Kamis, 30 April 2020

Tentang Tak Selalu Gelap


“Jika harus mengubah sesuatu, kenapa harus menunggu?”
*

“Kenapa kakak tidak turun ke bawah?” suaranya yang serak menyapaku saat melewati kiosnya.

“Aku sedang menunggu ibuku. Dia tidak mampu berjalan ke bawah tanah.” 
Jawabku sembari  melihat kain-kain berwarna cerah dipadu dengan motif khas daerah ini.

“Pilihlah satu, Kak. Kamu cocok jika menggunakannya.”
 Ia menawarkan sehelai kain yang cukup berat semacam jubah berwarna merah legam.

Pemandangan jalanan ini cukup menarik perhatian. Hanya satu penjual di pinggir jalanan yang nampak. Anak-anak berusia 5 hingga 6 tahun hilir mudik di tengah jalanan. Sepi tapi tak begitu lengang. Mulai melihat kiri dan kanan. Tak ada bedanya di tanah air. Kupandangi penjual kain ini masih begitu muda.

“Mereka anak-anakku.”

Seumur dia sudah punya 4 anak? Mungkin saja dia masih berumur 20 tahun. Lebih muda dibanding aku.

“Oh, tapi bukan anak kandung. Mereka tidak punya orang tua. Aku mengajak mereka ke pasar karena tidak ada yang menemani di rumah.

“Mereka tidak sekolah?”

“Tidak. Aku tidak mampu membiayai mereka semua untuk sekolah. Tapi ketika di rumah, aku menjadi guru mereka.”

“Lalu sekarang? Apa yang mereka lakukan?”

“Aku mengajari mereka berdagang.”

“Apa disini tidak ada panti asuhan? Mereka bisa dititipkan disana agar lebih aman.”

“Tidak semua orang bisa mengasuh dengan benar. Tidak semua mengerti apa yang mereka inginkan. 
Sistem tak selalu berpihak tentang kebutuhan mereka. Mereka butuh teman nyata. Itulah alasan 
mengapa aku ada untuk mereka.”

Ucapannya membuatku terdiam. 

“Usiamu berapa?”
Pertanyaannya membuat lamunanku membuyar.

“Aku? 25 tahun.”

“Kuliah?”

“Ya.”

“Apa yang sudah kamu lakukan untuk orang-orang di sekitarmu?”

Aku, lagi-lagi hanya bisa terdiam.
“Belum. Jalanku masih panjang untuk berbuat sesuatu untuk sekitarku.”

Dia tertawa kecil.
“Izinkan aku memberi saran untuk perjalananmu kali ini. Pergilah ke tempat di mana kamu bisa melihat matahari terbit. Tatap sekeliling tempat itu. Apa yang kamu lihat bisa jadi tak selalu begitu. Mungkin yang kamu lihat gelap. Tapi tunggu. Bukan. Kamu tidak boleh menunggu. Tetap perhatikan.”

“Memang di mana tempat itu?”

“Ke tempat yang akan membuatmu yakin bahwa untuk berbuat tak perlu menunggu. Sekarang atau tidak selamanya.”

“Namaku Shalih. Lihatlah kain-kain lainnya. Kamu tidak mungkin hanya memilih satu kain, kan? “


(bersambung)

red            
30042020 #7


Tidak ada komentar:

Posting Komentar