“Kisah
sewindu yang lalu. Melaju tanpa sadar apa yang ditunggu. Melewati waktu
yang berjelajah jauh, dan masih saja kau kenang. Sedang di sana dia sudah jauh
berlabuh, melupakan.”
***
“Jujur,
aku tidak percaya manusia bisa mencintai manusia lainnya. Sedang diri sendiri
saja sulit untuk kita cintai. Perkara mencintai orang, bagaimana bisa?”
Wanita
ini mulai apatis. Bukan pikirannya yang menjadi apatis, tapi hatinya. Ia
berpikir, kisah hidupnya saja yang berjalan miris. Ia tidak tahu di luar sana
banyak kisah tragis yang dilalui oleh jutaan bahkan miliaran manusia yang
mengagungkan dan berusaha mempertahankan cintanya, tapi gagal.
“Bukan
perkara siapa yang kamu cintai. Tapi sesederhana, kenapa seseorang bisa ada dan
bersemayam di hati kita. Sesederhana, apa yang membuat pikiran kita selalu
singgah bayangannya. Sesederhana itu. Urusan cinta atau tidak, itu hanya sebuah
kata. Tapi yang jelas, jika masih hidup di hatimu, jelas rasa itu yang akan
terpatri lama dan menjelma jadi cinta. Oke? Paham kan sekarang ?”
***
Dua
puluh tahun lebih hidup, berjumpa dengan banyak orang yang dengan beragam prinsip hidup mereka, sungguh
membuatku tercengang. Jika perasaan yang diperdebatkan, tak akan ada titik
temunya. Bergulatlah engkau dengan perasaan yang tak karuan itu. Katanya yang
akan membuat sulit tidur, sulit makan, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan
lainnya. Akibat ketidakjujuran terhadap perasaanmu itu. Leavy mengajakku
berpikir keras dengan prinsipnya tadi. Untuk apa mencintai? Agar tidak menjadi
sempit, cinta didefinisikan tidak melulu tentang siapa. Tapi tentang apa,
kenapa, dan terhadap kata-kata tanya lainnya.
Seorang
kawan lain mengkisahkan bahwa ada bentuk lain bagaimana cinta itu dihadapkan.
Terhadap waktu. Mencintai waktu yang dijaga begitu lama. Semacam kenangan.
Makin lama makin mengendap, dangkal dan menjadi dalam. Akan dibangunkan dari
tidur panjangnya, ia enggan bangun. Karena penyimpan kenangan yang setia yang
masih nyaman dengan mengenangnya. Lupakan sakit yang menjadi irisannya.
Bahagianya yang membuat setiap pagi terbangun dengan tersenyum. Itulah waktu,
yang ajaib membiarkan seseorang enggan berjalan ke depan. Hingga setiap malam
mimpi tentangnya dari yang terlukis jelas gurat senyum dan matanya turut
bahagia, lalu dikikis waktu berwujud hanya menjadi semburat. Semburat bayangan
yang tiba-tiba menghitam. Garis wajahnya yang tak lagi legam. Kian pudar, tanda
waktu telah melupakan kenangan.
*
Lalu
pada suatu pagi, pikiran yang tak karuan itu serupa hilang begitu saja.
Terduduk diam sejenak. Tapi yakinnya bukan waktu yang melupakan kenangan yang
begitu dicintainya. Berusaha mengingat alam bawah sadarnya, telah dibawa pergi
kemana perasaannya. Tiba-tiba bukan gurat senyum yang biasa ia jumpai di mimpi.
Tapi guratan lainnya.
*
Sewindu
berlalu, ucapnya. Lalu pagi itu membuatnya tersenyum dan tersadar, bahwa ia
mampu merelakan kenangan yang telah mengkungkungnya dalam ketakutan. Karena
sebuah yang baru, dari guratan baru. Ia begitu menghargai setiap siapa yang
hadir dan pernah tinggal di hidupnya. Hingga waktu mengajarkan betapa mewahnya
sebuah kata ‘cinta’ diucapkan. Ucapnya, cukup perasaan saja yang kau agungkan.
Maka akan terselip ‘cinta’ yang lambat laun akan membiusmu perlahan dan akan
disadari ketika terbangun nanti. Terbangun dari apapun. Mungkin saja terbangun
dari hati yang mati atau pikiran yang lupa diri.
***
04052019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar