Rabu, 29 April 2020

Tentang Menukar Harap


“Mimpi yang dititipkan, asa yang disisipkan, do’a yang digemakan. Terima kasih telah membanggakan. ”
*

Tak peduli ada berapa luka yang menggores kakinya.
Tak perlu dihitung lagi sesering apa ia menangis mendoakannya.
Kini yang ia lihat, sesosok gagah yang dibesarkannya.
Namanya, keberadaannya dan pikirannya.

Tegap kakinya menggenggam lencana.
Rekah senyumnya menghadap ke muka.
Binar matanya kali ini semakin hidup.
Ingat benar, saat lelah baranya pernah redup.
Lagi-lagi, ia selalu membuka jiwanya yang nyaris tertutup.
Diingatnya pula, ia pernah duduk di tepi dapur.
Melafalkan seuntai ilmu yang kelak menjadi amunisi tempur.

Hingga tibanya pada saat ini,
Pandangannya berderai haru.
Tak sia-sia.
Pagi ke siang hingga larut malam.
Ia bimbing seseorang.
Kelak yang menjadi seseorang yang membanggakan.
Membanggakan.
Sangat membanggakan.

Namun, itu tak cukup nyatanya.

Ia salahkan prasangkanya.
Dibanggakan saja tidak cukup.
Ada yang lebih penting dari itu.
Ia lupa mendoakannya untuk menjadi seseorang yang menenangkan.
Apa akhirnya jika hanya menjadi membanggakan?
Jika tak ada rasa tenang yang mampu dibalut pada hati seorang Ibu?

Suatu saat, ia tukar seluruh bait harapnya.
Ia yang dibayang kecewa, ingin bersimpuh sekali saja.
Berdo’a sedalam-dalamnya.
Agar hatinya tergerak.

Untuk melunakkan hatinya, walau sejenak.


red                                                        
29042020 #6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar