“Jika harus mengubah sesuatu, kenapa
harus menunggu?”
*
“Kenapa kakak tidak turun ke bawah?”
suaranya yang serak menyapaku saat melewati kiosnya.
“Aku sedang menunggu ibuku. Dia tidak
mampu berjalan ke bawah tanah.”
Jawabku sembari melihat kain-kain berwarna cerah dipadu dengan
motif khas daerah ini.
“Pilihlah satu, Kak. Kamu cocok jika
menggunakannya.”
Ia menawarkan sehelai kain yang cukup berat semacam jubah
berwarna merah legam.
Pemandangan jalanan ini cukup menarik
perhatian. Hanya satu penjual di pinggir jalanan yang nampak. Anak-anak berusia
5 hingga 6 tahun hilir mudik di tengah jalanan. Sepi tapi tak begitu lengang.
Mulai melihat kiri dan kanan. Tak ada bedanya di tanah air. Kupandangi penjual
kain ini masih begitu muda.
“Mereka anak-anakku.”
Seumur dia sudah punya 4 anak?
Mungkin saja dia masih berumur 20 tahun. Lebih muda dibanding aku.
“Oh, tapi bukan anak kandung. Mereka
tidak punya orang tua. Aku mengajak mereka ke pasar karena tidak ada yang
menemani di rumah.
“Mereka tidak sekolah?”
“Tidak. Aku tidak mampu membiayai
mereka semua untuk sekolah. Tapi ketika di rumah, aku menjadi guru mereka.”
“Lalu sekarang? Apa yang mereka
lakukan?”
“Aku mengajari mereka berdagang.”
“Apa disini tidak ada panti asuhan?
Mereka bisa dititipkan disana agar lebih aman.”
“Tidak semua orang bisa mengasuh
dengan benar. Tidak semua mengerti apa yang mereka inginkan.
Sistem tak selalu
berpihak tentang kebutuhan mereka. Mereka butuh teman nyata. Itulah alasan
mengapa aku ada untuk mereka.”
Ucapannya membuatku terdiam.
“Usiamu berapa?”
Pertanyaannya membuat lamunanku
membuyar.
“Aku? 25 tahun.”
“Kuliah?”
“Ya.”
“Apa yang sudah kamu lakukan untuk
orang-orang di sekitarmu?”
Aku, lagi-lagi hanya bisa terdiam.
“Belum. Jalanku masih panjang untuk
berbuat sesuatu untuk sekitarku.”
Dia tertawa kecil.
“Izinkan aku memberi saran untuk
perjalananmu kali ini. Pergilah ke tempat di mana kamu bisa melihat matahari
terbit. Tatap sekeliling tempat itu. Apa yang kamu lihat bisa jadi tak selalu
begitu. Mungkin yang kamu lihat gelap. Tapi tunggu. Bukan. Kamu tidak boleh
menunggu. Tetap perhatikan.”
“Memang di mana tempat itu?”
“Ke tempat yang akan membuatmu yakin
bahwa untuk berbuat tak perlu menunggu. Sekarang atau tidak selamanya.”
“Namaku Shalih. Lihatlah kain-kain lainnya. Kamu tidak mungkin hanya
memilih satu kain, kan? “
(bersambung)
red
30042020 #7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar