“Mimpi yang dititipkan,
asa yang disisipkan, do’a yang digemakan. Terima kasih telah membanggakan. ”
*
Tak peduli ada berapa luka yang
menggores kakinya.
Tak perlu dihitung lagi sesering apa
ia menangis mendoakannya.
Kini yang ia lihat, sesosok gagah
yang dibesarkannya.
Namanya, keberadaannya dan
pikirannya.
Tegap kakinya menggenggam lencana.
Rekah senyumnya menghadap ke muka.
Binar matanya kali ini semakin hidup.
Ingat benar, saat lelah baranya
pernah redup.
Lagi-lagi, ia selalu membuka jiwanya
yang nyaris tertutup.
Diingatnya pula, ia pernah duduk di
tepi dapur.
Melafalkan seuntai ilmu yang kelak
menjadi amunisi tempur.
Hingga tibanya pada saat ini,
Pandangannya berderai haru.
Tak sia-sia.
Pagi ke siang hingga larut malam.
Ia bimbing seseorang.
Kelak yang menjadi seseorang yang
membanggakan.
Membanggakan.
Sangat membanggakan.
Namun, itu tak cukup nyatanya.
Ia salahkan prasangkanya.
Dibanggakan saja tidak cukup.
Ada yang lebih penting dari itu.
Ia lupa mendoakannya untuk menjadi
seseorang yang menenangkan.
Apa akhirnya jika hanya menjadi
membanggakan?
Jika tak ada rasa tenang yang mampu
dibalut pada hati seorang Ibu?
Suatu saat, ia tukar seluruh bait harapnya.
Ia yang dibayang kecewa, ingin bersimpuh sekali saja.
Berdo’a sedalam-dalamnya.
Agar hatinya tergerak.
Untuk melunakkan hatinya, walau sejenak.
red
29042020 #6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar