Sabtu, 04 Mei 2019

Sewindu Berlalu


“Kisah sewindu yang lalu. Melaju tanpa sadar apa yang ditunggu. Melewati waktu yang berjelajah jauh, dan masih saja kau kenang. Sedang di sana dia sudah jauh berlabuh, melupakan.”
***

“Jujur, aku tidak percaya manusia bisa mencintai manusia lainnya. Sedang diri sendiri saja sulit untuk kita cintai. Perkara mencintai orang, bagaimana bisa?”
Wanita ini mulai apatis. Bukan pikirannya yang menjadi apatis, tapi hatinya. Ia berpikir, kisah hidupnya saja yang berjalan miris. Ia tidak tahu di luar sana banyak kisah tragis yang dilalui oleh jutaan bahkan miliaran manusia yang mengagungkan dan berusaha mempertahankan cintanya, tapi gagal.
“Bukan perkara siapa yang kamu cintai. Tapi sesederhana, kenapa seseorang bisa ada dan bersemayam di hati kita. Sesederhana, apa yang membuat pikiran kita selalu singgah bayangannya. Sesederhana itu. Urusan cinta atau tidak, itu hanya sebuah kata. Tapi yang jelas, jika masih hidup di hatimu, jelas rasa itu yang akan terpatri lama dan menjelma jadi cinta. Oke? Paham kan sekarang ?”

***
Dua puluh tahun lebih hidup, berjumpa dengan banyak orang yang  dengan beragam prinsip hidup mereka, sungguh membuatku tercengang. Jika perasaan yang diperdebatkan, tak akan ada titik temunya. Bergulatlah engkau dengan perasaan yang tak karuan itu. Katanya yang akan membuat sulit tidur, sulit makan, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan lainnya. Akibat ketidakjujuran terhadap perasaanmu itu. Leavy mengajakku berpikir keras dengan prinsipnya tadi. Untuk apa mencintai? Agar tidak menjadi sempit, cinta didefinisikan tidak melulu tentang siapa. Tapi tentang apa, kenapa, dan terhadap kata-kata tanya lainnya.

Seorang kawan lain mengkisahkan bahwa ada bentuk lain bagaimana cinta itu dihadapkan. Terhadap waktu. Mencintai waktu yang dijaga begitu lama. Semacam kenangan. Makin lama makin mengendap, dangkal dan menjadi dalam. Akan dibangunkan dari tidur panjangnya, ia enggan bangun. Karena penyimpan kenangan yang setia yang masih nyaman dengan mengenangnya. Lupakan sakit yang menjadi irisannya. Bahagianya yang membuat setiap pagi terbangun dengan tersenyum. Itulah waktu, yang ajaib membiarkan seseorang enggan berjalan ke depan. Hingga setiap malam mimpi tentangnya dari yang terlukis jelas gurat senyum dan matanya turut bahagia, lalu dikikis waktu berwujud hanya menjadi semburat. Semburat bayangan yang tiba-tiba menghitam. Garis wajahnya yang tak lagi legam. Kian pudar, tanda waktu telah melupakan kenangan.

*
Lalu pada suatu pagi, pikiran yang tak karuan itu serupa hilang begitu saja. Terduduk diam sejenak. Tapi yakinnya bukan waktu yang melupakan kenangan yang begitu dicintainya. Berusaha mengingat alam bawah sadarnya, telah dibawa pergi kemana perasaannya. Tiba-tiba bukan gurat senyum yang biasa ia jumpai di mimpi. Tapi guratan lainnya.

*
Sewindu berlalu, ucapnya. Lalu pagi itu membuatnya tersenyum dan tersadar, bahwa ia mampu merelakan kenangan yang telah mengkungkungnya dalam ketakutan. Karena sebuah yang baru, dari guratan baru. Ia begitu menghargai setiap siapa yang hadir dan pernah tinggal di hidupnya. Hingga waktu mengajarkan betapa mewahnya sebuah kata ‘cinta’ diucapkan. Ucapnya, cukup perasaan saja yang kau agungkan. Maka akan terselip ‘cinta’ yang lambat laun akan membiusmu perlahan dan akan disadari ketika terbangun nanti. Terbangun dari apapun. Mungkin saja terbangun dari hati yang mati atau pikiran yang lupa diri.

 ***



04052019




RED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar