebrang jalan. Jalan lurus akan sampai di rumahnya. Tapi Nala terlalu takut untuk mulai menyebranginya.

Beruntung, ibu dan ayah Nala menemukannya. Mereka yang sudah sibuk mencari ke sudut-sudut kota, malah menemukan Nala di seberang jalan. Sedekat itu ia akan bertemu ayah dan ibunya. Sesingkat itu pula ia kehilangan ayah dan ibunya. Kepanikan mereka yang berlari menemukan Nala membawa petaka. Sebuah truk yang ugal-ugalan menerobos lampu merah. Disitulah Nala menyambut kehilangannya, di seberang jalan.

*
Satu-satunya untuk bertahan adalah melangkah ke depan. Itu yang Nala teriakkan dalam pikirannya setiap pagi, setiap hari ia bersiap untuk menghadapi dunia luar. Awalnya, Nala diremehkan. Seorang anak rumahan yang tidak punya pengalaman di lapangan terjun bebas ke dunia profesional tulis-menulis. Tapi ia tetap mengingat pesannya, pesan Maryam sebelum meninggalkannya malam itu dan tidak pernah kembali.

“Pilihan di dunia ini banyak, Nal. Tapi untukmu pilihan itu hanya dua. Berdiam atau Bergerak. Sama-sama kata kerja. Tapi aku yakin kamu tahu mana yang lebih membuatmu ‘bekerja’. Bergeraklah, Nal. Setidaknya untuk sisa hidupmu, sisa perjuanganmu. Cari alasan kenapa kamu bertahan.”

Nala masih saja berdiri di pinggir jalan. Masih membiarkan tubuhnya basah menampung derasnya hujan malam itu. Tanda hijau untuk menyebrang jalan menyala. Entah bergerak maju atau berjalan. Nala sibuk berpikir. Lalu ia melihat satu titik. Seperti harus diraih. Bagai sebuah halusinasi. Nala terdorong untuk berjalan. Ia mulai menyebrangi jalan.

...

Nala tahu yang berjalan bukanlah kakinya. Tapi hatinya yang hendak melangkah ke depan tanpa peduli apa yang dulu menahannya.

***



01102018
RED



Tidak ada komentar:

Posting Komentar