“Dia
yang pernah sungguh-sungguh mengajakmu berkelana, kau kutuk dengan sebuah kata.
Sekejap dia kehilangan arah, karena kau tempa dengan sebuah duka. Manalagi yang
dia sebut luka, lalu dia berlari sekuat tenaga membawa petaka, terikat dalam
raganya.”
***
Air
mata tak tertumpah dan menahan amarah. Mereka hanya bisa begitu. Menyaksikan
anak yang diharapkannya hidup dengan tenang, yang nyatanya tak begitu. Raganya
yang rapuh begitu jelas. Dia meringis kesakitan. Awalnya datang dengan curiga,
ternyata petaka yang membawanya kesini. Tak lagi dia percaya cinta. Tak ingin
dia yakin jatuh hati pada pandangan pertama. Perjumpaannya ternyata sebuah
kepalsuan yang tertata rapi. Tak kusut dan membentuk sebuah wujud yang apik.
Tersilaplah dia. Lagi-lagi bukan sakit raganya yang membuatnya tersungkur
lemah. Tapi sakit telah menyakiti orang tuanya, melawan semuanya.
*
“Apa
yang membuatmu suka padanya, Kak?”
“Dia
berbeda.”
“Bukankah
kakak mencari yang apa adanya?”
“Dulu
kakak ingin seseorang yang berbeda. Tapi ternyata salah. Apa adanya itu memang
benar adanya. Hidup kakak berantakan karena dia berbeda dan ada apanya.”
Aku
tak pernah melihat matanya selesu itu. Namun, akhirnya aku menemukan kakak-ku
kembali. Kembali menjadi sehat, tidak mengeluh sakit dan merasa berat lagi.
Kakak yang ceria, dahulu, setelah sekian lama kini telah datang lagi. Pikirku,
kenapa cinta begitu kejam? Kenapa cinta menuntut hati seseorang menjadi
terbenam dan kebaikannya padam? Lama kulihat sosok kakakku yang terluka.
“Apa
kakak sendiri saja ya?”
Hati
yang patah membuat pikirannya kalah.
“Sendiri
juga tidak sebaik itu, Kak. Niatkan untuk dipertemukan yang baik, Kak. Kakak
tidak perlu putus asa. Dia yang harus putus asa. Menyia-nyiakan kakak yang
sudah sungguh-sungguh.”
“Iya,
kamu benar. Bisa-bisanya dia sekejam itu ya. Hati dan pikirannya dangkal. Dia
tak secerah yang kakak kira selama ini.”
Kecewa
sudah pasti. Menyangka dia adalah sebuah cahaya yang menuntun ke kehidupan
barunya.
“Yang
kakak perlu lakukan sekarang adalah selalu mendengar apa kata ayah dan ibu. Doa
mereka yang membawa kakak kembali ke kita. Menyembuhkan jiwa kakak yang telah
lama hilang.” ucapku sembari mengingat betapa patahnya hati ibu melihat anaknya
menderita kepedihan.
“Aku
hanya butuh mereka. Jalanku tidak pernah mulus sejak tak mendengar apa kata
mereka.”
Akhirnya
dia sadar bahwa setiap keberuntungan dalam hidupnya adalah kekuatan doa seorang
ibu. Bahwa cahaya yang dia cari bukan dari orang lain, adalah yang paling terdekat
yaitu orang tua, ayah dan ibunya.
red
09032019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar