“Biarlah mereka sebut kisah kita tak
ada apa-apanya. Mereka tidak perlu tahu berapa kali kita telah jatuh. Mata dan
hati ini yang perlu kita hargai, sungguh.”
*
01092019
Pertanyaannya, kapan?
Agar didengar.
Agar dipahami.
Agar dimengerti.
Yang ditangisi tetap dengan sebab
yang sama.
Suaranya berharap didukung.
Lagi-lagi, kembali dikungkung.
Seakan mengungkapkan layaknya
membangkang.
Memilih diam dikata tak mempedulikan.
Sampai kapan, ia bertanya?
Hingga bersuara tak lagi menjadi
bumerang.
Hingga perasaannya aman.
Saat bersandar dan melampiaskan.
Pada saat itupun, tak ada pilihan.
Memilih berdamai.
Agar seteru tak pecah.
Agar ego tak membelah.
Maka lain kali akan dipastikan:
Menempa lelah cukup ditanggung sendiri.
Menceritakan keluhan cukup dalam pikirian.
Menghadapi kesusahan cukup dibagi pada yang (benar-benar) peduli.
Untuk mengobati? Pastikan jangan sampai tersakiti (lagi). ***
red
26042020 #3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar