Sabtu, 25 April 2020

Tentang Sebuah Nama


“Membisikkan namanya perlahan. Tak terburu-buru, agar waktu ambil bagian. Meresapinya dalam hati, seraya membayangkan.”
*

19.15/01

Ingin segera menyimpannya dalam ingatan.
Berjanji untuk jumpa, singkat namun melekat.
Tidak lama pada saat itu, tak pernah bertemu.
Kini sepakat pada pukul satu.
Dia tunggu pada tempat itu.
Aku turun, dia menghadap dan menatap.
Kalimat pertamanya, ‘Baju kita sama’.
Iya.
Sama-sama menggunakan baju hitam legam.
Bukan tidak ingin berwarna lain.
Hitam membuat apa yang tersimpan, lebih ceria.
Ia sudah memesan secangkir kopi tanpa gula.
Tak perlu berpikir lama.
Untukku, segelas teh hangat dengan dua gula.
Sebelum itu, berjabat tangan.
Lalu duduk berhadapan.
Lagi, yang terpesona adalah bola matanya yang coklat.
Sungguh gemar menatap mata seseorang, dalam.
Dia berkisah seakan sedang melanjutkan.
Seakan telah acap bertemu dengannya.
Selalu menyambung pada kisah yang hendak ia utarakan.
Walau tangan semakin mendingin.
Angin kencang sore itu.
Kisahnya tetap membuat hangat.
Menuju senja, dia ingatkan waktu pulang.
Lalu berdua, melewatkan senja yang menjelang.
Cengkrama itu masih saja ada. Sesampainya dia kembali.

*

22.13/04
Wajahnya yang bulat.
Suaranya bagai mendekat.
Menyapa dengan suara yang berat.
Yang tak pernah lupa untuk dikagumi, bola matanya yang coklat.
Kuingat lekat.
Tak pernah seingat ini, hingga pekat.
Sadar, itu hanya mimpi.
Atau sekadar mengimajinasi.
Sekaligus tak ada salahnya untuk mengamini.
Jika ia, dekatkan.
Jika ia bukan, jauhkan.
Lagi-lagi, bicara berdua dalam hati.
Akan kuperjuangkan, dengan caraku sendiri. ***


red
25042020 #2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar