Sabtu, 09 Maret 2019

Binari Kelam


“Dia yang pernah sungguh-sungguh mengajakmu berkelana, kau kutuk dengan sebuah kata. Sekejap dia kehilangan arah, karena kau tempa dengan sebuah duka. Manalagi yang dia sebut luka, lalu dia berlari sekuat tenaga membawa petaka, terikat dalam raganya.”
***
Air mata tak tertumpah dan menahan amarah. Mereka hanya bisa begitu. Menyaksikan anak yang diharapkannya hidup dengan tenang, yang nyatanya tak begitu. Raganya yang rapuh begitu jelas. Dia meringis kesakitan. Awalnya datang dengan curiga, ternyata petaka yang membawanya kesini. Tak lagi dia percaya cinta. Tak ingin dia yakin jatuh hati pada pandangan pertama. Perjumpaannya ternyata sebuah kepalsuan yang tertata rapi. Tak kusut dan membentuk sebuah wujud yang apik. Tersilaplah dia. Lagi-lagi bukan sakit raganya yang membuatnya tersungkur lemah. Tapi sakit telah menyakiti orang tuanya, melawan semuanya.


                                                                          *   
“Apa yang membuatmu suka padanya, Kak?”
“Dia berbeda.”
“Bukankah kakak mencari yang apa adanya?”
“Dulu kakak ingin seseorang yang berbeda. Tapi ternyata salah. Apa adanya itu memang benar adanya. Hidup kakak berantakan karena dia berbeda dan ada apanya.”

Aku tak pernah melihat matanya selesu itu. Namun, akhirnya aku menemukan kakak-ku kembali. Kembali menjadi sehat, tidak mengeluh sakit dan merasa berat lagi. Kakak yang ceria, dahulu, setelah sekian lama kini telah datang lagi. Pikirku, kenapa cinta begitu kejam? Kenapa cinta menuntut hati seseorang menjadi terbenam dan kebaikannya padam? Lama kulihat sosok kakakku yang terluka.

“Apa kakak sendiri saja ya?”

Hati yang patah membuat pikirannya kalah.

“Sendiri juga tidak sebaik itu, Kak. Niatkan untuk dipertemukan yang baik, Kak. Kakak tidak perlu putus asa. Dia yang harus putus asa. Menyia-nyiakan kakak yang sudah sungguh-sungguh.”
“Iya, kamu benar. Bisa-bisanya dia sekejam itu ya. Hati dan pikirannya dangkal. Dia tak secerah yang kakak kira selama ini.”
Kecewa sudah pasti. Menyangka dia adalah sebuah cahaya yang menuntun ke kehidupan barunya.

“Yang kakak perlu lakukan sekarang adalah selalu mendengar apa kata ayah dan ibu. Doa mereka yang membawa kakak kembali ke kita. Menyembuhkan jiwa kakak yang telah lama hilang.” ucapku sembari mengingat betapa patahnya hati ibu melihat anaknya menderita kepedihan.
“Aku hanya butuh mereka. Jalanku tidak pernah mulus sejak tak mendengar apa kata mereka.”

Akhirnya dia sadar bahwa setiap keberuntungan dalam hidupnya adalah kekuatan doa seorang ibu. Bahwa cahaya yang dia cari bukan dari orang lain, adalah yang paling terdekat yaitu orang tua, ayah dan ibunya.






red

09032019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar