“Membisikkan namanya perlahan. Tak
terburu-buru, agar waktu ambil bagian. Meresapinya dalam hati, seraya
membayangkan.”
*
19.15/01
Berjanji untuk jumpa, singkat namun
melekat.
Tidak lama pada saat itu, tak pernah
bertemu.
Kini sepakat pada pukul satu.
Dia tunggu pada tempat itu.
Aku turun, dia menghadap dan menatap.
Kalimat pertamanya, ‘Baju kita sama’.
Iya.
Sama-sama menggunakan baju hitam
legam.
Bukan tidak ingin berwarna lain.
Hitam membuat apa yang tersimpan,
lebih ceria.
Ia sudah memesan secangkir kopi tanpa
gula.
Tak perlu berpikir lama.
Untukku, segelas teh hangat dengan
dua gula.
Sebelum itu, berjabat tangan.
Lalu duduk berhadapan.
Lagi, yang terpesona adalah bola
matanya yang coklat.
Sungguh gemar menatap mata seseorang,
dalam.
Dia berkisah seakan sedang
melanjutkan.
Seakan telah acap bertemu dengannya.
Selalu menyambung pada kisah yang
hendak ia utarakan.
Walau tangan semakin mendingin.
Angin kencang sore itu.
Kisahnya tetap membuat hangat.
Menuju senja, dia ingatkan waktu
pulang.
Lalu berdua, melewatkan senja yang
menjelang.
Cengkrama itu masih saja ada.
Sesampainya dia kembali.
*
22.13/04
Wajahnya yang bulat.
Suaranya bagai mendekat.
Menyapa dengan suara yang berat.
Yang tak pernah lupa untuk dikagumi,
bola matanya yang coklat.
Kuingat lekat.
Tak pernah seingat ini, hingga pekat.
Sadar, itu hanya mimpi.
Atau sekadar mengimajinasi.
Sekaligus tak ada salahnya untuk
mengamini.
Jika ia, dekatkan.
Jika ia bukan, jauhkan.
Lagi-lagi, bicara berdua dalam hati.
Akan kuperjuangkan, dengan caraku sendiri. ***
red
25042020 #2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar